Gadis Buta Tersayang

Gadis Buta Tersayang
Bab 13. Antar ke supermarket


__ADS_3

Hari ini gue kembali ketemu sama Freya di jalan dekat sekolah gue, entah dia emang setiap hari lewat situ atau dia sengaja supaya ketemu gue, ya gue juga gak tahu apa alasannya. Yang pasti, gue senang banget bisa ketemu terus sama Freya yang cantiknya bukan main dan manisnya luar biasa itu.


Freya tersenyum saat gue sapa dia, langkahnya terhenti dan ia langsung melipat tongkatnya seolah ingat kalau ada gue dia gak butuh itu. Gue pun mendekatinya, gue cium tangannya dan seketika itu juga dia bingung, terheran-heran kenapa gue bisa sampai cium tangan dia kayak gitu.


"Kamu apa-apaan sih? Kenapa pake cium tangan aku segala? Emang aku ibu kamu apa?" tanyanya tampak tak suka.


Gue hanya memberikan senyuman tipis ke arahnya, walau dia gak bisa lihat. "Gue cuma pengen kasih hormat ke lu, Freya. Lu kan lebih tua dari gue, jadi wajar dong gue cium tangan lu?" ucap gue.


"Ish, ya iya sih. Tapi, kan gak mesti kayak gitu juga. Umur kita gak beda jauh Razza, gak perlu lah pake cium tangan segala," ucapnya masih tak terima.


"Yaudah deh, abis ini gue gak cium tangan lu lagi. Kalau emang lu gak suka, gue bakal berhenti lakuin hal itu. Tapi, boleh kan gue cium yang lainnya?" ucap gue menggoda.


"Hah? Maksud kamu apa? Yang lain itu apa?" tanya Freya lagi dengan tatapan sinis.


Gue tergelak melihat ekspresinya. "Hahaha, santai aja kali gausah tegang gitu! Yang lain tuh maksudnya pipi atau kening gitu, boleh kan?" ucap gue.


Dia justru menggeleng, "Enggak ah, gak mau." sontak gue kecewa dengarnya, ya tapi mau gimana lagi toh gue juga gak bisa maksa.


Akhirnya gue gandeng aja tangannya, dia seperti biasa sempat kaget karena gue emang kalau gandeng tangan cewek suka kagak bilang-bilang dulu. Namun, selanjutnya dia kelihatan terima aja dan gak protes atau menolak. Gue pun senang, jadi langsung aja gue tarik tubuhnya biar lebih dekat ke gue supaya gue lebih nyaman tentu.


"Hey, jangan dekat-dekat dong! Kita bukan pacar atau apalah itu, kamu harus bisa jaga diri ya Razza!" ucapnya mengingatkan gue.


"Lo ngomong kayak gitu ngode ke gue ya biar cepat ditembak?" sengaja gue goda dia, gue mau tau apa jawaban dia kali ini.


"Gak kok, kamu gausah sotoy deh. Yuk ah anterin aku!" ucapnya mengelak.


"Kemana? Lu aja belum bilang mau pergi kemana hari ini, gimana sih cantik?" tanya gue sambil colek hidung dia.


"Jangan colek-colek ya! Emangnya pipi aku sabun apa?!" dia protes sambil mengembungkan pipinya.

__ADS_1


"Gimana aku gak colek pipi kamu? Orang kamu gemesin banget kayak gitu, apalagi pas kamu kayak barusan tuh," ucap gue.


"Cukup ya Razza! Sekarang tolong anterin aku ke supermarket ya!" ucapnya.


"Supermarket? Kamu mau belanja apa sayang?" tanya gue dengan sengaja menggodanya.


Dia kelihatan gak suka, ekspresinya begitu mendengar gue panggil dia langsung berubah drastis. Dari yang sebelumnya tersenyum lebar, sekarang cemberut dan memberikan tatapan tajam ke arah wajah gue. Tentu saja gue berani mendekat dan membelai rambutnya dengan perlahan.


"Kok cemberut gitu sih jadinya? Gue cuma bercanda, lu jangan marah juga kali! Maafin gue ya kalau lu gak suka sama ucapan gue tadi?" ucap gue coba membujuknya.


Dia mengangguk, tapi masih dengan wajah cemberut. Akhirnya gue memberanikan diri menangkup wajahnya yang cantik itu.


"Hey! Ayolah jangan cemberut terus! Gue kan udah minta maaf, senyum lagi dong cantik!" bujuk gue.


"Ih lepas! Kamu makin kurang ajar ya Razza! Jangan mentang-mentang aku buta, terus kamu bisa seenaknya sentuh aku kayak gitu ya!" sentak Freya, kali ini dia beneran marah dan bikin gue syok dengarnya.


"Ma-maaf, gue emang lancang." gue menjauh dan merasa bersalah.


Gue syok banget, gue benar-benar nyesel ngelakuin hal tadi sama Freya. Tahu gitu tadi gue gak pegang pipinya atau usap rambutnya, emang sih ini karena gue gak bisa tahan diri buat gak sentuh dia. Ya mau gimana lagi, Freya itu emang cantik dan gemesin banget sih.


"Berarti lu mau maafin gue kan?" tanya gue.


"Iya, aku maafin kamu. Ini karena kamu udah banyak tolong aku dan bantuin aku, tapi jangan diulangi ya!" jawabnya.


Gue mengangguk dan mengucap kata 'iya', dia langsung tersenyum kemudian menjulurkan jari kelingkingnya ke arah gue. Tentu gue bingung tak mengerti apa maksud dia ngelakuin itu, tapi gak lama dia bilang kalau dia pengen gue janji sama dia dengan cari taruh kelingking gue di kelingking dia.


"Janji ya?" begitulah pintanya, gue nurut aja dan lakuin apa yang dia mau.


"Iya janji Freya cantik, gue gak akan mengulangi kesalahan yang gue lakukan barusan. Sekarang kita pergi aja yuk! Kayaknya udah mau hujan deh ini, takut basah nanti," ucap gue.

__ADS_1


"Hujan? Serius kamu Razza? Duh, aku gak bawa jas hujan atau payung lagi," dia terlihat panik.


"Iya cantik, itu langitnya udah mendung. Mungkin karena lu gak mau senyum kali tadi, jadi langit ikutan sedih deh sama kayak gue," ucap gue.


"Haha apaan sih kamu? Kalau emang iya mendung, buruan deh antar aku ke supermarket!" ucapnya.


"Lu tenang aja! Motor gue ini lincah dan bisa dipake buat kebut-kebutan, jadi lu gak perlu risau. Tinggal pegangan, dalam lima menit kita nyampe di supermarket dekat sini," ucap gue agak sombong.


"Jangan ngebut juga Razza! Aku belum mau celaka ya, kalau kamu udah bosan hidup ya udah kamu aja sana yang mati duluan!" ucapnya.


"Hus kalo ngomong! Gue belum mau mati juga kali Freya, gue masih banyak keinginan yang belum bisa terpenuhi. Misalnya menikah, yakali gue mati dalam keadaan jomblo," ucap gue.


"Kamu masih SMA Razza, masa udah mau nikah?" tanyanya kaget.


"Gak sekarang juga, masih nunggu kalo lulus dan udah ada calonnya. Sekarang kan masih nyari nih yang mau diajak nikah," jawab gue.


"Ohh," respon dia begitu doang, gue pun coba membuat dia salah tingkah kembali.


"Kalau kamu sendiri udah siap belum buat nikah?" tanya gue.


Muka dia langsung memerah, berusaha menutupi rasa malunya dengan cara menunduk dan menaruh tangan di bibirnya. Sungguh reaksi dia yang kayak gini yang bikin gue makin demen sama dia, jadi gak sabar buat macarin dan sekaligus nikahin Freya nih rasanya, biar cepat-cepat sah gitu loh.


"Udah ah jangan bahas soal nikah! Masih panjang tau itu mah, kita berangkat aja yuk sebelum hujan!" ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Ya oke deh," gue menurut saja. Gue pun memakaikan helm di kepalanya dan naik ke motor, gue juga tuntun dia supaya bisa naik ke atas jok motor gue dengan gampang.


Setelahnya, gue langsung tancap gas mencari supermarket yang ada di dekat sana.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2