Ghost' Island

Ghost' Island
Bab 3. Kenjanggalan yang mereka rasakan


__ADS_3

“Awas aja ya loe semua gue kerjain kalian habis-habisan,” batin Bima sambil tersenyum ke arah Aluna dan teman-temannya.


Tak terasa waktu sudah menjelang sore seluruh siswa di perbolehkan untuk pulang mereka juga di minta bersiap-siap untuk acara besok.Aluna dan teman-temannya terlihat sedang berada di parkiran motor meeka sedang berbincang-bincang tentang study wisata esok.Mereka tidak hanya berempat tapi, ada sosok guru yang sangat akrab dengan mereka layaknya teman bukan guru dan murid nama ibu guru itu adalah Bu Inggit wali kelas mereka dan Bima.Bu Inggit adalah sosok wali kelas yang sangat disiplin, baik hati, cukup galak, dan yang membuat ia cukup dengan Geng Asap adalah beliau pelatih bela diri Aluna dan teman-temannya.


“Anak-anak pokoknya jangan lupa ya sama pesan ibu jangan mudah terpancing emosi terutama kamu Al citra Nama baik kalian sudah cukup bagus di sekolah jangan sampai kalian mempermalukan nama baik sekolah ibu minta maaf juga kalau tadi agak galak wkwkwk,” tutur Bu Inggit dengan nada santai.


“Tenang aja bu, pokoknya itu semua enggak akan terjadi dan kejadian kemarin itu adalah kejadian terakhir,” ucap Al dengan penuh keyakinan.


“Bu, ini saya mau tanya tapi bukan soal kita tapi, ini soal Pantai Cindai emang benar ya kalau di dalam pantai itu ada Pulau yang sangat angker dan misterius?” tanya Sandy dengan nada pelan.


“Kalau soal itu ibu kurang paham san, udahlah dari pada kalian capek mikir hal-hal yang seperti itu mending nikmati saja study wisata nya dan lakukan hal-hal yang positif ,” jawab Bu Inggit dengan nada santai.


“Loe takut ya, san?” tanya Prilly sambil menggoda sandy.


“Gue takut?Ya enggak lah Cuma nanya doang emang enggak boleh nanya,” ucap Sandy dengan nada salah tingkah.


“Yakin, san?" Al ikut-ikut menggoda Sandy.


“Hahahahahaah muka loe lucu banget san, apa yang dikatakan Bu Inggit itu bener pokoknya kita harus melakukan hal-hal positif dan menjaga attitude selama di sana,” ucap Aluna sambil tersenyum.


“Sudah-sudah ibu permisi dulu ya pokoknya semangat,” ucap Bu Inggit sembari tersenyum lalu berlalu pergi ke arah kantin sekolah.


Mereka pun lalu memutuskan untuk pulang dan mempersiapkan berbagai macam hal untuk keperluan besok.Saat mereka akan keluar gerbang mereka berpapasan dengan Bima dan pacarnya awalnya mereka cuek dan berpikir untuk tidak mau ribut dengan mereka.Namun,Bima dan pacarnya mencegah mereka dengan gayanya yang sombong.


“Heh! Kalian semua cemen banget loe semua takutnya sama gue.” Ucap Bima dengan tatapan sinis.


“Iya-iyalah beb, mereka takut sekarang kan mereka mentalnya cupu hahhaahah,” tawa pacar Bima sambil memegang tangan Bima.

__ADS_1


“Sorry ya bim, bukannya kita takut kita Cuma enggak mau buang-buang tenaga dan waktu kita buat ngurusin orang-orang enggak penting kayak loe dan loe intinya kita mau fokus buat kegiatan besok yuk gyus kita pergi aja,” ucap Aluna dengan nada santai dan langsung berlalu pergi.


“Awas ya kalian nanti pas study wisata,” batin Bima dengan tatapan tajam lalu masuk ke mobilnya.


Kegelapan pun tiba sang mentari sudah purna di makan waktu Aluna begitu antusias mempersiapkan segala keperluan untuk study wisata besok mulai dari mempersiapkan pakaian, sepatu, buku dan alat tulis, dll.Sejenak ia duduk di tepi ranjang ia teringat akan suatu hal.


“Jadi ke inget Pulai Niara kira-kira mitos itu bener apa enggak ya? Ah ya udah lah ngapain mikirin hal kayak gitu mending fokus study wisata,” ucap Aluna lalu bangkit dari tepi ranjang lalu beranjak keluar dari kamar.


“Udah selesai preparenya, lun?” tanya Nenek Aluna yang sedang duduk di sofa.


“Udah nek, nenek udah makan belum?” tanya Aluna sembari melangkah mendekati neneknya.


“Nenek udah makan lun, kamu dan teman-teman kamu besok hati-hati ya besok jangan pernah mendekat ke pulau itu ya,” pinta nenek Aluna.


“Iya nek, insyallah aku mau tanya nek, kok bisa pulau itu di sebut pulau angker?” tanya Aluna sambil menyerutut secangkir teh.


“Hehehehe ya habisnya nenek ngomong kayak gitu aku pikir nenek tau,” ucap Aluna dengan nada pelan.


“Udah sekarang mending kamu tidur supaya besok tidak terlambat,” ucap nenek Aluna dengan langkah pelan.


Perlu di ketahui Aluna adalah anak yatim piatu dari usia 6 tahun satu-satunya orang yang menemani cuma neneknya sebenarnya ia punya adik. Namun adiknya sudah punya orang tua asuh.Aluna pun masuk ke kamar nya dan langsung memejamkan mata,jiwa, dan raganya.


Terik matahari serta kicauan burung-burung menyambut kegembiraan dan semangat para siswa dan siswi yang akan study wisata.Aluna dan teman-temannya serta siswa lainnya sudah berbaris rapi di lapangan basket untuk menerima pembinaan.Terdengar suara langkah dari arah belakang ternyata itu adalah Bima ia terlambat 10 menit tapi, bukannya merasa malu atau bersalah ia malah terlihat santai seolah-olah tanpa dosa. Para siswa dan siswi terlihat menyoraki sikap Bima.


“Pak, hukum aja dia biar tau rasa,” ucap Al dengan nada cukup kencang.


“Bener itu pak, dasar murid enggak tau diri pada setuju kan,” sambung prilly dengan nada tak kalah kencang.

__ADS_1


“Eh, loe pada diem ya,” bentak Bima dengan tatapan tajam.


“Sudah-sudah ini kita sudah membuang waktu untuk kamu saya akan beri kamu hukuman karena kamu terlambat hukumannya adalah pindahkan semua barang-barang mereka ke bis nanti kalau sudah sampai kamu juga yang pindah sekarang kalian bubar dan menuju bis masing-masing semoga perjalanan berjalan lancar kita berdoa dulu ya berdua di mulai…berdoa selesai ,” ucap Kepala sekolah dengan suara kencang.


“Enggak bisa kayak gitu pak, enggak mungkin saya kayak gitu,” ucap Bima dengan nada tidak terima.


“Udah bim, terima aja setidaknya loe di sini itu ada gunanya,” bisik Aluna sambil tersenyum lalu melangkah menuju bis.


“Hari ini bener-bener nyebelin awas aja loe semua ini si….. mana lagi bukanya belain gue,” batin Bima sambil menahan emosi lalu melangkah menuju bis.


Siswa dan siswi mulai menaiki bus masing-masing sambil mengisi absen Aluna dan kawan-kawan berada di bis 1 satu bis dengan Bima yang sibuk menata barang-barang rekan satu bis nya ke bagasi bis dengan wajah ketus.Setelah semua sudah bis pertama pun mulai melaju di ikuti bus 2,3,4, dan 5.Sepanjang perjalanan para siswa dan siswi bernyanyi ria, serta melihat pemandangan-pemandangan yang menyejukkan mata.Tak perlu waktu lama hanya untuk sampai ke lokasi tujuan hanya perlu waktu 4-5 jam saja. Mereka sudah sampai di tempat penginapan di Cahaya Hotel dan Coference.


“Anak-anak semua kita sudah sampai di tempat penginapan silahkan kalian masuk dan mengambil kunci di recepsionis kita kumpul lagi di sini nanti sore pukul 15.30 WIB,” ucap Kepala Sekolah dengan suara lantang.


“Siap pak,” ucap para siswa dan siswi secara serentak.


Siswa dan siswi pun mulai memasuki hotel di saat itu mata Aluna tertuju pada sebuah pulau yang berada di seberang hotel tempat menginap mereka.


“Apa itu ya pulau Niara?Aura pulau itu kayak beda sama pulau-pulau lain mungkin suatu saat nanti gue harus ke sana,” batin Aluna dengan tatapan fokus.


“Heh! Bengong aja loe ayo masuk!” ucap Prilly dengan suara lantang.


“Prill, bisa enggak kalau enggak ngaggetin loe lihat pulau itu kayak nya pulau niara,” ucap Aluna sambil menunjuk pulau tersebut.


“Enggak tau lun, ngapain kepo sama pulau itu? Enggak penting,” ucap Prilly dengan suara pelan.


“Loe takut ya? Kita kan pemberani ngapain mesti takut,” ucap Aluna sambil tersenyum.

__ADS_1


“Gue enggak takut lun, udah ayo masuk!” perintah Prilly sambil menggandeng tangan Aluna.


__ADS_2