
Namaku Dilara Leon. Entah mengapa mama menamaiku demikian . Apakah Leon itu nama papaku? Akupun tak pernah tahu. Rahasia siapa papaku dibawa mama hingga ke liang lahatnya.
Aku benci mama. Karena kebisuannya akan siapa papaku, mama membuatku selalu menderita bahkan mungkin sejak aku dilahirkan.
Kakek, nenek , om dan tante bahkan keponakanku meihatku bagai kotoran yang harus dijauhi dan dihindari.
Aku si anak tak berayah. Semua mencemooh kehadiranku di dunia. Kecuali mama. Mama sangat sayang padaku, aku pun sangat sayang padanya hingga tiba saat aku mengerti segalanya. Bahwa aku adalah anak tak berayah. Anak haram.
" Mama, semua orang bilang aku anak haram. Apa benar begitu mama? Benarkah aku tak punya ayah?" tangisku pada mama saat usiaku 12 tahun dan aku mulai mengerti arti dari kata anak haram yang selalu disematkan padaku sejak kecil.
Mama tak menjawab, hanya memelukku erat dan bercucuran air mata. Aku memberontak. Aku tak butuh tangis dan pelukan. Aku butuh jawaban dari mama. Dan saat mama tetap bungkam, hilang sudah rasa sayangku pada mama.
" Aku benci mama!" teriakku keras.
" Maaf sayang..maafkan mama.." cuma itu yang terucap dari bibir mama.
" Mama kejam, mama tega aku selalu dihina-hina. Dimana papaku? Aku mau mencarinya. Aku mau dia mengakuiku anaknya.!" teriakku lagi membuat tangis mama makin kencang.
Biasanya aku sedih melihat mama menangis. Tapi kini hatiku sakit. Cukup sudah! Aku sudah menahannya demikian lama. Aku sudah menderita dihina-hina sekian lama. Aku sakit hati mama...aku tak luat lagi. Bahkan aku tak bisa menangis lagi sejak saat itu.
Dilara yang selalu diam dan mengalah sudah tak ada lagi. Dilara sekarang adalah gadis keras hati yang tak mau lagi direndahkan.
Kutatap wajahku di cermin. Meski banyak orang mencemooh statusku yang terlahir dari ibu tunggal, tak ada yang menyangkal aku cantik. Mataku kecil, sipit namun bersinar. Kulitku putih bagai susu dan halus seperti pualam. Tubuhku semampai meski tak terlalu tinggi seperti model.
Kata orang, aku cantik karena aku blesteran, keturunan campuran. Aku sering mendengar kasak-kusuk bahwa papaku orang Jepang. Bukan orang jawa seperti mama.
Teman-teman lelakiku berebut mencari perhatian dan menjadikanku pacar, meski aku tak menggubris mereka sama sekali. Hidupku terlalu rumit untuk memikirkan kesenangan apalagi cinta seperti remaja-remaja lain.
Sejak tak mendapat jawaban tentang siapa papaku dari mama, aku tak bicara pada mama sama sekali. Aku mengabaikannya. Aku hanya bicara jika dia menanyaiku. Aku akan menjawabnya sesingkat mungkin.
Mama benar-benar keras kepala. Tak mau membuka rahasia jati diri papa. Aku makin kesal padanya.
Aku jadi suka pulang malam. Buat apa pulang ke rumah yang sudah seperti neraka. Penuh orang-orang yang menatap dan melihatku sinis.
Dan sekarang ditambah mama yang egois dan mementingkan dirinya sendiri. Tak tahu seperti apa aku terlunta-lunta dengan status yang selalu kubawa kemanapun aku melangkah. Status menjijikkan sebagai anak haram. Cih! Bahkan aku benci pada diriku sendiri.
Aku tersentak dari lamunan masa silamku yang kelam. Bahkan hingga saat ini pun tak bisa menghilangkan sebutan kejam itu. Apa salahku?
Mama meninggalkanku saat usiaku 17 tahun. Dia sakit leukimia kata dokter. Entahlah, aku tak peduli, aku bahkan tak menyesalinya. Dia yang membuatku terlahir dan menderita di dunia ini. Aku menderita sendiri sejak lahir. Apa aku minta dilahirkan? Tidak!
__ADS_1
Sepeninggal mama, aku makin sering pulang larut malam. Rumah cuma sekedar tempatku tidur dan berganti pakaian.
Keluarga makin tak peduli padaku. Kakek dan nenek juga semua penghuni rumah menganggap aku makhluk tak kasat mata yang keberadaannya bagai angin.
Mungkin mereka menganggapku sudah mati pula seperti mama. Terserah, malah bagus buatku. Hidupku lebih bebas.
" Non Lara, nanti tolong pulang jam 2 siang bisa? Pak Puguh katanya mau bicara sama non " mbok Jum mencegatku di pintu kamar saat aku mau berangkat sekolah.
" Iya mbok." jawabku singkat.
Ada apa lagi? Pak Puguh yang aku tahu adalah pengacara keluarga kami. Apakah mama meninggalkan warisan? Hahaha...aku tak peduli.
Yang penting aku masih bisa sekolah dan lanjut kuliah. Itu saja yang penting buatku. Lalu aku bisa bekerja dan segera keluar dari rumah neraka ini. Hidup sendiri lebih baik daripada hidup dalam keluarga yang menganggapmu sampah.
Pulang sekolah aku langsung ke rumah, tidak nongkrong atau jalan tak tentu arah seperti biasanya.
Sampai di rumah Pak Puguh sudah menungguku.
" Duduk Ra..." kata Pak Puguh.
Aku duduk di depannya. Dia mengeluarkan sebuah map tebal dari tas yag dibawanya.
Lalu sebuah buku kecil mirip buku tabungan bertuliskan nama sebuah bank. Saat kubuka tertera deposito berjangka atas namaku dengan nilai fantastis, mencapai sepuluh digit angka beserta rincian bunga deposito yang hampir memenuhi buku itu.
Mama sudah menyiapkan segalanya. Dia tahu umurnya tak lama. Harusnya aku senang mama sudah mempersiapkan semua untuk masa depanku.
Tapi entah mengapa aku tak terharu atau menyesali kepergian mama. Aku masih sakit hati dengan sikap diam mama. Jumlah uang sedemikian banyak, ternyata tak bisa menutup luka hatiku yang masih menganga.
" Mama...maafkan aku. Hatiku masih sakit. Aku belum bisa memaafkan mama."
Tapi aku berterima kasih karena mama sudah menyiapkan dana pendidikanku hingga aku lulus kuliah nanti. Dan aku jadi milyarder muda berkat polis asuransi jiwa mama,juga deposito yang sudah bisa kucairkan kapan saja. Bahkan mama masih meninggalkan sesuatu di bank yang kunci depositnya masih aku simpan. Entah apa yang disimpan mama di bank.
" Mama, ini semua pasti kau lakukan karena merasa bersalah padaku bukan? Dan maaf aku tak tersentuh karena memang sudah kewajibanmu menjamin hidup anak harammu ini."
" Saya sudah mengurus proses pencairan semua dana yang mamamu wariskan untukmu. Dilara sudah bisa menggunakan dan mengambilnya kapan saja karena sudah berusia lebih dari 17 tahun. Jadi simpan semua baik-baik nak. Gunakan sebijak mungkin. Pak Puguh selalu siap kapanpun kamu butuh bantuan."
Pak Puguh memberikan kontak ponselnya dan meminta nomorku. Aku memberikannya. Aku berpikir mungkin hanya Pak Puguh yang peduli padaku meski itu hanya karena dibayar. Suatu saat aku pasti membutuhkannya.
" Dilara, sebaiknya kamu segera ke bank. Pak Puguh tidak tahu apa yang ada dalam deposit mamamu. Apa kamu ingin pak puguh mengantarmu ke bank?" tanya pak Puguh.
__ADS_1
" Iya pak, bagaimana kalau besok?" tanyaku.
" Baiklah, besok sebaiknya Dilara ijin saja satu hari. Tidak usah masuk sekolah. Kita akan ke bank jam delapan pagi. Ya Ra?" Pak Puguh meminta persetujuanku.
" Iya pak" jawabku singkat.
Setelah pak Puguh pergi aku melangkah ke kamarku di lantai dua. Apakah keluarga mama tahu mama memberiku warisan sedemikian banyak? Mereka tampak tak peduli. Lagipula mereka juga sudah kaya.
Esoknya aku ke bank dengan pak Puguh.
Setelah melalui proses agak ribet terkait keamanan data dan privacy nasabah, akhirnya aku bisa menerima sebuah tas dokumen. Untunglah pak Puguh sudah mempersiapkan segala urusan terkait bank. Jadi aku tinggal terima beres.
Kami pergi ke kantor pak Puguh dan membuka tas mama di sana.
Sebuah sertifikat rumah dan tanah di sebuah tempat yang ku kenal. itu tak jauh dari rumah kakek dan nenek yang kutinggali selama ini.
Itu daerah elit, dan saat kulihat ukuran rumah dan tanah yang tercantum dalam serrifikat itu, jelas bukan rumah yang sederhana. Bahkan luasnya melebihi rumah kakek.
Siapa mamaku sebenarnya? Dia sangat kaya ternyata.
" Apa Dilara mau melihat rumahmu?" tanya Pak Puguh.
" Saya akan lihat sendiri pak. Saya tahu alamat itu, maksud saya daerah itu Saya takut merepotkan pak Puguh kalau terus-terusan minta antar." jawabku jujur.
" Jangan sungkan nak, mamamu juga kakekmu membayarku mahal sebagai pengacara keluarga. Ini memang tugas pak Puguh" Pria setengah baya itu tersenyum.meyakinkanku.
" Bagaimana kalau sekarang pak? Mumpung saya sudah ijin tak masuk sekolah. Apa pak Puguh sibuk? " tanyaku.
" Oke. Nggak kok, saya nggak sibuk. Dilara, anggap saja pak Puguh om kamu. Pengganti mama. Pak Puguh yang akan jadi walimu. Itu pesan mamamu."
" Boleh saya panggil om saja, agar lebih santai." Aku tampaknya bisa percaya pada orang ini. Dia tak berusaha mendekatiku atau bersikap baik berlebihan. Aku bisa melihat kejujuran di matanya.
" Wah..om senang sekali. Rara , boleh om panggil begitu?" Om Puguh mengusap.kepalaku .
" Boleh om. Mama juga panggil Rara begitu." jawabku.
Dan akhirnya perjalanan kami sampai juga ke rumah mama. Aku terbengong melihat rumahnya.
"Nggak salah ini om?" aku tak percaya. Kenapa mama mau tinggal dengan keluarga yang tak menganggapnya kalau dia punya istana seperti ini?
__ADS_1