
Ibu Freya pun pergi dari sana meninggalkan kita berdua, tentu gue senang dengan keadaan ini karena gue jadi bisa lebih dekat dengan Freya. Ya tepat setelah ibunya pergi, sekarang gue langsung bangun dari sofa dan berpindah ke sebelah Freya. Gue rangkul pundaknya, saat itu juga Freya kaget lalu menoleh ke arah gue.
"Kamu apa-apaan sih Razza? Jangan kayak gini ah!" dia mencoba menyingkirkan tangan gue dari pundaknya, tetapi gagal karena gue lebih kuat.
"Biarin aja Freya, toh ibu lu udah pergi. Lu gausah takut gitu," ucap gue santai.
"Razza, jangan macam-macam ya! Kita disini bukan cuma berdua, ada maid aku juga. Kalau sampai dia lihat kamu kayak gini, pasti dia bakal salah paham dan ngira kita berbuat mesum," ucap Freya.
"Hahaha, kok lu gemesin banget sih? Dengan lu kayak gini, gue malah makin gak tahan buat ciumin pipi lu tau!" ucap gue sambil mencubit pipinya.
"Aku gak mau ah ladenin kamu yang mesum banget, mending aku ke kamar aja." Freya ngambek dan berusaha melepaskan diri dari dekapan gue, tapi tentu aja gak berhasil karena dia lemah.
"Lu pikir lu bisa lepas dari gue? Enggak akan Freya!" ucap gue.
"Ish, kamu tuh bikin aku takut tau gak. Tolong jangan kayak gini dong Razza!" dia meronta dan terus berontak, sepertinya dia sangat takut sama gue karena ucapan gue tadi.
"Hahaha, tuh kan lu gemesin banget. Mau ke kamar ya? Okay, kita bicara di kamar lu aja biar lebih enak," ucap gue.
"Hah? Kamu jangan gila deh Razza! Aku gak akan biarin kamu masuk kamar aku gitu aja, nanti yang ada kita disangka yang enggak-enggak lagi," ucap Freya menolak ajakan gue.
"Kenapa sih Freya? Gue cuma mau ngobrol sama lu, gue janji gak bakal apa-apain lu," ucap gue.
"Aku gak percaya lagi sama kamu, apalagi setelah kamu curi ciuman pertama aku tadi. Sekarang kamu mending pulang aja deh!" ujarnya.
Gue kaget banget dengar Freya ngomong kayak gitu, bisa-bisanya dia usir gue dan kelihatan marah banget sama gue. Tentu aja gue gak mau nurut, karena gue emang masih pengen di rumah ini sama dia. Akhirnya gue lepasin Freya supaya dia gak marah lagi sama gue.
"Tuh udah gue lepasin, lu jangan marah lagi dong! Gue masih boleh kan ada disini sama lu? Jangan usir gue ya!" ucap gue.
"Boleh aja, asalkan kamu mau nurut dan jangan bertindak aneh-aneh lagi!" ucapnya.
__ADS_1
"Siap sayang, gak mungkin juga gue macam-macam sama lu. Ibu lu aja tadi udah percaya sama gue kok, buktinya dia titipin lu ke gue. Kenapa lu malah gak percaya gitu?" ucap gue.
"Karena aku yang lebih tahu tentang kamu, kan selama ini kita udah sering ketemu," ucapnya.
"Cie cie, lu kayaknya udah hafal banget ya sama sikap gue? Duh duh jadi salting nih gue diperhatiin sama cewek cantik kayak lu," gue sengaja goda dia sambil senyum-senyum tipis.
"Apaan sih? Yang aku tahu itu keburukan kamu, harusnya kamu malu dong bukan malah senang kayak gitu!" ucapnya dengan ketus.
"Hehe.."
Disaat gue lagi nyengir, Freya malah tiba-tiba tampar pipi gue tanpa alasan yang jelas. Sontak gue marah dan hampir mau balas tamparan itu, tapi gue ingat kalau dia perempuan dan dia cantik. Ya begitulah hukum alam, lu cantik lu aman.
"Lo kenapa tampar gue? Salah gue apa sih?" tanya gue sambil megangin pipi.
"Pikir aja sendiri!" ucapnya ketus dan langsung pergi ninggalin gue.
Gue hanya bisa menghela nafas sambil mengelus dada, gue sepertinya harus banyak-banyak sabar dalam menghadapi wanita itu. Untung aja dia cantik dan gue sayang sama dia, jadi ya gue harus bisa sabar dan gak boleh emosi.
•
•
Hari ini ibu tiba-tiba menghampiriku di kamar dan berteriak seperti orang yang sedang ditiban rezeki, aku pun bingung melihatnya karena tak biasanya ibu seperti itu. Aku langsung saja bangkit dari posisiku dan mencoba bertanya pada ibu apa yang terjadi, ibu juga mulai mengusap wajahku masih sambil tersenyum bahagia.
"Freya, ada kabar gembira buat kamu nak. Ibu sudah berhasil menemukan pendonor yang tepat untuk mata kamu ini, akhirnya kamu bisa melihat lagi sayang!" ucap ibu dengan antusias.
"Hah? Yang bener Bu? Siapa orang yang mau donorin matanya buat aku Bu? Terus kapan operasi itu bisa dilaksanakan?" tanyaku penasaran.
"Benar sayang, ibu barusan dapat kabar dari dokter Rama yang biasa tanganin kamu. Katanya di rumah sakit Belgia itu ada orang yang bisa bantu kamu, untuk kapannya ya tergantung kesiapan kamu sayang," jawab ibu.
__ADS_1
Aku terkejut saat mendengar ibu mengucap kata 'Belgia', ya aku tak menyangka kalau ternyata aku harus pergi kesana untuk bisa mendapatkan donor mata. Tentu saja Belgia adalah tempat yang sangat jauh, bagaimana caranya aku bisa kesana untuk saat ini karena aku tidak memiliki uang.
"Bu, gimana caranya aku ke Belgia? Kondisi keuangan kita aja lagi buruk, boro-boro buat naik pesawat ke Belgia," tanyaku.
"Kamu gausah khawatir sayang, semua biayanya sudah ditanggung dokter Rama. Jadi, kita tinggal berangkat aja kesana dan lakuin operasi itu. Bahkan, biaya operasinya juga udah dibayar loh sama dokter Rama," jawab ibu.
"Apa? Tapi Bu, aku gak enak sama dokter Rama. Masa kita ngerepotin dia terus?" ucapku.
"Gapapa sayang, toh ini demi kebaikan kamu. Kamu mau ya terima donor itu dan pergi ke Belgia?" ucap ibu seperti meyakiniku.
"Aku sih mau-mau aja Bu, apalagi aku sudah lama menunggu momen ini. Ya tapi aku tetap gak enak sama dokter Rama," ucapku.
"Kamu gak perlu gak enak gitu, dokter Rama kan udah sering bantu kita," ucap ibu.
"Justru itu Bu yang aku pikirin, dokter Rama udah sering banget bantu kita dan aku gak mau terus-terusan andelin dia," ucapku.
Ibu terus berusaha meyakinkan aku, ibu juga menangkup wajahnya dan mengusap kedua mataku dengan lembut.
"Kamu terima aja ya bantuan dokter Rama kali ini? Semuanya demi kebaikan kamu sayang, jujur ibu pengen banget lihat kamu bisa melihat. Kamu mau ya terima donor itu?" bujuk ibu.
Setelah menimang selama beberapa menit, aku pun menganggukkan ucapan ibu dengan perlahan.
"I-i-iya Bu, aku mau deh pergi ke Belgia buat operasi mata. Aku juga gak sabar banget pengen bisa melihat isi dunia ini, aku sudah penasaran seperti apa wajah ibu yang selama ini selalu merawat aku dengan baik," ucapku.
"Nah gitu dong sayang, ibu bantu kamu siap-siap ya? Lusa kita sudah langsung berangkat kesana, supaya makin cepat kamu dioperasi," ucap ibu.
Aku kembali terkejut kali ini, harus pergi ke Belgia lusa tentu membuatku sangat kaget. Itu artinya aku harus meninggalkan Indonesia dan juga tentunya sahabatku, Razza.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...