
Kriing..! Kriiingg..! Kriing…!
Edi terbangun oleh bunyi jam weker di meja dekat tempat tidur. Memang Edi adalah orang yang nyentrik, dia lebih memilih jam weker yang ada gambar ayam mengangguk-ngangguk, daripada memakai alarm di smartphone nya. Untuk beberapa saat Edi tertegun heran.
Bukan karena bunyi jam weker yang bikin Edi heran, karena bunyi jam weker dari dulu juga gitu-gitu aja. Edi heran karena saat itu masih jam tiga pagi! Jadi buat apa dia memasang alarm di pagi buta gini?! Lalu dia ingat kalo hari ini adalah hari minggu, dan dia sudah janjian mau memancing bersama pak Bejo di waduk utara.
Edi mengendap-endap keluar kamar dengan perlahan agar tidak membangunkan istrinya. Karena kalau istrinya sampai ikut kebangun, maka rencana memancing hari itu akan gagal total, tentu saja istrinya tidak akan mengizinkannya untuk berangkat memancing.
Setelah menyiapkan semua peralatan tempurnya untuk menangkap ikan, Edi pun meng gas motor honda bututnya menuju ke rumah pak bejo. Hawa sangat dingin menerpa, hingga dia harus pelan-pelan menjalankan motornya. Sepuluh menit perjalanan, sampailah di rumah pak Bejo, ternyata dia sudah menunggu di depan rumahnya.
"Sudah siap pak?" tanya Edi.
"Tinggal lumutnya aja.. nanti kita mampir dulu di pasar kerbau buat beli lumut.." jawab pak Bejo.
"Emang udah dapet ijin dari istri..? tanya Edi.
"Jelas sudah donk.. dari kemarin sudah minta ijin.."
"Kok gampang banget dapet ijin gitu ya pak.. aku aja harus sembunyi-sembunyi dari istri.." kata Edi.
"Perempuan itu kalo ditinggali duit lebih dari biasanya, pasti nggak akan ngomel lagi.." jawab pak Bejo enteng.
"Jadi itu ya rahasianya.. hahaha.." kata Edi disusul dengan tawa. "Lain kali mau kucoba aja.."
"Udah yuk berangkat, keburu siang ntar.."
Dengan berboncengan, mereka berangkat menuju ke waduk, membelah jalanan yang masih sangat sepi dan sedikit berkabut. Kali ini tehnik memancing yang mereka gunakan adalah tehnik yang sering disebut sebagai 'nyobok', dengan tangkai pancing yang sangat panjang yang sering disebut 'tegek', umpan yang dipakai adalah lumut, dan pemancing harus nyemplung ke air sampai sedalam dada. Ikan yang ditarget adalah ikan nila.
Singkat cerita, mereka sampai di pasar kerbau. Meskipun baru jam 5 pagi dan matahari belum terbit, tapi pasar itu sudah sangat ramai, banyak juga para pemancing yang membeli peralatan disitu, hingga Edi dan pak Bejo harus ikut berdesakan untuk membeli lumut.
Setelah mendapat lumut, mereka mampir di salah satu warung untuk sarapan, juga membeli nasi bungkus dan lauk untuk makan siang nanti. Beres semua urusan di pasar itu, mereka lanjut lagi perjalanan menuju ke lokasi pemancingan.
Matahari sudah tampak di ufuk timur saat mereka tiba di pinggiran waduk. Tanpa buang waktu mereka pun mulai menyiapkan semua peralatan pancing tehnik 'nyobok'. Setelah meninggalkan tasnya di pinggir waduk, Edi langsung nyemplung ke air untuk mulai mancing, sedangkan pak Bejo masih duduk santai sambil merokok. Mendadak Edi terpekik saat kakinya menyentuh air waduk.
"Whuaa.. airnya kayak es! Adem banget..!"ucap Edi
"Haha.. salah sendiri.. ngapain keburu-buru? Masih pagi gini jelas airnya masih dingin lah.." jawab pak Bejo sambil teruskan tawanya.
"Spotnya keburu dipake orang lain pak.." jawab Edi.
"Masih banyak spot yang lain, kenapa harus bingung? Ntar aku mau di sana saja.." kata pak Bejo sambil menunjuk jauh ke arah sebelah kirinya Edi.
Kepalang tanggung, celananya Edi sudah basah, jadi dia nekat terusin berjalan dengan memijak di dasar air. Setelah air sudah sedalam dada, Edi mulai menebar lumut alias 'ngebom', hal ini bertujuan untuk memancing ikan nila agar mendekat ke situ. Lalu Edi memasang umpan di mata kailnya berupa lumut atau hydrilla yang panjang-panjang seperti rambut. Barulah setelah itu dia cemplungkan kailnya dengan memakai joran sepanjang 5,5 meter.
Setengah jam, tapi belum juga ada ikan yang nyangkut. Sementara matahari makin terasa panas. Pak Bejo terlihat sudah mulai memancing juga, berjarak sekitar 20 meter di sebelah kirinya Edi. Sedangkan 15 meter di sebelah kanan Edi ada seorang pemancing lain juga. Dia adalah seorang pemuda berusia 25 tahunan, sepantaran dengan Edi. Orang itu memakai kaos panjang berpenutup kepala alias hoodie berwarna biru. Panjang joran pancingnya sekitar 6 meteran, Cuma tiga orang itu saja yang yang memancing di spot itu termasuk Edi dan pak Bejo.
"Heran, biasanya banyak sekali yang mancing disini, apa mereka sudah tau kalau disini lagi susah dipancing ya..?" batin Edi.
Baru saja membatin, pelampungnya tampak bergerak-gerak dan tenggelam dari permukaan air. Edi langsung sentakkan jorannya.
"Dapat!!"
Seekor ikan nila sebesar tiga jari menggelepar-gelepar di ujung senarnya.
"Tiga jari.. lumayan lah buat pembukaan.. moga aja ntar makin banyak ikan.." batin Edi lagi.
__ADS_1
Tapi harapan tinggal harapan, sampai menjelang tengah hari, Edi tidak mendapat ikan lagi, cuma satu saja yang dia dapat sejauh ini. Maka dia memutuskan untuk keluar dari air, beristirahat sambil makan siang. Edi duduk di tanah kering di pinggiran waduk dan mulai menikmati nasi bungkusnya. Tak lama kemudian, pak Bejo terlihat datang menghampiri, dia membawa tiga ekor ikan sebesar empat jari.
"Gimana pak? Bagus nggak?" tanya Edi.
"Susah ini, cuma dapet tiga ini.." jawab pak Bejo sambil menunjukkan jaring tempat ikannya.
"Pantesan aja cuma tiga doank yang mancing, orang lagi susah pancingannya.." kata Edi.
"Yang di sebelahmu itu tadi dapet nggak..?"
"Dari tadi pagi nggak lihat dia ngangkat jorannya.. kayaknya nggak dapet juga itu.." jawab Edi.
"Atau kita pindah lokasi aja..?" kata pak Bejo sambil membuka nasi bungkusnya.
"Nanggung pak.. udah jam segini, di sabar-sabarin aja disini.." jawab Edi.
Mereka ngobrol sambil menghabiskan makan siangnya. Setelah itu merekapun kembali teruskan memancing. Edi berpindah spot menjadi lebih dekat ke pak Bejo, jarak mereka kini sekitar 10 meter. Dan orang yang memancing di sebelah kanan Edi tadi ikut berpindah di dekat Edi. Jarak mereka sama, yaitu 10 meter.
Tiga jam berlalu, Edi sudah mengangkat dua ikan nila lagi sebesar telapak tangan, jadi jumlah perolehannya tiga ekor. Sedangkan pak Bejo dapat lima ekor, dan orang berhoodie di dekat Edi tadi cuma dapet satu ekor. Mereka mulai tampak putus asa. Dan langitpun sudah mulai mendung tebal. Maka Edi memutuskan untuk menyudahi mancing hari itu.
Mendung menggelap dengan cepat, gelegar petir dan tiupan angin semakin kencang. Edi duduk di tanah kering di pinggir waduk, tepat dibelakang orang berhoodie tadi. Edi mempercepat kegiatannya mengepak semua peralatan pancingnya. Dan pak Bejo pun menyusulnya.
"Kita pulang saja.. bentar lagi juga hujan ini.." kata pak Bejo.
"Iya ini juga lagi packing.." jawab Edi.
"Apes bener hari ini, dapet ikan cuma dikit gini, padahal biasanya spot ini bagus lho.."
"Masih mending dapet lima pak.. lha aku cuma tiga.."
Belum selesai mereka packing, tau-tau hujan turun seperti dicurahkan dari langit, sangat deras disertai angin kencang dan gelegar petir tak berkesudahan. Edi dan pak Bejo segera memakai jas hujannya dan hendak beranjak meninggalkan waduk. Saat itulah mata Edi tertumbuk pada orang berhoodie yang masih aja nyemplung di air sambil asik mancing. Dengan keheranan, Edi mulai perhatikan orang itu. Dan saat orang itu mengangkat jorannya tinggi-tinggi ke udara..
Satu kilatan petir sangat besar menyambar tepat di joran pancing orang itu. Edi dan pak Bejo berteriak keras bersamaan. Joran itu hancur berkeping-keping, sedangkan tubuh orang itu mengeluarkan asap. Perlahan tubuh itu mulai tenggelam ke dalam air sedalam dada.
Untuk beberapa detik Edi dan pak Bejo terdiam mematung. Apa yang terjadi di depan mata mereka menimbulkan keterkejutan teramat sangat. Badan Edi terlihat gemetaran, seumur hidup belum pernah dia melihat kejadian tragis semacam ini.
Pak Bejo lebih dulu sadar, dia langsung berlari dan menceburkan diri ke air waduk, berenang ke arah tenggelamnya orang tadi. Lalu Edi pun menyusul. Mereka berdua menyelam sampai ke dasar, hingga akhirnya mereka menemukan tubuh orang berhoodie tadi.
Sambil berenang, Edi dan pak Bejo menyeret tubuh orang berhoodie itu ke pinggiran waduk. Dan saat tubuh orang itu sudah diangkat ke darat, Edi dan pak Bejo baru menyadari kalau orang berhoodie tadi sudah meninggal dengan tubuh yang mengerikan.
Wajah orang itu hitam gosong, kulitnya mengelupas-ngelupas, pecah-pecah dan mengeluarkan darah, sebagian rambutnya habis seperti terbakar. Tangan kanan yang memegang joran tadi hancur sebatas pergelangan tangan, jari-jari dan telapak tangan itu seperti habis dimasukkan ke dalam mesin penggiling daging.
Tanpa sadar Edi mundur, apa yang dilihatnya itu terlalu mengerikan. Mereka berdiri mematung di tengah curahan hujan lebat dan angin kencang, mereka terlalu shock sampai nggak tau harus berbuat apa lagi. Lima menit berlalu, dan pak Bejo segera sadar.
"Kita harus menelepon polisi.." kata pak Bejo.
"Ba-bagaimana mu-mungkin.." kata Edi dengan terbata-bata.
"Maksudmu gimana?" tanya pak Bejo heran.
"Wa-waduk itu tempat terendah, bagaimana bus-bisa.. petir menyambar di tempat terendah?" kata Edi.
Pak Bejo bertambah heran, dalam keadaan seperti ini Edi masih berpikir soal itu, berpikir soal hukum fisika!
"Kamu lupa kalo joran pancing orang ini panjangnya 6 meter,dan joran itu terbuat dari serat karbon, tentu saja bisa menghantarkan listrik. Lagian tadi orang ini sedang mengangkat jorannya tinggi-tinggi.." jawab pak Bejo.
__ADS_1
"Ap-apa yang harus ki-kita lakukan sekarang pak?" tanya Edi, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetaran.
"Menelepon polisi.."
Pak Bejo membuka tasnya dan mengubek-ubek isinya, lalu dia mengeluarkan satu bungkusan plastik bening berisi hp nya. Setelah itu sia tampak bicara lewat telepon dengan berteriak, karena hujan yang sedemikan lebat membuatnya tidak bisa didengar.
Setelah menelepon, pak Bejo mengajak Edi untuk pindah tempat, kini mereka berlindung di bawah sebuah pohon, karena sampai saat itu petir masih saja bersahut-sahutan, ditingkahi hujan lebat dan angin badai. Pak Bejo tampak mengutak-atik hpnya. Pikiran mereka nggak karuan, baru kali ini Edi melihat orang tersambar petir tepat di depan matanya, sedangkan pak Bejo baru kali ini melihat korban sambaran petir yang sedemikian parahnya.
"Apa.. apa polisi tau tempat ini pak?"
"Aku sudah mengirim lokasi ini, jadi pasti mereka tau tempat ini.."
"Polisi ini temennya pak Bejo?" tanya Edi.
"Ya kebetulan aku punya teman seorang polisi, biar dia aja yang menghubungi polsek dekat sini.."
"Kita cari bantuan penduduk sekitar aja pak..?"
"Tempat ini jauh dari pemukiman. Jadi sekalian hubungi polisi aja.." jawab pak Bejo.
"Aku tidak pernah menyangka ada kejadian seperti ini.. bahkan badanku aja masih gemetaran sampai sekarang.." kata Edi.
"Kejadian semacam ini pernah terjadi sebelumnya, aku pernah mendengarnya.. orang tersambar petir pas lagi mancing di waduk, saat hujan turun dan petir menyambar.." kata pak Bejo.
"Apakah jorannya juga yang disambar..?" tanya Edi.
"Iya.. sama persis kayak tadi.."
"Mengerikan sekali.. sehabis ini tentu aku nggak bisa tidur.."
"Makanya tadi aku mengajakmu pulang, karena mancing di saat hujan itu memang bahaya banget.. ternyata kejadian juga.. masih beruntung bukan kita yang mengalami.." kata pak Bejo.
"Nggak bisa bayangin deh pak.." jawab Edi sambil bergidik ngeri.
Mereka lalu sama-sama terdiam, menunggu di bawah pohon itu. Sementara jasad orang berhoodie tadi masih ditinggal di tepian waduk, dibawah curahan hujan lebat. Satu jam berlalu, saat itulah sekilas mereka melihat kilatan lampu biru dan merah, lampu mobil polisi.
Bergegas mereka naik menuju ke jalan aspal. Disana sudah ada sebuah mobil dan dua orang polisi bersama dua orang warga sekitar. Pak Bejo menceritakan secara singkat apa yang telah terjadi, lalu mereka berenam pun kembali turun menuju waduk, menghampiri jasad orang berhoodie tadi.
Salah satu polisi segera melakukan beberapa panggilan lewat radio, dan polisi satunya mulai menyisir daerah sekitar situ. Edi dan pak Bejo cuma duduk di tanah, tak jauh dari jasad yang tergeletak itu. Sesekali mereka menjawab pertanyaan dua polisi dan dua warga itu.
Setengah jam berlalu, terdengarlah raungan sirene mobil ambulans. Salah satu polisi segera naik kembali ke jalan aspal. Tak lama kemudian dia balik lagi bersama dua petugas medis membawa tandu pengangkut. Bersama-sama mereka memasukkan jasad orang berhoodie ke dalam kantung mayat dan menaikkannya ke atas. Lalu dengan menggotong tandu mereka mulai beranjak naik.
Jalan itu sangat terjal, apalagi hari lagi hujan, membuat jalan makin licin dan evakuasi itu semakin sulit saja. Edi dan pak Bejo ikut membantu mengusung tandu itu. Saat dalam perjalanan, tampak seorang warga lagi ikut bergabung, dia ikut mengangkat tandu, tepat di depan Edi.
Langit sudah benar-benar menggelap saat mereka sampai di atas. Makin banyak mobil polisi, ambulan dan juga warga sekitar. Beberapa petugas medis kembali datang untuk ikut mengusung tandu. Maka Edi dan pak Bejo melepas tandu itu. Mereka berdua berdiri di pinggir jalan aspal.
Ada satu warga yang berdiri di sebelah Edi, dia adalah orang yang tadi ikut membantu mengangkat tandu, tepat di depan Edi. Tanpa sadar Edi memperhatikan orang itu, wajahnya tertutupi hoodie dari kaos yang dipakainya. Entah kenapa perasaan nggak enak mulai merayapi hati Edi.
"Terima kasih mas.." kata orang itu tiba-tiba.
"Terima kasih buat apa?" tanya Edi.
"Terima kasih telah memanggilkan polisi dan ikut membantu mengangkat jasad ini.."
"Kenapa berterima kasih pada saya? Apa sampeyan ini saudaranya korban ya..?" tanya Edi makin penasaran.
__ADS_1
Orang itu menoleh ke arah Edi, tanpa menjawab, perlahan dia membuka hoodie alias penutup kepalanya, dan dibawah penerangan lampu ambulan, terlihat jelas bagaimana wajah orang itu.
Wajah itu hitam gosong, kulitnya mengelupas dan pecah-pecah mengeluarkan darah. Dia mengangkat tangan kanannya. Dan tangan itu hancur sampai pergelangan. Orang itu adalah korban dari sambaran petir tadi! Dan sebelum pandangan Edi menggelap karena kehilangan kesadaran, masih sempat terdengar suara mengiang di telinganya.