
"Assalamualaikum."
Adam dan Ayesha mengucapkan salam saat memasuki Mansion.
Menyambut hangat disertai senyuman mengembang, Mom Hawa tampak bahagia melihat kedatangan anak dan menantunya.
"Waalaikumsalam. Masya Allah pengantin baru. Seger bener!"
Menerima cium tangan dari anak dan menantunya Mom Hawa memeluk Ayesha dan mengajak sang menantu duduk disisinya sementara Adam tetap setia dikursi roda tak berada jauh dari 2 wanita yang kini mengisi hari-harinya.
"Bagaimana kabar Kalian? Baik-baik saja kan?"
Mom Hawa menatap bergantian pada Adam dan Ayesha.
"Kami baik-baik saja. Seperti yang Mom lihat." Adam menjawab duluan sebelum sang istri berbicara macam-macam.
Sementara Ayesha mendengar Adam sudah lebih dulu memberi jawaban melengkapi dengan senyuman saja.
"Alhamdulillah. Kalau begitu, besok Kalian bisa berangkat honeymoon. Sebentar tunggu disini, Mom mau ambil sesuatu."
Kepergian Mom Hawa membuat kedua abak manusia yang awet rajet lembali bersilang pendapat.
"Bapak, ayo bilang ke Mom."
Ayesha masih enggan mengikuti rencana sang Ibu mertua untuk honeymoon bersama Adam.
Belum sempat Adam menjawab, Mom Hawa telah kembali dengan membawa sebuah amplop.
"Nah ini untuk Kalian. Mom harap Kalian suka."
Mom Hawa menyerahkan amplop putih ke tangan Ayesha.
Adam yang mendapat lirikan dari Ayesha memberikan kode meminta Ayesha mewakili membuka apa isi amplop tersebut.
"Ini?"
Betapa terkejut Ayesha dengan apa yang ia pegang.
Adam meminta Ayesha menyerahkan apa yang kini sedang ia pegang.
Melihat apa yang tertulis disana, Adam segera merespon.
"Pasti Kamu mau proteskan Dam, Tunggu kasih Mom kesempatan menjelaskan."
__ADS_1
Nyatanya Mom Hawa tak sekedar memberikan keduanya tiket pesawat dan hotel selama mereka berbulan madu namun Mom Hawa sudah membuat janji dengan seorang professor yang akan menangani persoalan Adam.
"Mom sudah menghubungi Professor Andrew, nanti Kamu temui dia. Dia adalah Dokter terbaik disana. Mom berharap Kamu mau berobat dan punya semangat untuk sembuh Dam. Mom yakin Kamu akan bisa pulih kembali seperti sedia kala. Untuk itu, Mom meminta tolong kepada Kamu Sayang, dampingi Adam dan beri motivasi agar Adam bisa semangat." Mom Hawa merangkul anak dan menantunya.
Tentu saja harapan seorang Ibu adalah doa yang mengiringi langkah seorang anak.
Ayesha yang sejatinya telah kehilangan Ayah dan Bundanya tentu saja semakin terharu dengan apa yang baru saja Mom Hawa lakukan.
Rasa sayang dan cinta orang tua tentu tak ada batas dan tak akan mampu terbalas meski dengan apapun yang ada di dunia ini.
Ayesha yang semula menolak keras, kini justru mendukung niat baik Mom Hawa.
Bagaimanapun, selagi masih ada nafas dalam jiwa dan raga sebisa mungkin sebagai anak Kita patut berbakti kepada orang tua.
Apa yang Mom Hawa lakukan adalah bukti betapa doa dan hatapan orang tua kepada anak-anak mereka tak pernah putus.
"Insha Allah Mom. Ayesha akan mendampingi Mas Adam berobat disana. Ayesha janji akan mendukung Mas Adam sampai sembuh."
Adam terkejut dengan apa yang ia dengar dari bibir Ayesha, istrinya yang sejak dirumah Ayah Ridwan menolak mentah-mentah pergi, kini malah terlihat tulus sambil menatap penuh haru saling menggenggam erat pada tangan sang pemilik surga bagi Adam.
"Bagaimana dengan perusahaan selama Adam pergi Mom?"
"Untuk itu, Mom sudah berbicara dengan Rian dan beberapa management perusahaan selama Kamu ada disana. Jangan khawatir, begini-begini Mom juga masih sanggup mewakilimu mengurus perusahaan. Kamu percaya pada Mom kan?"
"Selama disana, Kalian juga akan ada Sopir dan asisten agar memudahkan segala urusan selama disana. Pokoknya fokus saja honeymoon dan pengobatan. Jika ada waktu Mom sesekali akan menjenguk kesana."
Adam satu keraguan yang Adam khawatirkan.
Siapa lagi kalau bukan rivalnya Jody dan mantan kekasihnya yang masih berambisi menyerang perusahaan.
Adam takut, ketiadaan dirinya akan menjadi sasaran empuk bagi pihak lawan.
"Apa yang Kamu khawatirkan lagi Dam?"
Begitulah seorang Ibu, hatinya bagai cenayang, mampu meraba apa isi hati anak-anaknya.
"Tidak Mom. Adam Hanya berpikir bagaimana selama disana."
"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Jalani dan ikhlas. Yang terpenting Kita berusaha seoptimal mungkin. Apapun hasilnya adalah keputusan Allah. Sebagai manusia wajib hukumnya berusaha dan berdoa. Soal hasil akhir itu sudah menjadi hak Allah."
"Mom benar. Allah sebagaimana prasangka Kita hambanya. Maka berprasangkalah yang baik." Ayesha menambahkan.
"Nah dengar Dam kata istrimu. Ah Mom lega. Sekarang ada Ayesha yang akan selalu berada disisimu. Mom jadi tak cemas lagi. Titip putra menyebalkan Mom ya Satang. Kalau Adam nakal, jewer saja dan laporkan pada Mom!"
__ADS_1
Mom Hawa dengan tawanya sambil merangkul Ayesha.
"Enak saja, memang Adam anak kecil di jewer." Adam membolakan mata melihat kekompakan Mom Hawa dan Ayesha.
"Sudah. Lebih baik Kita makan dulu yuk. Mom sudah lapar."
Selepas shalat magrib, Ayesha dan Adam yang masih berada dalam kamar kini duduk di sofa dan saling berhadapan.
"Mau Saya packingkan untuk keperluan Bapak?"
"Kamu benar yakin Kita akan selama itu disana?"
Adam kembali menanyakan kesungguhan Ayesha.
Adam khawatir kalau Ayesha tadi hanya setuju di depan Mom Hawa.
"Loh Bapake bagaimana sih, dengar ga tadi Mom bilang apa? Bapak harus semangat berobat. Sudah apa yang mau Bapak bawa biar Saya bantu siapkan."
Ayesha beranjak ke ruang wardrobe milik Adam di kamar pribadi mereka.
Ya sudah semestinya memang mereka akan 1 kamar.
Meski tidur terpisah dan hanya mereka berdua yang tahu.
"Tidak usah bawa banyak baju. Kita bisa beli disana." Adam melihat Ayesha sedang memilah milih pakaian Adam.
"Siap Boss! Sultan mah bebas ini itu tinggal beli." Ayesha sambil berkemas pula barang apa saja yang ia akan bawa.
"Kenapa Kamu bawa banyak barang, sudah tinggalkan saja itu, bawa seperlunya. Disana Kita tidak tinggal di gua Ayesha."
Melihat koper Ayesha berisi padat Adam memintanya mengurangi kapasitasnya.
"Bapak, Saya bukan Sultan seperti Bapak. Disana pasti mahal segalanya. Saya ga ada uang buat beli. Lebih baik bawa dari sini keperluan Saya." Ayesha masih saja menjejalkan segala keperluannya dalam koper itupun masih ada saja yang ia ingat dan akan kembali ia masukan koper.
Adam yang melihat Ayesha mengabaikan kata-katanya mai tak mau turun tangan.
"Katamu Aku Sultan. Kalau begitu, sebagai istri Sultan Kamupun tak harus khawatir soal uang. Suamimu yang Sultan ini akan menanggung semuanya."
"Masya Allah, terima kasih Sultan Adam dari Jaksel!" Ayesha menanggapi dengan candaan.
Komentar Ayesha yang terdengar bercanda ditelinga Adam membuat Adam gemas sendiri dan tanpa sadar ia menarik Ayesha yang masih sibuk berkemas.
Ayesha yang tak siap dengan tarikan Adam malah terjatuh dalam pangkuan Adam.
__ADS_1