Fake Hatred

Fake Hatred
Starting to Hate Each Other


__ADS_3

BYURRR….


Freya memejamkan mata dengan seluruh emosi yang nyaris merobek kesabarannya. Baru saja ia hendak menyuapkan batagor ke mulut, Liora sudah mengguyurnya dengan segelas es teh. Ya, setidaknya teh itu dingin. Jika tidak, mungkin Freya benar-benar mencekik leher Liora kali ini.


“Lo tuh nggak ada capeknya, ya? Otak lo terbuat dari apa, sih? Udah bandel, bebal lagi!” Freya bangkit dari duduk. Poni samping dan wajahnya ia biarkan tetap basah.


Kantin sedang ramai, namun tak ada yang terganggu akan pemandangan itu. Beberapa anak laki-laki menonton dengan antusias. Seolah mereka tengah berada di bioskop dan di depan mereka ini adalah film action Jackie Chan melawan Bruce Lee. Beberapa lainnya tetap melanjutkan aktivitas makan tanpa berminat melerai.


Kendati demikian, ada satu orang yang rupanya masih waras. Rezvan hendak menghampiri Freya dan Liora, tetapi Deon melarangnya. “Jangan, Rez! Lo masih baru di sini. Kalau lo mau bantu Freya, minimal lo harus paham dulu situasinya. Lo juga, belum kenal mereka banget, kan?”


Rezvan sangat tidak setuju dengan Deon. Memangnya, kenapa kalau ia belum mengenal Freya dan Liora dengan baik? Melihat tindak pem-bully-an di depan mata kepala sendiri, bagaimana bisa lautan manusia ini tidak tergugah untuk melerai mereka? Rezvan benar-benar tak habis pikir.


Liora bersidekap sambil memandang Freya remeh, “sadar nggak sih, lo juga bisanya cuma bac*t doang? Lo nggak berani kan bales gue? Dari awal sampai sekarang, lo tuh beraninya cuma merengek sama guru. Ngemis-ngemis perhatian biar dikasihani. Dasar sampah!”


Freya tertawa hambar, “apa lo bilang? Gue, sampah?! Nggak kebalik, Buk?”


Beraninya tukang bully tanpa alasan yang jelas ini mengatainya sampah. Bahkan, sampah lebih baik daripada dia dan kawan-kawannya.


Namun, Liora tidak ambil pusing. “Nggak! Gue udah bener ngatain lo sampah, itu fakta. Dan harusnya, lo juga tahu diri kalau tempat lo bukan di sini. Lo nggak pantes sekolah di Akar Bangsa, lo tuh pantesnya sekolah di penjara!”


Perkataan Liora sangat menusuk Freya. Namun, ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Liora. Mengapa ia membawa-bawa nama penjara? “Ngomong apaan sih lo? Ngapain bawa-bawa penjara segala, lo pikir gue kriminal? Heh, yang harusnya tahu diri itu dimana-mana juga elo! Kalian masih nggak ngertiin diri kalian itu siapa, hah? Gue bantu jawab, kalian itu jelmaan Mak Lampir! Jahat, nggak ada akhlak!”


Wajah Liora memerah. Gadis itu mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. “Seandainya lo sadar, Rey. Seandainya lo inget sama dosa besar apa yang udah lo lakuin! Gue jamin lo bakal cium kaki gue sambil nangis darah minta ampun sama gue!”


Freya mengernyit, “gue nggak ngerti, sebenarnya lo mau ngomong apa?”


Liora berpaling dan segera memimpin teman-temannya pergi dari hadapan Freya. “Ayo, gengs, cabut! Kita cari tempat duduk yang jauh dari sampah polusi ini!”

__ADS_1


Freya menggelengkan kepala. Penjara apa pula yang pimpinan lampir itu maksud? Sulit dipercaya bahwa kehidupannya sekarang bukan saja tentang penindasan, melainkan juga misteri yang harus ia pecahkan sendiri. Mengapa, selalu saja, Freya sendirian?


Dia berdiri di tengah kantin sebagai orang yang diinjak-injak harga dirinya. Namun, tak satupun dari mereka tampak memiliki hati barang setitik. Setidaknya, katakan 'jangan bertengkar' atau 'jangan sakiti Freya lagi'. Ia sangat berharap bisa mendengar kata-kata itu.


Tanpa sengaja, pandangan Freya bertabrakan dengan Rezvan. Pria itu terlihat, kasihan.


Tidak, bukan itu yang Freya inginkan! Bukan belas kasihan!


Daisy terkejut saat Freya meletakkan uang sepuluh ribuan di depannya dengan sedikit menggebrak. Daisy mendongak, ia bisa melihat kedua mata Freya berkaca-kaca. Tetapi, ia tak bisa membedakan apakah itu tanda kemarahan atau kesedihan.


“Bayarin!” pinta Freya singkat lalu pergi meninggalkan kantin.


“Rey,” Rezvan hendak menyusul gadis malang itu. Lagi-lagi Deon menghentikannya.


“Rez, please! Kalau lo mau nolongin Freya atau ngehibur dia, jangan sampai ada anak lain yang tahu. Gue khawatir lo bakal ikutan di-bully sama Liora.”


Rezvan mengacak rambut frustasi, “gue nggak paham, sumpah! Kenapa lo semua kejam banget biarin satu orang di-bully, sih?” Deon mendesah berat alih-alih menjawab pertanyaan Rezvan. “Oke, gue ganti pertanyaannya. Apa Freya selalu diperlakukan kayak gitu sama mereka dan nggak dibelain sama kalian?”


Rezvan semakin lemas di bangkunya. Bagaimana bisa, Freya, perempuan paling jutek yang ia kagumi sejak pertama kali bertemu di Dojo?


Sementara itu, Freya cepat-cepat menjauh dari kantin. Sambil menetralkan detak jantungnya yang menggila karena amarah, ia menuju perpustakaan melalui lorong kelas dua belas yang cukup lenggang karena kakak kelas sedang dikumpulkan di aula untuk sosialisasi kampus.


Tiba-tiba, Devan dari arah kamar mandi putra menghadang jalannya. Freya terpaksa berhenti, ia juga penasaran akan bagaimana sikap Devan kepadanya.


“Wah wah wah! Lihat gue ketemu siapa di sini. Mau kemana lo, Lun?” tanyanya dengan nada mencibir.


“Nama gue bukan Luna,” balas Freya dingin.

__ADS_1


“Iya, gue juga tahu kok. Cuma, maksud gue itu bukan Luna tapi CU-LUN!”


Devan terbahak merasa puas dengan sarkasmenya yang tidak mempan lagi untuk Freya. Gadis itu memutar mata jengah. “Lo picek, ya? Lihat cewek fashionable gini aja nggak becus! Pake kacamatanya Daisy dulu sana!”


Devan pura-pura menggali lubang telinganya, “bentar, bentar! Gue nggak salah denger, nih? Ternyata, selain culun lo juga suka nyolot, ya?”


“Gue nggak culun, tapi gue emang suka nyolot. Kenapa, nggak terima lo, Ci?”


“What, Ci?”


“Kurang jelas? BAN-CI.”


“Sialan!”


Tiba-tiba, Devan menarik rambut kuncir Freya ke bawah. Freya yang lebih pendek dari Devan terdongak. Wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Devan yang berada persis di atasnya. Freya menjaga ekspresinya agar tidak terlihat lemah.


“Lo emang cewek sialan, mana bau teh lagi. Gue jadi pengen nguji seberapa kuat lo bisa bertahan di sekolah ini!” geram Devan sambil mengeratkan pegangannya di kuncir Freya.


“Ooh, gitu ya? Gue malah penasaran, sebenarnya calon musuh terbesar gue ini tahu nggak nama gue siapa?”


Pria itu mendengus, “nama lo jelek! Males gue ngucapinnya.”


“Oke kenalin, nama gue Freya Angel. Gue sekolah di SMA Akar Bangsa dari kelas sepuluh dan satu-satunya korban bullying di sekolah ini. Lo nggak perlu kenalan lagi, gue udah tahu! Dan sejak lo adalah cowok pertama yang berani narik rambut gue pake cara kasar, gue udah putusin bahwa lo adalah musuh gue yang paling menjijikkan! Tapi, karena gue nggak mau bertepuk sebelah tangan. Mulai sekarang, gue benci sama lo dan lo juga harusnya benci sama gue, DEAL!”


Meski awalnya terdengar aneh, Devan pun menyunggingkan senyum miring, “brilian, DEAL!”


Cowok itu sedang lengah, Freya memanfaatkan kesempatan untuk melepaskan diri dengan gerakan cepat. Sayangnya, Freya tidak bisa menyelamatkan kuncir rambutnya yang masih tergenggam di tangan Devan. Akibatnya, rambut Freya yang lurus dan lebat itu terurai bebas.

__ADS_1


Freya bisa merasakan Devan masih memberinya tatapan tajam. Namun, gadis itu segera pergi tanpa menoleh. Ia merogoh kuncir karet di dalam saku baju, kemudian memasangnya sambil berjalan.


—*—


__ADS_2