
"Besok mau berangkat kemana?" tanya Ipung.
"Belom ada rencana gue.." jawab Wisnu.
"Besok minggu lho.. mau jadi apa kalo nggak mancing?" ledek Ipung.
"Males gue.. bosen nyobok terus.." jawab Wisnu.
"Lah.. katanya, denger-denger ini di waduk pancingan lagi bagus.." kata Ipung.
"Iya emang bagus, tapi ikannya cuma seukuran dua jari, banyak banget lagi. Lu bisa dapet 20 ekor dalam semenit, tapi ya itu, cuma segede dua jari.." jawab Wisnu.
Malam minggu itu mereka sedang membicarakan rencana mancing buat besok, memang hampir tiap minggu mereka berangkat mancing ke waduk yang berbeda-beda. Dan kesukaan mereka adalah teknik mancing nyobok dengan umpan lumut dan joran tegek sepanjang 6 meter.
"Minggu kemaren pas gue berangkat ke waduk selatan, gue sempat lihat ada orang lokal yang masang jaring net bentang, dapet banyak dia, gede-gede lagi! paling kecil aja sebesar telapak tangan.." kata Wisnu.
"Tapi kenapa kalo mancing dapetnya kecil-kecil gitu?" tanya Ipung
"Justru itu yang bikin gue bingung.. ikannya gede-gede, tapi dipancing nggak mau.." jawab Wisnu.
"Mungkin kalah sama yang kecil.. ikan yang gede kan ada di dasar air, dan sebelum umpan nyampe ke dasar, udah disambar duluan sama yang kecil-kecil.." kata Ipung.
"Iya gue mikirnya juga gitu.." Wisnu mengiyakan. "Tapi abis ngelihat yang menjaring itu, gue jadi kepikiran buat nyoba itu jaring net juga.."
"Walah..! kita ini pemancing lho..! Niatnya mancing..! bukan nyari ikan.." ledek Ipung.
"Buat selingan nggak papa lah.. lagian lama-lama bosen juga nyobok terus, pengen teknik baru aja.." kata Wisnu. "Lagian kalo pake jaring jelas dapetnya gede-gede.."
"Emang lu punya jaring bentang gitu?" tanya Ipung.
"Nggak lah.. ntar minjem aja.." jawab Wisnu.
"Okelah.. sepertinya emang harus coba cara baru.." kata Ipung. "Fix ya.. Besok berangkat nge-net.."
Akhirnya tercapailah sebuah kesepakatan antara mereka, hari minggu pagi besok mereka akan mencoba hal yang belum pernah dilakukan, tapi meskipun begitu, sebagai pemancing, tentunya mereka sudah tau teknik dari jaring net bentang itu, jadi mereka akan mencobanya besok.
Dan malam itu juga Wisnu meminjam jaring bentang dari temannya. Temannya ini memang sering menjaring ikan, dia punya bermacam-macam jenis jaring, mulai dari jala tebar sampai jaring bentang, bahkan bubu perangkap ikan pun dia punya banyak. Jaring pinjaman sudah didapat, besok tinggal berangkat aja.
Minggu pagi jam 4 subuh, dengan naik motor matic, berangkatlah Wisnu dan Iwan menuju waduk selatan. Mereka membawa sebuah tas yang sangat besar sebagai wadah buat jaring bentang. Masih ditambah dengan peralatan memancing nyobok sebagai jaga-jaga kalo ikan yang besar mau makan umpan kail.
Perjalanan membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam. Mereka sempat berhenti sebentar di pasar lokal buat sarapan dan juga membeli bekal buat makan siang. Matahari sudah muncul saat mereka tiba di tepian air waduk. Waktu menunjuk di angka setengah tujuh pagi. Wisnu lah yang memilih lokasi itu, dan mereka pun mulai mencari spot yang tepat
Jaring yang mereka pakai adalah jenis jaring net bentang, dengan panjang sekitar 30 meter dan lebarnya sekitar dua meter. Seperti namanya, cara menggunakan jaring ini adalah dengan dibentangkan memanjang di permukaan air, dan menggantung kebawah, hingga berbentuk seperti net pada lapangan bola voli.
Bagian tepi atas diberi bingkai tali sepanjang jaring, dan pada kedua ujung tali diberi pelampung jerigen plastik besar. Sepanjang tali itu masih diberi pelampung kecil-kecil dari styrofoam tiap satu meter. Sedangkan tepian bawah jaring diberi pemberat berupa rantai.
Lubang jaring selebar sekitar 10 senti, hingga hanya ikan-ikan berukuran segitu dan lebih besarlah yang akan terperangkap. Kalau ada ikan melewatinya, maka ikan itu akan nyangkut pada lubang-lubang jaring itu dan nggak bisa lepas.
__ADS_1
Jaring ini biasa di pasang pada cerukan tepian waduk, semacam mencegat ikan yang akan masuk atau keluar dari cerukan. Tapi setelah lama mencari-cari cerukan, mereka tidak menemukan juga. Akhirnya Wisnu pun memutuskan untuk membentangkannya ke tengah perairan.
"Gimana caranya bisa bentangin ke tengah gitu?" tanya Ipung.
"Ya harus berenang ke tengah sambil menarik jaring lah.." jawab Wisnu.
"Lu aja yang berenang ke tengah.." kata Ipung.
"Elu kan lebih jago renang, jadi harusnya elu yang ke tengah.." jawab Wisnu.
"Yaelah.. untung gue bawa baju ganti.." kata Ipung sambil mulai memasuki air dan membawa ujung jaring.
"Ati-ati sama hiu atau anaconda.. haha.." ledek Wisnu.
"Mana ada anakonda disini.." balas Ipung sambil berteriak.
Sampai di air sedalam dada, Ipung pun mulai berenang. Ini adalah suatu pekerjaan berat, di samping berenang, Ipung harus menarik tali ujung jaring, membawa jerigen pelampung, ujung rantai pemberat, juga masih harus membawa sebongkah batu sebesar kepalan tangan sebagai jangkar di ujung tali. Jangkar ini bertujuan agar ujung jaring tidak terseret arus air kemana-mana.
Memang seharusnya pekerjaan ini dilakukan dengan naik perahu dan bukan dengan berenang. Tapi mana ada perahu di situ, lagian kalo ada pun, si pemilik nggak akan mau dipinjami, minimal harus menyewa dengan harga lumayan.
Selesai dengan pekerjaannya, Ipung berenang balik ke tepian. Dan kini terbentanglah sebuah jaring sepanjang 30 meter ke arah tengah waduk, melebar kebawah sedalam 2 meter di bawah permukaan air, sesuai lebar dari jaring. Dari permukaan tampak deretan pelampung sebesar buah kelapa, membentuk garis lurus dan berakhir pada sebuah jerigen besar.
"Trus ngapain ini?" tanya Ipung.
"Ya nunggu lah.." jawab Wisnu.
"Coba mancing aja.. itu gunanya gue bawa pancing dan lumut.." jawab Wisnu.
Maka sambil menunggu jaring, mereka pun menyiapkan peralatan pancing dan mulai memancing dengan teknik nyobok, nyemplung ke dalam air dengan kedalaman sebatas dada. Tepat seperti yang dikatakan Wisnu, ikan yang didapat dari memancing kecil-kecil semua, nggak ada yang lebih besar dari dua jari.
Akhirnya mereka bosan sendiri, lebih memilih keluar dari air dan berhenti memancing. Mereka cuma duduk-duduk menunggu jaring. Dan menjelang jam 10, penarikan jaring pertama dimulai. Mereka cuma mendapat satu ekor ikan nila sebesar telapak tangan.
"Cuma satu?" kata Ipung.
Dia membolak-balik jaring, memeriksa kalau-kalau ada yang masih tertinggal. Tapi ternyata memang cuma dapet satu itu.
"Belum beruntung kita.. coba lagi aja.." jawab Wisnu
"Kayak beli togel aja lu, belum beruntung.. perasaan gue nggak enak nih.. pasti nggak ada ikannya.." kata Ipung.
"Jangan nyerah dulu lah.. coba di set lagi jaringnya.."
Dan akhirnya mereka pun mencoba lagi, jaring itu dibentangkan lagi. Kali ini Wisnulah yang berenang menuju ke tengah, mengulang proses yang sama persis seperti yang dilakukan Ipung tadi. Dua jam kemudian, jam 12 siang, jaring ditarik lagi, dan kali ini juga dapat dua ekor nila!
"Tuh kan! Apa kata gue! Katanya banyak ikannya..?" tanya Ipung menggerutu.
"Minggu kemaren gue lihat sendiri orang sini dapet banyak kok.." jawab Wisnu.
__ADS_1
"Apa mungkin sudah pindah ikannya.." kata Ipung.
"Bisa jadi gitu.." jawab Wisnu. "Kita pindah spot aja.. agak selatan lagi.."
"Selatan mana?"
"Selatan sungai, disitu ada sungai, dan kita harus menyeberanginya dulu.." kata Wisnu.
"Lewat jembatan aja lah.. ada nggak..?"
"Ada tapi jauh di timur sana.. harus memutar kalo mau lewat jembatan.."
"Yaudah.. nyeberang sungai aja.." kata Ipung. "Tapi makan siang dulu aja.. laper gue.."
Maka sebelum berpindah spot, terlebih dulu mereka menyantap bekal makan siang yang dibeli tadi pagi dari pasar lokal. Setelah itu mereka berberes semua peralatan dan mulai beranjak menuju ke sungai, ke arah selatan lokasi saat ini.
Ternyata sungai yang dimaksud Wisnu tadi cuma kecil saja, lebarnya sekitar tiga meteran dengan air yang dangkal, mengalir masuk ke waduk. Tapi tebing sungai itu sangat terjal dan dalamnya mencapai empat meteran sebelum mencapai permukaan air.
Ipung cuma mengikuti Wisnu saja karena Wisnu lah yang tau jalannya. Dan ternyata di arah agak ke hulu, ada sebuah jalan menurun menuju tepian sungai yang bisa dilewati dengan mudah, jadi merekapun lewat jalan itu dan menyeberangi sungai yang ternyata cuma sedalam lutut saja. Sampai di seberang, mereka segera menuju ke arah pinggiran waduk kembali. Langit tampak mulai mendung.
"Nggak ada ceruk juga disini.." kata Ipung setelah mereka sampai di tepian waduk.
"Terpaksa berenang lagi kayak tadi.." jawab Wisnu. "Elu yang nyemplung ya.."
" Masak iya gue lagi.. merepotkan saja.."
Meskipun menggerutu, Ipung masuk juga kedalam air dam mulai berenang ke tengah, menyeret ujung jaring sambil membawa jerigen,ujung rantai dan batu, dia mengulang lagi proses untuk yang kedua kalinya. Setelah mencapai 30 meter dari tepian, dia mulai mengatur jaring dan menjatuhkan batu pemberat. Lalu Ipung berenang kembali menuju ke arah tepian.
Satu jam berlalu, dengan tidak sabaran mereka menarik jaring itu, ada tujuh ekor ikan nila yang menggelepar tersangkut di jaring. Tapi setidaknya jauh lebih baik dari spot yang pertama tadi. Bergegas mereka memunguti ikan-ikan itu agar bisa cepet-cepat membentangkan kembali jaring di dalam air.
"Udah mulai membaik.. dapet tujuh ekor.." gumam Wisnu.
"Moga aja tebaran berikutnya dapet lebih banyak lagi.." jawab Ipung.
"Makanya buruan ambilin ikannya.."
"Wadah ikan udah nggak kosong lagi sekarang.. Hehe.." Ipung terkekeh senang.
Selesai semuanya, dengan penuh semangai Ipung berenang kembali ke tengah sejauh 30 meter, sambil terus gerakkan kakinya agar kepala bisa terus berada diatas permukaan air, dia mengulang semua proses penebaran jaring itu. Setelah itu Ipung berniat berenang kembali menuju ke tepian waduk.
Tapi tiba-tiba saja Ipung merasa kaki kirinya seperti sedang dipegang sesuatu di dalam air! Ipung jejak-jejakkan kakinya ke bawah, tapi 'sesuatu' itu tetap nggak bisa lepas. dan kini terasa seperti ada yang melilit pergelangan kaki kirinya. Kembali Ipung jejakkan kakinya dengan sangat keras di dalam air.
Namun bukannya lepas, belitan pada kakinya semakin mengencang, dan kini malah menariknya ke bawah. Ipung mulai panik. Tanpa berpikir lagi, dia berusaha berenang ketepian. Tapi tarikan 'sesuatu' pada kakinya itu sangatlah kuat, Ipung bahkan tidak bisa bergerak maju!
Sebelum kepalanya tenggelam dalam air, Ipung sempat menarik napas panjang dan menahannya. Tubuhnya tertarik ke bawah dengan cepat, memasuki kedalaman waduk yang gelap. Tapi Ipung belum mau menyerah, dia jejak-jejakkan kaki kanan ke arah pergelangan kaki kirinya, tempat dimana 'sesuatu' itu melilitnya.
Tubuh Ipung terus terseret ke bawah, dia terus bergulat melawan, tapi dia bahkan sama sekali tidak bisa melihat apa yang telah melihat kakinya! Padahal persediaan oksigen dalam paru-parunya sudah mulai habis, dan tenaganya terkuras dengan sangat cepat, Dan disaat nafasnya sudah benar-benar habis, Ipung menyebut nama Tuhan.
__ADS_1