
Pagi hari aku terbangun sendirian. Reno seperti biasa sudah menghilang. Dan aku lagi-lagi lupa menanyakan bagaimana caranya masuk rumahku tanpa sepengetahuan mbok Jum dan suaminya.
Lalu melintas bayangan wajah tampan Kendra yang tersenyum padaku. Dua lelaki yang akhir-akhir ini mulai mengisi hatiku. Aku semakin yakin Kendra itu menyukaiku. Dia terang-terangan memujiku dan menunjukkan ketertarikannya padaku.
Sisi hatiku merasa ada kebahagiaan membuncah saat menyadari idola teman-temanku itu justru tertarik padaku dan bukan pada gadis-gadis populer di sekolahku. Ada perasaan menang dan berharga. Perasaan yang tak pernah kurasakan dan kudapatkan selama ini.
Di sisi lain aku merasa takut. Sudah pasti orangtua Kendra bukan orang sembarangan. Paling tidak mereka pasti keluarga berpengaruh dan berada karena bisa menyekolahkan anaknya di luar negeri dan bahkan bisa mendirikan lembaga bimbingan belajar yang sangat besar dan terkenal.
"Non, nonton film apa sampai pagi nggak dimatiin TV nya?" Mbok Jum menegurku.
" Jadi mbok Jum yang matiin TVnya?" aku berdebar; apa mbok Jum tahu aku bermalam dengan Reno di kamarku?
Meski mbok Jum tak pernah berani marah atau menegurku, aku juga tak enak hati jika ketahuan memasukkan lelaki ke kamarku. Apalagi kami menonton hingga larut malam, meskipun tak ada hal yang terjadi selain menonton dan berpelukan? Mengingat Reno selalu membuat perasaanku tak karuan.
" Iya non, wong non Rara tidur pulas banget. Saya bangunin nggak dengar sama sekali. Ya sudah saya matiin" mbok Jum mengiyakan sambil menyiapkan sarapan di meja makan.
Aku sudah ketar-ketir menunggu kata-kata mbok Jum selanjutnya. Aku berharap saat itu Reno sudah pulang jadi mbok Jum tidak melihat Reno .
" Kok non Rara ngelihatin mbok kaya gitu, ada apa non?" mbok Jum menegurku heran.
" Ah...eh...enggak mbok..iya aku nonton sampai ketiduran mbok. Makasih ya udah dimatiin TVnya. " Oh syukurlah aku bernafas lega. Saking kuatirnya mbok Jum melihat Reno, aku sampai tidak sadar memandangi mbok Jum sedemikian rupa.
Ohh...thanks God. Aku bersyukur dalam hati. Jadimbok Jummemang tak melihat Reno. Aku sarapan dengan cepat dan berangkat ke sekolah.
Di depan pagar kusempatkan menoleh ke balkon rumah Reno. Dan benar saja dia tersenyum dan melambai padaku seperti biasa. Aku bunyikan klakson sekali dan berlalu meninggalkan pelataran rumahku.
Aku berjanji dalam hati, kalau bertemu Reno lagi hal yang aku lakukan pertama nanti adalah aku akan menanyakan bagaimana dia bisa keluar masuk rumahku seenaknya. Aku sedikit heran juga, bagaimana aku selalu lupa menanyakannya, padahal aku sudah merencanakannya berulang-ulang. Dan saat bersamanya aku pun lupa dan lupa lagi bertanya...
Pulang sekolah aku langsung pulang. Tak ada kegiatan apapun selain bimbel yang diadakan sekolah. Aku ingin berenang dengan Moreno di rumahnya. Sudah sejak pertama melihat kolam renang di rumahnya saat itu, aku sudah ingin nyebur saja. Tapi waktu itu aku masih sungkan.
" Ren, renang yuk!" kukirimkan pesan padanya. Aneh sekali karena dia tidak membalas pesanku. Padahal biasanya dia langsung membalas pesanku.
Aku tak ambil pusing. Melajukan mobil pulang. Sampai gerbang rupanya pak Karto sudah siap membuka pintu.
__ADS_1
" Tumben di depan Pak?" sapaku.
" Iya non, barusan ada pak RT nyebar undangan rapat Rt nanti malam."
" Oh. Ok. Makasih pak.."
" Siap non"
Kutinggalkan pak Karto dan Juki langsung kumasukkan garasi. Kutelpon Reno lagi, tapi hpnya tak aktif. Ke mana anak itu?
Tanpa berpikir lagi kakiku refleks melangkah keluar. Aku mau ke rumah Reno. Apa dia sedang pergi?
Saat sampai depan rumah aku melihat mobil terparkir depan rumah Reno. Mungkin saudaranya? Entahlah. Mungkin karena itu dia tak sempat memegang hp dan membalas pesan atau menjawab panggilanku.
Aku penasaran, ingin tahu juga seperti apa saudara Reno. Ku pencet saja bel di pagar rumahnya. Tak lama seseorang terlihat keluar dan membuka pintu. Reno?
" Hai Ren..." sapaku sambil melambai padanya.
Dia hanya menatapku datar. Dia tak membalas sapaanku.. Tak juga sekedar tersenyum alih-alih berakrabria seperti biasa denganku. Ada apa? Aku jadi salah tingkah sendiri melihat wajah datar dan anehnya itu. Apa dia jatuh dan terbentur hingga amnesia?
" Kamu ngerjain aku ya Ren?" aku menatapnya mulai kesal.
" Maaf kamu siapa? Aku nggak kenal kamu"
Sial. Dia benar-benar mau main-main denganku. Aku kesal sekali. Kubalikkan badan dan bergegas pergi dari depan pagar rumah Reno. Namun belum sampai pintu pagar rumahku sebuah tangan menarik dan menahanku.
" Hei tunggu. Kita harus bicara" Reno memegang tanganku.
" Lepasin. Aku nggak mau kamu kerjain. Sana pulang. Aku juga ngga kenal kamu" sungutku ketus pada Reno.
" Oke. Maafin aku. Yuk! Kamu tadi mau ke rumah kan?" bujuknya lembut.
" Nggak jadi. Udah ngga mood lagi" jawabku masih kesal.
__ADS_1
Dia tertawa. Tapi aku merasa aneh. Ada nada jahil dalam tawanya. Tidak seperti Reno biasanya. Membuatku menatapnya heran. Makin heran lagi karena wajah Reno sedikit berubah. Tidak lagi pucat sepeeti biasanya. Matanya juga sedikit nakal, tidak hitam dan kelam seperti kemarin.
Tanpa sadar aku mengikutinya. Membiarkannya menggandeng tanganku kembali dan masuk ke rumahnya. Kami duduk bersisian di sofa ruang tamu yang besar itu.
" Oke, manis. Kenalin namaku Romeo. Bukan Ren..Ren..apa kamu memanggilku tadi?" Reno, atau orang yang kupikir Reno? Orang itu menggenggam tanganku dn menatapku. Dia tampak serius kali ini.
" Ja...jadi kamu bene-rbener bukan Reno?" aku terbengong di depan orang itu. Romeo?
" Memang bukan cantik. Siapa namamu?" dia masih memegang tanganku.
" Aku Rara, teman Reno" jawabku masih terbengong menatap wajahnya.
" Oh ya? Teman kuliah atau teman kerja? Kayanya nggak mungkin deh. Kamu kelihatan masih imut gini. Paling juga masih SMA kan? Ngga mungkin teman kuliah atau kolega Reno."
" Emm...aku tetangga sebelah. Romeo ya. Kakak, adik atau kembarannya Reno. Kok dia ngga pernah ceritq punya sodara ya?"
" Panggil aja Romy. Aku kembarannya Reno. Kami memang tinggal terpisah sejak kecil karena keadaan. Aku ikut papaku Reno ikut mama. Orang tua kami divorce"
" Ohh..maaf. Aku nggak bermaksud kepo" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Romy teraenyum. " Nggak papa. Itu sudah lama sekali. Kami masing-masing sudah hidup bahagia dengan keluarga baru kami. Its Oke"
" Syukurlah kalau begitu. Apakah kamu sudah ketemu Reno?" tanyaku akhirnya setelah mengerti duduk persoalan tentang siapa cowok yang wajahnya sama persis dengan Reno ini. Aku hanya baru melihat tahi lalat kecil di ujung bibir bawah Romy. Itu yang membedakannya dari Reno.
" Maksudmu?" Romy kelihatan bingung dan menatapku aneh.
" Ya kamu ke sini pasti mau ketemu Reno kan? Apa kamu sudah ketemu dia? Soalnya dari tadi Reno aku hubungi nggak bisa." jawabku santai.
Tapi jawabanku malah membuat Romy tampak makin bingung. Hehh...aneh banget sih Romy ini?
" Maksudmu kamu baru-baru ini masih ketemu Reno?" tanya Romy sambil menggosok-gosok tengkuknya.
" Iyaa...tadi pagi saja aku berangkat sekolah dia masih menyapaku dari balkon atas." aku kekeh dengan jawabanku yang memang sebenarnya.
__ADS_1
Romy menatapku makin heran. Lalu sambil setengah menerawang dia berbisik" semoga kamu salah lihat. Karena Reno...."
Reno kenapa?