
Di rumah Alan kelimpungan mencari keberadaan Laura , bahkan ia sempat menelpon mertuanya takut jika Laura ada disana . memang semenjak kedatangan elena sikap Laura menjadi berbeda , namun Alan tidak bisa melakukan apapun , karena ia juga belum mengerti akan perasaannya .
Dua hari yang lalu , Alan memang pulang lebih awal karena elena meminta untuk di temani mengunjungi restoran favorit mereka di daerah Jakarta . hingga ia mengabaikan istrinya di rumah yang selalu setia menunggu dirinya pulang , seringkali Alan menemukan Laura tertidur di meja makan karena menunggunya , itu membuat Alan kembali menata apa yang akan ia putuskan tentang pernikahan mereka .
Hari ini pagi pagi sekali Alan membawa beberapa dokumen dan sebuah surat dan lengkap dengan kartu tanda penduduk dirinya dan Laura , dan tentu kertas saat ia menikahi wanita itu . Alan pun melangkah masuk ke ruangan itu lalu mendaftarkan pernikahan mereka di KUA untuk memperjelas status mereka . ini adalah keputusan nya .elena hanya seseorang yang singgah di hatinya . bukan untuk menjadi pendamping hidup pikir Alan . apalagi perasaannya kepada elena tidak sebesar saat iya berjauhan dengan wanita yang telah menjadi istri nya itu .
Semenjak elena datang , Alan terus mencari informasi tentang kepergian elena selama ini , sejauh ini informasi itu belum terlalu lengkap namun ia meyakini jika ada sesuatu yang menimpa sahabatnya itu .
Apalagi saat mereka makan malam bersama . karena elena suka memakai baju di atas pusar nya , iya melihat seperti ada sayatan di bawah perut wanita itu seingat nya elena anti dengan hal semacam itu . namun Alan tidak mempertanyakan itu . ia akan mencari tahu sendiri , apapun hasilnya nanti itu tidak akan merubah keputusannya untuk memperkuat pernikahannya dengan Laura .
"Kemana dia , sial ponsel nya tidak aktif , mana udah malem lagi " oceh Alan saat ini iya sedang di pinggir jalan karena dari tadi terus mencari wanita itu .
"Cafe "ucap Alan lalu iya langsung pergi menuju cafe milik istrinya itu .
Sesampainya Alan disana , cafe terlihat sudah tutup karena memang sudah tengah malam . namun Alan mencoba untuk menanyakan kepada security yang sedang berjaga malam ini .
"Misi pak "sapa alan ramah ,
" Ya mas . ada yang bisa saya bantu " ucapnya .
"Saya kenal dengan pemilik cafetaria , apa mba Laura menginap di sini ? , saya ada urusan soalnya saya telpon dari tadi tidak di angkat "ucap Alan masih dengan senyum nya . security itu menatap kearah Alan.
"Mba Laura ya , tadi si kata temen saya yang sip siang mba Laura emang udah pamit pulang dari jam dua siang tadi mas , setelah mba Mita pulang "jelas pak security itu .
"Oh .. Mita "ucap Alan security itu mengangguk .
"Baik terimakasih ya pak , selamat malam "pamit Alan iya pun melajukan mobilnya meninggalkan cafe itu .
"Kenapa gak aktif si , "ucap Alan sambil menatap di depannya dengan tatapan khawatir . iya pun ingin menemui Mita tapi pasti sahabat istri nya itu sudah tidur .
__ADS_1
Sudah tiga kali iya pulang ke rumah mereka berharap Laura sudah ada di sana , namun sayang Laura sama sekali belum pulang , bahkan ponselnya juga belum aktif , jam sudah menunjukkan pukul empat pagi namun Alan masih di dalam mobilnya berada tak jauh dari cafe milik istrinya itu .
"Aku akan memperbaiki nya lau , tolong jangan tinggalkan aku "ucap pria itu dengan isakan . iya terus menghubungi wanita itu namun sudah berpuluh puluh kali masih dengan jawaban yang sama . karena pikiran nya sangat tidak karuan , karena lelah Alan terlelap sebentar tak berapa lama dirinya terbangun saat suara azan subuh berkumandang , Alan pun bergegas menuju masjid terdekat . dan melakukan kewajiban nya sebagai seorang hamba . lumayan lama iya berada disana dengan mengisi waktunya dengan zikir dan doa . sampai iya tertidur karena lelah seharian dengan pekerjaannya dan mencari istrinya .
Seorang membangunkan Alan karena matahari sudah terbit ,
"Nak ,. bangun sudah pagi "ucap ustadz yang mengurus masjid itu . Alan mengejab ngerjabkan matanya ,
"Ya pak ,, "ucapnya pelan .pak ustadz itu tersenyum lalu duduk di depan Alan yang masih tertunduk mengembalikan kesadarannya .
"Masalah adalah ujian seumur hidup nak , dan itu juga bertanda bahwa Allah menyayangi seorang hamba , maka dari itu jangan putus asa ya "ucap pak ustadz itu menasehati Alan . Alan mengganguk
"Terimakasih pak , maaf saya ketiduran "ucap Alan membenahi duduknya .
"Tidak masalah , ini rumah Allah siapapun berhak berada disini "ucap pria paruh baya itu tersenyum .Alan membalas senyuman itu sambil mengangguk.
"Pak saya ingin bertanya apa bisa " tanya Alan . pak ustadz itu mengangguk mempersembahkan Alan .
"kewajiban seorang suami kepada istrinya itu banyak nak di antaranya , suami menjadi pembimbing untuk istri dalam urusan rumah tangga . yang memang masalah itu harus di putus bersama untuk keadilan bersama . kedua suami wajib melindungi istrinya dan memberikan suatu keperluan hidup berumahtangga sesuai dengan kemampuan si suami ,
ke tiga , suami wajib memberikan pendidikan agama pada istri . dan ke empat , suami wajib memberikan penghasilan atas kebutuhan istrinya . dan yang kelima karena tentang kewajiban nafkah batin berdasarkan jumhur ulama mengatakan suami wajib memberikan nafkah batin . jika suami dengan malas malasan dan sering menolak keinginan istrinya maka dia telah berbuat dosa besar kepada Allah , namun jika seluruh kewajiban sudah terlaksanakan maka hubungan antara nak Alan dan istri tidak haram di mata Allah ,selagi pernikahan sah di mata agama , maka sesungguhnya Allah telah memberikan keberkahan di dalam nya "jelas pak ustadz itu , Alan mengganguk
"Terimakasih pak , saya akan memperbaiki nya , saya akan memberikan apapun hak yang memang harus saya berikan kepada istri saya " ucap Alan masih dengan tatapan menyakini . ustadz itu menepuk pundak pria itu sambil tersenyum . setelah berbincang-bincang akhirnya Alan berpamitan untuk pulang siapa tahu istrinya sudah kembali .
Di dalam perjalanan Alan masih cemas dan khawatir jika Laura memang sudah meninggalkan nya . dan tidak kembali lagi .
Setelah sampai , Alan Melihat ada sepatu yang biasa Laura gunakan ,dan sebuah sepatu anak perempuan di depan pintu masuk rumah mereka . alan pun langsung masuk dan mencari keberadaan istrinya itu. Laura yang sedang membuat jus alpukat untuk keponakannya itu seketika membalikan badannya karena Alan membuka pintu dengan keras hingga menimbulkan suara yang lumayan kencang .
"Mas ,., "ucap Laura melihat Alan sudah di hadapannya . seketika Alan langsung memeluk wanita itu .
__ADS_1
"Dari mana saja , kenapa tidak mengabari aku kemana kamu pergi "ucap Alan dengan sedikit isaknya , Laura belum melakukan apapun . iya masih bingung dengan sikap suaminya itu .
"Mas Alan kenapa ? "tanya Laura merasa aneh dengan sikap suaminya itu .
"Tolong jangan tinggalkan aku , aku akan memperbaiki semuanya , aku janji lau , tolong beri aku kesempatan satu kali lagi "ucap Alan lagi masih dengan pelukannya di tubuh wanita itu .
"Mas Alan gak usah aneh aneh , Laura mau pergi kemana , gak pergi kemana mana kok "ucap Laura sambil berkekeh membalas pelukan pria itu .
Alan merenggangkan pelukannya dan menatap wajah cantik istrinya itu.
"Kanapa semalam tidak memberi kabar sama sekali ? , kamu tahu aku khawatir . bahkan aku tidak pulang karena terus mencari mu "ucap Alan lagi dengan wajah sedihnya . Laura bertambah heran namun belum iya menjawab gadis kecil itu memanggil keduanya .
"Om .. tante "ucap siren membuat keduanya menatap kearah gadis kecil itu Laura segera mendorong tubuh pria itu hingga menjauh darinya .
"Sayang "ucap Laura sambil mendekatkan dirinya kepada siren .
"Siren keponakan om , apa kabar sayang "belum Laura sampai Alan telah dulu mengangkat tubuh gadis kecil itu di dalam pelukannya .
"Baik om ,, om gak pernah main ke rumah siren , siren gak suka om "ambek gadis kecil itu sambil memalingkan wajahnya dari Alan . Laura hanya tersenyum lalu pura pura Tidak peduli lalu meneruskan urusannya .
"Oh itu . om sibuk sayang , kan harus punya uang yang banyak buat nanti kalo siren udah punya adek adek yang banyak dari om sama tante lau , om gak sibuk lagi cari uang , dan fokus ngurusin adek adek yang keluar dari perut tante lau "ucap Alan dengan entengnya membuat Laura menatap tak percaya dengan apa yang pria itu ucapkan .
"Benaran gitu om "tanya siren dengan polosnya . Alan mengangguk antusias . siren langsung memeluk dan mencium kedua pipi pria itu dengan bahagia .
"Yeee . siren mau punya banyak adek , gak adek Zidane aja . yeee "ucapnya dengan antusias sambil terus memeluk pria itu . Alan yang menatap kearah Laura mengedipkan sebelah matanya menggoda wanita itu . Laura hanya memajukan pisau yang sedang iya pengang bertanda ancaman bagi pria itu .namun Alan tidak menghiraukan bahkan iya berkekeh geli melihat tingkah laku istrinya itu .
Bersambung ...
Assalamualaikum
__ADS_1
Hi guys terimakasih sudah mampir jangan lupa like komen biar nambah semangat 🙂