
Setelah Lina turun, beberapa meter kemudian Kendra menghentikan mobil di depan sebuah resto fast food terkemuka. Nah kan makin jelas modusnya?
" Katanya ke bengkel kak Ken?" Tanyaku heran.
" Iya habis ini kita ke bengkel. Tapi temenin kakak makan dulu ya Ra? Habis sarapan tadi kakak belum sempat makan lagi . Please, kali ini saja tolongin kakak ya Ra..sebentar aja kok..ya..? " Dia memohon sambil menatapku dengan puppy eyesnya. Ya ampuun...di depanku dia merengek begini nggak ada jaim-jaimnya. Padahal di depan anak-anak dia kelihatan cool dan macho banget. Aku jadi geli sendiri.
" Iya deh...iya...!" terpaksa aku mengiyakannya. Mana mungkin aku menolak dan meninggalkannya bukan?
" Kamu nggak marah kan Ra?" tanyanya sambil memegang tanganku? dan menggoyangkannya . Eh lucu banget sih kaya anak kecil minta jajan ke ibunya..hahaha...
" Enggak kak...nggak marah.." aku menatapnya lucu. Mana mungkin aku marah sama muka gantengmu itu Kendraaa..Akhirnya kami berdua masuk ke restoran itu.
Aku menitipkan pesananku padanya. Saat aku edarkan pandangan ke sekitar yang lumayan ramai pengunjung, aku dikejutkan kehadiran sesosok lelaki yang amat kukenal. Reno duduk di sudut ruangan sambil menatap ke arahku. Ku picingkan mata sekali lagi, barangkali aku salah atau dia cuma mirip Reno saja.
" Rara cantik...nih pesananmu sudah kakak bawain sekalian"
Aku menoleh ke arah Kendra yang membawa nampan dan kehilangan konsentrasiku pada Reno. Saat kulihat tempat Reno duduk tadi, dia sudah tak ada. Ish!! Jadi dia tadi benar Reno atau bukan?
" Kok bengong aja, ayuk dimakan. Keburu meleleh itu ice creamnya." Aku mengangguk dan mulai makan . Aku memang cuma memesan french fries dan ice cone.
" Gimana materi hari ini Ra?" Kendra bertanya sambil menyuap makanannya.
Aku mengangkat jempolku. " Good. I like miss Eugene. She is so smart!" aku tak basa-basi. Tutorku hari ini sangat menyenangkan.
" Thanks, senang mengetahui klien kami puas dengan pelayanan kami." Kendra tersenyum riang.
" Dan apa kabar yang baru daftar hari ini? Cantik-cantik ya kak?" Aku menggodanya.
" Biasa aja, yang daftar kemarin jauh lebih cantik, apalagi yang dompetnya hilang..." Kendra menatapku sambil tersenyum.
" Gombal teroooss..." aku meninju lengannya pelan. Dia terkekeh sekarang. Apa sih?
" Bukan gombal Ra...kamu bukan hanya cantik, tapi juga menarik."
" Kakak belum tahu siapa aku. Nanti kakak akan menyesal mengenalku" Aku bersungguh-sungguh mengatakannya.
" Makanya biarin kakak mengenalmu lebih dekat. Biar kakak tahu semua tentang kamu." dia malah makin penasaran padaku. Aduh! Mereka ini, apa aku harus cerita siapa aku agar mereka mundur ?
" Terserah kakak.saja, tapi jangan salahkan aku kalau nanti kakak kecewa." Dia menatapku penuh tanya. Tapi kemudian tersenyum.
" Aku tak akan menyesali apapun asal bisa dekat kamu Ra.." Ah dasar ngeyel. Percuma dibilangin juga. Terserahlah....
Setelah makan Kendra bergegas mengarahkan mobilku ke bengkel. Baguslah, dia tahu diri juga. Kalau sampai melenceng ke mana-mana lagi , aku sudah bersiap mendampratnya.
Sampai depan bengkel dia turun dan menyerahkan kontak mobil padaku.
__ADS_1
" Thanks ya Ra...kapan aku boleh main ke rumah kamu lagi?" Tanyanya ketika akan turun.
" Datang aja kak, asal aku di rumah, kakak boleh datang berkunjung." jawabku santai.
" Makasih ya Ra. See you" dia melambaikan tangannya sambil memberikan senyum mautnya yang membiusku. Dia lalu bergegas masuk ke bengkel.
Aku segera pindah ke kursi kemudi. Saat hendak menstarter, pintu penumpang depan terbuka, dan tiba-tiba saja Reno sudah duduk di sampingku.
" Ren! Bisa kan datang nggak pake ngagetin aku.? Tahu-tahu nongol gitu nggak pake permisi!" Aku memukuli lengannya yang kokoh. Aku kaget setengah mati. Kupikir orang jahat, rampok dan sejenisnya.
Eh dia malah ngakak. " Aku suka lihat muka kagetmu itu Ra...Lucu banget...hahaha..."
" Kamu ngapain disini?" aku masih cemberut kesal. Dia mencubit pipiku. Eh?! Aku melotot padanya, tapi dia santai saja. Tetangga gantengku ini selalu dingin dan santai. Aku selalu nyaman berada di dekatnya. Seakan sudah mengenalnya lama hingga aku percaya berbagi rahasia apapun dengannya.
" Pacaran teroos...alasan bimbel padahal pacaran.." Reno tak menjawab pertanyaanku malah menyindirku.
" Pacaran apa?"
" Halah masih pura-pura. Tadi siapa yang kencan di resto, makan berdua, jalan berdua.."
Aku yang ngakak sekarang." Ren...jangan bilang kamu cemburu ya..? Jadi di resto tadi bener-bener kamu ya?" Aku masih penasaran.
" Ga tau!" sekarang dia yang cemberut. Dia pasti menungguku di rumah dan aku tak datang juga. Karena masih menemani Kendra. Lalu Reno bosan dan keluar rumah sendiri. Eh kebetulan melihatku di resto. Aku membuat sendiri skenario pertemuanku dengam Reno. Masuk akal.
" Kalau gitu sekarang temenin aku ." Reno mengacungkan sebuah flash disk.
" Apaan itu?"
" Sudah lama pengen nonton ini, tapi nggak ada teman. Ngga enak nonton sendiri, sama kamu aja ya?" Reno menatapku. Ada apa hari ini, kenapa semua menatapku dengan pandangan memohon dan setengah memaksa begini? Tadi Kendra sekarang Reno...
" Capek aku Ren, besok aja ya...?" Dia tak menjawab. Langsung turun begitu aku sampai di depan pagar rumahku. " Ren!" panggilku. Tapi dia tidak menoleh sama sekali; ngeloyor saja masuk ke rumahnya yang gelap. Hanya lampu teras dan balkon saja yang menyala.
Aku jadi tak tega. Baiklah-baiklah...aku akan menemaninya nonton. Mungkin menemaninya bisa sedikit demi sedikit mengobati lukanya kehilangan orangtuanya.
Kuambil ponselku dan mengirim pesan padanya. " Habis aku mandi ayo nonton. Mau di rumahku atau di rumahmu?" Send..
Secepat kilat kuterima balasan " Aku ke kamarmu sekarang..." plus emot tersenyum lebar. Ah Reno...Reno...
Pak Karto sudah membuka pagar begitu aku membunyikan klakson mobil dua kali. Begitu aku masuk dan pak Karto menutup pagar, kupanggil dia. " Pak Karto, nih buat bapak sama mbok Jum" kuangsurkan dua paper bag berisi makanan yang dibelikan Kendra.
" Makasih non"
" Sama-sama pak" dan aku bergegas ke kamarku. Mandi dan berganti piyama lengan panjang dan celana panjang yang nyaman.
Keluar dari walk in closet, Reno sudah duduk di sofaku seperti biasanya. Dia sudah menyalakan televisi. Begitu melihatku dia langsung tersenyum. Wajahnya yang pias tampak bahagia.
__ADS_1
" Nggak jadi ngambek Ren?" aku menggodanya. Dia cuma mendengus dan memasang flashdisknya di perangkat home theatre milikku.
" Mau ke mana" Reno memegang tanganku ketika aku beranjak berdiri.
" Ambil cemilan sama minum. Kamu mau minum apa?" tawarku.
" Apa saja" dia tersenyum dan melepas tanganku.
Sampai dapur sudah sepi. Mungkin mbok Jum dan pak Karto sudah masuk kamar mereka. Kuambil beberapa bungkus snack dan sepiring cheese cake yang ada di kulkas. Dua kaleng soft drink dan sebotol air mineral. Sempurna. Kubawa semua dengan nampan ke kamar.
Reno menyandarkan kepalanya ke sofa. " Sini " dia menepuk sofa di sebelahmya. Aku menurut saja. Mendudukkan diriku dekat di sebelahnya.
Film sudah dimulai. Reno merengkuh pundakku . Entah mengapa aku merasa nyaman dalam pelukannya. Kurebahkan kepalaku ke bahunya. Dia makin erat memelukku. Aku menatap wajahnya yang tampan namun pucat. Dia menatapku juga dengan matanya yang tajam, hitam kelam.
Kadang aku merasa ngeri melihat betapa gelap manik matanya. Namun aku seakan berada di danau yang tenang saat menatap lebih dalam mata kelam itu. Seakan masuk pusarannya dan tak ingin kembali ke dunia yang kejam ini.
" Kenapa?" bisiknya.
" Nggak..." Aku tersipu malu. Dia tersenyum dan mencium puncak kepalaku.
Reno...rasanya aku mau berada dalam pelukanmu begini seumur hidupku.
Reno tertawa ngakak tak berhenti melihat film hantu yang kami tonton. Aku sendiri cuma sesekali kaget melihat hantu yang tiba tiba muncul.
" Bodoh! Pembohongan publik" Reno ngakak sambil mengumpat.
" Darimana kamu tahu film itu bohong" tanyaku sambil menyesap soft drink milikku. Kubuka milik Reno dan kuberikan padanya.
" Thanks" Dia menyesapnya pelahan lalu meletakkannya kembali di meja. "Tentu saja aku tahu, aku kan hantu.." dia menyeringai lalu membuat gerakan menyesap leherku.
" Reno!" Aku memekik geli. Leherku terasa dingin karena bibirnya benar-benar menempel padaku. " Jangan bercanda!" geramku kesal.
" Kamu kan yang bilang aku hantu?" Reno terkekeh menggodaku.
" Pindah ke kasur aja yuk, biar bisa selonjoran" Aku menarik Reno ke ranjangku. Dia menatapku sesaat seakan bertanya" Are u sure?"
" Aku percaya kamu. Kalau kamu jahat, pasti sudah dari kemarin-kemarin kamu lakukan." Dia bisa seenaknya keluar masuk kamarku dan rumahku. Tapi dia tak pernah sedikitpun berbuat sesuatu yang kurang ajar padaku. Aku percaya padanya 100 persen.
Dia tersenyum dan kembali merengkuhku dalam pelukannya. Reno, bagaimana kalau aku jadi pacarmu saja? Kamu satu-satunya orang yang bisa aku percaya tanpa ragu sedikitpun.
Reno mengambil selimut dan menyelimuti kaki kami berdua hingga ke batas pinggang. " Kita kaya suami istri saja ya Ren......" Aku terkikik menyadari posisi kami saat ini.
Reno tak menjawab, hanya mengeratkan pelukannya padaku. Aku balas memeluknya. Syahdu....
Kami menonton beberapa film lagi, hingga aku tak kuat lagi membuka mata dan tertidur .
__ADS_1