
Aku tergeragap bangun ketika merasakan hawa dingin menyergapku. Ahh, aku lupa menutup jendela kamar. Sudah jam 2 dini hari Badanku teras pegal-pegal. Kututup jendela kamarku.
Aku ingat Reno tidur di pangkuanku sambil memeluk pinggangku. Dia sudah pergi, dan aku belum sempat bertanya bagaimana dia bisa keluar masuk rumahku seenaknya tanpa diketahui pak Karto dan mbok Jum. Aku yakin ada jalan tembus antara rumahku dan rumahnya.
Aku ke kamar mandi, lalu merebahkan tubuhku yang pegal karena tertidur duduk di sofa. Nyaman sekali rasanya tidur di kasur.
" Noon...Non Rara bangun, sudah jam enam noon.." Suara mbok Jum sayup kudengar di sela ketukan berulang di pintu kamarku.
" Iya mbok. Aku sudah bangun." Aku kesiangan. Pasti macet dan tak dapat tempat parkir enak di sekolah. Maklum saja, sekolahku adalah sekolah internasional yang hanya bisa dimasuki kalangan tertentu. Jadi anak kelas dua belas bermobil ke sekolah memang diijinkan dan sudah biasa. Untuk kelas dibawahnya, tidak diijinkan karena dianggap belum memiliki SIM.
Dan benar saja tak ada tempat tersisa untuk parkir si Juki. Saat itulah Dika menghampiri mobilku dan memberi isyarat agar aku membuka jendela.
" Sini kuncinya, biar aku parkirin di tempat langgananku."
Aku tersenyum lega.." Thanks Dik" ucapku sungguh-sungguh. Dia pahlawanku pagi ini.
Segera saja Dika memutar mobilku keluar gerbang sekolah. Tak sampai sepuluh menit dia sudah kembali. Dia menyerahkan kunci dan remote mobilku.
" Parkirnya dekat sini kok. Nanti ikut aku saja, mobilku juga parkir disana."
" Oke.Thanks" Aku tersenyum padanya, dan wajah Dika langsung berbinar. Ah Dika, jangan menyia-nyiakan perasaanmu untukku. Aku tak ingin membuatmu terluka, seperti aku pun tak ingin terluka.
Kami berjalan beriringan ke kelas. Dan tepat saat kami sampai di depan pintu kelas,.bel.masuk berbunyi.
" Tumben telat Ra?" Lina menatapku.
" Kenapa, ngga ada pe er kan ? "
" Kamu Ra, emang aku butuh kamu cuma kalau ada tugas doang?" dia cemberut.
" Terus apa lagi?"
Lina makin kesal.mukanya. " Dasar jutek. Ga punya perasaan..." Lina menggerutu membuatku tersenyum sendiri. Perasaanku sudah mati Lin...Kecuali ...mungkin untuk Kendra...tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah sempurna itu. Tidak...jangan! Apa kau ingin sakit hati lagi Dilara?
" Kenapa Ra" Lina mengguncang lenganku. Rupanya aku tanpa sadar menggeleng sendiri dalam lamunanku.
" Ah...ya.eh..enggak..ga ada apa-apa kok. Cuma ingat sesuatu saja" jawabku santai menutupi kegugupanku.
" Eh, nanti bimbel pulang dulu apa langsung Ra?" tanya Lina saat kami makan di kantin.
" Langsung aja lah. Aku sudah bawa baju ganti di mobil. Nongkrong aja dulu di taman sambil nunggu waktu kosong se jam" tukasku.
Dan sore itu setelah habis jam.pelajaran sekitar pukul tiga sore kami kembali berangkat beriringan ke kampus bimbel. Tak kusangka makin banyak yang mau ikut bimbel. Jumlahnya bahkan dua kali lipat dari yang ikut mendaftar bersamaku kemarin.
__ADS_1
" Perasaan yang ikut tambah banyak Lin?" si biang gosip ini pasti tahu.
" Iyalah, gara-gara anak-anak posting muka kak Kendra di sosmed. Semua jadi penasaran . Makin banyak sainganku , sebel!" Lina bersungut-sungut. Aku tak bisa menahan tawaku. Hahaha...aku tak bisa bayangkan reaksi Lina kalau tahu Kendra sudah datang ke rumahku bahkan ngobrol lama berdua saja dengaku tadi malam.
" Kenapa tertawa Ra, emang kamu nggak tertarik sama kak Ken?"
" Bukan begitu, kalian ini niat bimbel apa ngecengin kak Kendra?"
" Ya bimbel lah, tapi kalau dapat bonus cowok keren macam kak Ken kan ibaratnya sekali dayung dua pulau terlampaui...hahaha...siapa yang akan nolak cowok kaya dia Ra? Ahh alangkah indahnya diajarin langsung sama kak Ken sambil bermesraan..."
" Heh dasar omes kamu Lin...sadar wooy..." Aku menoyor kening Lina yang terbengong sambil meracau ngawur...ya ampuun anak ini.
" Kamu akan kecewa..." aku berusaha menyadarkannya sekarang.
" Kenapa, apa dia punya pacar?"
" Sainganmu banyak, lihat tuh...kalau perasaan kamu nggak terbalas jangan bundir ya..." ledekku sambil menunjuk anak-anak lain yang sudah turun dan mengerumuni Kendra. Seperti kemarin dia menyambut teman-temanku yang baru mendaftar hari ini.
Lina mendengus kesal. Kenapa Cecil dan Arasya ikut mendaftar di sini juga? Mereka adalah idola cowok-cowok di sekolah. Apa masih kurang dikerubutin cowok di sekolah sampai harus merebut kesempatanku mendapatkan kak Kendra? Lina lagi lagi mendengus. Aku jadi kasihan melihatnya.
" Ku tepuk bahunya pelan. "Yuk ke kelas, siapa tahu tutornya gak kalah ganteng dari kak Ken" aku menarik tangan Lina ke arah ruang kelas yang sudah di share admin bimbel lewat grup chat.
Lina tersenyum masam tapi mengikutiku juga. Sekilas kulihat Kendra yang sedang dikerumuni anak-anak seperti mencari sesuatu. Dan senyumnya mengembang kala melihatku keluar dari mobil. Ehh? Apa dia mencariku? Akupun membalas senyumannya dengan hati berdebar.
" Kamu senyumin siapa, terus tanganmu ngapain kaya manggil orang gitu?" Lina menatapku penasaran.
" Tuh Dika" aku menjawab asal. Lina langsung diam. Ups selamaat...
Sampai di kelas kulihat papan nama tutor di samping pintu tertulis Miss Eugene. Lina langsung manyun lagi. Hahaha...duh anak ini. Kuseret dia yang ogah-ogahan masuk kelas.
" Kamu kan sudah punya Glen. Kok masih ngarepin Kak Ken sih Lin?" kami.mengobrol sambil menunggu kelas penuh.
" Aku nggak cinta sama Glen Ra. Aku cuma manfaatin Dia kalau lagi butuh aja. Aku juga nggak pernah bilang nerima dia."
" Jahat kamu Lin, jadi kamu gantungin dia gitu? Awas kamu kena karma nanti."
" Jangan nakut-nakutin Ra.."
Aku tak menjawabnya lagi. Miss Eugene sudah masuk ke kelas kami. Setelah perkenalan singkat, Miss Eugene membagikan modul untuk pelajaran sepekan. Dan kami mulai serius memperhatikan materi pelajaran yang dijabarkannya. Caranya menjelaskan sangat menarik dan lugas. Tak bertele-tele namun lengkap dan jelas. Sangat kelihatan profesional dan kompeten.
Aku makin kagum pada Kendra. Dia benar-benar mumpuni mengelola tempat ini. Pemilihan tutor pasti tak lepas dari pengawasannya sebagai direktur di sini.
Setelah sesi tanya jawab Miss Eugene mempersilakan kami menanyakan yang belum kami mengerti tentang materi pelajaran kami hari ini. Dilanjutkan kuis untuk mengetahui kemampuan dasar kami.
__ADS_1
Kelas sore itu berakhir dengan memuaskan menurutku. Belajar sendiri memang berbeda dengan mengikuti bimbel seperti ini.
" Ra...!" Aku.menoleh dan melihat Kendra mengejarku .
" Kak Ken...ada apa?"
" Kamu sendiran?" tanyanya.
" Lina bareng sama aku kak. Tapi dia masih ke toilet. Ada apa kak?"
" Ah nggak, kebetulan mobil aku tadi waktunya service. Boleh nggak aku bareng ke bengkel. Dekat sini kok dan searah dengan rumahmu"
" Of course. Tentu saja boleh kak. Yuk!" ajakku sambul berjalan ke mobil.
" Sini kuncinya, biar aku yang bawa" Kendra mengulurkan tangan meminta kunci dan aku menyerahkannya.
Dari jauh kulihat Lina menuju tempatku berdiri menunggunya. " Nunggu apa? " tanyanya melihatku berdiri di luar mobil.
" Nunggu kamu lah! Tapi jangan kaget atau histeris ya, jangan bikin heboh? Yuk masuk, kamu di belakang aja" Aku membukakan pintu belakang untuk Lina yang masih loading...tak mengerti maksudku.
Benar saja, begitu masuk mobil dan duduk, Lina langsung menjerit. " Kak Kendraaaa!!!" Segera kututup mulutnya dengan tanganku.
" Hussh, jangan bikin heboh!" Lina menatap penuh kagum pada Kendra. Seperti fans melihat artis idolanya.
" Kak Ken kok bisa disini?" tanyaLina bingung.
" Bisa dong. Aku mau numpang ke bengkel depan. Mobilku diservice di sana."
" Ohh!" Lina menoel pundakku dari belakang lalu berbisik. " Kak Ken kenal kamu Ra, kok tiba-tiba numpang kamu?"
"Kepo!!" Aku tersenyum.menggoda Lina. Dia makin penasaran, namun hingga dia turun di jalan depan rumahnya aku tak memberinya jawaban. Biar dia makin kepo...hihihi....
" Kamu jahil banget sih Ra? Kasihan temanmu kelihatan penasaran banget." Kendra melirikku sambil tersenyum.
" Kak Ken juga aneh. Ngapain numpang aku segala. Nanti kalau gosip menyebar dipikir Kak Ken ada hubungan sama aku."
" Lho kan memang ada , hubungan batin.." dia tersenyum lagi. Sengaja ya..bikin aku deg-degan lihat lesung pipinya?
" Kak jangan bercanda deh!"
" hahaha...kan kita memang ada hubungan Ra...hubungan pertemanan dan permuridan. Kamu kan muriddku di kampus bimbel..."
" Terserah kakak deh!" Dan Kendra tertawa senang.
__ADS_1
Aku tahu dia modus saja numpang mobilku. Dia bisa saja naik taksi kan kalau hanya untuk ke bengkel ambil mobil? Dia hanya ingin bersamaku kukira. Apa aku terlalu percaya diri lagi? Ku rasa tidak. Tapi anehnya meski aku tahu dia modus, aku malah dengan senang hati menerimanya, hatiku malah berbunga -bunga... Ini tak bisa dibiarkan, Jangan sampai aku jatuh ke dalam jerat cinta siapapun....