
Ayesha merasakan tubuhnya dibelit sesuatu.
Keinginan pipis memaksanya terjaga.
Betapa terkejutnya Ayesha mendapati lengan kekar Adam melingkar di pinggang sambil membenamkan wajah di dada Ayesha.
Kesadaran Ayesha pulih seketika hingga ia reflek mendorong Adam dari sisinya.
Untung saja Adam tak sampai jatuh hanya menyisakan sakit-sakit akibat amukan Ayesha.
"Rusuh amat sih!" Adam yang memang masih tak bisa menggerakkan kakinya sedikit kesulitan saat tubuhnya kini terhempas dipinggir ranjang.
"Seharusnya Saya yang nanya. Bapak ngapain meleuk-meluk Saya!" Ayesha menyorot tajam Adam.
Bukannya marah Adam malah tertawa.
"Kamu ga salah? Ada juga semalam Kamu yang mepet-mepet Saya. Dasar perempuan. Drama!" Adam berusaha keras menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang hendak mengambil gelas air.
"Pokoknya ini terakhirnya Pak! Nanti malam ga ada ceritanya seranjang lagi!"
Ayesha bangkit dengan kesal menuju kamar mandi karena sudah kebelet pipis.
Drama pagi yang membuat huru hara akhirnya berakhir dengan saling diam duduk di meja makan menikmati sarapan.yang mereka pesan online.
"Sampai kapan Kamu mau manyun begitu? Seperti korban KDRT aja! Padahal yang semalam peluk Saya duluan Kamu. Nanti Kita ke RS jam 10. Aku sudah menghubungi Prof Andrew dan beliau sudah menunggu Kita." Jelas Adam.
Tanpa menjawab Ayesha memilih berbalas pesan dengan Mom Hawa mengabarkan bahwa keadaan mereka baik-baik saja.
Sesuai janji Adam didampingi Ayesha menuju RS dan bertemu dengan Prof Andrew.
Setelah pemeriksaan panjang dan berdiskusi dengan prof Andrew Adam disarankan untuk melakukan operasi.
Sejujurnya Adam berat takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Meski Prof Andrew meyakinkan bahwa tingkat keberhasilan Adam pasca operasi sangat besar.
Ayesha bisa melihat raut kecemasan dan kebimbangan di wajah Adam.
Sambil menunggu obat, Ayesha membiarkan Adam duduk beristirahat dan memilih ia mengurusnya.
Kini keduanya duduk menikmati makan siang di sebuah resto tak jauh dari RS.
Melihat Adam yang hanya diam tanpa menyentuh makanannya, Ayesha buka suara.
"Bapak bimbang ya soal operasi?"
Helaan nafas Adam seieing tubuhnya yang kini duduk bersandar di kursi roda menatap dalam pada makanan.yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Saya hanya cemas jika teejadi sesuatu kepada Saya, bagaimana dengan Mom."
Ayesha tak menyangka rupanya Adam bukan mengkhawatirkan dirinya sendiri tetapi Ibunya.
Sebagai anak, Ayesha paham betul bagaimana ia pun begitu khawatir kepada Ayah Ridwan hingga kini Ayah Ridwan tak ada disisinya lagi Ayesha masih ingat dengan jelas betapa setiap Ayah Ridwan berangkat narik ia selalu memiliki kecemasan.
Hubungan anak dan orang tua memang bak aliran darah yang saling berhubungan dan tak terpisahkan.
"Bagaimana kalau Kita bicarakan by phone dengan Mom dan minta pendapat Mom seperti apa. Bagaimanapun Mom juga harus tahu seperti apa pendapat dari Prof Andrew dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Insha Allah akan ada jalan keluarnya dari setiap persoalan." Bijak Ayesha memberikan saran pada Adam.
"Ya, Saya akan coba bicarakan dengan Mom."
"Bapak makan dulu ya, biar bisa minum obatnya."
Tak banyak kata, Adam mulai makan meski tak habis karena memang Adam kehilangan selera makan.
"Pak, Kalau Bapak mau pulang dulu gapapa, biar Saya nanti ke supermarket sendiri saja. Bapak butuh istirahat."
"Gapapa, Saya akan menemani, lagi pula Saya bosan sendirian."
Adam dan Ayesha kini tengah berada di supermarket membeli keperluan sehari-hari.
Ayesha juga menanyakan apa yang Adam mau.
Karena mendadak menikah dengan Adam Ayesha belum tahu apa kesukaan sang suami.
Meski ada beberapa makanan yang Adam tiak suka selebihnya Adam mengikuti saja saat Ayesha memilih segala kebutuhan mereka.
Selesai berbelanja dan membayar, keduanya kini kembali ke rumah.
Ayesha menata barang belanjaan sementara Adam duduk menonton TV.
Sesekali Adam memperhatikan betapa istrinya itu begitu piawai mengurus kebutuhan rumah dan segala urusan perdapuran.
"Pak ini kartu Bapak."
Ayesha yang tadi diserahkan black card milik Adam saat membayar belanjaan kini mengembalikan kembali pada sang suami.
"Pegang saja oleh Kamu. Itu buat keperluan Kita dan juga beli apapun yang Kamu mau pakai itu. Anggap saja itu nafkah Saya buat Kamu."
"Nafkah? Kayak suami istri beneran aja!"
Ayesha menatap lucu pada Adam.
"Saya serius Ayesha. Memang Kamu ga mau Saya kasih nafkah? Wanita lain malah maksa suaminya buat kasih uang belanja ini malah ketawa."
"Ya kalo perempuan lain kan nikahnya normal. Sedangkan Kita?"
__ADS_1
"Kita juga nikahnya beneran dan SAH secara agama dan negara. Kamu lupa buku nikah Kita ada. Sudah itu Kamu pegang saja. Pakai sesuai kebutuhan, Kamu juga kalau perlu apa-apa pakai saja dari situ."
"Duh, berasa istri Sultan Saya Pak!"
"Memang suami Kamu ini Sultan!"
"Ck!"
Ayesha memutar bola matanya malas menanggapi kenarsisan Adam.
Udara yang semakin malam kian dingin memang paling pas menikmati secangkir minuman hangat dan kudapan.
Ayesha yang sejak tadi asik di dapur menyiapkan makan malam dan cemilan kini telah selesai dan menghidangkannya di meja makan.
Adam rupanya baru selesai berbicara dengan Rian soal perusahaan.
Sejauh ini keadaan perusahaan baik-baik saja dan tentu meski begitu Jody masih saja sering mengusik walau tak tersentuh dan selalu gagal.
Perbincangan selanjutnya Adam dan Ayesha bervideo call dengan Mom Hawa.
Selain melepas rindu, mereka juga berdiskusi soal upaya Adam mengenai operasi.
Betapa bahagianya Mom Hawa karena Adam masih diberi opsi kesembuhan drngan jalan operasi dengan segala doa dan dukungannya Mom Hawa merestui langkah besar itu.
"Mom selalu berdoakan untuk kesembuhan Kamu Dam. Betapa bahagianya Mom bila suatu saat Kamu bisa pulih seperti sedikala. Dan tentunya Kamu pun akan bisa menjalani kewajiban Kamu sebagai seorang suami seutuhnya bagi Ayesha."
Tentu saja baik Adam dan Naura paham kemana arah pembicaraan Mom Hawa.
Keduanya dibuat canggung sementara Mom Hawa bahagia membayangkan kelak bila Adam sembuh ia akan memiliki cucu yang cantik dan tampan.
"Sehat-sehat ya Mom. Jaga kondisi. Mom jangan terlalu capek karena ada Rian dan staf lain diperusahaan."
"Iya Dam. Sayang terima kasih ya sudah menjada dan mendampingi Adam. Kalian akur dan rukun ya. Banyak berdoa. Mom tak putus berdoa untuk kesembuhanmu Dam dan kelanggengan rumah tangga Kalian."
"Mom jaga kesehatan ya, terima kasih doanya." Jawab Ayesha.
"Kalian sudah makan? Kalau belum makanlah dulu. Ya sudah Mom pamit dulu ya. Assalamulaikum."
Panggilan terputus setelah jawaban salam dari anak dan menantunya.
Sesaat Adam dan Ayesha kembali teringat kata-kata Mom Hawa.
Naura memilih segera beranjak menuju meja makan menyiapkan piring.
"Ayo Pak makan. Nanti setelahnya bisa minum obat."
Adam mengikuti perintah istrinya menuju meja makan dan menikmati dalam diam tanpa berkata-kata.
__ADS_1
Sementara Ayesha memilih menyantap makanannya tak bersuara masih canggung dengan kata-kata sang Ibu Mertua.