
Hampir tiga puluh menit kemudian terdengar bunyi bell rumahku. Pak Karto bergegas membuka pintu karena aku sudah berpesan padanya bahwa ada temanku yang akan datang. Biasanya kami akan melihat dulu siapa di depan pintu pagar lewat intercom yang terhubung dengan cctv. Semata-mata Pak Karto ingin menjaga jangan sampai ada orang jahat sembarangan masuk.
Tiba-tiba aku teringat Reno. Apa dia punya jalan rahasia ke rumahku? Bagaimana dia bisa seenaknya keluar masuk rumah tanpa diketahui pak Karto? Dan kenapa aku baru sadar sekarang?
" Non, temannya sudah datang. Sudah saya suruh duduk di ruang tamu" Suara pak Karto membuyarkan lamunanku tentang Reno.
" iya pak. Sebentar saya keluar. Makasih ya pak"
" Iya non..."
" Oh iya pak, tolong mbok Jum suruh bikin minuman buat tamu ya ..."
" Siap non.." Pak Karto berlalu ke dapur. Aku segera beranjak ke ruang tamu menemui Kendra.
Dia mengenakan pakaian santai dan celana selutut. Tapi kesederhanaannya makin menonjolkan aura ketampanannya yang seperti dewa...uhh..aku benar-benar sudah meleleh dibuatnya.
" Hai Ra..." dia menyapaku membuatku terkejut. Bisa-bisanya aku melongo begitu saja di depannya.
" Kak..." aku tersenyum semanis mungkin. Pria ini, sudah tampan baik hati dan suka menolong pula. Aku berdebar ketika dia membalas senyumku. Lesung pipi itu,.membuat otak ku travelling ingin mengelusnya. Haiss..! Go away otak mesum!
Aku duduk gelisah di sofa berseberangan dengannya. " Jauh ya kak rumahku. Maaf jadi merepotkan kakak" Aku sungguh -sungguh tak enak hati.
" Ahh, nggak jauh kok. Nggak sampai 30 menit sampai kan? Nih dompet kamu. Periksa dulu barangkali ada yang tercecer "
Kuterima dompetku dan kukeluarkan semua isinya. Benar masih lengkap. Aku cuma memeriksa surat-surat dan kartu penting di dalamnya. Jumlah uang tak penting karena cuma beberapa ratus ribu. Aku bernafas lega karena semua masih lengkap seperti semula.
" Lengkap kak. Terima kasih ya kak. Aku memang ceroboh. Lain kali aku akan hati-hati" ucapku tulus berterima kasih. Lagi-lagi dia memamerkan senyum mautnya.
Saat itu mbok Jum keluar membawa nampan berisi dua cangkir minuman dan beberapa toples kecil kue. " Makasih mbok" kuterima nampan dari mbok Jum dan menaruh satu cangkir teh hangat di depan Kendra. Sementara cangkir satunya ku letakkan didepanku.
" Minum dulu kak, mumpung masih hangat" aku menunjuk cangkirnya. Dia mengambil minumannya dan menyesapnya pelahan.
" Makasih Ra!"
" Ah, cuma minuman. Aku yang sangat berterima kasih pada kakak."
" Aku malah senang bisa nemuin dompet kamu, dengan begini aku jadi tahu rumah muridku yang paling cantik" Kendra setengah bergumam. Tapi aku masih dapat mendengarnya. What?
" Apa kak?" Aku tak yakin dengan pendengaranku jadinya. Ge er sendiri dibilang murid tercantik oleh lelaki tampan yang dari awal bertemu sudah menyita perhatianku.
Dia cuma tersenyum. " Ah enggak...Kamu tinggal sendiri saja Ra? Kenapa sepi banget ?"
" Iya kak. Orang tuaku sudah meninggal" jawabku singkat. Aku harap Kendra tahu aku tak suka bicara masalah orang tua. Dan syukurlah dia tak bertanya lagi.
__ADS_1
" Sori Ra, aku tidak bermaksud..."
" Ahh ngga papa kak. Aku sudah ikhlas kok" jawabku santai
" Gimana menurut kamu, suasana di kampus bimbel rekomended nggak dalam kacamata anak muda seperti kamu. Aku ingin yang belajar disana bisa belajar dengan hati yang senang. Suasana menyenangkan sangat mempengaruhi semangat dan hasil belajar" dia mengubah topik pembicaraan kami.
" Ahh..nggak usah kuatir kak. Semua yang belajar di sana apalagi cewek, pasti senang. Asalkan kakak hadir setiap hari...." Ups! Aku keceplosan. Kututup mulutku sendiri sambil meringis malu.
Kendra ngakak. Ya ampun bagaimana orang ngakak bisa setampan itu? Giginya yang putih dan rapi, suara tawanya membiusku. Kenapa di depan Kendra aku jadi lupa pada janjiku untuk tak jatuh cinta? Sisi hatiku yang menarikku agar tak.mendekati luka dan sakit hati kalah telak oleh sisi hati lain yang begitu mengagumi dan mendorongku makin dekat pada pesona lelaki ini.
" Apa termasuk kamu Ra?" eh, kenapa sekarang dia seperti menggodaku. Tentu saja termasuk aku, ganteng...jawabku dalam hati. Hatiku berdebar melihat caranya menatapku. Itu tatapan yang sama seperti tatapan memuja cowok-cowok yang menyukaiku. Apa aku terlalu percaya diri?
Aku melengos. Pura-pura tak mendengar pertanyaannya dan menyesap minumanku menutupi rasa gugupku.
" Sebenarnya tugasku tidak menuntut harus selalu hadir di kampus bimbel. Hanya sesekali saja mengajar mapel Fisika dan matematika jika ada tutor yang berhalangan. Tapi kalau Dilara yang minta, aku akan hadir tiap hari di kelas kamu" dia senyum-senyum membuatku panas dingin. Orang ini pasti sudah biasa merayu cewek. Kata-katanya membuatku terbang ke awang-awang.
" Ah kakak ada-ada saja. Apa jabatanku sampai bisa menyuruh-nyuruh kakak hadir...haha.." aku tertawa geli. Yang ada kalau dia yang ngajar tiap hari malah nggak ada yang konsen, pasti pada sibuk melototin muka gantengnya itu. Termasuk aku...
" Buat Dilara apa sih yang enggak?"
" Kakak jangan bercanda ah..." aku jadi salah tingkah sendiri.
" Aku sungguh-sungguh Ra" Kendra menatapku tajam. Aku.makin berdebar. Ada rasa senang mengetahui dia memperhatikanku, namun ada rasa khawatir membayangi mengingat siapa diriku di mata orang-orang.
" Sudah kak, jangan bikin aku ge er. Bisa-bisa aku dikeroyok teman-teman sekelas kalau tahu kakak sampai bela-belain ke sini ngantar dompetku. Kakak itu sudah jadi idola baru di kelas kami apalagi kalau sampai dengar candaan kakak seperti itu..."
" Au ah..kakak ngomongnya ngelantur" aku menghindar menutupi jantungku yang bertalu-talu. Apa dia juga menyukaiku pada pandangan pertama seperti aku menyukainya?
Lagi-lagi Kendra ngakak. Tapi dia tak.meneruskan godaannya padaku. Mungkin dia tak ingin terlihat terlalu memaksa pada pertemuan pertama kami. Baguslah. Aku juga belum siap untuk ini. Aku harus berdamai dulu dengan semua masalahku sebelum menerima orang baru dalam hidupku. Bisakah? Mungkinkah aku menolak jika dia benar-benar menyukaiku?
Kami ngobrol santai hingga tak terasa malam telah larut. Hampir jam sebelas. Kalau sedang berbunga-bunga, memang waktu jadi begitu cepat berlalu. Kendra ini , dia punya sejuta pesona yang membuatku betah berlama-lama di dekatnya.
"Dilara.."
" Panggil Rara saja kak.."
" Ra, kamu nggak takut tinggal sendiri begini? Kenapa tidak tinggal dengan saudara saja atau kakek nenek mungkin?" Aku tertawa dalam hati, pertanyaannya kenapa sama dengan yang ku tanyakan pada Reno?
" Ceritanya pajang kak. Nanti kapan-kapan aku ceritain sama Kakak. Kalau sekarang nggak akan cukup waktunya."
Kendra menggaruk tengkuknya. Rupanya dia sadar aku menyindirnya. Meski aku senang dia di sini, aku juga sungkan sama pak Karto. Beliau akan ikut tidur malam karena beliaulah yang bertugas membuka dan menutup pintu pagar.
" Iya nih, nggak terasa sudah malam ya Ra...ngomong sama kamu ternyata menyenangkan. Aku pikir kamu sombong..ternyata asik nggak jaim anaknya" Kendra menatapku. Lagi-lagi dengan tatapan yang menghanyutkanku.
__ADS_1
" Aku pamit dulu ya Ra...emm..boleh nggak kalau aku sering ke sini?" Ehh...seperti pernah dengar pertanyaan yang sama. Wajah Reno langsung terlintas di benakku.
" Boleh saja kak..." sebenarnya aku kurang nyaman menjawab begitu. Tapi masa iya, aku bilang jangan, sementara dia sudah menolongku sedemikian rupa, sampai rela malam-malam mengantar dompetku
" "Makasih mau nemenin aku ngobrol ya Ra.."
" Ah kakak, aku jadi malu. Aku yang terima kasih sudah ditolong.."
" Sama-sama Ra..senang bisa membantumu." Tangan Kendra terulur hendak meraih tanganku namun tiba-tiba Kendra meraba tengkuknya.
" Kenapa kak?" aku heran.
" Kamu nggak ngerasa dingin Ra? Kaya ada angin kencang meniup tengkukku" Kendra kelihatan bergidik kedinginan.
" Enggak tuh kak. Ah mungkin karena sudah malam kak jadi anginnya agak kencang"
" Iya mungkin Ra. Oke aku pulang dulu ya...See you. Besok di kelas ya..." dia melambaikan tangan dan masuk ke mobilnya. Pak Karto sudah membuka pintu pagar. Kendra membuka kaca mobil dan melambai sekali lagi padaku sebelum mobilnya berlalu dari hadapanku.
" Makasih pak Karto" aku berteriak saat pak Karyo menutup kembali pintu pagar. Dia melambai ke arahku dan kembali lewat samping rumah. Aku lewat teras dan terkejut mendapati Reno sudah duduk di sana. Orang ini benar-benar seperti hantu.
" Sejak kapan kamu di situ Ren?"
" Sejak tadi. Kamu saja terlalu asik pacaran sampai nggak ngelihat aku" Dia cemberut membuatku geli. Entah dorongan dari mana kucubit bibirnya yang mengerucut lucu itu.
" Ih...kok nggak ikut gabung kalau dari tadi datang. Siapa yang pacaran, orang dia nganter dompetku yang jatuh di tempat bimbel tadi.
" Nggak pacaran tapi mukanya sampai merona berbunga-bunga begitu..." Aku tertawa.
" Ehh emang kelihatan ada bunganya gitu..?" Aku menutup mukaku sendiri. Tak bisa kupungkiri aku begitu terpesona pada Kendra.
" Au ah!" Reno masih cemberut.
" Kamu mau pulang atau masuk? Ngga enak di sini dingin, lagipula nanti pak Karto pasti curiga kalau kita ngobrol disini."
Reno mendahuluiku masuk rumah, langsung ke kamarku. Dia ini, sepertinya sudah menganggap rumahku seperti rumahnya sendiri. Aku.menutup pintu depan lalu menyusul Reno ke kamarku. Seperti biasa dia sudah selonjoran di sofa kamarku.
" Geser...!" Aku minta tempat duduk yang dikuasainya. Reno menggeser kepalanya sedikit, dan ketika aku duduk dia menjatuhkan kepalanya ke pangkuanku. Ehh? Ada apa sih dia ini?"
" Ren...What happen? " Aku agak risih dengan kelakuannya, tapi melihat wajahnya yang keruh aku tak tega. Apa yang dialaminya. Kenapa dia kelihatan sedih begitu? Dia memejamkan matanya. Dan tanpa sadar aku mengusap lembut rambut hitamnya yang tebal. Rasa itu hadir lagi. Rasa ingin berbagi dan mengenyahkan kesedihan dari wajahnya itu.
" Ini sebulan meninggalnya orang tuaku. Tak ada yang mengingatnya Ra" dia memeluk pinggangku. Dia menangis? Aku makin tak tega.
" Kamu ingin kita ke makam orang tuamu besok?" tawarku.
__ADS_1
" Nggak. Aku malah makin sedih kalau di sana. Tolong izinkan aku begini sebentar ya Ra..?" pintanya lirih. Aku tak menjawab, cuma kembali mengusap lembut kepalanya di pangkuanku. Jadi ikut sedih begini?
Tak lama dia sudah tak bergerak-gerak lagi. Tidur sambil memeluk pinggangku. Aku tak tega melepasnya, biarlah dia tidur sejenak. Dan tanpa terasa aku pun ikut tertidur di sofa.