
Hanya butuh 30 menit mereka sampai di apartemen milik Dava.
Dava menghentikan mobil sport nya sempurna di depan halaman apartemen,Alena segera masuk ke dalam dan mendahului Dava.
Dava menyusul ke dalam dan menuju ke kamar.
"Kenapa kau menyeret nyeret ku? apa kau tidak lihat aku tadi sedang pemotretan" bentak Alena kepada Dava
"Tadi kamu tidak minta izin pada ku, dan kamu juga malah ketawa ketawa dengan laki lain" jawab Dava lembut,ia memang tidak pernah membentak perempuan yg ia sayangi,mungkin jika ia membentak bisa saja Alena akan menangis pikir Dava.
"Kenapa aku harus minta izin padamu? lagian aku sudah katakan urus diri mu sendiri,dan kamu jangan urus aku juga" ucap Alena membentak lagi.
"Kami istri ku dan aku suami kamu,jadi kamu harus minta izin padaku jika pergi" sahut Dava masih tenang.
"Tapi aku tidak menganggap mu suami ku" jawab Alena enteng,membuat hati Dava kembali sakit untuk yg ke dua kali nya.
Dava masih dia tak bergeming..
"Jika makan,makan lah,di dapur sudah ada makanan" ucap Dava lalu berlalu meninggalkan kamar.
__ADS_1
Dava menuju ke kamar lainnya dan merebahkan tubuh nya di kasur empuk.
"Sangat sakit jika ia selalu mengatakan hal seperti itu, kenapa ia menutup hati nya rapat² hanya karena laki laki sialan itu" batin Dava memejamkan mata nya.Tak lama ia pun terlelap.
***
Keesokan pagi nya, Dava tak lupa masak dahulu pagi² untuk sarapan,lalu mencuci piring,karena memang di apartemen nya tidak ada pelayan,karena ia dulu sangat jarang ke apartemen.
Ia ingin melangkah kan kaki nya menuju ke kamar,tapi langkah nya terhenti mengingat Alena waktu itu menegur nya dengan kata² menyakitkan saat ia membangunkan Alena,Dava pun mengurungkan niat nya agar tidak mengganggu Alena tidur.
Ia memakan sarapan nya dahulu,lalu selesai sarapan ia menaruh selembar kertas di meja makan yg bertulis ia pamit berangkat kerja dan menyuruh Alena sarapan dahulu sebelum pemotretan.
***
Rumah tangga mereka tidak ada perbedaan, Dava masih tetap perhatian dan tulus kepada Alena yg setiap hari menyerocos memarahi nya dengan kata² pedas nya. Tapi Dava berusaha lebih sabar lagi untuk semua nya. ia masih bisa ikhlas menerima semua nya dengan lapang dada.
Sedangkan Alena tiap hari malah tambah jadi,ia tidak ada perhatian² nya kepada suami nya,tidak pernah memasak,menyuci,membuatkan kopi kepada Dava saja tidak pernah,menyalimi tangan Dava pun tidak pernah,apalagi menyambut Dava pulang kerja,padahal ingin sekali setiap pulang kerja Dava bisa di sambut,namun itu tidak akan pernah terjadi,pikir Dava.
***
__ADS_1
Dava baru pulang malam hari karena tadi sangat banyak pasien.
Dava menuju ke atas dan melihat Alena sudah terlelap.
Dava mendekatkan bibir nya pada bibir Alena,lalu mengecup sekilas,lalu mengecup kening Alena dengan hangat...ia setiap hari melakukan itu tampa sepengetahuan Alena,jika Alena tahu mungkin dia akan memaki maki Dava lagi.
"dia sekarang seperti bukan wanita yg aku tolong di club,padahal dulu ia sangat terlihat wanita baik,tapi entahlah kenapa dia bisa berubah karena menikahi ku" batin Dava sambil mengelus elus pipi Alena dengan pelan....
Hanya itu lah yg bisa Dava lakukan,diam diam memandangi wajah Alena dan mengecup nya diam² juga. jika tidak diam² mana mungkin Alena mengjinkan,yg ada Dava kena semprot lagi.
Tak lama Dava tertidur sambil memeluk Alena.
Perlahan lahan Alena membuka mata nya lalu menatap wajah tampan Dava,tampa Dava sadari Alena tau apa yg ia lakukan barusan pada Alena.
"apa setiap hari dia selalu mencium ku saat aku sudah tidur? apa setiap hari dia selalu memandangi wajah ku?" batin Alena sambil menatap wajah Dava.
Tak lama ia pun terlelap karena terlalu banyak pertanyaan di otak nya membuat dia susah sendiri mencari jawaban nya.
J**angan lupa tinggalkan jejak🤗💙**
__ADS_1