
Mbok Jum dan Pak Karto suaminya masih berdiri terpaku di tempatnya. Mata mereka masih mengikuti gerak nona mereka yang makin menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu rumah.
" Pak, beneran rumah itu kosong? Aku jadi merinding.." mbok Jum menggandeng lengan suaminya erat.
" Iya buk, tukang yang aku suruh bantu bersih-bersih kemarin kan orang sini asli. Dia bilang rumah itu kosong sudah sejak sebulan lalu. Kabarnya yang punya rumah suami istri dan anak laki-lakinya meninggal bersamaan dalam kecelakaan mobil. "
" Hiiiyy...ngeri aku pak. Ayo masuk. Non Rara itu gimana pak? Nggak mempan dibilangi. Malah ngeyel. Aku takut dia nanti digondol demit" ( dibawa pergi setan).
" Mungkin temannya yang lain buk. Bukan yang rumahnya sebelah. Ada-ada saja non Rara itu. Mungkin mau menakut-nakuti kita."
" Iya mungkin pak. Non Rara kan memang suka jahil. Hiii..tapi kok ngeri juga ya pak, kita tinggal dekat rumah kosong. Mana mati nya kecelakaan lagi. Biasanya yang begitu suka jadi hantu..hiìi" mbok Jum makin menempel ke suaminya.
" Modus kamu buk, bilang saja mau ndusel...hehhehe..." Pak karto menggoda istrinya.
Mbok Jum melengos.." Heh dasar tua tua keladi. Ingat tuh, anak kita sudah mau melahirkan. Kita sudah mau jadi kakek nenek."
" Iya buu...biarpun sudah kakek nenek tetap harus mesra...biar awet muda..." pak Karto tak mau kalah..Dibalas mbok Jum dengan cubitan di pinggangnya.
Sementara di kamar Rara mulai mengatur buku-buku dan peralatan sekolahnya ke meja belajarnya. Kemudian berlanjut membongkar kopor pakaiannya dan menatanya ke dalam almari besar dalam walk in closet yang ada di kamarnya. Dulu di rumah kakeknya, tidak ada walk in closet di kamarnya.
Rara tersenyum sendiri...mama...apa yang kau sembunyikan dari kami semua? Rara memandangi foto dirinya dan mamanya dalam sebuah figura kecil. Satu-satunya foto mama yang dibawanya. Di letakkannnya foto itu di nakas sebelah ranjangnya.
Baru setengah dari isi kopor besar yang dikeluarkannya, Rara merasa lelah. Ditinggalkannya begitu saja semua barang tergeletak di lantai lalu direbahkannya tubuh lelahnya di ranjangnya yang besar dan empuk. Dipejamkannya matanya.
POV Rara
Aku tersentak kaget ketika merasa pipiku ditusuk-tusuk lembut.
" Renooo?" Aku terlonjak , kaget setengah mati karena tiba-tiba saja Reno sudah duduk dipinggir ranjang. Bagaimana dia bisa masuk kamarku?
" Hei, ngga usah bingung, tuh pintu kamarmu terbuka. " Reno tertawa.
Aku usap sendiri dadaku. " Kamu bikin aku hampir mati kaget Ren. Untung gak jantungan. Huff!"
Reno ngakak. " Capek ya? Aku bantuin yuk. Biar cepet selesai." Lalu tanpa menunggu persetujuanku Reno mulai memilah barang-barang di koporku. Memisahknnya sesuai jenis dan bahan pakaian. Ohh untunglah tadi underwearku sudah kupisahkan lebih dulu...hihi....Diam-diam aku mengagumi ketelatenan dan kerapihannya.
" Nah, sudah selesai. Tiinggal kamu taruh di lemari" Dia mengacak rambutku.
__ADS_1
" Wow..amazing! Kamu rapih banget Ren? Cepet lagi. Thanks banget ya" Segera kumasukkan pakaianku ke lemari.
" Kamu nggak keberatan kan, kalau aku sering ke sini? Aku kesepian di rumah. Jangan bilang pembantumu. Nanti mereka mikir buruk tentang kamu kalau tahu aku sering di sini."
" Oke..Aku rasa aku bisa mempercayaimu. Datanglah kapanpun kau mau." Aku tak tahu, entahlah aku merasa dia bisa jadi teman baikku. Dia tak pernah mencoba sesuatu yang bisa membuatku berpikir buruk tentangnya.
" Thanks." dia lagi-lagi.mengusap puncak kepalaku. Ah ya...mungkin dia menganggapku adiknya.
" Kamu mau minum Ren.? Biar aku ambilin." tawarku padanya.
" Nggak usah, aku cuma mau numpang istirahat." dia merebahkan tubuhnya di sofa kamarku. Tak.lama sudah kudengar dengkuran halus dari sofa. Dia tidur.
Reno kelihatan benar-benar lelah. Sesekali dahinya tampak berkerut. Dia tampan. Aku harus mengakuinya. Namun wajahnya tampak pucat. Mungkin memang kulitnya berwarna pucat.
Siapa dia? Kadang aku merasa dia begitu misterius. Dia seperti tak punya teman selain aku. Tapi aku tenang saat dia ada di sampingku. Seperti menemukan seseorang yang bisa kau percayai 100 persen. Padahal aku baru mengenalnya beberapa hari. Dan aku sudah membiarkannya tidur di kamarku.
Bagaimana kalau mbok Jum dan Pak Karto melihat Reno? Aku segera menutup pintu kamar yang terbuka.
Kulanjutkan menata barang-barangku. Kusiapkan buku-buku pelajaranku. Besok aku masuk sekolah. Ini sudah semester dua. Tinggal beberapa bulan lagi aku lulus. Aku ingin masuk universitas favoritku. Jadi aku bertekad belajar dengan baik.
Aku sudah mendaftar di sebuah bimbel terkemuka di kota ini. Lina, teman sebangku ku yang mengajak. Kami mendaftar bersama beberapa teman yang juga mengikuti bimbel.
" Non Rara, ayo makan malam dulu. Sudah jam 7 malam non..."
Hah? Jam 7 malam? Ya ampun..aku lumayan lama tidur. Kulirik sofa tempat Reno tadi juga terlelap. Tak ada siapapun, dia sudah pergi. Hah....kadang kurasa dia seperti hantu. Seperti..datang tak diundang, pulang tak diantar. Datang tiba-tiba dan pergi tanpa pamit.
Aku merasa punya perasaan aneh padanya. Semacam rasa sepenanggungan. Dia sama menderitanya denganku. Sebatang kara. Dan aku ingin menghiburnya. Aku tak ingin dia larut dalam kesedihannya.
" Iya mbok. Aku mandi dulu sebentar." Segera aku mengambill handuk dan melesat ke kamar mandi. Setelahnya aku bergegas ke meja makan. Sepi sekali.
" Mbok Juum..." Panggilku. Dan wanita paruh baya itu tergopoh mendatangiku.
" Non minta apa?" tanyanya.
" Ayo makan sama aku mbok!" Ajakku.
" Saya sudah makan non. Tadi sama pak Karto. Non kemaleman, saya keburu lapar."
__ADS_1
" Kalau gitu mbok duduk sini. Temani aku makan. Makan lagi juga nggak papa biar aku gak sendirian makannya."
" Sudah kenyang banget non. Ya sudah mbok duduk sini saja menemani non makan " Mbok Jum duduk di depanku berbatas meja makan. Aku segera makan.
Setelah makan aku ikut mbok Jum ke dapur. "Mbok punya minuman apa di kulkas? "
" Semua minuman kesukaan non sudah mbok belanjakan." Aku memeluk bahu mbok Jum.
" Makasih ya ...mbok Jum is the best. Cuma mbok Jum yang paling mengerti Rara."
Perempuan paruh baya itu menatapku berkaca-kaca. " Mbok sayang banget sama mama non. Makanya mbok juga sayang sama non. Karena cuma non peninggalan satu-satunya mama non."
" Rara juga sayang sama.mbok Jum dan pak Karto. Kalian adalah saudara Rara yang sebenarnya." ucapku tulus. Mereka memang orang lain. Tapi malah mereka yang memikirkanku. Memperhatikanku sungguh-sungguh. Menganggapku seperti anak mereka sendiri. Mengurus keperluanku. Sedangkan orang-orang yang punya hubungan darah denganku malah mencampakkanku.
" Besok Rara sekolah mbok. Lanjut bimbel. Mungkin pulangnya agak malam. Mbok ngga usah khawatir. Kalau ada apa-apa hubungi hape Rara saja"
" Tumben non pamit. Biasanya juga tiap hari pulang malam nggak pernah ijin dulu.." mbok Jum mencibirku.
" Hahaha....iya juga ya mbok...? Tapi mulai sekarang Rara akan pamit kalau kemana- mana. Rara nggak mau mbok Jum dan Pak Karto panik kaya kemarin."
Mbok Jum tersenyum dan merangkulku erat. "Mbok senang non Rara sudah jadi gadis dewasa dan bijak sekarang. Kami akan selalu menjaga dan melindungi non. Kami sudah berjanji sama.mama non."
" Makasih mbok Jum." Aku memeluknya erat. Setidaknya mama menitipkanku pada orang yang tepat. Terima kasih mama.
Aku sudah siap berangkat sekolah. Aku sarapan roti. Sebenarnya mbok Jum ingin membawakanku bekal tapi aku tak terbiasa . "Aku akan makan di kantin saja mbok"
" Tapi beneran makan ya non. Biar non nggak sakit" pesannya khawatir.
" Iya mbok. Uangku banyak. Jangan khawatir."
Mbok Jum tertawa " Wah non Rara mulai sombong...."
" Mending sombong daripada rendah diri mbok. Biar orang memghargai kita. Nggak akan ada yang berani membully. Paling beraninya ngomongin kita di belakang"
" Mending Rendah hati non. Kalau sombong itu dibenci orang. Nanti non nggak punya teman"
" Mbok..mbok...aku nggak sombong juga dibenci orang. Mending sombong sekalian...hahaha..."
__ADS_1
Mbok Jum menggeleng lemah. Tak bisa membantahku lagi. Apa yang ku katakan memang benar. Sombong malah membuatku tangguh menghadapi hidup yang kejam.