Gelap

Gelap
Prolog


__ADS_3

"Aku sudah terlalu menderita hidup seperti ini Tuhan , aku mohon jangan menguji lebih dari ini", ucapku mengakhiri doaku malam ini.


Terbayang seharian ini apa saja yang telah ku lalui , tak terasa air mataku menetes lagi.


lalu cepat-cepat ku hapus dengan kedua tanganku.


"Aku tidak boleh lemah , aku harus kuat".


kataku dalam hati , sambil merebahkan tubuh di atas tikar bambu yg sudah usang.


terasa badanku sangat lelah , punggung ku sakit sekali.


sebentar saja aku pun terlelap.


Pagi harinya ,


suara ayam tetangga membangunkan ku.


Aku bangun dan membuka mata ,


"Selalu gelap , meski membuka mata atau tidak itu tidak ada bedanya bagiku" kataku dalam hati.


Iya , aku memang seorang tunanetra.


Sewaktu kecil aku mengalami kecelakaan.


Aku di tabrak oleh pengendara mobil yang tidak bertanggungjawab.


Dia lari setelah melihatku terkapar di jalanan.


Aku hanya bisa berteriak minta tolong dengan lemah , dan kemudian tak sadarkan diri.


Aku di tolong oleh beberapa warga , dan membawaku ke rumah sakit terdekat.


Saat mendengar dokter memvonis ku kehilangan penglihatan karena kecelakaan itu , rasanya hatiku sangat hancur.

__ADS_1


Aku berteriak histeris dan memukul ke segala arah.


semuanya gelap , hitam pekat , tidak terlihat apapun bagiku.


Duniaku rasanya sudah terhenti.


"Kenapa Tuhan tak mencabut nyawaku saja saat itu ?" tak terasa air mataku menetes lagi.


Selalu saja seperti ini saat aku teringat masa lalu yang kelam itu.


Aku bangkit dan mencari tongkatku , biasanya ku sandarkan di belakang pintu.


Aku berjalan menuju ke toilet umum milik tetanggaku.


Karena rumahku hanyalah sebuah gubuk reot yang terbuat dari bambu.


Sangat kecil , berukuran 6 x 6 meter persegi.


Dengan genting yg sudah bolong-bolong , dan bocor dimana-mana saat hujan turun.


Jangankan memiliki kamar mandi , rumahku saja hanya cukup untukku tidur.


Ini saja adalah peninggalan satu-satunya nenek ijah yang merawatku selama ini.


Karena banyak ku jumpai anak-anak jalanan yang tidak punya tempat tinggal.


Dan mereka tidur di emperan toko orang atau di bawah jembatan.


" Hei , kau kalau mau mandi disini itu bayar ,


enak sekali kau mau mandi gratis , kau pikir ini kamar mandi nenek moyang kau haaa ? "


Suara tetanggaku bernama nining , yang membentak membuyarkan lamunanku.


Aku sudah biasa di perlakukan seperti ini.

__ADS_1


Aku terdiam dan menunduk ,


" Aku minta maaf bu , tapi aku tidak punya uang" kataku pelan.


" Makanya dong kalau kerja itu yang giat , jangan malas-malasan saja " bentak bu nining lagi sambil berlalu pergi.


Aku melangkah masuk kedalam kamar mandi , ku guyur tubuhku perlahan2 sambil menangis.


" Semoga hari ini koranku terjual habis" gumamku.


Iya aku memang seorang penjual koran. Aku biasa menjajakan daganganku di perempatan jalan besar.


Oh iya , aku belum memperkenalkan diriku.


Namaku citra , lengkapnya citra permata.


Aku seorang yatim piatu.


Ayah Ibuku meninggal saat aku berumur 5 tahun dalam kecelakaan pesawat.


Dan semua harta bendaku di rampas oleh pamanku sendiri yang gila harta.


Sudah tidak ada sanak saudara lagi , karena yang ku punya hanya paman dan bibi.


Bahkan sekarang aku sudah tidak mengingat wajah mereka lagi , karena hampir 15 tahun tidak pernah bertemu.


Sekarang umurku sudah 20 tahun , hidup sebatang kara dengan menjual koran untuk menyambung hidup.


Hanya satu impianku saat ini ,


semoga suatu saat nanti akan aku temukan cinta sejati yang tidak memandang fisik dan kekuranganku.


Seorang pria yang mampu menerimaku apa adanya.


Namun adakah pria seperti itu di zaman sekarang ini ??

__ADS_1


Aku selalu yakin pasti Tuhan akan menunjukan jalan kebahagiaan padaku suatu saat nanti.


Entah bagaimana caranya.


__ADS_2