
Ini hari pertama aku ke sekolah menggunakan si juki panggilan sayangku untuk mobilku. Pak Karto sudah bersiap di samping pintu pagar. Dia membuka pintu dan menutupnya kembali saat aku sudah keluar dari rumah. Aku memencet klakson berterima kasih pada pak Karto.
Keluar dari pintu pagar pandangan kepalaku seakan tertarik untuk menoleh ke balkon rumah Reno
Dan benar saja, kulihat Reno tersenyum sambil melambaikan tangan. Kubuka kaca mobilku dan kubalas lambaiannya. Lalu kuinjak gas berlalu dari depan rumahku.
Sampai di sekolah masih sepi. Baguslah, aku tidak suka kelihatan mencolok
Baru saja turun dari mobil, aku mendengar seseorang memanggil namaku. " Ra!"
Dika ,teman sekelasku, salah satu dari beberapa orang yang berusaha mendekatiku di sekolah. Dia juga baru keluar dari mobilnya yang diparkir di belakang mobilku.
Dika ini, dia ngeyel. Jika sebagian besar mereka yang kutolak mentah-mentah akan mundur teratur, tidak demikian dengan Dika. Dia benar-benar keras kepala.
Dika tetap mendekatiku meski aku bersikap ketus padanya. Sudah kubilang terus terang bahwa aku menolaknya. Dia tetap.bergeming dengan sikap sabarnya menghadapiku.
Aku cuma tak ingin dia kecewa jika tahu siapa aku. Lagipula aku tak ingin hatiku sendiri terlukaī jika menginginkan hubungan demgan orang lain. Aku sudah kenyang ditolak dan dicampakkan, keluargaku sendiri menolakku. Apalagi orang lain?. Dihina dan dicemooh sebagai anak tak berayah. Aku tak mau lagi sakit hati. Jadi akan kujaga sendiri hatiku agar tak jatuh cinta. Tapi rupanya Dika ini punya semangat baja.
Akhirnya aku menyerah untuk menghindari dan mengusirnya. ..Aku biarkan dia bersikap semaunya. Tapi aku tak pernah memberi harapan padanya. Aku tetap dingin dan tak menggubrisnya. Yang aku heran dia tak mempermasalahkan itu. Apa dia gila?
" Mobil baru Ra? Keren!"
" Hmm..." aku berjalan meninggalkannya. Tapi dia mengekoriku hingga ke kelas. Terserah.
" Kamu ikut bimbel Ra?" tanyanya.
" Hmm..." Aku mengambil ponselku dan mulai memainkannya. Berharap Dika sadar kalau aku tak ingin meladeninya, tapi seperti biasa dia tak peduli. Duduk di bangku depanku dan kembali menanyaiku.
" Nanti kita ambil yang sekelas ya Ra...? harapnya.
" Hmm...terserah saja" jawabku acuh. Dan dia sudah senang sekali mendengar jawabanku. Aku melihatnya aneh. Tapi dia malah senyum-senyum. Aku jadi geli sendiri. Apa sih?
" Hai Ra, sudah ngerjain tugas Kimia?" Lina teman sebangku ku baru datang, kelihatan tergopoh-gopoh.
" Sudah."
" Pinjem dong...aku lupa belum ngerjain nih. Kemarin sibuk" Lina merengek. Huff dasar, kebiasaan anak ini.
__ADS_1
" Sibuk pacaran iya. Kemarin kamu ke mall sama Glen kan?" Dika menyahut. Lina langsung menutup mulut Dika dengan buku.
Meski kesal kukeluarkan juga buku tugasku. Aku sudah biasa dijadikan langganan contekan teman-temanku sekelas. Mereka tahu meski aku jutek dan sombong kata mereka, aku paling murah hati dimintai contekan. Dasar modus, muji kalau ada maunya.
Akhirnya pelajaran hari itu selesai. Aku dan beberapa temanku termasuk Dika dan Lina pergi beriringan menuju tempat bimbel. Rupanya lumayan banyak juga yang berminat mengikuti bimbel.
Lina ikut mobilku, Sementara beberapa teman ikut mobil Dika dan satu mobil lagi. Entah mobil siapa.
" Wah...keren kamu Ra. Enak nih bisa sering numpang" Lina memandangi interior mobilku yang lumayan mewah. Mama memang tak tanggung-tanggung berusaha menyenangkanku.
" Ngga ada numpang-numpang kalau nggak searah!" ketusku malas. Numpang artinya banyak bicara, berisik, pikirku. Lalu nanti nyebar gosip ke mana-mana. Ogah!
" Kumat pelit sama sombongnya!" kudengar Lina menggerutu. Biarin . Aku malas basa-basi.
Setengah jam kemudian kami sampai di tempat bimbel. Kami disambut seorang cowok keren .Menurut informasi, dia ini pimpinan sekaligus pemilik tempat bimbel ini.
OMG! Aku sampai terpana. Silau melihat wajahnya. Apalagi teman-teman cewek yang lain. Mereka sudah histeris saja melihatnya.
Kami seperti terhipnotis. Bahkan Dika dan teman cowokku yang lain ikut terbengong melihat visual lelaki ini.
" Hai adik-adik. Kenalin saya Kendra. Saya yang memimpin disini. Silakan ,kalian akan kami kenalkan pada program dan fasilitas bimbel kami. Dia mengajak kami mengikutinya berkeliling di bangunan yang lumayan luas. Fasilitasnya cukup mewah dan lengkap . Menurutku sepadan dengan jumlah uang yang harus kami keluarkan untuk membayar kelas bimbel ini.
Entah apa saja yang dibicarakan dan dijelaskan Kendra, karena kami cuma terlolong memelototi wajah tampannya. Kenapa dia tersesat di sini? Harusnya dia jadi model atau artis. Sayang wajah tampannya tidak dimanfaatkan.
" Kenapa kakak tidak jadi artis saja?" Lina tiba-tiba berdiri sambil bertanya kepada Kendra. Disambut ledekan dan sorak sorai teman yang lain. Semua tertawa. Kendra juga. Ya ampuun...lesung pipinya membuatku hampir pingsan. Ini sih gantengnya terlalu...Tanpa sadar aku pun terpesona...
Sudah pasti kami para cewek jadi mendaftar ikut bimbel. Aku yakin tujuan teman-temanku yang utama adalah si Kendra ini. Siapa yang tak kan meleleh melihatnya. Sudahlah ganteng, kaya , pinter pula...idaman banget.
Termasuk aku. Niatku yang semula murni ingin meningkatkan nilai dengan ikut bimbel kini terkontaminasi niat lain. Meski tak berharap apapun, setidaknya bisa cuci mata tiap hari mantengin mas Kendra. hehehe..semangat !!
Kami pulang dengan hati gembira. Kecuali teman-teman cowok yang merasa kalah saing dan di abaikan...hahaha...
Kami sudah mengisi data diri tadi, sekaligus membayar uang pendaftaran. Dan mulai besok kami akan memulai kelas bimbel kami.
Drrt...drt..ponselku yang kutaruh di dashboard bergetar. Kulihat sekilas tak ada nama. Hanya nomor baru yang tak kukenal. Aku biarkan saja tanpa berniat menjawabnya.
Hingga aku sampai di rumah, kumasukkan Si Juki ke garasi lalu bergegas ke kamarku untuk mandi.
__ADS_1
Setelah mandi baru aku periksa ponselku. Ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal tadi, siapa? Mungkin penting, lagipula aku nggak pernah sembarangan kasih nomor ponsel. Akhirnya kutelpon balik nomor itu.
" Halo...Dilara?" suara laki-laki di seberang
" Iya, ini siapa?"
" Ini Kendra."
" Ha? Kak Kendra? Ada apa kak?" tanyaku heran. Ah dia pasti melihat data diriku yang kutulis di form pendaftaran tadi.
" Coba periksa barang-barang kamu, ada yang hilang nggak?" Tanya Kendra lagi.
" Sebentar kak, aku periksa dulu" Buru-buru ku ambil sling bag ku dan kuperiksa isinya. Aduh! Dompetku nggak ada. Pasti jatuh habis ngeluarin card tadi.
" Ra..?" rupanya Kendra tidak menutup telponnya.
" Dompetku hilang kak.." jawabku lemas.
" Makanya aku nelpon kamu, dompetmu ketinggalan di meja administrasi tadi."
" Ya ampuun...untung kakak yang nemuin. Aku ambil sekarang ya kak? Kakak masih di kampus bimbel?"
" Aku sudah pulang, kalau kamu mau ambil ke apartemenku boleh saja. Atau aku ke rumah kamu saja. Ini sudah malam. Kasihan kalau kamu harus jalan sendiri. SIM kamu juga di dompet kan?"
" Wah nggak enak kak, masa aku yang butuh kakak yang repot.." aku sungguh-sungguh merasa sungkan jika memintanya datang ke rumahku.
"Rumah kamu mana sih? Apa sesuai alamat KTP kamu?" Kendra bertanya lagi.
" Enggak kak aku sudah pindah. Yang di KTP itu rumah kakek. Sekarang aku di rumah mama.Tapi jaraknya nggak terlalu jauh kok dari rumah kakek."
" Oke deh, ini aku mau sekalian keluar, ada perlu. Biar aku samperin ke rumah kamu saja. Kamu share lokasi saja Ra"
" Bener nih nggak ngerepotin kakak?" aku masih tak enak hati. Tapi aku memang perlu dompetku.
" Iyaaa...sudah nggak usah sungkan-sungkan segala. Aku berangkat ya...ditunggu mapnya"
" Oke kak. Makasih kak!" Segera aku share lokasi rumahku ke nomor ponsel Kendra. Ku simpan kontaknya di ponselku.
__ADS_1
Kurebahkan tubuhku ke kasur. Bisa-bisanya aku meninggalkan barang berhargaku sembarangan. Diam-diam aku bersyukur Kendra yang menemukan dompetku. Jika dompet itu jatuh ke tangan yang salah, aku akan lebih repot lagi.