
Adam menyusul Ayesha yang kini masuk ke dalam kamar.
Sebelum Adam menyusul Ayesha, Mom Hawa meminta Adam agar membicarakannya dengan Ayesha dengan kepala dingin tanpa emosi.
"Maksud Kamu apa bicara seperti itu dihadapan Mom?" Adam membuntuti Ayesha dengan ekspresi wajah kesal.
"Saya bicara yang sebenarnya, Mom sudah tahu faktanya, jadi tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Bukankah, soal kecelakaan Bapak dan Ayah semata memang karena kecelakaan, lantas tak ada lagi yang harus dipertanggung jawabkan. Bapak juga sudah sembuh sekarang." Ayesha meninggikan suara.
Adam mendengarkan keluh kesah Ayesha, memperhatikan istrinya yang kini sedang meluapkan isi hati dengan gamblang.
"Tetap saja, perjanjian kita masih ada 2 bulan, dan Kamu masih terikat kontrak sebagai sekretaris Saya." Adam tak mau kalah.
"Saya kan bilang berakhir jadi istri Bapak. Kalau soal pekerjaan, Saya profesional kok!" Ayesha masih dengan kegigihannya.
"Tetap saja, tidak bisa! Kamu harus selesaikan perjanjian Kita!"
Adam memilih keluar kamar, menenangkan diri dari pada terus bersama Ayesha yang ada hanya akan berdebat dan semakin sengit.
Ayesha kesal dibuatnya, ia merasa Adam sangat menjengkelkan.
Adam memilih menenangkan diri di ruang kerjanya sambil memikirkan banyak hal.
Adam terdiam sambil mengingat waktu kebelakang kebersamaannya dengan Ayesha.
Sejujurnya ada rasa nyaman bersama Ayesha meski perempuan itu tidak menunjukkan sesuatu yang lebih padanya.
Adam pun tak mungkin bertanya seperti apa perasaan Ayesha, gengsi, itu lah Adam.
Begitupun Ayesha, selepas mandi ia memutuskan berbaring diranjang besar berniat memejamkan mata namun nyatanya mata tak kunjung terpejam.
Beberapa kilasan terlintas dibenak Ayesha saat kebersamaannya dengan Adam selama menemani suaminya itu berobat.
Ada rasa tak biasa meski terkadang Ayesha merasa Adam seperti bunglon yang berubah-ubah.
Kadang baik kadang cuek. Kadang lembut kadang marah-marah gak jelas.
Keduanya nyatanya menerawang di tempat masing-masing hingga tak sadar terlelap hingga pagi menjelang.
Nyatanya pagi menjelang siang, Adam baru saja terjaga dari tidurrnya.
Semalaman tidur dalam posisi terduduk di kursi kerjanya membuat tubuh Adam terasa kaku.
__ADS_1
"Dia sama sekali tak membangunkanku." Adam menyipitkan mata, mengedarkan pandangan selagi meregangkan tubuhnya yang mati rasa kaku.
Adam keluar dari ruang kerja berpapasan dengan Mom Hawa.
"Dam, Kamu tidur diruang kerja?" Mom Hawa menatap sang putra dari bawah ke atas.
Bukannya menjawab Adam malah mencari keberadaan Ayesha yang tak nampak batang hidungnya.
"Ayesha pagi tadi pamit pada Mom, mau ke makam Ayahnya dan ada keperluan dengan temannya. Kamu bagaimana sih Dam. Bukannya bicara baik-baik, malah tidur diruang kerja. Mom harap kalian baik-baik saja." Mom Hawa kesal karena Adam tetaplah Adam yang masih keras kepala dan gengsian.
"Adam mau mandi dulu ya Mom."
Adam pamit menuju kamarnya.
Didapati kamarnya kosong dan telah rapi.
Adam akui Ayesha sangat rapi dan mandiri.
Banyaknya asisten rumah tangga namun Naura memang biasa merapikan sendiri area kamar mereka.
Saat keduanya di luar negeri menjalani pengobatan, Ayesha tak segan melakukan pekerjaan rumah tangga meski ada ART yang menangani.
Adam bergegas menuju kamar mandi dan berniat segera menyusul Ayesha.
"Makanlah dulu Dam." Mom Hawa melihat Adam yang sudah rapi siap berangkat.
"Adam nanti makan diluar saja Mom. Adam mau ke kantor."
Perlahan Mom Hawa dengan kode menepuk kursi di sebelahnya meminta Adam untuk duduk.
Tentu saja Adam menuruti perintah sang Ibu.
"Dam, Mom tahu, Kalian menikah bukan karena saling cinta, namun apakah saat ini tidak adakah perasaanmu sedikitpun untuk Ayesha?"
"Mom bahagia sekali, memiliki Ayesha dalam hidup Kita. Naura itu baik, mandiri dan ia begitu perhatian. Apakah Kamu tidak menyesal jika melepaskan Ayesha begitu saja. Perjuangkanlah Dam. Kamu laki-laki. Kamu harus bersikap gentlement. Sebagai wanita, Ayesha juga butuh kepastian. Jangan Kamu gantungkan status pernikahan Kalian dengan perjanjian yang Kalian buat itu. Mom Harap, Kamu bisa berpikir masak-masak." Mom Hawa menepuk bahu sang putra yang ia yakin Adam sudah mulai ada perasaan untuk Ayesha.
"Adam pamit dulu Mom. Assalamualaikum."
Mencium tangan Mom Hawa dan segera bergegas dengan didampingi Rian.
"Pak, Kita mau langsung ke kantor?" Rian bertanya pada sang atasan yang terlihat menerawang sambil menatap jalan lewat jendela mobil.
__ADS_1
"Kita ke alamat ini." Ada memberikan sebuah maps kepada Rian.
Sementara Ayesha selepas menumpahkan segala rindu dan perasaan yang campur aduk di hadapan pusara Ayah Ridwan, meski berta langkah meninggalkan dan masih betah mendoakan dan mengobati rindu namun Ayesha bergegas pergi meninggalkan pusara Ayah Ridwan memenuhi janji bertemu dengan temannya.
"Naura!" Seorang pria melambaikan tangan memanggil Ayesha.
"Kak Andi. Maaf Aku tadi terjebak macet. Lama ya?" Ayesha berbasa basi.
"Tidak kok. Aku juga baru sampai. Btw Kamu mau pesan apa? Aku belum makan. Temani Aku makan ya." Jawab Andi.
Anggukan Ayesha dan kini mereka menikmati santap bersama dengan diselilingi obrolan dan canda.
"Jadi Kakak dan Kak Nina sudah menikah? Ah Aku rindu dengan Kak Nina. Bagaimana kabar Kak Nina?" Naura bahagia sekali mendengar kedua seniornya di BEM saat mereka kuliah akhirnya berjodoh dan kini telah menikah.
"Nina menitipkan salam untukmu. Kami badu saja dikaruniai seorang putri. Makanya Nina tak bisa ikut menemuimu." Jawab Andi sambil memberikan foto baby newborn yang ada di ponselnya.
"Masya Allah, cantik sekali. Mirip sama Kak Nina. Ah gemes. Aku jadi kepingin melihat langsung." Ayesha begitu gemas melihat foto anak Andi dan Nina dalam ponsel itu.
"Tentu saja, Kamu tak lihat Ayahnya tampan begini. Dia mirip denganku." Andi begitu senang dan bahagia akan kelahiran putrinya.
"Kalian itu memang sejak dulu couple paling sweet. Ah, Aku juga ingin punya baby lucu begini. Siapa namanya?"
"Kamu pasti akan segera punya Ayesha. Makanya rajin-rajinlah berusaha dengan Tuan Adam suamimu." Andi menjawab dengan canda.
"Aku terkejut saat melihat kabar pernikahanmu dengan pengusaha terkenal Tuan Adam. Wah sekarang Kamu sudah jadi Nyonya Adam."
Ayesha tersadar, ya semua orang tahu ia adalah istri dari seorang pengusaha Adam Razka Alfarizi.
Namun hati kecil Naura sendiri gamang apakah pernikahan ini akan tetap berlanjut atau akan segera berakhir.
Lamunan Ayesha membuyar saat suara bariton yang tentu saja mengejutkan Naura dan juga Andi.
"Sayang, kenapa tidak mengajakku, Aku kan juga ingin kenal dengan temanmu."
Rupanya Adam kini duduk disebelah Ayesha bergabung bersama keduanya yang masih termangu akan kedatangan Adam yang tanpa aba-aba.
"Maaf Tuan Adam. Perkenalkan Saya Andi. Kakak tingkat Ayesha sewaktu kuliah." Andi mengulurkan tangan hendak menyalami Adam.
"Saya Adam. Suami Ayesha." Adam membalas uluran tangan Andi.
Ayesha melihat interaksi Adam dan Andi hanya bisa diam dan sesekali tersenyum meski hatinya kesal, bagaimana bisa Adam tahu ia ada di sini.
__ADS_1