
Setelah pertemuan dengan Andi, dan datangnya Adam tanpa diduga, Ayesha dan Adam kini menuju butik langganan Adam dan Mom Hawa.
Selama perjalanan tak ada sepatah katapun yang Ayesha utarakan pada Adam.
Adam tahu istrinya sedang mode ngambek.
Tapi entah mengapa setelah Adam tahu bahwa Andi adalah Kakak tingkat Ayesha dan terlebih Andi sudah memiliki istri dan anak, Adam bernafas lega.
Loh Kok? Entah, itulah yang Adam rasakan kini.
"Kenapa diam saja. Kamu sakit gigi?" Ada menoleh pada Ayesha yang asik sendiri menikmati keramaian dan kemacetan jalan dari jendela mobil.
"Kenapa Bapak harus nyusulin Saya sih? Saya kan jadi ga enak sama Kak Andi." Ayesha menggerutu kesal masih mode ngambek karena tadi suami kontraknya berakting layaknya pasangan sungguhan.
"Loh, aneh Kamu. Ya gapapa donk. Saya kan juga mau kenal sama teman Kamu." Adam enteng saja menjawab.
"Terserah Pak Adam yang terhormat deh!" Ayesha tanpa menoleh pada Adam.
"Bagus!" Adam malah membuat Ayesha semakin dongkol.
Kini Adam dan Ayesha sudah sampai dibutik.
Adam yang sudah meminta pemilik butik menyiapkan pakaian untuknya dan Ayesha kini diminta fitting.
Adam tampak gagah dan tenti saja tampan mempesona dalam balutan stelan jas biru dongker.
Jangan sangsikan bagaimana pesona seorang Adam Razka Alfarezel.
Terlebih Kini Adam sudah pulih dan bisa kembali berjalan dengan normal, bayangkan mata kaum hawa tentu akan kembali tertuju padanya.
Sambil menunggu Ayesha bersiap, Adam memilih sibuk dengan ponselnya.
"Tuan," panggil seorang staf butik membuat Adam menghentikan kesibukannya dengan ponsel yang sejak tadi ia tekuni.
Adam tak memungkiri, bahkan kini dapat dipastikan mata Adam tertuju sepenuhnya memandang Ayesha yang tampil sangat cantik.
"Tuan, Nyonya," staf butik kembali memanggil Adam.
"Ya, lumayan kok!" Begitulah Adam, masih gengsi memuji istrinya yang 100% sudah cantik dan membuatnya terpesona.
"Ck! Menyebalkan!" Gumam Ayesha yang masih terdengar Adam.
"Ayo! Kita harus segera berangkat." Adam segera berlalu meninggalkan Ayesha yang masih kesal.
Kedatangan Adam dan Ayesha, menyita para undangan lain yang turut hadir dalam acara tersebut.
Rupanya, Adam mengajak Ayesha menghadiri gala dinner antar para pengusaha terkemuka dan terpandang yang tentu saja mereka bukan kalangan biasa.
Semua tertuju pada keduanya, terlebih kondisi Adam yang kini sudah pulih seperti sediakala menjadi kejutan besar di kalangan terbatas tersebut.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan Adam. Lama tidak bertemu." Sapa salah seorang pengusaha yang bermata sipit tak henti memandangi Ayesha dengan tatapan genit.
Adam mengeratkan rangkulannya dipinggang Ayesha, meski Ayesha sebal namun sesuai kesepakatan mereka akan selalu tampil mesra dihadapan khalayak ramai.
"Anda selalu saja tidak bisa menahan pandangan Anda Tuan Lim," Adam tak suka tatapan rekan bisnisnya bagai singa kelaparan.
"Istri Anda begitu cantik. Saya hanya mengaguminya saja."
Adam memilih meninggalkan rekan genitnya itu segera membawa Ayesha pergi dari hadapan pria pemangsa tersebut.
"Wow! Siapa ini? Oh rupanya Kau sudah sembuh? Sayang sekali, namun Ku dengar perusahaanmu sedang tidak baik-baik saja."
Manusia laknat lebih tepatnya adalah rival sejati Ada, Jody juga hadir disana.
Ada yang berbeda dengan Jody, kedatangannya kali ini tidak bersama Bella, namun ia menggandeng wanita lain.
Seolah Ayesha bisa menangkap sorot mata Adam yang mencari seseorang.
"Apakah Kau mencari mantan kekasihmu? Ah, ya, pasti dia senang sekali jika tahu mantan kekasihnya sudah sembuh dan bisa berjalan lagi. Siapa tahu Kamu sudi kembali pada wanita Jal%ng itu!" Nada merendahkan terdengar jelas dari bibir Jody.
Entah apa yang ada di pikiran Adam, saat itu Adam meraih leher kemeja Jody dan hendak mengjadiahkan mogem mentah sebelum akhirnya Ayesha berhasil menahan Adam.
"Pak, disini banyak wartawan." Bisik Naura.
Adam segera melepaskan cengkramannya pada Jody dan meninggalkan manusia paling menyebalkan itu.
Sepanjang perjalanan Adam terlihat kesal dan jengkel.
Laju kendaraan mobil Adam, ia kemudikan lebih cepat.
Tentu saja Ayesha yang melihatnya segera menghentikan Adam.
"Kalau Bapak cemburu dan berniat celaka, silahkan! Tapi turunkan Saya. Saya tidak mau celaka hanya karena kecemburuan Bapak!" Ayesha meninggikan suaranya.
Adam meminggirkan mobilnya, seketika ia memukul kemudi dan berteriak.
Ayesha yang berada disampingnya membolakan mata dan hendak keluar mobil namun saat itu juga tangannya tertahan oleh Adam.
"Jangan pergi!"
Ayesha memalingkan wajahnya menatap jelas wajah merah menahan marah namun terlihat sudut mata Adam sedikit berkaca.
Entah seketika hati Ayesha terasa tercubit. Apakah salah jika saat ini Naura merasa sakit hati kala Adam masih memiliki perasaan pada Bella?
"Bukankah bodoh, masih mencintai pada seseorang yang jelas-jelas pergi mengkhianati!"
Kata-kata Ayesha menyita perhatian Adam.
Ada rasa sakit di relung hati Ayesha, begitupun Adam ia merasa kata-kata Ayesha memang benar adanya.
__ADS_1
Sesaat keduanya hanya terdiam dan tanpa sepatah kata.
Hening.
"Sebaiknya Kita pulang. Saya lelah." Ayesha hanya bisa mengatakan itu.
Tanpa jawaban, Adam menyalakan mesin kendaraannya menuju Mansion.
Nyatanya bukan Mansion yang menjadi tujuan Adam.
"Kenapa Kita kesini?" Ayesha heran Adam membawanya ke hotel.
"Ikut saja. Aku lelah. Butuh istirahat." Adam hendak keluar sebelum terhenti dengan kata-kata Ayesha.
"Silahkan Bapak beristirahat, Saya lebih baik,-"
Cup!
Ayesha membulatkan matanya.
Selama ini tak pernah Adam melakukan apapun pada dirinya.
"Tolong, temani Saya. Jangan banyak komentar. Atau Kamu mau saya cium lagi."
Adam melangkah keluar mobil meninggalkan Ayesha yang mematung dalam mobil.
Adam melihat tak ada pergerakan Ayesha dan masih tetap ada dalam mobil membuat Adam kembali membuka pintu mobil dan meminta Naura ikut bersamanya.
"Saya akan ikut tapi Bapak jangan lakukan hal seperti tadi. Itu menyalahi perjanjian Kita Pak!" Ayesha masih diam tak menerima uluran tangan Adam.
Bukan menjawab Adam malam membisikan sesuatu ditelinga Ayesha.
"Kamu mau jalan sendiri atau Saya gendong? Mereka semua tahu siapa Kita. Tak ada salahnya Saya mencium istri Saya sendiri."
Tentu saja, Ayesha memilih jalan sendiri dari pada Adam kembali nekat melakukan hal yang tidak-tidak.
"Dasar tukang maksa!" Ayesha menggerutu kesal memilih jalan mendahului Adam.
Bukannya takut Adam malah sengaja menggandeng Ayesha dihadapan banyak orang sebelum keduanya mengambil access card menuju kamar hotel yang sudah dipesan.
"Akhirnya!" Ayesha mengamati kamar luas dihadapan matanya.
Betapa senang Ayesha disana terdapat sofa empuk dan ia bahagia karena malam ini tidak harus seranjang dengan Adam.
Adam tak memperdulikan Ayesha yang sudah memposisikan diri disofa, memilih berhehas menuju toilet merefresh tubuh dan pikirannya yang letih dibawah pancuran shower yang menyegarkan.
Senyum Adam mengembang, manakala melihat Ayesha yang sudah tertidur lelap di sofa dengan damai.
"Dia itu berantakan sekali, masa tidur masih pakai heels begini."
__ADS_1