Gadis Buta Tersayang

Gadis Buta Tersayang
Bab 22. Pertama dan terakhir (end)


__ADS_3

Hari sudah berganti, aku kini pergi ke tempat dimana aku dan Razza sering bertemu selama ini. Aku berharap dia akan datang kesini menemuiku karena ini adalah terakhir kalinya mungkin aku bisa bertemu lagi dengan dia, sebab besok aku sudah harus terbang ke Belgia untuk operasi sesuai perkataan ibu kemarin padaku. Bahkan, dokter Rama juga sudah menyampaikan info bahwa dia telah membelikan tiket pesawat untukku dan juga ibu.


Cukup lama aku berdiri disini, tepatnya di tepi sebuah danau yang kurasa indah dan nyaman ini. Tapi, belum juga ada tanda-tanda kalau Razza akan datang kesini menemuiku. Jujur saja aku khawatir, apalagi rasanya hari sudah mulai sore dan tentu aku harus segera pulang agar ibu tidak cemas dengan kepergian aku hari ini.


Baru saja kakiku hendak melangkah ke luar dari area danau, tapi tiba-tiba sebuah suara berat yang aku nantikan akhirnya terdengar di telingaku. Ya dia adalah orang yang aku tunggu sedari tadi dan hampir membuatku kecewa kalau dia tidak datang hari ini, sebab aku sangat ingin menikmati hari terakhir bersamanya kali ini.


"Freya?" ucap Razza lirih. Aku tahu itu suara dia, karena aku sudah hafal dan ingat baik-baik di dalam kepalaku.


"I-i-iya, Razza?" ucapku agak gugup sembari berbalik badan berusaha mencari keberadaannya.


"Hey, aku disini." dia menangkap tanganku. Aku tersenyum dan mengarahkan pandangan ke tempat dia berdiri saat ini.


"Kamu kenapa sayang? Kelihatannya kamu kayak lagi menyimpan sesuatu, terus kenapa juga kamu ada disini? Pantas aja aku tunggu kamu di depan sekolah, tapi kamu nya gak ada-ada," ucapnya.


Aku tersenyum sembari memalingkan wajahku, sungguh aku belum siap untuk menceritakan pada Razza bahwa besok aku harus pergi ke Belgia untuk operasi mata. Aku khawatir dia akan merasa sedih dan aku tidak mau itu terjadi, namun bagaimanapun aku juga harus memberitahukan itu padanya agar Razza tak cemas padaku.


"Kenapa Freya? Ayo kamu cerita aja sama aku! Aku ini kan pacar kamu sekarang, kamu bisa bebas cerita apapun yang kamu mau ke aku!" ucapnya.


"Razza, kalau aku pergi besok dari hidup kamu, apa kamu masih tetap setia sama aku?" ucapku bertanya dengan maksud memancing reaksinya.


"Hah? Kenapa kamu bicara begitu sayang? Kamu ada niatan mau tinggalin aku? Kok kamu gitu sih? Kamu gak sayang ya sama aku?" tanyanya emosi.


"Ih jangan salah paham dulu! Aku tuh bukan gak sayang sama kamu, tapi aku emang harus pergi karena sesuatu hal Razza," jawabku.


"Sesuatu hal apa sayang? Kamu jelasin dong ke aku biar aku gak salah paham!" pintanya.


"Aku bakal jelasin ke kamu, tapi kamu tenang dulu dong! Gimana aku bisa cerita kalau kamu gak tenang kayak gini?" ucapku.


"Iya iya, ini aku tenang kok. Udah cepat jelasin ke aku kamu mau pergi kemana sayang!" ujarnya.


Aku pun menghela nafas, kembali kukembangkan senyumku bermaksud agar dia bisa lebih tenang dari sekarang dan aku dapat bercerita dengan santai mengenai rencanaku untuk pergi ke Belgia dan melakukan operasi mata.


"Aku harus pergi ke Belgia lusa, aku akan operasi mata karena disana ada pendonor buatku," jelasku padanya.


"Apa??" sepertinya dia kaget mendengar ucapan ku barusan, terlihat dari nadanya berbicara.


"Iya Razza, aku baru dapat kabar bahagia ini dari ibu kemarin. Awalnya aku juga bingung karena aku gak mau ninggalin kamu, tapi ini kesempatan buat aku bisa melihat," ucapku.


Kurasakan dia terdiam selama beberapa menit, aku tahu apa yang dia pikirkan karena aku pun berat untuk meninggalkannya. Lalu, tiba-tiba saja dia memelukku sangat erat sambil terisak seolah dia tak rela jika aku pergi darinya.

__ADS_1


"Aku paham kok sayang, aku justru senang kalau kamu bisa melihat nantinya. Aku gak sabar untuk itu," ucapnya di pelukan ku.


Freya POV end




Sebulan kemudian...


Gue dan Freya sudah berpisah kurang lebih satu Minggu, kini gue pun sendirian dan tidak ada lagi yang menemani. Jujur gue kangen sama Freya, gue pengen banget lihat wajah cantik dia juga senyum dia yang manis itu. Tapi apa daya, gue gak tahu kapan dia bisa pulang.


Gue datang kembali ke danau tempat terakhir kali gue ketemu sama dia, gue berharap bisa meredakan rasa rindu gue dengan datang kesini. Gue pandangi danau di bawah sana, lalu wajah Freya langsung terbayang di kepala gue dan bikin gue makin susah buat menghilangkan kerinduan gue ini.


"Permisi!" gue terkejut mendengar suara itu, suara yang lembut dan sejuk di telinga gue.


Langsung aja gue balik badan, gue tersenyum kala melihat Freya berdiri disana menatap ke arah gue. Tapi yang gue heran, dia datang sama dua cowok dengan pakaian rapih seperti bodyguard. Penampilan Freya saat ini juga berbeda dari sebelumnya, dia kini terlihat seperti orang kaya dan bukan seperti Freya yang gue kenal.


"Apa saya boleh ikut berdiri disini? Soalnya saya lagi nunggu seseorang, dia janji bakal datang kesini terus sampai saya kembali dulu," ucapnya.


Gue agak kaget dengarnya, apa mungkin Freya ini lagi nunggu gue sekarang?


"Terimakasih," ucapnya singkat.


Perasaan gue benar-benar tak karuan, di satu sisi gue senang banget bisa ketemu sama Freya lagi, tapi disisi lain gue juga bingung kenapa tampilan Freya sekarang berubah banget. Gue jadi ragu buat kenalin diri ke Freya kalau gue ini Razza, cowoknya yang selama ini temenin dia.


"Oh ya, kamu kesini lagi nunggu orang juga? Atau cuma mau main-main aja?" tanyanya sambil menatap wajah gue.


"Iya, aku lagi nunggu orang," jawab gue.


Lalu, dua orang bodyguard di belakang itu datang mendekati kami. Salah satu dari mereka berbisik di telinga Freya, tapi gue masih dapat dengar kata-kata dia ke Freya karena jarak gue yang gak terlalu jauh dari mereka.


"Maaf non, sebaiknya kita pulang saja. Non sudah ditunggu oleh den Geri di rumah, barusan beliau telpon saya. Katanya beliau mau membahas tentang pernikahan kalian," ucap si bodyguard.


Deg!


Gue kaget banget dengarnya, jadi ternyata Freya pergi lama banget karena dia ingin mengurus pernikahannya dengan laki-laki itu. Sungguh perasaan gue sangat sakit kali ini, wanita yang gue cintai ternyata mau menikah dengan orang lain tanpa sepengetahuan gue.


"Umm, iya iya abis ini aku pulang kok. Aku cuma mau tunggu orang sebentar," ucap Freya pada bodyguardnya.

__ADS_1


"Baik non!" bodyguard itu mundur dan menjauh dari Freya untuk kembali pada tempatnya.


Gue yang udah gak tahan lagi, memutuskan untuk pergi dari sana dan pamit ke Freya. Walaupun gue seharusnya gak melakukan itu, karena gue yakin Freya juga pasti gak mau tahu kalau gue pergi dari tempat ini.


"Eee saya duluan ya? Maaf saya gak bisa temani kamu," ucap gue pamit.


"Eh iya iya, tapi emangnya teman kamu udah datang? Perasaan daritadi aku gak lihat siapa-siapa deh," ucapnya heran.


Gue menggeleng, "Enggak, dia gak jadi datang. Yaudah ya saya permisi," ucap gue.


Dia hanya mengangguk pelan, gue pun langsung berbalik dan pergi gitu aja dari sana meninggalkan dia dengan dua orang bodyguardnya. Gue masih gak menyangka, pertemuan pertama gue dengan Freya setelah dia bisa melihat justru berakhir menyedihkan seperti ini.


Tapi, tiba-tiba aja nama gue dipanggil dari belakang. Suara yang gue dengar itu bikin gue merinding, ya gue yakin banget itu suara Freya.


"Razza.." gue terkejut banget dengar itu, bagaimana bisa Freya kenal sama gue padahal gue sama sekali gak kenalin diri ke dia tadi. Bahkan, gadis itu sekarang sudah berjalan menghampiri gue.


"Kamu Razza kan?" tanyanya dengan tatapan mengarah ke wajah gue.


Gue terdiam selama beberapa detik, gue masih bingung harus bagaimana untuk bisa menjawab pertanyaan Freya.


Dan tanpa gue duga, Freya malah peluk gue dengan erat. Hal itu bikin jantung gue berdegup sangat kencang.


"Aku minta maaf Razza, aku baru sempat temuin kamu hari ini! Aku juga minta maaf, karena aku gak bisa jaga janji cinta kita. Aku senang banget bisa melihat wajah kamu Razza, walau mungkin ini pertama dan terakhir kalinya kita bertemu," ucapnya disertai isak tangis.


Gue hanya diam membeku, gue pilih buat lepas pelukan itu dan menjauh darinya. Gue cuma gak mau makin sulit buat lupain dia dari hidup gue.


"Maaf, tapi saya bukan orang yang kamu cari. Permisi!" ucap gue bohong.


Gue langsung berbalik, mencoba menahan air mata yang hendak menetes. Gue tinggalin Freya disana, gue gak perduli walau dia kejar gue dan coba buat tahan gue untuk tetap disana.


"Razza tunggu, Razza!" teriak Freya dengan lantang, tapi sesaat kemudian gue dengar suara dia terjatuh dan meringis.


Bruuukkk


"Awhh akh!!" Freya memekik sakit, gue sempat menoleh ke arahnya dan melihat dia terjatuh di aspal.


Ingin sekali gue tolong dia seperti dulu, tapi rasa sakit di hati gue udah gak bisa ditahan lagi. Akhirnya gue memilih lanjut pergi, gue janji gak akan pernah mikirin Freya lagi dan cukup kali ini gue berkenalan dengan wanita.


...~Selesai~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2