
Ayesha membuka kelopak matanya, mengerjapkan mata.
Tubuhnya terasa relax dan nyaman plus segar saat bangun tidur.
"Loh! Kok bisa di sini? Semalam kan Aku tidur di sofa?"
Ayesha menyadari ia berada di atas ranjang, pantas saja terasa begitu nyaman dan segar setelah bangun tidur.
"Sudah bangun?"
Ayesha menoleh kearah Adam yang nyatanya mampu menyita perhatian.
Badan athletis Adam yang hanya terbalut handuk rupanya membuat Ayesha diam tergugu.
Adam menyadari dipandang sedemikian rupa oleh istrinya hanya tersenyum dan sedikit meledek.
"Sudah jangan dipandangi terus, Saya memang tampan dan mempesona. Kamu mandi Kita sarapan dan segera kembali ke Mansion." Adam dengan tersenyum puas melihat Ayesha yang kesal namun tertahan sambil bangkit dari ranjang.
Adam dan Ayesha memilih sarapan dulu sebelum meninggalkan hotel.
Sesampai di Mansion tentu saja disambut senyum ceria dari Mom Hawa.
"Sayang, bagaimana? Lelah?" Mom Hawa merangkul Ayesha saat masuk ke dalam Mansion.
"Mom, sudah jangan ditanya. Pasti lelah lah!" Adam menjawab dengan ambigu.
"Eh, gak gitu Mom." Ayesha merasa ada yang salah paham disini.
"Gapapa Sayang. Mom ngerti kok. Ya sudah Kalian ke kamar saja. Istirahat dulu. Apalagi besok acara di kantor Adam kan? Sekarang lebih baik Kamu temani saja suamimu itu di kamar."
Adam tersenyum senang saat melihat sorot mata Ayesha yang menahan kesal padanya.
Membuat Naura kesal sepertinya adalah hobi baru Adam saat ini.
"Maksud Bapak apa tadi bilang begitu? Kan Mom jadi salah paham!" Ayesha tak menunggu lagi langsung mencecar Adam saat keduanya berada di kamar.
"Salah paham bagaimana? Kamu saja yang terlalu jauh pikiranya." Adam menuju walk in closet untuk mengganti pakaian.
"Ah sudahlah. Capek ngomong sama Bapak. Ga bakal menang!" Ayesha menyusul Adam ke walk in closet tujuannya mau mengambil pakaian ganti.
Rupanya Adam sedang hanya memakai pakian dalam bagian bawah saja tentu membuat Ayesha kaget.
"Bapak! Kenapa sering kayak tarzan begitu sih!" Ayesha mengusap dadanya kaget melihat Adam hanya memakai dalaman pada bagian bawah tubuhnya saja.
"Kamu itu berlebihan. Lagi pula Saya masih pakai underware saja Kamu sudah kaget. Bagaimana kalo Saya topless. Gimana mau coba?" Adam malah berbalik dan mendekat.
__ADS_1
Rupanya wajah Ayesha memerah membuat Adam senang semakin menggoda istri cantiknya itu.
"Dasar ga waras! Kaki sembuh sekarang giliran otak yang koslet!"
Ayesha buru-buru mengambil baju ganti dan segera keluar dari sarang penyamun menuju toilet.
Melihat Ayesha yang ngacir Adam tertawa puas sambil terus meledeknya.
"Kamu ga penasaran? Saya gratisin deh kalo Kamu mau lihat! Saya ikhlas kok!" Adam mengeraskan suaranya agar Ayesha bisa mendengar meski sudah dalam toilet.
"Dasar orang gila!" Naura mengumpat kesal.
Adam kembali tertawa terbahak-bahak.
"Lucu sekali dia!" Adam geleng kepala dan kemudian ia keluar kamar hendak menuju ruang kerjanya.
Sementara selepas berganti baju, Ayesha melirik sekitar sebelum ia benar-benar keluar toilet.
"Aman. Sudah ga ada di kamar. Huh, meresahkan saja!"
Ayesha bernafas lega rupanya Adam sudah tak ada dalam kamar.
Sementara Adam sedang bekerja di ruang kerjanya, dan ada email masuk dari Rian.
Adam segera mengecek karena berpikir soal kantor.
"Kurang ajar! Berani dia melakukan itu! Aku pastikan mereka akan membusuk dipenjara!"
Adam mengepalkan tangannya menahan amarahnya yang terlanjur mendidih.
Ayesha keluar kamar, didapati Mom Hawa sedang duduk santai di taman belakang.
"Sayang, sini." Mom Hawa menepuk kursi disebelahnya meminta Ayesha duduk bersama.
"Mom sedang minum teh, Kamu mau? Biar Bibi buatkan." Mom Hawa menawari Ayesha.
"Boleh deh Mom."
"Bi tolong teh yang sama seperti Saya ya."
"Iya nya."
Mom Hawa menatap sambil tersenyum kearah Ayesha.
Naura yang dipandangi seperti itu tentu tak enak hati.
__ADS_1
"Ada apa Mom?"
"Ayesha, Mom senang sekali, bahagia Kamu mau dan bersedia mendampingi Adam dalam suka dan duka. Mom berharap bisa selamanya memiliki menantu yang sudah Mom anggap seperti anak Mom sendiri. Mom tahu Kalian berdua mengawali semuanya tidak atas dasar rasa suka dan cinta. Namun Mom berharap rasa itu akan segera tumbuh seiring kebersamaan Kamu dan Adam. Mom berharap Kalian selalu bersama, rukun-rukun dan menkadi suami istri seutuhnya." Mom Hawa mengambil jemari Ayesha membawa dalam menggamannya.
Ayesha tak bisa menjawab apapun yang menjadi harapan Mom Hawa.
Ayesha sendiri tak memahami apa sebenernya yang hatinya rasakan.
Apakah ia sudah mulai ada rasa atau hanya sekedar terbiasa.
Terlebih sikap Adam yang tidak jelas membuat Ayesha gamang dan tak mau ambil pusing mengenai bagaimana kelanjutan hubungan mereka yang sesuai perjanjian tinggal sebentar lagi berakhir.
"Sayang, Mom tahu, Adam sulit sekali mengakui perasaannya, sikapnya yang cuek dan memang menyebalkan itu tak terlepas dari apa yang sudah terjadi selama ini. Jika memang Adam mau membuka hatinya untuk Kamu, apakah Kamu bersedia menerima Adam Nak?" Kali ini tatapan penuh harap terpancar jelas dari wanita baya yang masih terlihat cantik itu.
Ayesha masih belum bosa menjawab. Ayesha sendiri bingung harus bagaimana.
Semua terjadi secara tiba-tiba. Pernikahannya dengan Adampun terjadi karena sebuah keadaan.
"Sejujurnya Ayesha masih belum tahu Mom. Semua terjadi terlalu tiba-tiba. Ayesha juga melihat, Pak Adam masih mencintai Bella."
Ayesha menceritakan kronologi kejadian saat gala dinner dan pertemuannya dengan Jody yang berakhir ribut.
Mom Hawa menarik nafas panjang. Mengisi paru-parunya dengan udara sepenuh dada.
Mendengar penuturan Ayesha Mom Hawa merasakan Adam masih gamang akan perasaannya.
"Ya sudah Nak, Mom Hawa berharap dan berdoa yang terbaik bagi Kalian berdua. Dan Mom berdoa agar Adam bisa melihat mana berlian mana batu kali. Mom berharap Adam segera memahami perasaannya kepadamu. Karena apa yang ia gamangkan kini semaya hanya emosi dan nafsu."
Setiap orang tua ingin melihat anaknya memilih dan mendapatkan yang terbaik.
Tak ada orang tua yang ingin melihat anaknya jatuh ke dalam lubang yang sama.
Hati manusia hanya Tuhan yang mampu membolak balikan.
Begitupun dengan Adam dan Ayesha, keduanya adalah hamba Allah.
Mom Hawa hanya bisa berdoa dan berharap semoga Allah memantapkan hati keduanya agar tetap dalam ikatan pernikahan yang sah seperti saat ini.
Nyatanya pembicaraan Ayesha dan Mom Hawa, didengar langsung oleh Adam yang semula ingin ikut bergabung namun memilih menepi mendengarkan tanpa dilihat keduanya.
Ada rasa ngilu di relung hati Adam saat mendengarkan curahan hati kedua wanita yang kini ada dalam hidupnya.
Adam masih gamang, apakah perasaannya pada Ayesha sudah tumbuh atau hanya simpati.
Adam pun masih tak percaya bahwa Bella dan Jody bekerjasama untuk membuatnya celaka hingga mengakibatkan Ayah Ridwan yang tak bersalah menjadi korban.
__ADS_1
"Aku akan pastikan mereka berdua membayar apa yang telah mereka lakukan padaku dan Ayah Ridwan. Aku janji Ayesha." Batin Adam bertekad.