
Aku berdiri terpaku di depan rumah megah itu. Hanya ada satu rumah lagi yang bersebelahan dengan rumah mama. Selebihnya di kanan rumahnya adalah taman bermain yang cukup luas dan asri. Sedangkan di sebelah rumah yang berdekatan dengan rumahnya adalah jalan lebar perumahan.
Tiba-tiba aku melihat sesosok lelaki yang berdiri di teras atas rumah di sebelah rumah mama. Pemuda itu seakan menatapku sambil tersenyum.
" Hai..." Sayup terdengar suara pemuda itu menyapaku sambil melambaikan tangan.
Aku cuma menatap sekilas pemuda itu. Pak Puguh keburu menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah itu. Rumah warisan mama.
Pak Puguh membuka pintu pagar rumah yang tinggi. Pagar kayu jati yang nampak kokoh dan artistik. Begitu pintu terbuka tampak halaman rumah yang indah dengan tatanan taman yang sejuk dan asri. Mama..mama...mengapa menyiksa diri di rumah neraka jika mama punya istana? Aku masih tak habis pikir.
Menjejakkan kaki di halaman rumah membuatku seakan memasuki surga. Rumput yang hijau, bunga-bunga diatur sedemikian cantik menghiasi halaman dan ada kolam ikan yang ditengahnya terdapat air mancur dengan suara gemericiknya yang menenangkan jiwa.
Belum apa-apa aku sudah merasa kerasan di sini. Apalagi aku cuma sendiri di sini. Sempurna. Kesendirian adalah nama tengahku.
Rumah kakek sama megahnya pun ada taman dan kolam renang. Tapi disana banyak mata sinis dan tatapan menghina. Di sini aku sendiri, tenang damai dan...yeah..semua ini milikku, Hanya milikku sendiri.
" Ra, mama pesan, kamu disini nanti akan ditemani mbok Jum dan suaminya. Agar Rara tak sendirian di rumah." kata pak Puguh.
" Terserah Om saja. Rara ikut." Rara cuek. Selama ini memang mbok Jum yang selalu mengurus keperluannya. Meskipun Rara cuek, mbok Jum tetap baik padanya. Rara hanya tak terbiasa mempercayai orang lain.
" Kapan Rara mau pindah ke sini. Biar om suruh orang bersih-bersih."
" Secepatnya om. Rara sudah kerasan di sini."
" Baiklah. Ini om ada pekerjaan. Kamu nggak papa kan om tinggal sendiri? Puas-puasin lihat rumah kamu. Kalau kamu pulang, jangan lupa mengunci pintu. O ya, Rara sudah punya SIM?" Tanya Om Puguh.
" Sudah Om. Baru sebulan lalu Rara dapat."
" Bagus. Ini kunci mobilmu. Dan ini kunci garasi. Lihatlah di garasi. Kamu boleh mencobanya. " Om Puguh tersenyum dan menepuk tanganku.
Aku terbengong menimang kunci mobil dan sebuah remote di tanganku. Makin penasaran siapa mamanya yang ternyata kaya raya ini. Sampai tak sadar Om Puguh sudah pergi dengan mobilnya.
Aku berlari ke sebuah pintu besar yang aku yakin garasi. Menekan dan mengarahkan remote ke arah pintu yang langsung terbuka ke atas.
Wow! Nissan Juke Burning Red impianku berdiri gagah di sana. Ku usap lembut body Si Juke yang masih mengkilat.. Bagaimana mama tahu? Aku tak pernah bilang padanya. Aku cuma pernah bercanda pada Mas Aldo yang jadi tutorku belajar mengemudi bahwa jika diijinkan punya mobil aku akan memilih Si gagah Juke ini.
Aku bersandar ke dinding. Mama...mama...apa yang kau sembunyikan dari semua orang ma?
Kututup kembali pintu garasi. Aku harus segera berkemas. Kutatap sekilas rumahku, untuk kemudian membuka aplikasi taksi online.
" Hai tetangga baru!" sebuah suara bass mengejutkanku.
" Oh..hai!" ku sambut tangannya yang terulur. Tapi aku masih memperhatikan ponselku. Belum ada taksi yang mengambil orderanku.
" Kamu mau pergi? Disini agak susah pesan taksi. Lama! Kenalin, Aku Reno, Moreno."
Kutatap dia. Tampan, tinggi , type A..hehe.." Aku Dilara, panggil aja Rara"
" Kapan pindahan? Nanti aku bantu" tawarnya ramah.
__ADS_1
" Of course, thanks. Mungkin besok. Paling lambat Sabtu nunggu sekolah libur. " Aku mulai tertarik padanya. Dia sopan.
" Oke. Kayanya kita akan jadi tetangga baik.." dia tersenyum.
Aku memgangguk. Saat bersamaan sebuah taksi lewat di depan kami. Mungkin taksi itu baru mengantar penumpang ke sekitar sini.
" Taksi!" Aku melambaikan tangan. Dan taksi itu berhenti. " Aku pergi dulu Reno,kebetulan ada taksi. Bye"
Reno tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku bergegas menghampiri taksi yang menungguku. Setelah duduk di taksi aku melihat ke arah tempatku berdiri dengan Reno tadi. Ha? Reno sudah tak ada. Cepet banget perginya. Tapi aku tak ambil pusing.
Ku sebutkan alamat rumah kakek pada sopir taksi. Dan taksi pelahan meninggalkan tempat itu.
Pagi itu sebuah mobil box berukuran sedang sudah terparkir di rumah kakek. Mbok Jum sudah sejak semalam membantuku merapikan barang-barang yang akan kubawa ke rumah baruku.
" Non Rara sudah pamit pada Tuan?" tanya mbok Jum.
" Perlu ya mbok? Bukannya aku ini tidak dianggap disini? " tanyaku acuh.
" Tetap harus pamit non. Bagaimanpun beliau itu kakeknya non." kata mbok Jum.
" Mbok jum aja yamg pamitin ya? Males aku mbok!"
" Ya sudah, ayo mbok jum antar non pamit" kata mbok Jum.
Baiklah, untuk terakhir kali tak ada salahnya berpamitan. Setelah ini aku mungkin tak akan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah ini atau pun menemui penghuni rumah neraka ini lagi.
" Dimana kakek mbok? Tanyaku
" Tuan Non Rara mau bicara" mbok Jum membuka pembicaraan ketika dilihatnya aku cuma mematung di belakang kakek duduk.
" Hm.." cuma itu yang ku dengar.
Okey...ini harus segera diakhiri. " Kek, Rara mau pamit. Rara akan tinggal di rumah mama mulai hari ini sama.mbok Jum dan Pak Karto."
Tanpa menunggu jawaban kakek aku berbalik dan pergi dari hadapan kakek. Terserah. Yang penting aku sudah pamit.
" Permisi Tuan..." mbok Jum tergopoh-gopoh mengikuti langkahku.
" Mbok Jum naik taksi sama Rara, pak Karto ikut mobil barang biar nunjukin jalan sama sopirnya ya mbok"
" Iya non" Jawab mbok Jum.
Dan akhirnya kami bertiga keluar dari rumah itu. Rumah besar dan megah milik kakek. Rumah indah diluar tapi bak neraka di dalam bagiku.
Selamat tinggal rumah kenangan yang tak sudi lagi ku kenang. Aku akan membuat kenangan baru yang indah untukku sendiri mulai sekarang.
Om Puguh bilang mama sudah punya dana khusus untuk hidupku sehari-hari yang berasal dari Saham miliknya atas namaku.
" Kamu sebenarnya kaya raya Ra." kata om Puguh saat itu.
__ADS_1
" Apa gunanya kaya tapi kesepian?"
" Lebih buruk lagi jika kamu miskin dan kesepian"
Aku tertawa " Benar juga Om. Apakah Om Puguh benar-benar tidak tahu siapa papaku?" tanyaku penasaran. Om Puguh ini tahu segalanya tentang mama dan keluarga kakek. Mustahil dia tak tahu apa-apa tentang ayah kandungku.
" Rara, kalau mama kamu saja tak memberi tahumu, apa mungkin mamamu memberi tahu orang lain?" jawabnya.
" Aku sudah tak tahu lagi siapa yang bisa kutanya tentang jati diriku om. Mungkin mulai sekarang aku harus terima nasib, seumur hidup jadi anak yang tak punya ayah."
Om Puguh menatapku. Mungkin heran karena aku tak nampak sedih. Aku memang tidak sedih. Aku marah dan kesal. Dan air mataku sudah habis untuk menangisi statusku ini. Cukup sudah.
Tak sampai setengah jam aku sudah sampai di rumah baruku. Kami turun dari taksi. Mbok Jum langsung melongo melihat rumahku. Dia memang baru kali ini datang ke sini. Sementara Pak Karto suaminya sudah tiga kali ke sini untuk mengawasi orang yang bersih-bersih rumah.
" Ya ampun Non...rumah non bagus banget. Besar dan megah. Nggak kalah sama rumah kakek non Rara."
" Ayo masuk mbok." Dan mbok Jum melangkah mengikutiku masuk ke rumah. Tak lama kemudian mobil box yang mengangkat barang-barangku juga sampai.
Tak banyak yang kubawa. Selain pakaianku dan beberapa barang mama yang kuanggap penting, hanya barang pribadiku seperti buku-bukuku sepatu, tas dan aksesorisku. Tak ada perabotan yang kubawa karena di sini semua sudah ada.
Ku tunjukkan kamarku pada mbok Jum. Aku pilih kamar yang terdekat ke ruang tamu. Ada beberapa kamar disini. Mbok Jum kupersilakan memilih kamarnya sendiri. Dan wanita 50 tahun itu malah memilih kamar yang jauh dari kamarku. Dia memilih kamar yang terdekat dengan dapur.
" Mbok Jum nggak pengen kamar yang di depan dekat kamarku?" tanyaku.
" Nggak non. Enakan di belakang. Kalau mau ke dapur dekat." Ya sudahlah mbok. Terserah mbok Jum saja.
Kubuka jendela kamarku yang menghadap taman. Udara segar segera masuk menggantikan udara pengap kamar yang tak pernah dibuka.
Kutinggalkan kamarku. Entah mengapa aku ingin sekali melihat-lihat lantai dua rumah ini. Kususuri tangga pelahan-lahan. Dan saat sampai di lantai dua aku merasakan suasana yang lain. Aku merasakan hawa yang dingin menyambutku.
Mungkin karena jarang dijamah, jadi terkesan sedikit seram. Buru-buru kubuka tirai yang menutupi seluruh kaca jendela dan pintu. Sinar matahari segera menerangi seluruh ruangan.
Aku membuka pintu menuju ke balkon yang lumayan luas. Ada sofa dan meja kecil di sana. Aku duduk melepaskan penat. Tanpa sengaja aku melihat ke arah rumah sebelah.
" Hai..!" Suara bass itu kembali menyapaku. Dia berdiri bersandar pagar balkon seperti kemarin saat aku pertama melihatnya.
Aku tersenyum dan melambaikan tanganku padanya. " Sini, aku baru datang" aku agak berteriak bicara padanya. Dia mengacungkan jempolnya.
" Aku turun!" kudengar sayup suaranya.
" Oke" jawabku. Aku bergegas turun untuk menemuinya.
Di bawah alu bertemu mbok Jum . " Mau kemana Non?"
" Ke depan mbok,tolong buatin minum dua ya. Ada temanku"
" Ya non" dan kutinggalkan mbok Jum. Aku berlari ke depan.
Reno sudah menungguku di depan pagar depan.
__ADS_1
" Hei. Ayo masuk!" ajakku. Reno tersenyum dan duduk di teras depan denganku.
"