GADIS CANTIK TAWANAN CEO LUMPUH

GADIS CANTIK TAWANAN CEO LUMPUH
Masakan Pertama


__ADS_3

Ayesha menyelesaikan masakannya dengan cepat.


Adam sejak tadi memperhatikan bagaimana sigapnya sang istri bergelut dengan dapur kini melihat beberapa hidangan telah tersaji di meja makan.


Sebagai Tuan rumah Ayesha menawarkan Adam untuk bergabung bersamanya menikmati masakan yang dibuat Ayesha.


"Bapak masih ragu? Takut ada racunnya?"


Melihat Adam yang masih belum memulai membuat Ayesha berprasangka.


Ayesha menyantap hasil masakannya sambil menatap Adam.


Adam akhirnya menyuapkan makanan yang ada dipiringnya.


"Enak." dalam hati Adam mengakui hasil masakan istrinya.


"Bagaimana Pak, enak kan?" Ayesha dengan PD mengerlingkan mata pada Adam.


"Biasa saja. Layaklah untuk dimakan." begitu Adam dengan segala gengsi setinggi gunung.


"Ya, Iya deh, yang biasa dimasakin sama chef di Mansion. Kalau begitu setelah makan lebih baik Bapak kembali ke Mansion. Saya akan hubungi Pak Rian buat jemput Bapak."


Ayesha melanjutkan makannya sambil meraih ponsel hendak menghubungi Rian asisten Adam.


"Kamu seneng banget ngusir Saya. Saya ga mau balik. Malam ini Saya menginap disini."


Ayesha menarik nafas sepenuh dada, mengjadapi Adam memang harus dengan kepala dingin sebab jika menuruti emosi rasanya Ayesha ingin sekali melempar Boss sekaligus suaminya yang bermulut setajam silet ke rawa-rawa.


Lain dimulut lain dihati, Adam begitu menikmati hasil masakan Ayesha hingga tak terasa ia menambah tumis kangkung yang terasa nikmat dilidahnya.


"Katanya biasa aja, tapi nambah!" Ayesha meledek Adam.


"Aku hanya menghargai jerih payahmu dan lagi pula tak ada makanan lain disini. Kamu pelit sekali ada Suami dirumah hanya memasak ini." Adam masih dengan gengsinya masih ga mau mengakui kalau ia menikmati kelezatan masakan Ayesha.


"Pak Sultan Adam, di warung sayur disini ga ada salmon, sama salad, adanya kangkung dan ikan kembung, jadi terima saja. Salah sendiri maksa nginap disini, rumah Saya itu bukan Mansion Bapak yang segalanya ada."


Ayesha mendumel sambil membereskan piring bekas makan dan segera mencucinya.


Ayesha memang terbiasa membantu Ayah Ridwan melakukan pekerjaan rumah.


Sejak kecil tinggal berdua Ayah Ridwan, Ayesha terbiasa melakukan pekerjaan rumah bersama sang Ayah.


Meski Ayah Ridwan lebih sering memasak untum Ayesha, bukan berarti Ayesha tak bisa masak.


Kini Ayesha bersyukur, bekal ilmu kehidupan yang Ayah Ridwan ajarkan berguna saat ini, dikala ia harus hidup sebatang kara.


Adam menatap Ayesha yang dengan cekatan melakukan banyak hal soal pekerjaan rumah tangga.


Adam tak menyangka kalau Ayesha wanita mandiri, selain cerdas, profesional dalam pekerjaan sekaligus sangat paham mengenai urusan rumah tangga.

__ADS_1


Adam tak memungkiri, Ayesha paket komplit sebagai istri.


Tapi Adam juga belum bisa memastikan apakah ia mulai nyaman atau hanya terbiasa.


Adam melihat Ayesha masih berkutat di dapur entah apa yang ia lakukan lagi.


"Kamu sedang apa?" Adam mengintip apa yang Ayesha lakukan.


Ayesha tidak minat menjawab ia memilih melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan.


2 buah cangkir berisi teh tarik dengan sepiring singkong goreng terhidang di meja ruang TV.


"Kalau Bapak mau silahkan coba, kalau tidak ya buat Saya semua."


Ayesha membalas kata-kata Adam sebelum pria bermulut piranha itu kembali menghina.


Kali ini Adam yang terkena serangan kata-kata Ayesha tak menanggapi memilih langsung mencoba apa yang disuguhkan oleh Ayesha.


"Ini Teh tarik? Kamu beli instan?" Adam menyeruput untuk kedua kalinya.


Rasa sepat dari teh berpadu manis dan hangat terasa nyaman dan nikmati dimulut Adam.


Padanan yang pas saat melihat singkong goreng yang masih mengepul seolah memanggil Adam segera memakannya.


Nyatanya singkong goreng buatan Ayesha renyah dan garing. Enak lagi.


Adam lupa kalau ia harus jaim malah sudah habis 2 potong saja.


"Ayah sangat suka teh tarik dengan singkong goreng. Sering sekali minta dibuat itu oleh Saya."


Ayesha tiba-tiba sendu terlihat sedikit menyusut sudut matanya.


Adam meletakkan cangkir, memandang wajah Ayesha dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tanpa sadar Ayesha bercerita panjang lebar, entah sadar atau tidak, ia berbagai kisahnya di hadapan Adam.


Adam membiarkan Ayesha menumpahkan segala yang dirasakannya mendengarkan dengan telaten apa yang Ayesha sampaikan.


Adam bisa menangkap, bahwa Ayah mertuanya adalah pria dan Ayah yang baik.


Terdengar Ayesha begitu mengagumi dan menghormati pria yang kini telah beristirahat dengan tenang dipusaranya.


"Kenapa Saya jadi cerita sama Bapak ya. Maaf ya Pak. Saya hanya sedang merindukan Ayah."


Adam bisa melihat netra Ayesha yang masih berkaca-kaca.


"Tak apa, terkadang Akupun merindukan Daddy sesekali."


Kini Adam untuk pertama kalinya membahas almarhum Daddynya.

__ADS_1


Ayesha menatap pada Adam dan entah apa yang membuat Adam membalas tatapan itu.


Netra keduanya saling bersiborok seakan mencari sesuatu yang ada dalam hati.


Sesaat kemudian keduanya sadar dan saling membuang pandangan.


"Bapak benar mau menginap?"


"Ga boleh memangnya?"


"Ya tapi disini hanya ada kipas angin, Saya takut Bapak tak nyaman."


"Ya, Aku akan mencobanya, kalau tidak dicoba mana tahu."


Ayesha beranjak masuk ke kamar Ayah Ridwan menyiapkan selimut dan mengganti sprei dan sarung bantal agar Adam lebih nyaman.


"Pak, itu ada lotion anti nyamuk, sebelum tidur Bapak bisa pakai itu takut Bapak tak biasa digigit nyamuk."


Ayesha menyiapkan segelas air di sisi ranjang Ayah Ridwan yang akan ditempati Adam malam ini.


"Semoga nyaman ya Pak. Kalau ga bisa tidur ya nikmati saja."


Setelah Adam terkesima dengan perhatian tang Ayesha berikan kini istrinya kembali kemode menyebalkan lagi.


"Ay!"


Panggilan Adam sukses menghentikan langkah Ayesha yang hendak keluar kamar.


"Terima kasih."


Ayesha hanya menjawab dengan anggukan dan menutup pintu kamar itu.


Sepeninggal Ayesha, Adam beranjak menuju ranjang meski agak sedikit kesulitan namun ia sudah mulai terbiasa dengan kondisinya kini.


Adam meletakkan tangannya sebagai alas kepala menatap langit-langit kamar itu.


Adam kembali terbayang saat kecelakaan itu terjadi.


Adam mengepal kuat tangannya teringat informasi yang ia terima bahwa mobil miliknya ada yang menyabotase.


"Aku harus tahu siapa yang melakukannya. Akan aku pastikan mereka akan lepas dan harus masuk penjara!"


Lamat-lamat Adam merasakan kedua mafanya berat dan ia tak sadar terlelap dalam mimpi yang membuainya di kamar mendiang Ayah Ridwan.


Ayesha setelah menyelesaikan kewajibannya menunaikan 4 rakaat sebelum tidur, membersihkan wajah dan memakai skincare ia beranjak naik ke ranjang.


Ayesha rindu akan kamarnya. Meski sederhana tapi rumah adalah tempat ternyaman meski diliuar sana ada yang lebih mewah dan nyaman tidak membuat Ayesha merasa lebih nyenyak dibandibgkan tidur di kamarnya sendiri.


Masih dengan pikirannya, Ayesha memejamkan mata, merasa berat kepalanya memikirkan bagaimana kelanjutan hidupnya kelak.

__ADS_1


Kantuk menyerang hingga membawa Ayesha ke alam mimpi.


__ADS_2