
Orang-orang di taman menatapku dengan pandangan ngeri. Apa sih? Apa mereka melihat hantu di dekatku?
" Mereka kayanya lihat hantu deh Ren..." aku tertawa. Hantu adalah hal paling stupid yang pernah ku dengar.
Reno ngakak sekarang." Jadi kamu nggak percaya hantu?"
" Nggak lah seumur hidup aku jalan sendiri, nongkrong di bawah beringin yang katanya angker sendiri,pulang malam tiap hari sendiri, belum pernah kulihat hantu. Jadi mau percaya gimana?"
Reno tertawa lagi. " Kalau kamu ketemu hantu, apa yang akan kamu lakukan?"
" Kenalan may be...hahaha.." kami tertawa berdua. Dan orang-orang di taman makin aneh melihatku. Sementara tiga remaja yang menggodaku tadi tampaknya sudah tak ada lagi di taman.
" Nggak salah aku milih kamu jadi teman. Kapan-kapan aku kenalin sama hantu beneran. Kamu mau?"
Aku tak bisa menahan tawaku. "Hahaha...boleh!" kupikir Reno pasti cuma bercanda.Mengenalkanku pada hantu. Apa dia gila? " Pulang yuk, sudah lapar aku."
" Yuk, dia menarik lembut tanganku. Membantuku bangkit dari kursi, lalu megusap-usap rambutku. Membersihkan daun-daun pohon yang berjatuhan di kepalaku.
" Thanks..." ah dia manis sekali. " Kamu ikut makan sekalian di rumahku ya Ren, mbok jum masak makanan favoritku" Aku menawarinya tulus.
" Aku tadi sudah pesan makanan Ra. Sayang kalau ngga dimakan. Gimana kalau kita berbagi saja. Tapi makannya di rumahku. Kamu belum pernah ke rumahku kan?"
" Oke, deal." Aku masukkan mobil ke garasi setelah Reno turun di depan pagar. Dia langsung pulang.
" Kutunggu di rumah Ra" katanya saat menutup pintu mobil.
"Oke!"
" Mbok Jum, aku minta kangkung sama udangnya di piring. Aku mau makan sama temanku di rumahnya." seruku pada mbok Jum.
" Itu di meja makan ambil aja non, di belakang masih ada." mbok Jum menjawab dari dapur.
" Oke!" Aku bawa ya mbok..." dan aku bergegas ke rumah Reno.
Sepi sekali.Aku memencet bel di pagar rumahnya. Tak lama Reno sudah terlihat keluar dari pintu rumahnya. Pagar rumahnya dari besi berjeruji sehingga tampak dari luar. Dia tersenyum lebar membuka pintu pagar.
Aku masuk mengikuti langkahnya ke dalam rumahnya. Suasana rumahnya tampak seperti tak pernah di jamah manusia. Tentu saja, rumah sebesar ini hanya dia saja yang menghuni.
" Kenapa bengong begitu. Takut kamu?"
" Takut apa? Cuma heran saja rumahmu seperti rumah kosong tak berpenghuni."
__ADS_1
" Memang, cuma aku disini. Dan cleaning service cuma seminggu sekali membersihkan rumah ini"
Dia mengajakku ke meja makan yang besar. Lagi--lagi ruangan ini tampak tak bernyawa. Kosong. Kursinya seperti tak pernah diduduki, dingin. Tapi memang tak ada debu.
Di meja sudah ada beberapa box makanan cepat saji. Kubuka dan kurtaruh di piring yang ada di sana. Piring Reno kuisi nasi dan masakan yang kubawa dari rumah, kutambahkan makanan pesanannya yang ada di meja.
" Makasih neng..berasa punya istri kalau kaya gini.." Reno tertawa, aku juga. Ada-ada saja. Kami makan sambil mengobrol.
Setelah makan, Reno mengajakku melanjutkan ngobrol di teras belakang rumahnya yang menghadap kolam renang.
Hawa dingin menyergapku. Kolam.itu tampak tenang dan bening. Tampaknya memang selalu rutin dibersihkan.
" Kamu nggak kesepian Ren?" aku membayangkan dia sendiri di rumah sebesar ini. Ada mbok Jum dan suaminya saja aku masih merasa sepi. Apalagi dia?
" Tentu saja aku kesepian Ra.." Reno tersenyum.sambil menatap kejauhan.
" Harusnya kamu tinggal dengan salah satu saudaramu. Kakek atau nenekmu mungkin. Daripada sebatang kara di sini, padahal masih punya saudara."
" Keadaan saat ini tidak memungkinkan Ra...kamu sendiri memilih pergi dari rumah kakekmu.
" Kalau aku beda kasus Ren. Aku ini anak tak dianggap. Beda sama kamu.."
" Apa sebenarnya yang terjadi Ra...nggak mungkin anak secantik kamu tak diakui"
" Aku nggak akan berhenti jadi temanmu siapapun dirimu" katanya
" Dengarkan dulu, baru komen...Aku dibenci kakek dan saudara-saudara mama karena aku tak punya ayah. Mama hamil tanpa suami. Dan sampai mama meninggal tak ada yang tahu siapa yang menghamilinya hingga melahirkan aku. Aku anak haram, parahnya lagi aku tak akan pernah tahu siapa ayahku karena hingga meninggal mama merahasiakannya."
Reno menatapku iba. Dia mengusap punggungku lalu menggenggam tanganku erat. " Aku yakin suatu saat kamu akan menemukan kebenarannya Ra. Mungkin mamamu melakukan ini demi kebaikanmu sendiri" Reno bergumam pelan,namun aku bisa mendengarnya dengan jelas.
" Kebaikan apa. Seharusnya dia memperjuangkan anaknya. Seharusnya dia melindungiku dari cemoohan orang. Dia egois, kebaikan dari mana? Apa kamu nggak jijik melihatku?" Aku menelisik ke dalam matanya. Mencari kejujuran.
Dia tertawa sambil mengacak-acak rambutku. "Orang cantik begini kok jijik. Aku malah pengen meluk kamu..hahahha...."
" Jangan kurang ajar, aku senang karena kamu sopan dan menghargaiku, jangan sampai kamu juga jadi menyebalkan seperti orang-orang itu!"
Dia tertawa lagi. " Aku pengen meluk biar kamu tenang. Katanya pelukan bisa meluruhkan kemarahan?" dia menggodaku. Aku tahu dia bercanda dan bermaksud menghiburku dengan candaannya.
" Nggak perlu. Kemarahan dan kekesalanku nggak akan reda meski dipeluk seribu kali. Kecuali kamu bisa memberi informasi keberadaan papaku.."
Dia tambah ngakak. Tapi lalu terdiam manakala kusebut papaku lagi. Papa yang tak ada, papa yang egois seperti mama. Papa kurang ajar yang meninggalkan anaknya bersama wanitanya sendirian dan menderita. Apa orang seperti itu pantas dipanggil papa?
__ADS_1
Reno berdiri lalu duduk berjongkok di depanku." Mulai sekarang kamu nggak akan sendiri lagi. Aku akan selalu menemanimu. "
Reno menggenggam tanganku lagi. Tangan yang satunya mengusap lembut kepalaku. Tiba-tiba saja aku merasa begitu tenang dan damai. Perasaanku seperti melayang ke awan-awan putih. Aku jatuh tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, ketika bangun hari sudah mulai sore. Aku harus pulang dan mempersiapkan keperluan sekolahku esok. Koperku belum kurapikan. Barang-barangku belum kukeluarkan dan kuatur di rumah.
" Ren...Ren...aku pulang ya..." Tak ada sahutan sama sekali. Kemana dia? Mungkin sedang mandi di kamarnya...? Aku mengendap menuju sebuah kamar yang terlihat paling mencolok. Di pintunya tergantung tulisan dari hiasan kayu "Go Away!!" Aku tertawa. Ini pasti kamarnya, nggak mungkin kamar orang tua kan?
" Ren..Ren...aku pulang...mau siap-siap buat sekolah besok!" Tetap tak ada jawaban. Ah sudahlah aku pulang saja.
Saat kubalikkan tubuh... " Mau pulang Ra?" Ya Tuhan aku sampai terlonjak ke belakang. Reno tiba-tiba sudah ada di depanku sambil tersenyum.
" Ya ampun Ren, kaget aku! Kamu kemana saja? Tahu-tahu muncul..." kupegangi dadaku yang masih berdetak kencang.
Reno tertawa ngakak" Hahaha...takut ya?" dia mengacak-acak puncak kepalaku.
" Sudah rumah sepi begini, kamunya ngilang kaya hantu. Kan bingung aku nyarinya" Gerutuku kesal. Dia masih tertawa-tawa.
" Katanya gak percaya hantu?" godanya lagi
" Kayanya kamu deh hantunya..." ku balas godaannya. Dia ngakak lagi.
" Aku memang hantu Ra...aku akan menghantuimu seumur hidupmu..." Reno menyeringai menggodaku dan kupukul keras punggungnya. Aku kesal sekali. Dia meninggalkanku sendiri lalu membuatku kaget setengah mati.
" Sudah aku pulang.." tak kuhiraukan lagi Reno. Kuambil piring dan sampah bekas makanan kami di meja makan dan membawanya keluar.
Dia mengikutiku sambil mencolek-colek pnggungku. Tak kupedulikan, dia memang jahil ternyata. Dan dia menutup pintu pagar ketika aku sudah hampir masuk ke rumahku sendiri.
Di depan pintu pagar Mbok Jum dan Pak Karto berdiri seakan menungguku.
" Kenapa kalian berdiri di sini?"
Mbok Jum dan Pak Karto langsung menghambur ke arahku. Memegang tangan dan bahuku sambil menelisik tubuhku dari atas ke bawah. Ada apa sih?
"Noon...dari mana saja. Mbok Jum kira non makan sama teman non di sini. Tapi sampai sore non malah ngilang" Mbok Jum hampir menangis mengatakannya. Wajahnya pucat dan khawatir.
" Hahaha mbok, maaf aku tadi ketiduran di rumah temanku. Itu loh mbok, sebelah kita persis tuh," kutunjuk rumah Reno.
" Bukannya itu rumah kosong non?" tanya mbok Jum sambil bergidik, entah apa yang dipikirkannya.
" Beneran non, itu rumah kosong. Selama saya bersih-bersih rumah sebelum non datang, saya nggak pernah lihat penghuni rumah itu" Pak Karto ikut menimpali. Wajahnya tak kalah tegang.
__ADS_1
" Hahaha...kalian ini ngaco. Kalian saja yang nggak pernah lihat yang punya rumah itu. Aku sudah kenalan dengan penghuni rumah itu sejak pertama datang ke rumah ini!" Aku menertawakan ketakutan mereka.
Kuserahkan piring bekas makanku pada mbok Jum yang masih terlolong manatapku. " Tolong bawa ke belakang ya mbok, aku mau rapiin kamar." Kutinggalkan mbok Jum dan pak Karto yang masih terpaku di tempat mereka berdiri. Aku harus bergegas....