
Aku berjalan perlahan-lahan. Aku merasa suasananya sepi sekali.
Tidak ada suara hiruk pikuk motor atau mobil yang sedang melaju.
" Bukankah ini masih sore , kenapa sudah se sepi ini ". Pikirku dalam hati.
Firasatku menjadi tidak enak , pikiranku macam-macam.
" Semoga tidak ada apa-apa" kataku sambil mempercepat langkahku.
Namun tiba-tiba aku mendengar suara seperti ada tiga orang laki-laki , bukan empat orang , sedang berjalan mendekat ke arahku.
Mereka berhenti tepat di depanku , ada jg yg di belakang ku , di sampingku ,
mereka mengitariku.
"Apa yang sebenarnya mereka inginkan?"
" Hei kau gadis buta , berikan sini uangmu"
kata seorang laki-laki itu berteriak.
Aku memeluk erat koranku , dan uang yang ku taruh dalam kantong plastik hitam itu.
" Apa kau tidak dengar ha , apa kau juga tuli !"
teriak yang lainnya lagi.
" Tolong jangan ambil uangku , ini bukan uang milikku , aku harus menyetorkan ini kepada orang lain " kataku memelas.
Tapi semua laki-laki itu tidak menanggapi permohonanki , mereka semua tertawa terbahak-bahak.
Aku semakin ciut , peluh menetes di kening dan juga wajahku.
Badanku gemetar , aku sungguh sangat ketakutan.
Lalu kurasakan ada tangan kasar yang merampas kresek hitamku secara paksa.
__ADS_1
" Tolong jangan ambil uangku , aku mohon tolong kembalikan ". Aku mengayunkan tanganku ke segala arah , berharap memegang kresek hitamku lagi.
Namun hasilnya nihil , aku tidak menyentuh apapun.
Aku menangis terduduk lesu , dan semua laki-laki yang mengerumuni ku itu tertawa semakin menjadi-jadi.
" Halah uang cuma segini saja , ini sih buat judi aja gak cukup " kata seorang laki-laki sambil berjalan menjauh dariku.
" Ayo semuanya kita pergi " ajaknya lagi.
Lalu aku rasakan semuanya menjauh , semuanya pergi.
Hening ku rasakan di sekeliling ku lg. Hanya ada aku yang masih menangis tersedu-sedu.
" Kenapa selalu saja nasibku sial seperti ini " aku menangis semakin kencang.
" sial sial sial " umpatku.
Aku menangis di tempat itu begitu lama. Hingga ada beberapa orang berlalu lalang , namun tak ada satupun yang perduli padaku.
Terasa air mataku mengering. Kepalaku pusing sekali.
Aku pun berjalan dengan perlahan-lahan , karena terasa kepalaku berat sekali.
Seakan-akan rasanya aku hampir terjatuh.
Akhirnya sampai di tempat Bang Muis , tak terasa air mataku meleleh lagi.
" Apa yang harus ku katakan padanya " ujarku dalam hati.
Aku sangat bingung , hingga akhirnya Bang Muis menghampiri ku.
Karena dilihatnya aku diam saja mematung sambil menangis , tidak seperti biasanya.
" Ada apa cit , mana hasil setoran mu hari ini ?" tanya Bang Muis.
" Anu bang , itu uangnya itu eh..." kataku gugup.
__ADS_1
" Kamu kenapa citra ?" tanya nya lagi.
" Bang uangnya hilang , di rampas sama segerombolan laki-laki di pinggir jalan tadi " aku pun mulai sesenggukan.
Aku sangat takut Bang Muis marah. Aku gugup menantikan responnya.
Namun setelah itu , kurasa ada tangan hangat yang menyentuh kepalaku.
" Yasudah tidak apa-apa cit , hari ini anggap saja kita sedang sedekah ya " Bang Muis begitu lembut.
" Aku benar-benar minta maaf ya bang , aku janji besok aku akan lebih berhati-hati lagi " kataku pelan.
Lalu tiba-tiba dari dalam rumah Bang Muis keluar seorang wanita dengan sedikit lari dia menghampiri ku dengan Bang Muis.
Aku tau , itu pasti istrinya. Istrinya galak dan suka marah-marah.
" Pasti sekarang aku akan kena marah " kataku merasa cemas sekali.
" Enak saja kau cit , ngilangin uang gak mau ganti , cuma minta maaf saja , kamu pikir beli koran gak pake duit ??" teriaknya tepat di depan mukaku.
Aku mundur perlahan.
" Kau itu selalu saja menggoda suamiku ya , makanya dia jadi baik dan memaafkanmu " katanya.
Kurasakan ada sebuah jari telunjuk yang mengetuk-ketuk keningku dengan kasar.
" Bukan begitu mbak Lia , aku tidak sengaja , aku tidak bisa berbuat apa-apa saat uang itu di rampas " belaku.
" Halah paling juga itu cuma alasanmu , jangan-jangan mereka itu teman-temanmu ya , biar kalian bisa bagi rata uang hasil rampokan tadi " mbak lia semakin kasar.
Dia nyerocos terus , membuatku yang mendengarnya tidak betah.
Kepalaku semakin sakit saja di buatnya.
" Sudah mah , sudah , ini bukan salah citra , dia juga kena musibah " kata Bang Muis sambil memegangi istrinya agar tidak memukulku.
" citra kamu pulang saja ya , tidak perlu di pikirkan soal uang koran tadi , tidak apa- apa kamu pulang saja dan istirahat ya"
__ADS_1
" iya Bang Muis " aku berlalu dengan langkah gontai dan lesu.