Ghost Story (Cerita Sang Pemancing)

Ghost Story (Cerita Sang Pemancing)
Cerita Si Pemancing (Berkemah Bag.1)


__ADS_3

Sore itu, sebuah mobil carteran merayap di jalan tanah di batas desa. Jalan itu adalah akses menuju ke waduk, kondisinya sangat buruk, hanya berupa tanah becek yang dilapisi batu-batu besar yang menonjol di sana sini. Hujan semalam memperparah kondisi jalan itu hingga mobil itu hanya bisa berjalan sangat pelan menuju ke pinggiran waduk.


 Mobil carteran itu mengangkut enam orang penumpang ditambah sopir, mereka adalah pak Bejo beserta sobat mancingnya yaitu Juned, Edi, si Jon, mamat dan Supri. Ya.. mereka kini telah menjadi suatu tim mancing yang solid, sering mancing bareng kemana-mana.


 Dan kali ini mereka mancing rombongan dengan mencarter mobil. Rencananya adalah menginap semalam di pinggiran waduk. Sudah tersedia dua tenda dome, dan mereka juga membawa peralatan memasak portabel yang biasa digunakan untuk naik gunung. Tadi mereka berangkat jam 3 sore dari rumah.


 Karena bawaan yang banyak itu, maka mereka memutuskan untuk mencarter mobil dengan dibayar patungan. Mereka memilih berangkat waktu sore untuk menginap karena ingin mencari suasana baru dalam memancing. Selama ini mereka belum pernah memancing sambil mendirikan tenda.


 Satu kilometer mobil merayap di jalan yang buruk itu, mendadak saja mesinnya mati begitu saja. Semua saling berpandangan. Sopir berusaha menyalakan mesin lagi, tapi mobil nggak bisa jalan seakan ada yang nyangkut.


 "Maaf pak.. nggak bisa diteruskan lagi.. jalannya terlalu jelek sampai mobil nggak bisa jalan lagi.." kata si sopir.


 "Lah.. trus gimana?" tanya pak Bejo. "Harus jalan kaki dari sini gitu?"


 "Ya terpaksa gitu pak.." kata si sopir.


 "Yaudah kalo gitu.." kata pak Bejo. "Ayok, angkutin semua barangnya, kita jalan kaki mulai dari sini.."


 "Masih jauh nggak sih pak?" tanya Mamat.


 "Nggak nyampe sekilo lagi kok.." jawab pak Bejo.


 "Deket tuh.. dulu di waduk selatan aja gue pernah jalan tiga kilo.." kata Juned.


 "Kalo itu salah lu sendiri, kenapa mau jalan kaki.. hahaha.." sahut Mamat dan segera disambut tawa dari yang lain.


 "Tapi tolong ntar dibantuin mendorong mobilnya dulu ya pak?" sahut si sopir. "Soalnya ban belakang selip kejebak di lumpur.."


 "Gampanglah kalo itu.." jawab pak Bejo.


 Akhirnya seluruh tim keluar dari mobil, meletakkan barang-barang dipinggir jalan, lalu mendorong mobil agar ban belakang bisa keluar dari kubangan lumpur dan memutar arah. Setelah mobil berlalu, mereka teruskan perjalanan dengan berjalan kaki sambil menenteng barang-barang untuk berkemah juga semua peralatan pancing.


 Cuma pak Bejo saja yang tau lokasi itu, dia pernah mendatangi spot itu sebelumnya, jadi yang lain cuma ngikut pak Bejo aja. Baru berjalan 500 meter, mereka menemui sebuah pertigaan ke kanan, jalan itu juga berlapis tanah becek. Pak Bejo berbelok ke kanan, dan yang lain pun mengikuti.


 Di kiri kanan jalan terdapat banyak sekali pohon besar dan semak belukar lebat. Jalan itu tidak lurus, tapi melengkung ke kiri seakan berputar dan terus ke kiri hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tanah lapang berpasir tepat di pinggir air waduk. Lalu mereka menemukan ujung dari jalan utama tadi.


 Juned lah yang menyadarinya, jalan melengkung kecil tadi cuma jalan memutar saja. Padahal kalo lewat jalan utama, perjalanan akan jauh lebih cepat. Entah kenapa pak Bejo mengajak mereka berputar. Tapi Juned nggak bertanya, dia cuma diam aja karena yang lain-lain nggak menyadari jalan berputar tadi.


 "Kita dirikan tenda disini aja.." kata pak Bejo.


 "Apa nggak terlalu dekat dari air pak?" tanya Supri.


 "Emang kenapa kalo deket..?" pak Bejo balik bertanya.


 "Ntar kalo air pasang, tendanya bisa kerendem donk.." jawab Supri.


 "Woo… emangnya ini di sungai atau pantai gitu?!" sahut Juned.


 "Air waduk nggak akan pasang secepat sungai atau pantai.." kata pak Bejo.


 "Gitu ya.. nggak ngerti sih pak.." kata Supri.


 Dan kesibukan mendirikan tenda pun dimulai. Mereka adalah orang-orang yang juga berpengalaman dalam hal naik gunung dan camping, jadi mendirikan tenda bukanlah suatu hal yang sulit. Dalam tempo 15 menit saja, dua tenda dome ukuran jumbo pun sudah berdiri.

__ADS_1


 Matahari sudah mulai terbenam saat mereka mulai menata peralatan pancing masing-masing. Mamat dan si Jon membuka peralatan masak dan mulai menanak nasi, mie instan dan telur yang mereka bawa sebagai bekal. Masakan ini untuk makan malam nanti.


 Sementara itu Juned mulai berkeliling ke sekitar pinggiran waduk, mencari dahan dan ranting kering untuk api unggun. Dengan memanfaatkan cahaya matahari yang masih tersisa, ternyata Juned tidak berhasil menemukan satu batang kayu pun. Padahal langit sudah benar-benar menggelap sekarang, dan Juned malas balik ke tenda cuma buat mengambil senter


 Akhirnya mereka pun mulai mencari ke tempat yang agak lebih keatas lagi, menjauh dari waduk. Sampailah dia di sebuah tempat yang agak lapang dan bergelombang, banyak gundukan di sana-sini. Juned mulai menemukan apa yang dicarinya, sebuah papan kayu tebal selebar 10 senti dengan panjang satu meter.


 Tapi papan itu setengah terbenam di tanah., jadi Juned harus mencabutnya. Lalu Juned menemukan papan lain yang juga terbenam dalam tanah, hingga akhirnya dia menemukan enam buah papan kayu yang harus dicabutnya. Setelah dirasa cukup, maka Juned balik ke tenda.


 Sampai di tenda, Juned mulai menyusun papan kayu itu dan membakarnya sebagai api unggun. Lalu mereka mulai makan malam bersama, di depan api unggun, di pinggiran waduk yang sangat luas. Sungguh suatu nikmat yang tak terkira bagi jiwa-jiwa petualang seperti mereka.


 Selesai makan, mereka cuci piring di air waduk, lalu menikmati kepulan asap rokok sambil ngobrol bareng. Si Jon terlihat sibuk dengan tasnya, sepertinya dia lagi mencari-cari sesuatu. Pak Bejo tampak mendekati Juned dan duduk di sebelahnya, lalu dia mulai berbisik-bisik.


 "Ned, lu dapet papan kayu tadi dari mana?"


 "Dari atas situ pak.. banyak banget papan kayunya, tapi kayak sengaja ditanam gitu.." jawab Juned.


 "Sengaja ditanam gimana?" tanya pak Bejo.


 "Ya semua kayu terbenam setengah di dalam tanah.." jawab Juned.


 Wajah pak Bejo langsung berubah. "Bego banget sih lu..! Waduh.. ntar malem kita pasti dapet masalah nih.."


 "Lha gimana to pak? Masalah apa?" tanya Juned kebingungan.


 "Lu tau nggak, papan kayu itu adalah patok-patok kuburan! Di atas situ itu ada TPU!"


 "Lah.. masak sih pak ada kuburan dipinggir waduk?!" tanya Juned.


 "Kalo lu nggak percaya, kita kesana aja!" sahut pak Bejo.


 "Iya emang.."


 "Wah.. sampeyan ini ngerjain kita-kita pak.." gerutu Juned. "Pantesan aja tadi pas dateng harus muter dulu, ternyata buat menghindari kuburan to.."


 "Biar anak-anak nggak ngelihat aja.. kalo mereka tau, mereka nggak bakal mau camping disini..hehehe.." pak Bejo tertawa ngekeh.


 "Sampeyan kebangeten pak.." kata Juned.


 "Lu jangan bilang ke anak-anak kalo di atas ada kuburan, ntar malah pada ngajak pulang tengah malam lagi.." pak Bejo memperingatkan.


 "Terserah sampeyan aja lah pak.." jawab Juned. "Trus soal patok kuburan yang udah kebakar itu gimana pak?"


 "Ya itu tanggung jawab lu, nggak tau ntar malem bakal didatengin apa.. haha.." pak Bejo tertawa kembali.


 "Ini juga karena sampeyan nggak ngasih tau kalo ada kuburan disitu.." elak Juned.


 "Lagian kenapa lu nyari kayu nggak bawa senter?! Sampe nggak tau kalo itu patok kuburan?"


 Dengan penasaran Juned mengambil salah satu kayu yang belum terbakar, kayu itu sepanjang satu meter, dengan lebar sekitar sepuluh senti, dan tebal empat senti. Kayu itu juga sudah diperhalus dan dicat warna kuning kehijauan, kedua ujungnya membulat. Dan ada sebuat tulisan nama seseorang, tanggal lahir dan tanggal meninggal!


 Juned baru ingat, waktu pertama kali orang dimakamkan, maka kuburannya akan diberi tanda berupa patok ini. Baru kemudian diganti dengan batu nisan. Kayu ini benar-benar kayu patok kuburan. Juned jadi merasa bersalah, tapi tidak mungking mengembalikannya lagi karena sebagian kayu itu sudah dibakar untuk api unggun.


 Saat itulah si Jon terlihat datang menghampiri sambil menenteng tasnya, dia langsung ngejogrok di sebelah Juned, membuka tasnya dan memperlihatkan isinya pada Juned. Ternyata si Jon membawa empat botol miras dan banyak sekali makanan ringan. Entah sejak kapan dia membeli miras itu.

__ADS_1


 "Lu mau nggak Ned?" tanya si Jon.


 "Wah.. cocok nih buat dingin-dingin gini.." jawab Juned


 "Walah.. lu sempat-sempatnya bawa gituan Jon.." sahut pak Bejo.


 "Hehe.. cuma buat anget-anget aja pak.." jawab si Jon.


 "Asal jangan banyak-banyak aja, salah salah bisa nyebur ke waduk lu ntar.." jawab pak Bejo sambil beranjak bangun.


 "Sampeyan nggak ikut pak?" tanya si Jon.


 "Nggak lah.. gue mau mancing aja.."


 Pak Bejo pun beranjak ke tenda mengambil peralatan pancingnya. Edi pun menyusul pak Bejo. Mereka berdua mancing dengan teknik casting dasaran dengan timah pemberat yang besar agar umpan tetap diam di dasar air. Sebenarnya mereka memancing malam cuma untuk mengisi waktu luang aja sebelum tidur.


 Si Jon mulai membuka botol pertama, dengan gelas dia mulai berbagi miras itu bersama Juned. Mamat dan Supri pun akhirnya ikut bergabung dengan mereka. Jadilah pesta miras di depan api unggun di pinggir waduk. Sungguh suatu hal yang tidak patut ditiru, niat mancing kok malah pesta miras.


 "Malam hari mancing pake teknik dasaran, tanpa pelampung dan phospor, gimana bisa tau kalo ada sambaran ikan?" tanya Supri heran.


 "Pake perasaan lah.." sahut Juned.


 "Perasaan gimana?" tanya Supri.


 "Elu kan megang jorannya, jadi lu bisa rasain sambaran ikan lewat joran yang lu pegang itu.." jawab Mamat.


 "Susah amat.." jawab Supri.


 "Emang susah.." timpal si Jon. "Harus latihan dulu bertahun-tahun biar bisa ngerasain.."


 "Dan pastinya mancing teknik ini bukan buat amatiran.. haha.." sahut Juned mengejek Supri, yang segera disambut tawa si Jon dan Mamat.


 Dua jam berlalu, mereka sudah mulai merasakan efek alkohol itu. Pak bejo dan Edi sudah beranjak dari pinggiran waduk, sepertinya mereka sudah mengakhiri acara mancing malam itu. Tampak tiga ekor ikan nila sebesar telapak tangan berhasil mereka peroleh. Merekapun ikut bergabung dengan yang lagi pesta miras.


 "Kalian jangan terlalu malam, besok kalo nggak bisa bangun malah nggak jadi mancing ntar.." kata pak Bejo mengingatkan.


 "Dapet nggak pak?" tanya Supri.


 "Cuma tiga.." kata pak Bejo sambil memperlihatkan perolehannya.


 "Wah, berarti besok jaminan bagus kalo pake lumut.." kata Supri.


 "Tergantung yang mancing juga lah.." sahut si Jon.


 "Tapi setidaknya ada ikan disini.." sahut Supri.


 "Gue tidur duluan aja.." kata pak Bejo berpamitan.


 "Monggo pak silahkan.." sahut Juned.


 Pak Bejo dan Edi masuk kesalah satu tenda, sementara yang lain masih teruskan pesta miras itu. Hingga menjelang tengah malam, tiga setengah botol miras sudah tertelan habis, mereka mulai meracau nggak karuan. Yang paling parah adalah Supri. Maka mereka pun memutuskan berhenti.


 Mamat mendukung Supri masuk ke tenda yang satunya, berbeda dengan tenda yang dipakai pak Bejo dan Edi. Sementara si Jon sudah terkapar tepat di depan tenda itu, tinggal Juned aja yang masih sadar, meskipun kepalanya juga sudah terasa berputar-putar nggak jelas.

__ADS_1


 Juned ingin tidur di luar tenda, menemani si Jon yang sudah ngorok-ngorok nggak jelas. Tapi kemudian Juned teringat soal patok kuburan yang dia bakar buat api unggun itu, maka dia masuk ke tenda, mengubek-ubek tasnya dan mengambil golok pendek andalannya. Dan dengan golok itu, Juned merebahkan diri di pasir tanpa alas, tepat di sebelah si Jon.


__ADS_2