GADIS CANTIK TAWANAN CEO LUMPUH

GADIS CANTIK TAWANAN CEO LUMPUH
Keberangkatan


__ADS_3

Ayesha didampingi Adam menyempatkan terlebih dahulu mampir ke pusara Ayah Ridwan.


Kali ini, Adam mendampingi Ayesha hingga berada di depan pusara sang Ayah Mertua.


Ayesha menatap batu nisan bertuliskan nama Ayah Ridwan sesaat luruh juga airmata dari netra cantik sang wanita yang kini berstatus Nyonya Adam.


Dalam diam Ayesha berbicara lewat batinnya, berpamitan kepada Ayah Ridwan.


Ayesha sendiri entah kapan kembali lagi karena semua tergantung pengobatan yang akan Adam lakukan selama disana.


"Ayah, Ayesha pergi dulu ya. Ayah yang tenang disana. Sampaikan salam Ayesha pada Bunda. Ayesha pamit ya Ayah. Doakan Ayesha agar selalu sehat dan mampu menjalani hidup ini." Hati kecil Ayesha melangitkan doa seraya berharap Allah memberikan tempat terindah bagi Ayah Ridwan disisinya.


"Sudah?"


Melihat Ayesha beranjak bangkit dari pusara sang Ayah Adam menyapa sambil memperhatikan istrinya yang sedang menyusut airmata disudut netra indah itu.


Ayesha hanya menganggukan kepala sebagai jawaban atas tanya Adam.


Teringat pesan Mom Hawa sebelum keduanya berangkat, doa dan harapan tak putus Mom Hawa panjatkan demi kebaikan rumah tangga keduanya.


Sebagai seorang Ibu yang melahirkan Adam, Mom Hawa yakin Ayesha dan Adam kelak akan bisa menerima satu sama lain meski kini entah apakah cinta akan segera menyapa hati keduanya yang masih saja beku tak tersentuh.


Selama perjalanan menuju bandara, Ayesha diam saja menatap jalan dari jendela mobil.


Sementara Adam sibuk dengan ponselnya mengurus sisa pekerjaan yang akan ia delegasikan kepada Rian.


Sambil menunggu keberangkatan, keduanya bersantai di lounge yang disediakan maskapai bagi penikmat first class.


"Saya mau kopi."


Adam sejatinya tak bisa tidur semalam, kini merasakan kantuk menghampirinya.


Banyak yang Adam pikirkan.


Meski ini pun diyakini sebagai jalan menuju kesembuhan namun meninggalkan perusahaan dalam jangka waktu yang tak jelas menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Adam.


Ayesha membuatkan kopi sesuai permintaan Adam, dan ia pun sekalian menyeduh teh hangat sekedar menghangatkan tubuhnya.


Sejak kepergian Ayah Ridwan, pernikahan mendadak dan kini ia harus mendampingi Adam di luar negeri hingga batas waktu yang tak ditentukan terasa semua begitu cepat hingga Ayesha merasa hidupnya terombang ambing entah kemana takdir akan membawa Ayesha.


Adam melihat Ayesha tengah melamun. Entah apa yanh sedang dipikirkan sang istri, Adam memilih membiarkan saja.


Hingga panggilan kepada keduanya agar memasuki kabin pesawat.


Sungguh berbeda memang menikmati fasilitas first class.


Kenyamanan membuat mereka yang memiliki uang berlebih tak segan merogoh kocek banyak demi mendapat layanan terbaik di udara.


Setelah membantu Adam menempati kursi dengan posisi nyaman, Ayesha yang berada disebelahnya memposisikan diri agar mendapat kenyamanan serupa.


Pramugari melayani dengan sepenuh hati menyiapkan makanan dan kebutuhan para penumpang tak terkecuali Adam dan Ayesha.


Adam mulai menikmati hidangan pertama selama di udara hingga ia tertarik melirik kearah samping apakah Ayesha melakukan hal yang sama.


"Makanlah. Pagi tadi Kamu sarapan sangat sedikit." Adam menatap sang istri yang lebih tertarik melamun.


"Belum lapar." Singkat saja gadis disamping Adam menjawab

__ADS_1


"Cuaca disana sedang winter, Kamu bisa sakit. Makanlah walau sedikit."


Tentu saja Adam yang biasa bolak balik ke luar negeri tentu paham bagaimana jetlag dan harus menyesuaikan kondisi tubuh akibat perubahan waktu dan cuaca.


Layaknya anak patuh pada orang tua, Ayesha mulai menyuapkan makanannya meski rasanya hambar.


Bukan salah makanannya namun hati Ayesha yang hampa menciptakan keengganan.


Melihat Ayesha menuruti kata-katanya tersungging senyum simpul dibibir Adam meski ia sendiri tak menyadarinya.


Adam mengerjapkan matanya, melirik ke samping tempat Ayesha.


"Kemana dia?"


Tak melihat keberadaan istrinya disamping membuat Adam khawatir.


Sejenak terasa lega kala wanita yang ia cari kembali kekursinya.


"Darimana?"


"Toilet."


Sesingkat itu percakapan keduanya.


Adam rindu bawel dan galak Ayesha.


Adam tahu Ayesha saat ini sedang menyesuaikan dengan apa yang akan mereka palui disana.


Namun bukan Adam namanya jika ia tak jahil.


"Tanganku pegal. Tolong pijat."


Membuat kesal Ayesha dan melihat raut galak istrinya entah sejak kapan membuat Adam candu ketimbang menyaksikan wajah datar sang istri.


"Yang ikhlas mijitnya." Adam menyembunyikan senyumnya seiring Ayesha misuh-misuh meski tak bersuara.


Sejak kapan sang istri terlelap, Adam memperhatikan gadis cantik berstatus istri yang belum tersentuh.


Helai rambut yang menutupi wajah Ayesha dikibas pelan oleh Adam diselipkan disamping telinga.


Wajah damai dan tentram Ayesha mengguratkan senyuman Adam.


"Kamu tuh kalau tidur begini manis, tapi kalau bangun juteknya kebangetan"


Adam sempat-sempatnya mencolek pelan hidung bangir Ayesha sebelum ia juga ikut larut dalam mimpi.


Perjalana yang memakan waktu hampir 25 jam di udara akhirnya sampai juga.


Meski berada di kelas ternyaman dalam penerbangan tetap saja, lelah dan rasanya ingin segera bertemu kasur tenru dirasakan Adam dan Ayesha.


Kedatangan keduanya sudah disambut oleh seorang pria yang akan menjadi asisten keduanya selama berada disini.


Ayesha menatap takjub saat sopir berhenti dan membantu keduanya turun.


Bangunan bergaya klasik meski terkesan modern kini akan menjadi tempat tinggal Adam dan Ayesha selama disini.


Adam menerima pamit dari sang asisten dan sopir yang membawa mereka.

__ADS_1


Ayesha membantu Adam masuk ke sebuah bangunan yang kini akan menjadi tempat tinggal keduanya.


"Bapak mau langsung ke kamar?"


"Kamu buru-buru sekali, mau nyoba suasana baru rupanya?" Adam senang sekali menjahili Ayesha.


Terlebih respon Adam yang terkesan ambigu menimbulkan reaksi spontan yang membuat Ayesha memukul lengan Adam.


"Awww! Kamu baru beberapa hari jadi istri sudah KDRT saja!"


"Salah sendiriĀ  Bapak tuh sering mesum pikirannya. Inget loh Pak sama perjanjian Kita!" Ayesha meletakkan barang-barang dan koper mereka dikamar.


"Pak, ini beneran kamarnya hanya 1?"


"Ya buat apa banyak-banyak, memang Kita kesini sama siapa lagi?"


"Ya terus Kita sekamar gitu?"


"Di Mansion juga Kita sekamar."


"Itu sih lain cerita."


"Ya sama aja. Sudah Kamu bantu Saya. Saya mau istirahat di kasur. Pegel."


Ayesha membantu Adam meski ia sedang memetakan dimana ia akan tidur nanti malam.


"Saya sudah pesan makanan. Kita baru sampai lebih baik istirahat dulu. Besok Kita baru bertemu Prof Andrew."


"Ok."


Ayesha yang masih membereskan baju-baju keduanya menjawab tanpa menoleh pada Adam.


"Itu makanannya sudah datang. Tolong ambilkan."


Terdengar suara bell.


Keduanya menikmati santap malam dan tak ada satupun yang berbicara.


Benar saja udara sangat dingin untung ruangan dilengkapi pemanas meski tetap keduanya memakai pakaian hangat meski dalam rumah.


"Kamu kedinginan ya?"


Melihat Ayesha bergulung selimut disofa dalam kamar mereka.


"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?" Jawaban khas pengguna aplikasi toktok yang sedang viral.


"Makanya ga usah jaim. Kamu bisa tidur disebelah Saya. Saya juga ga bakal ngapa-ngapain Kamu kok."


Ayesha melihat Adam menepuk sisi ranjang disebelahnya.


Sungguh pilihan yang berat, sementara dingin begitu menusuk dan Ayesha tak kuat dingin namun tidur disebelah Adam bukan solusi terbaik.


"Terserah Kamu saja. Yang penting Saya sudah beritikad baik. Kalau Kamu sakit, Saya ga bisa bawa Kamu ke RS kondisi Saya saja seperti ini."


Adam memilih menarik selimut dan bersiap tidur.


Rasa dingin lebih mendominasi mau tak mau Ayesha akhirnya ikut diranjang yang sama.

__ADS_1


Adam yang melihat pergerakan Ayesha memilih memunggungi istrinya yang kini sudah menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.


Tanpa disadari Adampun terlelap sambil tersenyum.


__ADS_2