Ghost' Island

Ghost' Island
Bab 7. Penampakan yang mengejutkan


__ADS_3

“Bim, loe ngapain ke sini? Bukannya loe enggak mau ya satu tim sama kita,” ucap Sandy ekspresi heran.


“Ya emang iya sampai kapan pun gue enggak akan mau satu tim sama kalian cuma ya daripada gue enggak ada nilai dan loe semua yang dapat nilai jadi gue mau mau aja,” ucap Bima dengan nada ketus.


“Ternyata orang blago dan sombong kayak loe ada rasa takut juga kalau loe mau ikut tim kita loe harus ikuti aturan yang ada,” ucap


Aluna dengan nada tegas.


“Ya bener apa yang di kata Aluna yang pertama loe di larang bikin rusuh di sini, yang kedua kita harus selalu kompak walaupun kita musuh, yang ketiga loe jangan sakit hati atau emosi ya ketika kita ngasih arahan,perintah,dan yang terakhir jangan jadi gajah di batu atau punya niat terselubung selama kita satuvtim,” ucap Ali dengan tatapan tajam.


“Banyak ngomong nih, orang oke untuk saat ini gue ikuti aja dulu permaianan mereka setelah itu kita lihat aja nanti kalian semua bakal tinggal nama,” batin Bima sambil tersenyum.


“Malah senyum ayo jawab!” perintah Sandy dengan nada cukup kencang.


“Oke,” ucao Bima dengan ekspresi muka datar.


Aluna  memperhatikan wajah Bima dengan ekspresi berbeda sepertinya mereka curiga dengan sikap Bima yang tiba-tiba baik dan


menerima aturan yang si sebutkan Ali tadi.


“Gue harus hati-hati sama Bima kayaknya dia punya niat terselubung semoga aja enggak terjadi apa-apa,“ batin Aluna sembari terus


memperhatikan wajah Bima.


Di tempat berbeda Amanda dan Ilham terlihat sedang berjalan menyusuri pinggir pantai mereka berpisah dengan kelompok mereka.Mereka terlihat sedang berbincang-bincang membicarakan Bima.


“Ham, si Bima kok mau satu kelompok sama geng kampungan itu apa dia udah mulai baik sama mereka?”vtanya Amanda dengan eskpresi kesal.


“Hahahahaa ya enggak mungkinlah nda, seorang Bima bisa berubah baik sama mereka si Bima pasti belum cerita sama loe dia punya sebuah rencana buat mereka jadi, dia itu Cuma pura-pura baik, "ucap Ilham sembari tertawa.


“Oh gitu ya bagus lah gue pikir dia bener-bener berubah ya semoga rencana Bima berhasil enggak


Kebayang muka-muka mereka,” ucap Amanda sembari tersenyum.


“Ya pasti berhasil dong, muka-muka mereka pasti ketakutan, nangis darah hahahahh,” ucap Ilham sembari tertawa.


Amanda dan Ilham kembali berjalan di sepanjang pinggir pantai terdapat banyak sekali sampah tapi sangat acuh dan tidak peduli di saat yang lainnya mengumpulkan sampah-sampah mereka bedua asyik berswa foto dan menikmati suasana pantai.Sosok pria setengah baya menghampiri mereka berdua dia mengenakan topi dan membawa


jarring untuk menangkap ikan.

__ADS_1


“Kalian kok malah di sini itu bantu teman kalian!” Kakek Danur mengucapkan kalimat itu dengan nada tinggi.


“Maaf ya kek, kakek ini siapa ngatur-ngatur kami kenal juga enggak mending kakek urus urusan kakek enggak usah sok ngatur-ngatur


kita,” ucap Amanda dengan nada pelan tapi ketus.


“Bener kek, suka-suka kita mau gini mau gitu jadi jangan sok ngatur,” sambung Ilham dengan nada santai.


“Woy! Punya sopan santun enggak bisa-bisa nya loe berdua ngomong kayak gitu sama kakek Danur,” Ucap Aluna dengan tatapan


tajam.


“Iya nih, bikin malu,” sambung Prilly dengan muka ketus.


Bima terlihat diam seribu bahasa sembari melirik kekasih dan sahabatnya.


"Bima kok malah diem aja sebel deh," batin Amanda dengan muka bete.


"Aduh! Bisa enggak sekali aja enggak usah ikut campur urusan kita loe semua gabut apa gimana sih, heran gue," ucap Ilham dengan nada ketus.


"Heh! Lun, kalau gue kayak gini loe mau apa?Laporin kita ke guru? Silahkan gue enggak takut," ucap Amanda dengan nada tinggi sambil mendorong tubuh Aluna.


"Sudah-sudah jangan pada berantem enggak papa neng, saya udah biasa kok tapi, kalau mereka-mereka ini udah kelewatan jangan salahkan saya kalau terjadi sesuatu pada kalian semua," ucap Kakek Danur dengan nada pelan.


"Ya intinya seperti itu, saya permisi dulu," ucap Kakek Danur lalu pergi meninggalkan mereka.


"Eh kek, jangan pergi dulu," ucap Aluna dengan suara cukup kencang.


"Sok tau banget tuh kakek-kakek tua di pikir kita bakal percaya ya enggak lah ya udah yuk ham kita pergi dari sini males banget," ucap Amanda dengan nada santai.


"Eh, pada mau kemana nih, sekarang loe berdua kumpulin sampah-sampah jangan pikir kita ngediemin kalian ya," ucap Aluna sambil menyerahkan kantong plastik warna hitam.


"Ih! Apaan sih, gue enggak mau," ucap Amanda dengan ekspresi jijik.


Melihat ekspresi Bima mengedipkan mata Aluna pun langsung memegang kantong plastik yang beri Aluna dengan eskpresi terpaksa bergitu pula dengan Ilham.


"Ada yang aneh sama sikap mereka, gue harus cari tau," batin Aluna sambil memperhatikan sikap Bima, Amanda,dan Ilham.


Waktu terus berjalan tak terasa matahari sudah menenggelamkan wujudnya berganti dengan bulan yang indah.Aluna terlihat berada di luar hotel ia menikmati suasana pantai di malam hari di temani semilir andin dan hembusan ombak ia seorang diri.

__ADS_1


"Gue masih kepikiran sama kata-kata kakek Danur kira-kira bakal terjadi apa ya?Apa ada hubungannya sama Pulau Niara?" tanya Aluna pada dirinya sendiri.


Bersamaan dengan itu lah Bima dan kekasih juga berada di luar melihat Aluna seorang diri di pinggir pantai.


"Ada di Luna tuh, beb kita kerjain dia yuk ya itung-itung balas dendam karena kejadian tadi," ucap Amanda dengan nada pelan.


"Ide yang bagus cuma kita harus main bersih jangan sampai ketahuan kita lempar aja dia pakai batu biar di ketakutan habis itu kita bikin apa gitu biar dia ketakutan" ucap Bima dengan nada pelan.


"Wah! Oke juga ide kamu beb, kita mulai aja yuk," ucap Amanda dengan antusias.


Bima dan Amanda melempar beberapa batu kerikil ke arah Aluna sambil tersenyum-senyum.


"Kok ada yang lempar batu kerikil ke arah gue kelakuan siapa pasti orang iseng," ucap Aluna dengan ekspresi kesal.


Bima dan Amanda kembali melempar batu kerikil ke arah Aluna kali ini ia mengeluarkan suara-suara seram untuk menakuti Aluna.


"Astaghfirullah, ini siapa yang lempar gue woy! Apa makhluk halus ya? Woy! Tunjukkin wujud loe sekarang gue enggak takut," teriak Akina sambil memperhatikan suasana.


Aluna terlihat biasa saja dan tidak takut ia malah terus berteriak.


"Beb, dia kok enggak ketakutan malah biasa aja gitu apa kita kurang serem ya?" ucap Amanda dengan nada kesal.


"Tuh,.orang kira-kira takutnya sama apa ya? Heran," ucap Bima dengan nada pelan.


Tiba-tiba...


Mata Aluna tertuju pada sosok perempuan dan beberapa orang yang berada di pinggir pantai tak jauh dari tempat nya berdiri Ia oin menghampiri orang-orang itu.


"Mau kemana tuh, orang kita ikuti yuk," ucap Bima sambil menggandeng tangan kekasihnya


"Permisi, mohon maaf apa kalian yang melempari saya dengan batu kerikil? Apa kalian liat orang yang lempari saya?" tanya Aluna dengan nada pelan.


Mereka semua geleng-geleng kepala wajah mereka sangat pucat dan mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Oh gitu ya ya udah, makasih," ucap Aluna dengan nada pelan.


Saat Aluna ingin kembali ke hotel tangan di pegang salah satu dari orang-orang tersebut.Betapa terkejutnya Aluna melihat wajah-wajah mereka.Wajahnya mereka berubah menjadi sangat menyeramkan seperti zombie penuh dengan darah.


"AAAA kenapa kalian jadi, seperti ini siapa kalian," ucap Aluna sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Tolong kamiiii!" jcap mereka dengan nada serentak dengan suara yang menyeramkan.


Kira-kira apa yang akan terjadi dengan Aluna ya? Sungguh kejadian yang sangat mengejutkan.


__ADS_2