Gelap

Gelap
Sebuah kesialan


__ADS_3

Aku berjalan perlahan-lahan. Aku merasa suasananya sepi sekali.


Tidak ada suara hiruk pikuk motor atau mobil yang sedang melaju.


" Bukankah ini masih sore , kenapa sudah se sepi ini ". Pikirku dalam hati.


Firasatku menjadi tidak enak , pikiranku macam-macam.


" Semoga tidak ada apa-apa" kataku sambil mempercepat langkahku.


Namun tiba-tiba aku mendengar suara seperti ada tiga orang laki-laki , bukan empat orang , sedang berjalan mendekat ke arahku.


Mereka berhenti tepat di depanku , ada jg yg di belakang ku , di sampingku ,


mereka mengitariku.


"Apa yang sebenarnya mereka inginkan?"


" Hei kau gadis buta , berikan sini uangmu"


kata seorang laki-laki itu berteriak.


Aku memeluk erat koranku , dan uang yang ku taruh dalam kantong plastik hitam itu.


" Apa kau tidak dengar ha , apa kau juga tuli !"


teriak yang lainnya lagi.


" Tolong jangan ambil uangku , ini bukan uang milikku , aku harus menyetorkan ini kepada orang lain " kataku memelas.


Tapi semua laki-laki itu tidak menanggapi permohonanki , mereka semua tertawa terbahak-bahak.


Aku semakin ciut , peluh menetes di kening dan juga wajahku.


Badanku gemetar , aku sungguh sangat ketakutan.


Lalu kurasakan ada tangan kasar yang merampas kresek hitamku secara paksa.

__ADS_1


" Tolong jangan ambil uangku , aku mohon tolong kembalikan ". Aku mengayunkan tanganku ke segala arah , berharap memegang kresek hitamku lagi.


Namun hasilnya nihil , aku tidak menyentuh apapun.


Aku menangis terduduk lesu , dan semua laki-laki yang mengerumuni ku itu tertawa semakin menjadi-jadi.


" Halah uang cuma segini saja , ini sih buat judi aja gak cukup " kata seorang laki-laki sambil berjalan menjauh dariku.


" Ayo semuanya kita pergi " ajaknya lagi.


Lalu aku rasakan semuanya menjauh , semuanya pergi.


Hening ku rasakan di sekeliling ku lg. Hanya ada aku yang masih menangis tersedu-sedu.


" Kenapa selalu saja nasibku sial seperti ini " aku menangis semakin kencang.


" sial sial sial " umpatku.


Aku menangis di tempat itu begitu lama. Hingga ada beberapa orang berlalu lalang , namun tak ada satupun yang perduli padaku.


Terasa air mataku mengering. Kepalaku pusing sekali.


Aku pun berjalan dengan perlahan-lahan , karena terasa kepalaku berat sekali.


Seakan-akan rasanya aku hampir terjatuh.


Akhirnya sampai di tempat Bang Muis , tak terasa air mataku meleleh lagi.


" Apa yang harus ku katakan padanya " ujarku dalam hati.


Aku sangat bingung , hingga akhirnya Bang Muis menghampiri ku.


Karena dilihatnya aku diam saja mematung sambil menangis , tidak seperti biasanya.


" Ada apa cit , mana hasil setoran mu hari ini ?" tanya Bang Muis.


" Anu bang , itu uangnya itu eh..." kataku gugup.

__ADS_1


" Kamu kenapa citra ?" tanya nya lagi.


" Bang uangnya hilang , di rampas sama segerombolan laki-laki di pinggir jalan tadi " aku pun mulai sesenggukan.


Aku sangat takut Bang Muis marah. Aku gugup menantikan responnya.


Namun setelah itu , kurasa ada tangan hangat yang menyentuh kepalaku.


" Yasudah tidak apa-apa cit , hari ini anggap saja kita sedang sedekah ya " Bang Muis begitu lembut.


" Aku benar-benar minta maaf ya bang , aku janji besok aku akan lebih berhati-hati lagi " kataku pelan.


Lalu tiba-tiba dari dalam rumah Bang Muis keluar seorang wanita dengan sedikit lari dia menghampiri ku dengan Bang Muis.


Aku tau , itu pasti istrinya. Istrinya galak dan suka marah-marah.


" Pasti sekarang aku akan kena marah " kataku merasa cemas sekali.


" Enak saja kau cit , ngilangin uang gak mau ganti , cuma minta maaf saja , kamu pikir beli koran gak pake duit ??" teriaknya tepat di depan mukaku.


Aku mundur perlahan.


" Kau itu selalu saja menggoda suamiku ya , makanya dia jadi baik dan memaafkanmu " katanya.


Kurasakan ada sebuah jari telunjuk yang mengetuk-ketuk keningku dengan kasar.


" Bukan begitu mbak Lia , aku tidak sengaja , aku tidak bisa berbuat apa-apa saat uang itu di rampas " belaku.


" Halah paling juga itu cuma alasanmu , jangan-jangan mereka itu teman-temanmu ya , biar kalian bisa bagi rata uang hasil rampokan tadi " mbak lia semakin kasar.


Dia nyerocos terus , membuatku yang mendengarnya tidak betah.


Kepalaku semakin sakit saja di buatnya.


" Sudah mah , sudah , ini bukan salah citra , dia juga kena musibah " kata Bang Muis sambil memegangi istrinya agar tidak memukulku.


" citra kamu pulang saja ya , tidak perlu di pikirkan soal uang koran tadi , tidak apa- apa kamu pulang saja dan istirahat ya"

__ADS_1


" iya Bang Muis " aku berlalu dengan langkah gontai dan lesu.


__ADS_2