Gadis Buta Tersayang

Gadis Buta Tersayang
Bab 18. Lebih welcome


__ADS_3

Dia hanya diam dengan wajah yang masih kesal, gue sedikit merasa tidak enak karena sudah mencuri sesuatu yang seharusnya belum gue lakukan itu. Tapi walau begitu, gue gak nyesel karena gue emang pengen jadi yang pertama buat Freya dalam segala-galanya.


"Kalau lu mau pukul gue, silahkan pukul aja Freya! Lo boleh lakuin apapun yang lu mau ke gue kok, ayo Freya lakukan itu!" ucap gue.


"Kenapa aku harus pukul kamu? Udah deh gausah drama di depan aku, mending kita pergi sekarang karena aku udah malas disini!" ucapnya kesal.


"Sabar sayang, tunggu sebentar lagi ya sampai hujannya agak reda!" ucap gue memintanya menunggu sebentar.


"Mau sampai kapan lagi? Aku rasa ini udah gak terlalu deras kok, bisa lah kita pergi sekarang," ucapnya kekeuh.


"Lo susah amat dikasih taunya deh, gue udah bilang ini hujannya masih gede eh lu malah ngeyel terus! Gue gak mau lu kehujanan terus sakit, Freya! Gue perduli loh sama lu," ucap gue tegas.


"Halah perduli apanya? Bilang aja kamu cuma mau curi-curi kesempatan lagi ke aku!" ucapnya.


"Gak lah sayang, gue kan udah janji. Tunggu sebentar lagi, abis itu nanti gue antar lu sampai ke depan rumah deh," ucap gue.


"Iya iya.." akhirnya dia menurut dan tidak membantah lagi seperti sebelumnya.


Gue tersenyum lebar, lalu kembali memeluknya dengan erat dan mengusap punggungnya lembut. Gue berikan kehangatan pada tubuhnya, sambil berharap semoga Freya tidak marah lagi sama gue. Walaupun dari ekspresinya saat ini, gue yakin banget kalau dia masih marah banget.


"Jantung lu kok berdebar kencang banget sih? Lu suka ya gue peluk kayak gini?" tanya gue sedikit menggoda.


Sontak ekspresinya langsung berubah, dia seolah tersipu dan wajahnya memerah. Gue senyum melihat dia seperti itu, mukanya benar-benar bikin gue gemas dan pengen gigit aja.


Tak lama hujan mulai reda, tapi gue tetap peluk dia dan usap rambutnya. Gue paling suka kalau lagi dalam keadaan kayak gini, gue gak mau lepas pelukan ini karena gue menyukainya.


"Gue sayang sama lu Freya!" ucap gue mantap.


"Kamu gak perlu ulangi kalimat itu berkali-kali, aku udah dengar Razza!" ucapnya dengan wajah mendongak.

__ADS_1


"Abisnya lu kayak gak percaya gitu sih, makanya gue terus-terusan bilang kayak gitu," ucap gue.


"Ini kayaknya udah reda deh, ya kan? Kita pulang sekarang aja yuk!" ucapnya.


"Kenapa sih lu pengen banget pulang? Emang lu gak suka berduaan sama gue kayak gini?" tanya gue memancing.


Dia langsung menggeleng dengan wajah cemberut, "Jelas gak pengen lah, kamu aja mesum banget kok!" jawabnya.


"Hahaha..." saat itu juga gue tertawa lebar, gak tahu kenapa setiap kali lihat muka Freya selalu bikin gue gemas dan pengen cubit.


"Kenapa kamu malah ketawa? Ayo buruan kita jalan sebelum hujannya deras lagi!" ucapnya.


"Iya iya, yuk gue bantu lu jalan ke motor gue! Soalnya disini licin banget, gue takut lu jatuh nanti terus malah repot," ucap gue sambil memegangi dua tangannya.


Gue lihat Freya hanya diam, sepertinya dia setuju sama usul gue karena dia gak berontak atau bicara apapun. Kita pun melangkah bersamaan menuju tempat motor gue berada, barulah disana gue lepas tangan Freya dan mengambil helm. Gue pasang helm itu di kepalanya sambil memandangi wajahnya.


"Kamu gausah kebanyakan ngayal, kita pulang aja dulu yuk!" ucapnya.


"Hahaha, itu bukan khayalan Freya. Semua yang gue omongin itu keinginan gue, dan gue pastikan semua itu bakal terwujud Freya!" ucap gue penuh yakin.


"Iya iya iya, terserah kamu aja. Ngomong sama kamu itu percuma, jadi mending kita langsung pulang buruan!" ucapnya terlihat kesal.


"Okay sayang, yuk kita pulang supaya kamu gak ngambek lagi dan gak marah-marah terus!" ucap gue sambil tersenyum menggoda.


Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas, gue langsung naik ke atas motor disusul oleh Freya yang juga naik dengan bantuan gue. Dia awalnya gak mau peluk gue, tapi karena gue minta dan juga demi keselamatan, akhirnya dia mau lingkarin tangannya di pinggang gue dan meluk gue.


Tanpa basa-basi lagi, gue pun melajukan motor dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Gue sangat senang dan nyaman karena gue dipeluk sama perempuan yang gue sayangi, gue rasa juga Freya begitu karena dia kelihatan tulus banget peluk gue walau awalnya ragu-ragu.


Tidak butuh waktu lama, gue sama Freya pun tiba di rumah yang memang jaraknya tak terlalu jauh dengan supermarket tadi. Gue turun dari motor, lalu bantu Freya buat turun juga supaya dia gak jatuh. Gue benar-benar perduli sama dia, gue tentu gak mau gadis yang gue cintai terluka.

__ADS_1


"Kamu mau mampir dulu atau langsung pulang aja?" tanyanya yang menurut gue kurang jelas, dia mau nawarin mampir tapi kayak ngusir.


"Umm, jelas mampir dong Freya. Gue kan udah bilang tadi gue mau main dulu di rumah lu," jawab gue tanpa ragu.


"Yaudah, ayo kamu masuk aja ke rumahku! Tapi, tolong bawain belanjaan aku juga ya Razza soalnya berat nih!" ucapnya sambil tersenyum.


Jelaslah gue gak bisa nolak kalo udah lihat senyuman dia yang lebih manis dari gula itu, mungkin gue udah terhipnotis sama senyuman dia yang emang memabukkan. Langsung aja gue bawa tuh barang belanjaan, gak gue biarin dia bawa sedikitpun belanjaan tersebut.


"Nih gue bawain, apa sih yang enggak buat cewek cantik kayak lu?" ujar gue.


"Kamu bisa berhenti gak gombalin aku? Aku bosen tahu dengarnya," ucapnya.


"Gak bisa sayang, lu itu cantik banget sih. Jadi, ya harus digombalin terus," ucap gue.


"Terserah kamu lah, aku mau pergi duluan aja!" sepertinya dia kesal sama gue, karena dia langsung pergi gitu aja tanpa menunggu gue lebih dulu.


Gue hanya senyum melihatnya, Freya kalau lagi ngambek begitu emang tambah gemesin, bukannya kelihatan serem. Gue langsung aja susul dia ke dekat rumahnya sambil bawa barang-barang belanjaan di tangan.


Setelahnya, gue pun diajak masuk ke dalam rumah itu sama Freya dan ibunya. Gue senang banget karena sekarang ibunya itu jadi lebih welcome ke gue, gak seperti awal yang masih kelihatan jutek dan gak suka saat gue datang kesana.


Kini gue dan Freya duduk di ruang tamu, kita hanya berdua karena ibunya sedang ada di dapur membereskan barang belanjaan bersama pelayan yang bekerja disana. Gue tatap wajahnya, perlahan gue memberanikan diri pegang tangannya. Tapi, dia marah dan malah pukul punggung tangan gue.


Plaaakk


"Duh sakit!" gue reflek menjerit sembari mengusap punggung tangan gue yang dipukul sama dia.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2