Gelap

Gelap
Pahlawanku


__ADS_3

Aku dan Riko berjalan bersama menyusuri jalan.


Kami berdua menuju perempatan tempat ku biasa menjual koran.


Dia mengikutiku dari belakang , dengan perlahan dan penuh hati-hati.


Aku merasa dia sedang memperhatikanku terus menerus. Atau aku yang terlalu ke-geer an saja ya ?


" Ah ini sudah sampai , aku biasa berjualan disini " kataku sambil tersenyum.


" Disini ? di tempat panas dan banyak asap polusi seperti ini ?" tanya Riko tak percaya.


" Iya , aku sudah terbiasa " kataku.


Tiba-tiba Riko menyentuh pundakku. Aku sedikit terkejut dan memundurkan badanku.


" Aku tidak menyangka kehidupan mu sekeras ini , cit kamu memang gadis yg kuat ". ucap Riko dengan nada suara yang sangat lembut.


Ah ternyata dia hanya ingin menguatkan ku , aku kira dia kenapa menyentuh ku sepeti itu. gumamku dalam hati.


" Apa kau kasihan padaku ?". tanyaku.


" Tidak , aku tidak mengasihanimu , aku hanya merasa sudah tidak ada lagi wanita yang seperti dirimu , hidup dalam kesusahan dan berjuang dengan sekuat tenaga tanpa mengenal lelah " ucap Riko panjang lebar.


Aku pun tersenyum haru. Ternyata masih ada orang yang peduli padaku selain bang Muis.


" Kau kenapa tersenyum seperti itu " suara Riko membuyarkan lamunanku.


" Tidak apa-apa , kamu tidak kerja ?" tanyaku sedikit salah tingkah.


" Oh iya , aku lupa , aku sudah terlambat , aku pergi dulu ya cit , nanti pulang aku jemput ya" Riko berlali meninggalkanku.


Aku belum sempat menjawab , dia sudah tidak terdengar lagi di sebelahku.


Sepertinya dia sudah pergi. Aku belum sempat berterimakasih. Dan juga aku ingin mengatakan tak perlu menjemputku , aku tidak ingin merepotkan nya lagi.


Tapi dia sudah pergi , yasudahlah ya terserah dia saja. Tanpa sadar aku tersenyum.


___________________________

__ADS_1


Hari menjelang sore. Aku meraba koran di tanganku. Hanya tinggal 2 buah.


Matahari terasa panas sekali membakar kulitku. Aku rasa lebih baik sekarang aku pulang saja.


" Dimana Riko , dia bilang mau menjemput ku " aku bergumam.


Terbersit sedikit kekecewaan di dalam hatiku.


Aku berjalan perlahan-lahan menyusuri jalanan menuju rumah Bang Muis seperti biasa.


Suasana ini , terasa sangat mencekam seperti waktu itu. " Sepi sekali " tiba-tiba aku bergidik ngeri , membayangkan kesialan yang menimpaku beberapa waktu lalu.


Sesaat aku seperti mendengar suara beberapa langkah kaki mendekat kearahku , aku sedikit merasa takut.


Tapi aku berusaha untuk memberanikan diri terus berjalan.


Lalu ada sepasang tangan yang kuat mendorong tubuhku dari belakang.


Brakkkk...


Aku tersungkur di aspal. Kepalaku terasa sangat sakit , aku rasa ini berdarah.


" hahahahaha dasar gadis buta " terdengar beberapa laki-laki yg tertawa terbahak-bahak.


Siapa mereka , suaranya sangat mengerikan. Mereka berandalan yang merampokku kemarin , iya aku ingat sekali suaranya.


Badanku gemetar , rasa takut menjalar ke seluruh tubuhku.


Jangan-jangan mereka mau merampokku lagi. Wajahku pucat pasi , aku memeluk erat kresek berisi uang di tanganku.


Salah satu dari mereka merampas kresek dari tanganku secara kasar. Aku menangis.


Melihatku menangis , mereka semakin tertawa dengan kencang.


" Aku mohon jangan , jangan ambil uangku , itu penghasilan ku seharian ini , aku sudah tidak punya uang untuk makan " Aku meratap iba.


" Apa peduli ku ha ? mau makan atau nggak kek , itu bukan urusan kita " Bentak salah seorang dari mereka.


" Mati aja lu sana kalau gak bisa makan hahahaha , ayo semuanya kita pergi " Seru yang lainnya.

__ADS_1


Aku berteriak histeris.


" Kembalikan uangku , dasar ******** , beraninya dengan wanita buta " Aku menangis sejadinya.


Tiba-tiba.


Buuuughh bugghhh bugghhh


Suara orang di pukuli , apa yang terjadi.


" Hei siapa kau beraninya ikut campur " teriak berandalan itu.


" Cepat kembalikan uang wanita ini , kalau tidak kalian akan menyesal " Ucap laki-laki yang memukuli berandalan tadi , yang ternyata adalah Riko , aku tau karena aku mengenali suaranya.


Hatiku terasa sedikit lebih tenang karena ada Riko disini.


" Hahaha memangnya siapa lu , dasar pahlawan kesorean " Tawa berandalan tadi bersama-sama.


Tanpa ada suara Riko langsung memukuli mereka satu persatu.


Buuughhh..buughhh..buggghhh..braakkk..


Aku takut sekali mendengar perkelahian mereka.


beberapa saat terdengar beberapa langkah kaki berlari tunggang langgang.


" Awas kau ya " ancam salah seorang berandalan itu sambil berlari.


" Dasar pengecut , sampah masyarakat kalian " teriak Riko lantang.


Riko menghampiri ku , aku mendengar langkah kaki nya mendekat kearahku.


" Ini uangmu , cit kamu tidak apa-apa kan ?" Riko menyerahkan kresek di tanganku.


Aku terus menangis , aku masih takut sekali.


Lalu tiba-tiba Riko memelukku dengan erat , aku terkejut bukan main.


Apa yang Riko lakukan , tapi aku merasa sangat nyaman sekali di peluk seperti ini. Tanpa sadar aku membalas pelukannya dan menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2