Ganteng-ganteng Hantu

Ganteng-ganteng Hantu
Tetangga Baik Hati


__ADS_3

Mbok Jum membawa nampan berisi dua gelas orange juice dan meletakkannya di meja.


" Makasih mbok" seruku, mbok Jum tersenyum lalu berbalik masuk ke rumah lagi.


" Kamu tinggal sama siapa disini?" tanya Reno


"Aku sendiri cuma ditemani mbok Jum dan Pak Karto suaminya. Kamu sendiri, sama siapa disini?" tanyaku.


" Aku juga sendiri, malah benar-benar sendiri. Nggak ada yang menemaniku sama sekali. Tapi kadang teman-temanku datang."


" Keluargamu?"


" Orang tuaku sudah meninggal. Saudara sih banyak. Tapi semua pada sibuk dengan urusan masing-masing. Yah aku sih maklum saja. Mungkin mereka pikir aku sudah dewasa jadi tidak perlu bantuan mereka"


" Kamu masih untung, meski tak peduli saudaramu masih mengakuimu. Sedang aku sebatang kara sejak mamaku meninggal. Saudaraku tidak menganggapku saudara. Mereka lebih melihatku sebagai beban. Jadi saat aku keluar dari rumah, mereka.malah merasa lega...hahaha." aku tertawa tapi hatiku sakit.


" Masa segitunya?"


" Memang segitunya. Ah sudahlah. Cerita hidupku nggak menarik untuk didengar. Kamu masih kuliah atau..?" kutaksir umurnya beberapa tahun diatasku.


" Aku sudah lulus setahun lalu. Sekarang aku kerja di perusahaan papa."


" Ohh gitu...minum gih..." Reno meneguk minuman di gelas hingga habis.


" Haus ya...?" aku tertawa melihatnya minum dengan cepat. Padahal gelas itu lumayan besar.


Dia tersenyum dan menatapku agak lama. Aku jadi salah tingkah. Belum pernah ditatap seseorang seperti itu. Tatapannya menusuk hingga dadaku terasa nyeri. Aku tiba-tiba merinding. Merasakan angin bertiup dingin di sekitar tengkukku. Ihh!


" Ren, kamu ada kerjaan nggak sekarang?"


" Ini kan minggu Ra, aku nggak kerja. Malah Sebenarnya aku mengambil cuti beberapa minggu ini Ra. Aku mau menenangkan diri dulu untuk menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuaku sudah pergi. Aku ingin mengikhlaskan kepergian mereka." Reno terlihat murung.


" Sorry..." ucapku lirih.


" Nggak, kamu nggak salah. Aku yang baper...hehe..ngerasa ada yang dicurhatin jadi ngomong aneh-aneh".


" Eh nggak papa Ren, aku mau kok jadi teman curhatmu. Tapi kamu juga harus siap-siap jadi tempat sampahku"


" Maksudnya?" Reno mengerutkan dahinya.


" Ya kamu juga harus mau dengar kalau aku lagi ngeluarin unek-unek dan sampah pikiranku sama kamu"

__ADS_1


Reno tertawa. Dia manis sekali. Dewasa dan sopan. Kata-katanya menenangkan jiwaku. Aku merasa nyaman bicara dengannya. Dia tampak tulus dan tak punya tendensi apa-apa. Aku merasa mendapat teman baru yang menyenangkan. Aneh karena aku baru beberapa saat mengenalnya. Dan biasanya aku tak mudah percaya pada orang lain. Tapi dengannya aku malah tak terasa sudah bicara begitu banyak.


" Kamu satu-satunya teman yang mau melihatku saat ini Ra. Kamu mau apa. Ayo, aku antar kemanapun kamu mau pergi. Mumpung aku masih jadi pegangguran " dia tertawa lagi.


" Oke...kebetulan. Aku pengen kamu temani aku keliling kompeks ini. Nyobain mobil baruku. Mau" aku meringis menatapnya.


" Of course. Ayuk. Kita jalan-jalan !"riang suara Reno menarik tanganku berdiri dari kursi teras.


" Bentar , aku panggil mbok Jum biar nutup pintu pagar."


Aku ke belakang, kulihat mbok Jum memasak di dapur. " Masak apa mbok?" kupeluk bahu wanita tua itu dari belakang.


" Ca kangkung sama udang, favorit non Rara dan mama non" jawab mbok Jum


" Siip, I like it. Tapi aku mau keluar dulu mbok. Nyobain mobil baru. Nanti pulang baru makan. Pak Karto mana, tolong suruh nutup pagar ya mbok?"


" Iya non. Sebentar saya bilangin. Sudah non berangkat saja. Hati-hati ya?"


" Beres mbok. Mumpung ada teman. Dia sudah jago nyetir dan tahu daerah sini, nggak mungkin kesasar" jawabku santai sambil berlalu ke garasi.


Reno sudah menungguku. Aku segera masuk mobil dan mengeluarkannya dari garasi. Reno duduk di sebelahku dengan tenang. Kulihat pak Karto sudah membuka pintu pagar rumah, dan kujalankan mobil pelahan keluar dari rumah.


Kulihat dari spion, pak Karto sudah menutup kembali pintu pagar.


" Kanan aja dulu. Aku kasih tahu tempat joging yang enak. Di sana juga ada super market dan klinik lumayan lengkap. Siapa tahu kamu butuh belanja atau lagi gak sehat dan butuh dokter"


" Oke, " Kuarahkan kemudi ke kanan. Masih agak kaku karena baru kali ini aku memegang kemudi lagi setelah lulus kursus sebulan lalu. "Kalau nyetirnya masih endut-endutan maklumin aja ya Ren, baru dapat SIM. Baru pegang mobil sendiri juga.." Aku meringis melihat Reno.


" Emm..untuk pemula lumayan bagus kok. Halus, kamu cepat belajar." Reno mengangkat jempolnya.


Kami memgelilingi kompleks sambil terus ngobrol , kadang berhenti di beberapa tempat yang kuanggap menarik. Tak terasa kami sudah satu jam.berkeliling.


" Ada danau buatan agak jauh dari sini. Bagus banget, sengaja di buat oleh pihak pengembang sebagai sarana rekreasi penghuni kompleks. Kamu mau lihat?"


" Boleh. Tapi kamu yang bawa ya. Aku mulai pegel nih, sudah satu jam."


Reno mengangguk dan turun dari pintu samping. Aku menggeser tubuhku ke kursi penumpang, Reno masuk dan langsusg menjalankan kemudi. Ku perhatikan jalan-jalan dan bangunan di sekitar daerah ini. Siapa tahu aku akan mengunjunginya sendiri suatu saat nanti.


Beberapa saat kemudian aku sudah sampai di danau buatan yang dikatakan Reno. Pengunjungnya lumayan banyak hari ini. Reno mengajakku duduk di bangku kayu di bawah sebuah pohon besar.


Kami membawa snack dan minuman kaleng yang tadi kami beli di super market. Udara yang sejuk dan gemericik air danau yang bertiup angin menyambutku. Wah, sepertinya aku akan sering ke sini nanti.

__ADS_1


" Kamu sering ke sini Ren?"


" Lumayan sering , apalagi akhir--akhir ini . Aku suka menenangkan diri di sini." Wajahnya kembali sendu. Ah aku ingin menghapus kesedihan itu dari wajah tampannya.


" Pacarmu Ren? Gak mungkin kan, kamu nggak punya pacar?" aku tertawa meliriknya. Dia pun tertawa.


" Dia sudah melupakanku"


" Kalian putus?" tanyaku penasaran.


" Bukan putus, keadaan yang memaksa terjadi. Dan dia dengan mudah melupakanku"


" Elah Ren, tinggal cari yang baru. Muka ganteng kaya kamu sih ngga akan susah kalau cuma cari cewek. Apalagi kalau lihat rumahmu, pekerjaanmu... Bikin pacarmu menyesal ninggalin kamu!" entahlah, tiba-tiba saja aku jadi ikut panas mendengar dia dicampakkan ceweknya.


Dia tertawa masam. " Kamu mau nggak jadi pacarku?"


Ehh! Aku kaget. " Jangan aku Ren, aku bukan cewek normal. Kamu mungkin akan kaget kalau sudah mengenalku. Hidupku terlalu rumit. Aku bukan cewek yang baik untuk kamu jadikan pacar."


" Kamu malah cewek ternormal yang pernah aku kenal. Apa adanya, nggak jaim, nggak pura-pura.." Reno mengacak rambutku." Kamu bilang gampang cari cewek, kamu saja nggak mau jadi pacarku" dia mendecak.


" Hahaha....wah ini sih senjata makan tuan!" aku jadi blingsatan ditembak mendadak.


" Sudahlah Ra, nggak usah dipikirin. Aku sudah senang dapat teman seperti kamu. Kita nggak usah ngomongin pacar. Aku sudah nggak ada harapan sama mantanku lagi. Dan masih malas memulai yang baru. Mungkin aku akan menunggumu saja, Sampai kamu mau...hahaha..!"


Dia mengatakannya tanpa beban. Entahlah, aku jadi ragu. Dia itu bercanda atau sungguh-sungguh. Aku pun jadi ikutan santai. Aku memang suka padanya tapi untuk saat ini, jadi teman adalah yang terbaik untuk kami.


Aku dan hidupku yang rumit ini. Aku belum ingin menambah masalah dengan pacar atau kekasih. Aku masih ingin menikmati kesendirianku dan kebebasanku saat ini.


Saat itulah lewat beberapa pemuda di depan kami. Mereka menggodaku mulanya, "Cantik, sendirian saja? Boleh ditemani nggak?" mereka kurang ajar denga mata yamg menatapku mesum. Aku diamkan mereka. Masa bodoh.


Tapi tak lama merka seperti ketakutan saat melihat Reno. Padahal Reno hanya diam saja menatap tajam pada mereka.


" Setan...!" teriak mereka bersamaan lalu lari menjauhi kami. Keributan terjadi ketika kulihat mereka bercerita pada para pengunjung sambil menunjuk-nunjuk tempatku duduk.


Aku menoleh ke Reno. Dia cuma mengangkat bahunya sambil menggeleng. " Entah, aku juga nggak tahu apa yang mereka lihat" katanya.


Aku lalu menoleh ke belakangku. Juga tak ada siapa-siapa. Lalu mereka ketakutan melihat apa? Atau melihat siapa?"


********


Hai-hai....ini kutulis untuk ikut lomba...tiba-tiba saja terlintas idenya...Jangan terlalu serius...santai saja tapi jangan baca kalau kalian penakut...

__ADS_1


Hantu mungkin tidak ada, tapi kalau kalian bertemu dan berinteraksi denganya, apakah kalian akan tetap menganggapnya tak ada?


Happy reading...


__ADS_2