GADIS CANTIK TAWANAN CEO LUMPUH

GADIS CANTIK TAWANAN CEO LUMPUH
Kembali Ke Tanah Air


__ADS_3

5 Bulan sudah pasca operasi dan serangkaian terapi yang Adam lakukan selama di luar negeri membolehkan Adam untuk kembali ke tanah air setelah dinyatakan sembuh.


Adam sudah bisa berjalan normal kembali, meski begitu Prof. Andrew mengatakan Adam tetap harus berhati-hati jangan sampai mengalami hal serupa.


Hari ini Adam dan Ayesha berkemas karena tenru saja keduanya sudah rindu tanah air.


Jika ditanya bagaimana hubungan Adam dengan Ayesha, keduanya masih tetap sama, tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya.


Adam dan Ayesha sadar betul seperti apa status keduanya, mereka memiliki perjanjian tertulis mengenai pernikahannya.


"Jam berapa Kita akan take off?" Ayesha memasukan beberapa barang-barang miliknya dan juga Adam dalam koper.


"1 jam lagi. Apa saja tang Kamu bawa, mengapa banyak sekali?" Adam melihat koper koper besar yang akan mereka bawa pulang.


"Ck, ya semua barang-barang Kita Pak." 


Begitulah keduanya masih dengan sapaan formal bila sedang berdua kecuali dihadapan keluarga dan orang lain.


Keduanya audah berada dalam PJ dan menikmati masing-masing waktu selama di pesawat.


Sungguh, rasanya Ayesha sudah rindu sekali ke makam Ayah Ridwan.


Sedangkan Adam, ia tak sabar kembali ke perusahaan dan siap menuntaskan semua yang tertunda.


Selepas mendarat, nyatanya mereka sudah dijemput sopir dan Rian.


"Selamat datang Pak, Bu. Senang bisa kembali berjumpa. Bagaimana kondisi Bapak?"


"Baik. Alhamdulillah." Jawab Adam dan Ayesha.


Mereka segera menuju Mansion karena sudah ditunggu oleh Mom Hawa.


Betapa kerinduan seorang Ibu yang selama ini tak putus berdoa demi keselamatan dan kesehatan sang putra kini dengan perasaan haru melihat Adam datang dalam kondisi sehat dan pulih seperti sedia kala tak dapat dipungkiri rasa syukur tak terhingga terucap dari wanita pemilik surga bagi Adam.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Mom Hawa memeluk erat Adam, menahan haru meski airmata kebahagiaan bercucuran membasahi pipinya.


"Masya Allah, Alhamdulillah. Kamu sudah bisa berjalan kembali Nak. Mom bahagia sekali."


Sekali lagi Mom Hawa memeluk sang putra yang kini telah kembali dalam keadaan sehat wal afiat.


Setelah puas memeluk Adam, Mom Hawa memeluk erat sang menantu sambil mengucapkan banyak terima kasih.


"Sayang, terima kasih sudah mendampingi Adam hingga sembuh. Kamu istri paling luar biasa. Masya Allah Dam, beruntung sekali Kamu memiliki istri seperti Ayesha."

__ADS_1


Menatap anak dan menantunya bergantian dan membawa keduanya duduk di meja makan.


Kepulangan Adam dan Ayesha, menjadi hadiah terindah di hari kelahiran sang Mama.


"Selamat ulang tahun Mom. Terima kasih sudah selalu mendoakan Adam dan mengerti Adam hingga kini." Adam mencium punggung tangan sang Ibu seraya mengucapkan selamat ulang tahun.


"Selamat ulang tahun Mom, semoga Mom panjang umur dan sehat selalu." Ayesha memeluk Ibu mertuanya hangat.


"Terima kasih, kepulangan Kalian dan kesembuhanmu adalah kado terindah yang Allah berikan untuk Mom."


Wajah yang tak lagi muda meski tetap cantik kembali basah dengan airmata kebahagiaan.


Ucapan selamat juga datang dari para pegawai di Mansion atas kepulangan Adam dan kepada Mom Hawa yang sedang berulang tahun.


Dilanjutkan dengan makan bersama, rasanya indah dan begitu hangat selayaknya keluarga harmonis.


"Kalian istirahat saja dulu di kamar. Pasti lelah selama diperjalanan." 


"Adam ke kamar dulu ya Mom."


"Ayesha," gerakan kepala Mom Hawa meminta sang menantu mengikuti Adam yang sudah lebih dulu menuju kamarnya.


Tentu saja Ayesha menuruti sang mertua kini berjalan menyusul Adam yang sudah berada diambang pintu lift.


Keduanya terdiam saat pintu lift terbuka dan melihat kamar mereka yang sekian lama ditinggalkan.


Ceklek


Pintu terbuka oleh Adam dan mata memandang sekeliling kamar yang tampak berbeda.


Menyusul Adam masuk ke kamar Ayesha mencari dimana sofa yang biasa ia gunakan untuk tidur.


"Ini pasti Mom yang meminta renovasi." Adam duduk di tepi ranjang melepaskan jaket yang ia kenakan sementara Ayesha duduk di kursi santai dalam kamar itu.


Ponsel Ayesha berbunyi, ada sebuah notifikasi masuk.


Ayesha melihat sejenak, kemudian mengetik sesuatu dan kemudian meletakkannya di meja sudut sebelum ia menuju toilet.


Sebenarnya Adam penasaran dengan isi chat Ayesha, sejak beberapa waktu lalu selama diluar negeri Naura sering kali terkirim pesan entah dengan siapa.


Rasa penasaran Adam sebenarnya begitu tinggi namun apa kata dunia jika ia harus sampai melihat sendiri ponsel Ayesha.


Mau ditaruh dimana wajahnya jika Naura tahu.


Namun hari ini Adam sudah tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.


Saat Ayesha keluar kamar mandi, Adam segera bergabung duduk di sebelah kursi Ayesha.

__ADS_1


"Chat dari siapa?" Adam menatap wajah cantik istrinya yang kembali memeriksa ponsel.


"Teman."


Ingin rasanya bertanya lebih lanjut namun Adam urungkan.


"Besok temani Saya belanja, karena sudah lama Saya tidak ngantor. Jadi Saya mau suasana dan tampilan baru agar fresh."


"Bapak bosa minta Rian menemani, Saya besol tidak bisa." Ayesha yang memilih beranjak dari kursi menuju koper hendak membongkarnya.


"Istri Saya itu Kamu, bukan Rian. Tidak ada alasan besok temani Saya." Adam tak menerima penolakan.


"Besok Saya mau ke makam Ayah."


"Kalau begitu Kita akan ke makam Ayah, setelahnya baru temani Saya."


"Ga bisa Pak, Saya ada janji." 


"Dengan Siapa?" Adam mengerutkan dahinya.


"Teman." Jawab Ayesha singkat.


"Oke, Kita temui sekalian temanmu itu. Gampangkan?" Adam tak mau kalah.


"Ck, Bapak ini nyebelin banget!"


"Kok Kamu sebel? Memang teman Kamu pria sampai Kamu kesal begitu dan tidak mau Saya temani?" Adam malah mengintimidasi.


Ayesha tak menjawab, sudah hapal dengan sikap suaminya yang memaksa dan anti penolakan.


Saat malam selepas menikmati santap malam bersama, Mom Hawa meminta keduanya duduk dan mengobrol.


Obrolan mengenai bagaimana kesehatan dan hasil pemeriksaan akhir kondisi kesehatan Adam hingga pembicaraan mengarah pada keturunan.


"Mom bukannya mau ikut campur, namun melihat kondisimu sudah sehat kembali, rasanya sudah pas waktunya Kalian memikirkan punya momongan." Mom Hawa menyesap teh hangat setelah mengutarakan isi hatinya.


Tentu saja baik Ayesha maupun Adam tak menyangka Mom Hawa dengan gamblang meminta hal itu.


"Tapi Mom, Kami baru saja," kata-kata Adam terhenti saat Mom Hawa menyerahkan sebuah map di hadapan keduanya.


"Sudahlah Dam, Mom tahu selama ini Kamu dan Ayesha menikah dengan perjanjian yang Kalian buat. Tapi apakah Kamu tak berpikir Dam, Ayesha selama ini sudah luar biasa mendampingi Kamu hingga Kamu sehat seperti sekarang. Mom harap Kamu jangan gegabah dengan meneruskan apa yang tertulis di surat perjanjian itu."


Betapa terkejutnya Ayesha maupun Adam mendengar bahwa Mom Hawa mengetahui perjanjian yang mereka buat.


"Tapi Mom," Adam kembali menyela namun sesaat kemudian ia menoleh pada Ayesha yang tiba-tiba angkat suara.


"Aku tidak masalah Mom. Lebih baik Kami menjalankan semua sesuai perjanjian. Ayesha baik-baik saja. Pak Adam sekarang sudah sembuh. Sepertinya sudah saatnya Kami mengakhiri perjanjian Kami."

__ADS_1


Tentu saja ucapan Ayesha sukses membuat Adam dan Mom Hawa tergugu.


__ADS_2