GADIS CANTIK TAWANAN CEO LUMPUH

GADIS CANTIK TAWANAN CEO LUMPUH
Operasi


__ADS_3

Bangun pagi, dengan perasaan optimis, meski Ayesha tetap deg degan akan operasi yang akan dijalani Adam.


Ayesha mendampingi Adam sesaat sebelum operasi dilakukan.


Serangkaian tes dan persiapan sebelum operasi sudah dilakukan dan tinggal menunggu detik-detik operasi dilaksanakan.


Terlihat jelas dalam raut wajah Adam kekhawatiran, bagaimanapun juga ini adalah pilihan besar dan keputusan berat yang akhirnya Adam pilih guna menempuh ikhtiar kesembuhannya.


Ayesha bisa merasakan kecemasan Adam kini memilih mendekati Adam yang berbaring di brangkar rumah sakit.


"Pak Adam." Panggil Ayesha ditengah lamunan Adam.


"Ehm." 


"Bapak tidak perlu cemas berlebihan, bukankah prof Andrew mengatakan semua akan baik-baik saja? Apa perlu Saya telpon Mom lagi agar Bapak lebih tenang?" 


Mom Hawa memang tidak bisa terbang menemani sang putra mengingat ia sendiri tentu harus berada di sana dengan segala urusan yang kini dialihkan padanya selama Adam berobat.


"Aku hanya khawatir, bagaimana jika Aku tidak baik-baik saja? Bagaimana Mom, bagaimana perusahaan, bagaimana orang-orang yang kini menjadi tanggung jawabku?"


"Pak, serahkan semuanya kepada Allah. Insha Allah keputusan yang Bapak ambil ini adalah jalan terbaik. Pikirkan secara positifnya, Insha Allah semua akan berjalan dengan lancar."


Sambil menatap Ayesha, Adam seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Apakah Kamu akan mendampingiku?"


"Saya akan menemani Bapak hingga sembuh. Bapak tidak usah khawatir. Toh ga mungkin juga Saya kabur. Jauh dari rumah." Ayesha sengaja bercanda mengurangi ketegangan yang ada.


"Maksudku, apakah Kamu akan pergi seperti perjanjian Kita?"


Ayesha tertegun dengan apa yang Adam katakan.


Ayesha bukan buta mata dan hati yang tak bisa melihat bagaimana sikap Adam yang perlahan lebih perhatian dan melunak kepadanya.


Namun Ayesha tak mau terlalu percaya diri, bagaimanalun mereka menikah atas dasar perjanjian dan itu masih jelas dalam ingatan Ayesha saat Adam sendiri yang meminta akan hal itu.


Belum sempat terjawab, nyatanya perawat masuk mengabarkan sudah waktunya Adam menuju ruang operasi dan tindakan.


Beriring mengantar Adam menuju ruang tindakan, Ayesha mendampingi hingga pintu masuk sebelum Adam dibawa ke dalam.


Tangan Adam sejenak mengenggam tangan Ayesha.


Tentu saja langkah perawat terhenti.


"Terima kasih, tunggu Aku." 


Selepas mengatakan hal itu Adam dibawa masuk ke dalam dan Ayesha menunggu di depan pintu ruang operasi.


Ayesha tak henti berdoa demi kelancaran proses operasi yang tengah berlangsung.


Terlepas dari apapun hubungan mereka, sebagai manusia Ayesha mendoakan kebaikan bagi Adam agar operasinya bisa berjalan dengan lancar.


Waktu berjalan terasa lambat.

__ADS_1


Detik demi detik, berganti menit hingga jam pun berlalu namun operasi Adam belum juga selesai.


Dari duduk, hingga berdiri sampai Ayesha mondar mandir di depan pintu rasanya waktu berjalan begitu lambat.


Meski hati tak henti berdzikir mendoakan Adam tiada lelah.


Penantian panjang berakhir seiring keluar Prof. Andrew dari ruang opreasi.


"Operasinya berjalan dengan lancar."


Rasa lega sambil mengucap syukur tak henti terlafas dari bibir Ayesha.


"Pasien saat ini masih dalam pengaruh anestesi, Kami akan memindahkannya ke ruang rawat."


Ucapan terima kasih tentu yang terutama Ayesha panjatkan kepada Allah SWT dan para Dokter dan tim medis yang melakukan tugasnya dengan baik.


Kini dalam ruang rawat, Ayesha kembali bisa melihat Adam meski dalam keadaan tertidur masih dalam pengaruh bius pasca operasi.


Melihat Adam menggigil kedinginan efek pasca operasi memang dikabarkan oleh Dokter adalah reaksi wajar pada pasien yang baru saja menjalani operasi.


Ayesha menyelimuti Adam sambil perlahan mengusap dengan waslap dahi Adam sisa keringat yang ada.


Dalam keadaan tak sadar terlihat guratan wajah tampan dan rupawan meski masih pucat pasi.


"Terima kasih sudah berjuang. Saya yakin Bapak akan segera pulih."


Ayesha meletakkan waslap sisa pakai sambil menatap wajah tenang Adam yang lelap.


Rasanya seharian menunggu menyisakan lelah di tubuh Ayesha, tanpa sadar Ayesha tertidur di kirsi tepat di sisi brangkar Adam.


Perlahan tangan lemah Adam menggapai helai rambut Ayesha yang menutupi wajah cantik sekretaris berstatus istrinya itu.


"Maaf, sudah banyak menyusahkanmu." Adam mengucap lirih sambil memandangi wajah tenang Ayesha yang terlelap.


Melihat Ayesha yang sedikit bergerak, Adam segera menarik tangannya seolah iapun baru saja terjaga.


"Bapak sudah bangun?" Suara serak Ayesha khas baru bangun tidur saat melihat Adam sudah membuka mata.


"Saya haus." Hanya itu kata pertama Adam.


Ayesha meregangkan tubuhnya, tentu saja rasa kaku semalaman tidur dalam keadaan terduduk membuat sendi kaku disana disini.


Ayesha meraih gelas berisi air dan membantu Adam meminumnya.


"Kenapa tidur disitu, ruang rawatku kelas VVIP, disana ada ranjang yang bisa Kamu pakai untuk istirahat."


Ayesha menatap malas, rupanya Adam sudah kembali seperti semula. 


"Saya ketiduran. Bapak mau bersih-bersih? Saya panggil perawat?"


"Kenapa perawat, mereka tahu Kamu adalah istriku, nanti saja. Aku masih mau menyesuaikan diri dan badanku masih kaku."


Tak lama perawat datang mengecek keadaan Adam sambil membawakan menu sarapan Adam.

__ADS_1


"Nanti Prof Andrew akan visit. Tuan Adam katakan apa yang masih dirasakan dan konsuktasikan pada Prof Andrew saat berkunjung."


Perawat menjelaskan sebelum pergi dari ruang rawat Adam.


Ayesha mewakili Adam mengucapkan terima kasih sambil mengambil sarapan Adam agar bisa langsung dinikmati sang suami.


"Sekarang, Bapak sarapan dulu, ni sudah ada makanannya, nanti bisa minum obat setelahnya."


"Kamu bagaimana?"


"Saya gampang, yang penting Bapak dulu."


"Kamu jangan lupa makan, nanti dua-duanya sakit siapa yang mengurus Saya."


Ayesha menarik nafas, mengisi udara sepenuh dada.


"Ayo Pak, masih ingatkan sama doa makan?"


"Kamu pikir Saya amnesia."


"Makanya jangan ngomel mulu, baca doa dan langsung a, ayo."


Layaknya menyuapi anak kecil harus ekstra sabar dalam meladeni Adam si Baby besar.


"Memang Saya anak kecil!"


"Bukan, tapi Baby besar!"


"Kamu, selalu saja bikin Saya kesal. Mana a?"


Adam tanpa penolakan menikmati suapan demi suapan yang Ayesha suguhkan padanya.


"Ini sih cepet sembuh deh, buktinya habis. Laper Boss?" Ayesha menggoda Adam.


"Saya ga suka mubazir. Protes aja Kamu!"


Malu hati Adam nyatanya ia tak sadar makanan yang terasa hambar itu sukses dan tandas masuk ke dalam perutnya melalui suapan Ayesha.


"Iya, Iya, Ok Boss!" 


Ayesha menyisihkan bekas makan Adam kemudian ia menuju toilet.


"Kamu mau kemana?"


"Mandi Pak. Atau Bapak mau bersih-bersih duluan?"


"Kamu saja duluan."


Tanpa menjawab Ayesha segera masuk toilet bersih-bersih diri sebelum kembali mengurus bayi besarnya.


Adam yang selesai dibantu bersih-bersih dan mengganti pakaian kini tengah terlihat sibuk dengan ponselnya.


Ayesha yang menonton TV teralihkan saat notifikasi masuk ke ponsel miliknya.

__ADS_1


Melihat reaksi wajah Ayesha saat melihat ponsel, menimbulkan kecurigaan bagi Adam.


__ADS_2