Ghost' Island

Ghost' Island
Bab 4.Sesuatu di pulau tersebut.


__ADS_3

Aluna,Sandy,Al, dan Prilly berada di satu lantai yang sama bukan hanya mereka berempat Bima dan teman-temannya pun juga berada di lantai yang sama seketika wajah Al berubah masam mendengar bahwa musuh bebuyutan geng nya yaitu Bima dan pasukannya berada di lantai yang sama.Kamar mereka pun juga berdekatan Aluna dan Prilly berada di kamar no 14.sedangkan Al dan Sandy berada di kamar no 15.


“Orang itu lagi orang itu muak banget denger nama orang itu,” ungkap Al dengan wajah masam.


“Sama gue muak Al, kayaknya kita harus bawa dia ke pulau yang katanya angker itu biar dia enggak bisa ganggu kita lagi, o” cetus Prilly dengan suara lantang.


“Sstt…kalau ngomong itu di jaga udah enggak usah mikirin dia mending sekarang kita fokus kegiatan,” ucap Luna dengan nada pelan.


“Iya gue setuju sama Luna cuma ya kalau emang ada niatan boleh-boleh aja sih, kayaknya seruu,” ucap Sandy sambil tersenyum.


“Tau lah mending kita masuk ke kamar ni badan pegel banget mau rebahan untuk masalah ide loe prill besok aja kita pikirin,” ucap Al dengan ekspresi muka datar.


Al dan Sandy pun masuk ke kamar mereka di susul Aluna dan Prilly.Mereka langsung membereskan barang bawaan mereka lalu rehat sejenak.


“Lun, menurut loe ide gue yang tadi gimana?” tanya Prilly sambil rebahan di ranjang hotel.


“Kalau menurut gue jangan ngelakuin hal kayak gitu itu udah kelewatan mending kita cari tau soal pulau itu siapa tau ada hal tersembunyi ingat kita itu geng petualang bukan geng criminal.” Aluna mengucapkan kalimat itu sambil duduk manis di sofa.


Sinar matahari tak seterik tadi dan mulai meredup tanda bahwa waktu sudah sore tak perlu menunggu waktu lama.Beberapa siswa dan siswi di kumpulkan di lobi untuk menerima pembinaan dari kepala sekolah.Hari ini mereka akan ke Pantai Cindai untuk melakukan sebuah kegiatan hingga malam hari.Geng ASAP sedang bersiap-siap di kamar mereka masing-masing.


“Jamnya kok cepet banget ya padahal gue lagi menikmati tidur gue yang begitu nikmat,” ucap Prilly dengan muka masam.


“Ya udah kalau emang masih ngantuk tidur aja tapi, jangan salahin gue kalau nanti di hukum yuk turun sekarang,” ucap Aluna sambil tertawa geli lalu melangkah mendekati pimtu kamar.


”Ya jangan gitu dong lun, gue sambung nanti malam tidurnya,” ucap Prilly dengan langkah lemas.


Mereka pun turun ke lobi bersama dengan Al dan Sandy.Sepertinya semua sudah berkumpul tanpa mengulur-ulur waktu kepala sekolah menyampaikan beberapa hal bahwa hari ini mereka akan melakukan kegiatan pengenalan dengan warga sekitar dan menikmati suasana Pantai Cindai hingga pukul 19.00-20.00 WIB bersama dengan kelompok masing-masing.


“Oh ya saya hampir lupa untuk kalian semuaa jangan sesekali mendekati Pulau Niara kalau ada yang mendekati kalian harus siap menanggung resiko mengerti semuaaa silahkan kalian bergabung dengan kelompok masing-masing” ucap kepala sekolah dengan suara yang cukup keras.


“Siap pak,” ucap para siswa dengan suara serentak lalu mereka bergabung dengan kelompok mereka masing-masing.


Mereka langsung keluar dari loby dan langsung menuju Pantai Cindai untuk melakukan beberapa kegiatan.Geng ASAP sedang berjalan menyusuri pinggir pantai bersama dengan Bima mereka ternyata satu kelompok.


“Haduh! Harus banget ya satu kelompok sama geng kampungan ini tapi, kalau gue enggak gabung nanti gue malah kena masalah,” batin Bima dengan muka kesal.

__ADS_1


“Eh, Bim sebenarnya kita enggak sudi kelompok sama loe cuma karena nilai jadi, kita oke oke aja,” ucap Sandy dengan muka masam.


“Iya kalau loe mau ya ayo kalau enggak ya udah kita tinggal ngomong sama panitia,” ucap Aluna dengan nada pelan.


“Cepetan jawab!” Perintah Al dengan suara cukup lantang.


“Ini kenapa mereka jadi, baik gini pasti mereka semua punya rencana sebenarnya ada untungnya juga sih, gue bisa satu kelompok sama mereka sekalian aja gue kerjain mereka biar tau rasa,” batin Bima sambil tersenyum.


“Malah senyum masih untung ya kita nerima loe,” ucap Prilly dengan nada ketus.


“Oke gue mau satu kelompok sama kalian tenang aja untuk masalah kayak gini gue enggak mau cari ribut,” ucap Bima dengan nada pelan.


“Oke kita pegang omongan loe ya awas aja kalau loe cari masalah gue coret dari daftar anggota dan loe bakal enggak dapat nilai,” ucap Aluna dengan nada cukup lantang.


“Lihat aja kalian semua mungkin tempat ini akan jadi tempat terakhir kalian dan pulau itu bakal jadi saksi kematian kalian,” batin Bima sambil tersenyum.


"Gue harus hati-hati sama Bima kayaknya dia punya niat yang buruk," batin Aluna sambil memperhatikan wajah Bima.


Mereka pun berjalan menyusuri Pantai Cindai yang cukup ramai pengunjung di sertai pemandangan yang elok,ombak yang menjuntai serta pasir putih sungguh sangat menyegarkan mata dan menenangkan hati serta pikiran.


"Ramai juga ya pantai nya gue pikir bakal sepi wkwkwkwk, " ucap Sandi dengan nada pelan.


"Ya rame lah namanya juga pantai kalau sepi ya kuburan dasar kampungan, " ucap Bima dengan nada ketus.


"Ini dari Jakarta ya?" tanya seorang kakek-kakek tapi belum terlalu ia sedang membawa beberapa ikan di dalam ember.


"Iya kek, salam kenal kami dari dari SMA Pelita Nusantara saya Aluna, ini Ali, ini Sandy,ini Prilly, ini Sandy dan itu di ujung itu Bima," ucap Aluna sambil tersenyum.


"Iya Salam kenal saya Danur salah satu penduduk di sekitar pantai ini saya ini seorang nelayan," ucap Kakek Danur dengan nada pelan.


"Salam kenal kek," ucap Al,Sandy, dan Prilly bersamaan sembari tersenyum.


Kakek Danur mengarah kan pandangan nya ke Bima.Bima terlihat cuek dan diam saja ia sama sekali tidak memperdulikan teman se tim dan Kakek Danur perlahan ia berjalan menjauhi mereka.


"Eh, Bim loe mau kemana? Parah banget tuh, orang ada orang yang mau kenalan main nyelonong aja," ucap Ali dengan nada geram lalu mengejar Bima.

__ADS_1


"Maaf ya kek, atas kelakuan temen saya itu orang emang rada-rada, " ucap Aluna dengan nada pelan.


"Iya engga papa saya permisi dulu ya," ucap Kakek Danur lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Iya kek, hati-hati sekali lagi mohon maaf ya kek," ucap Aluna sambil tersenyum.


"Parah banget ya si Bima katanya enggak mau cari masalah lha ini belum mulai kegiatan udah bikin masalah," ucap Priu dengan ekspresi kesal.


"Iya kelakuannya itu bikin malu," sambung Sandy dengan nada pelan.


"Kita susul Ali sama Bima yuk, gue takut mereka malah berantem," ucap Aluna yang langsung berjalan meninggalkan lokasi.


Aluna, Prilly dan Sandy menyusul Ali dan Bima.Sementara itu Ali tampak mengikuti langkah Bima dan langsung berdiri di hadapan Bima.


"Dasar orang enggak punya etika maksud loe apa?" tanya Ali dengan nada emosi.


"Lagian itu kakek-kakek sok akrab banget penampilannya juga norak enggak banget," ucap Bima dengan nada santai.


"Astaghfirullah bim, bener-bener kelewatan ya loe, enggak habis pikir gue," ucap Ali sambil geleng-geleng.


"Ali Bimaa udah jangan ribut di sini malu di liat banyak orang Bim, gue tau benci sama kita cuma kalau sama orang di sini plis jaga etika apa susah nya sih, senyum," ucap Aluna dengan tatapan tajam.


"Terserah loe pada ya gue males nanti panggil gue ya kalau ada sesuatu gue mau menikmati suasana di sini," ucap Bima dengan nada santai lalu pergi meninggalkan Geng ASAP.


"Heh! Bima tunggu dulu kita belum selesai!" teriak Ali.


"Udah li, enggak usah ngejar dia males mending kita nyapa warga-warga sekitar aja," ucap Sandy dengan nada pelan.


"Eh, kalian liat deh, itu Pulau Niara ya," ucap Prilly sambil menunjuk pukul tersebut.


"Iya, itu pulau terlarang di pantai ini tapi, kok gue malah penasaran ya," ucap Aluna dengan nada pelan.


"Sama gue juga penasaran kayaknya ada yang tersembunyi, ucap Ali dengan nada pelan.


"Eh, itu apa ya kok gue liat sesuatu," ucap Sandy sambil memperhatikan pulau tersebut.

__ADS_1


__ADS_2