
Resah jiwaku.. menepi..
Mengingat semua yang.. terlewati..
Saat kau masih.. ada disini..
Mendekapku dalam hangatnya cintamu..
Lambat sang waktu.. berganti..
Endapkan laraku.. disini..
Coba tuk lupakan.. bayangan…...
"Stop stop!" seru Danu menghentikan alunan lagu itu. "Kenapa lagunya jadi melow gini?!"
"Lah kenapa jadi gue yang disalahin?" jawab Didit. "Gue kan cuma nyanyi.. Iwan tuh yang pegang gitar.."
Saat itu empat pemuda tanggung itu sedang nongkrong di lincak cakruk pinggir jalan depan SD, sambil bakar kayu buat api unggun dan main gitar dan nyanyi-nyanyi nggak jelas. Tapi makin kesini petikan gitar yang dibawakan Iwan malah makin melow aja, maka langsung di protes sama Danu.
"Lu lagi patah hati atau gimana Wan?" tanya Supri yang lagi mengorek-ngorek api unggun di depan mereka.
"Pantang bagi gue buat patah hati.." jawab Iwan. "Gue bukan bucin.."
"Dari tadi gue perhatiin lu nyanyi lagu melow terus.." Supri nggak mau kalah.
"Udah, nggak usah nyanyi aja, tambah ngaco gitu.. jadi capek dengerin…" sahut Danu.
"Gue juga capek nyanyi terus dari tadi.." jawab Didit.
"Lah.. siapa yang nyuruh lu nyanyi?" tanya Iwan.
"Orang lu genjrang-genjreng gitu, jelas gue ikutan nyanyi lah.. lagian kenapa baru sekarang lu ngomong gitu?" sahut Didit.
Akhirnya Iwan pun meletakkan gitar yang dipegangnya. Mereka bertiga bersandar setengah rebah pada tembok pagar SD itu. Sementara Supri masih aja sibuk mengurusi api unggun agar tidak padam. Nggak ada yang bersuara, semua cuma menatap nanar pada api unggun. Sudah dua jam mereka main gitar dan "konser sendiri" di lincak cakruk itu, sampai akhirnya kehabisan lagu dan tenaga.
"Gabut gue.." kata Iwan. "Tapi kalo pulang kok males.. masih pagi juga.."
"Pagi apanya.. udah jam 11 malam ini.." kata Danu.
"Buat manusia malam, jam segini masih pagi lah.." sanggah Iwan.
"Daripada gabut, kita mancing aja yuk..?" ajak Didit.
"Malam-malam gini?" tanya Danu.
"Emang kenapa kalo malam?" balas Didit.
"Serem lah.." jawab Danu.
"Elunya aja yang penakut.." ejek Didit. "Pancingan di kali lagi seru nih.. mumpung ikannya mau makan.."
"Ikan apa?" tanya Iwan.
"Saat ini yang lagi bagus itu nila sama tawes.." jawab Didit.
"Malam-malam gini mana ada yang jual lumut?" sahut Danu.
"Pake tahu putih aja bisa kok.. sama cacing juga.. Ntar kita nyari cacing di deket wc pinggir kali tuh.. Tapi kalo mau dapet tawes banyak ya pake kotoran orang.." kata Didit sambil tertawa.
"Jorok amat lu! Mending pake tahu aja.." timpal Iwan.
"Nila sama tawes emang mau makan cacing?" tanya Danu.
"Kalo pake cacing ya targetnya lele sama gabus lah.. malah bagus mancing lele sama gabus pas waktu malam kok.." jelas Didit
"Lu punya pancing berapa Dit? Gue males kalo pulang dulu.." tanya Danu.
"Gue juga minjem pancing lu lah Dit.." sambung Iwan.
"Santai lah.. ada lima joran di rumah.. yuk berangkat.." kata Didit.
Supri menyahut. "Gue nggak ikut lah.. males amat.."
"Halah.. nggak setia kawan lu Pri.." kata Danu.
"Gue mau pulang aja.." jawab Supri.
"Serah lu lah..." kata Didit.
__ADS_1
"Trus ntar beli tahu putih dimana?" tanya Iwan.
"Angkringannya pak Tarto aja lah.." jawab Didit.
"Lah.. itu kan tahu goreng?" kata Danu.
"Ntar diambil tengahnya, bagian putihnya doank.." jawab Didit.
Di Antara mereka, memang Didit jauh lebih berpengalaman dalam memancing, hampir semua spot mancing telah dia kunjungi, bahkan sampai jauh di luar daerah. Segala macam tehnik memancing sudah dikuasainya, hobi memancing seakan sudah mendarah daging dalam dirinya, warisan dari bapak dan kakaknya.
Mereka bertiga pun beranjak dari lincak cakruk itu dan menuju ke rumah Didit untuk mengambil joran dan juga senter. Sedangkan Supri malah pulang ke rumahnya. Dari rumah Didit mereka langsung jalan kaki menuju ke sungai yang jaraknya cuma 300 meter dari lincak cakruk tempat mereka nongkrong tadi.
Sungai itu lumayan besar, terletak di pinggiran kota, dan kampung mereka memang berada di pinggiran kota. Di kiri kanan sungai itu ada tanggul penahan banjir. Dan sebelum mereka menaiki tanggul itu, terlebih dahulu mereka mampir di angkringan pak Tarto yang berada dekat dengan tanggul itu. Memang angkringan pak Tarto ini buka sampai subuh.
Setelah melewati tanggul, mereka masih harus mampir ke wc umum di pinggiran kali. Bangunan kecil ini belum bisa disebut WC karena cuma berdinding anyaman bambu (gedhek) pada keempat sisi dengan tinggi satu setengah meter, berbentuk kubus tanpa atap genteng sama sekali, hingga kalo ada orang berdiri di dalamnya masih akan kelihatan dari luar. Sedangkan saluran pembuangannya langsung mengarah ke sungai. Di dekat wc inilah biasanya para pemancing mencari cacing.
"Gimana cara nyari cacingnya..?" tanya Danu.
"Pake ranting aja lah.. tanahnya empuk aja, gampang di korek.."
Sebentar kemudian mereka bertiga mulai sibuk mengorek-ngorek tanah di dekat wc itu. Dengan penerangan senter, mereka bisa melihat banyak sekali cacing yang bergerombol, hingga dalam waktu singkat mereka sudah mendapat banyak. Tiba-tiba..
Krucuk..! Krucuk..! Krucuk..!
Terdengar suara gemericik air dari dalam wc itu. Mereka hentikan kegiatan dan saling berpandangan. Tapi kemudian suara gemericik air itu menghilang, dan mereka teruskan lagi mencari cacing. Tapi lagi-lagi terdengar suara gemericik air itu, malam yang sangat sepi membuat suara itu jadi terdengar sangat jelas. Kembali mereka berpandangan.
"Paling ada warga yang lagi buang hajat.." kata Iwan pelan.
"Mana ada orang buang hajat tengah malam gini..? sahut Didit. "Setahuku kalo malam nggak ada warga yang buang hajat disini.."
"Mungkin karena terpaksa kali.. perutnya mules alias keciprit.. hehehe.." kata Danu disusul tawa mengekeh.
"Haha.. mungkin juga.." timpal Iwan.
Tapi Didit tidak percaya dengan omongan Danu itu, dia tau betul daerah situ, warga nggak ada yang berani buang hajat di sungai kalau waktu sudah larut malam. Didit jadi penasaran, maka dia berdiri dan melongok melalui atas dinding wc yang rendah itu.
Tiba-tiba muncul sebuah kepala berambut putih dari dalam wc itu. Didit sorotkan senternya pada kepala itu, dan tampaklah seraut wajah berkeriput dari nenek-nenek yang sudah sangat tua, ditambah rambut panjang putih riap-riapan, hingga membuat kepala itu tampak sangat menyeramkan.
"Hihihi.." sosok nenek itu tertawa mengikik, memperlihatkan mulut yang tak bergigi sama sekali.
"Whuuaaa! Set.. setaaaannn.." Didit berteriak sangat keras dan terjengkang ke belakang.
"Dasar anak kurang ajar!" bentak sosok kepala itu. "Ada orang lagi buang hajat kok diteriaki setan!"
"Huahahahaha…" meledaklah tawa dari Iwan dan Danu.
"Kalian semua anak-anak nggak punya sopan santun! Ada orang tua malah diketawain!" bentak nenek itu lagi.
Lalu sebuah ember kosong tampak melayang dari dalam wc ke arah tiga pemuda tanggung itu, sepertinya kemarahan si nenek sudah sampai ke ubun-ubun. Sontak ketiga pemuda itu segera lari tunggang-langgang, meskipun saat berlari itu Iwan dan Danu masih aja terus tertawa ngakak.
Mereka berlari ke arah hilir sungai, tempat mancing yang akan mereka datangi. Sampai di tepian tebing sungai, mereka berhenti untuk menarik napas, karena saat itu napas mereka seperti sudah mau putus. Sesekali masih terdengar tawa dari Iwan dan Danu.
"Apes bener dah.. baru cari cacing aja udah dapet lemparan ember.." kata Didit.
"Hehe… lagian elu penakutnya kebangetan.." sahut Iwan.
"Bayangin aja, lihat muka keriput sama rambut putih riap-riapan serem banget gitu, siapa yang nggak panik coba.." kata Didit.
"Trus tadi cacingnya kebawa nggak?" tanya Danu.
"Ada nih.. gue sempat bawa tadi.." jawab Iwan.
"Udahlah.. kita mancing sekarang aja.." kata Didit.
Merekapun menuruni tebing tanggul setinggi 3 meter dengan kemiringan 45 derajat. Saat itu sungai sedang surut, jadi mereka harus menuruni tebing itu untuk bisa sampai di tepian air. Tepat di atas tebing itu terdapat gerumbulan semak belukar lebat setinggi satu meteran, hingga orang tidak bisa melihat ke arah air sungai dari atas tebing.
Mereka duduk di tanah kering di tepian kali dan mulai memasang umpan. Tehnik memancing yang dipakai adalah pathetan, dengan memakai joran sepanjang 1,5 meter yang ujungnya sangat kecil dan lentur, hingga menjadi sangat sensitif terhadap tarikan ikan paling lemah sekalipun.
Senar pancing tipis yang panjangnya sama dengan panjang joran, dengan timah pemberat yang kecil saja, ditambah mata kail berukuran kecil pula. Tanpa memakai pelampung, hingga umpan berada di dasar air. Tehnik ini dipakai pada air yang mengalir dan bisa juga pada air yang berarus deras.
Baru seperempat jam kail masuk ke dalam air, Didit sudah berhasil mengangkat seekor ikan tawes alias putihan sebesar telapak tangan. Semangat mereka makin tinggi. Dan tak lama kemudian giliran Iwan dapet ikan gabus sebesar pergelangan tangan.
Krosak..! Krosaak..!
Plungg..! Plungg..!
Terdengar suara berisik dari arah gerumbulan semak belukar di atas tebing, disusul suara batu kerikil yang jatuh ke air. Karena semua lagi konsentrasi pada pancing masing-masing, mereka tidak memperhatikannya. Tapi kemudian terdengar lagi suara batu kerikil yang dilempar ke air, dan kali ini lebih banyak, hingga membuat Didit jadi nggak konsen dalam memancing.
"Lu gimana sih Wan?! Udah tau lagi dipancing kenapa malah dilemparin batu?"
__ADS_1
"Lah,kok jadi gue? Orang gue juga mancing kok.." bantah Iwan
"Itu kerikil asalnya dari arah lu kali.." kata Didit.
"Kayaknya kerikil itu asalnya dari atas tebing.." Danu menambahi.
Mereka bertiga pun menoleh ke atas tebing berbarengan. Dan saat itulah semak belukar di atas merek bergerak-gerak dengan hebat disertai suara berisik. Mereka sorotkan lampu senter ke arah situ. Justru saat itulah muncul sebuah kepala berbalut kain putih dengan jambul diatasnya, dan wajahnya berwarna sangat putih seperti kapur!
"Poc-poccooonggg…!!!" teriak Didit dengan spontan.
Byuurrr..!
Saking paniknya, tanpa pikir panjang Didit langsung nyebur ke air sungai, sementara Danu langsung berlari ke arah hulu. Tapi Iwan malah terbengong memandangi kepala pocong itu, senternya masih diarahkan pada wajah si pocong. Tampak kain putih yang membalut kepala itu tidak sepenuhnya putih, tapia ada garis-garis birunya juga. Tidak mungkin pocong memakai kain putih bergaris biru!
"Huahahahahaha..!"
Sosok pocong itu tertawa terbahak-bahak sambil melepas kain yang menutupi kepalanya. Dan tampaklah wajah Supri yang memakai bedak putih tebal dan membawa sarung putih bergaris biru.
"Bangk* sial*n lu Pri! Ada orang mancing kok ditakut-takuti! Kebangetan!" bentak Iwan.
Supri masih aja ketawa ngakak. "Kalian aja yang penakut semua.."
Didit terlihat keluar dari air sungai dan langsung berteriak. "Anj*ng gila kudisan dah! Kalo becanda kira-kira donk!"
Sementara Danu balik lagi ke tempat itu, dia langsung naik ke tebing dan menampol kepala Supri.
"Keterlaluan lu Pri.. masak sama temen ngerjainnya gitu amat.." seru Danu.
"Hahaha… sori sori bro.. gue cuma becanda kok.." kata Supri.
"Lagian lu tadi bilang nggak ikut, taunya punya rencana kayak gini! Anjay!" seru Iwan.
Supri dan Danu turun dari tebing dan menuju ke tepian air. Mereka lanjut memancing lagi sambil terus tertawa-tawa. Sementara Didit harus rela mancing dengan berbasah-basahan di tengah malam yang dingin itu, disertai gerundelan yang nggak henti-henti keluar dari mulutnya.
"Sial bener gue.. cuma dalam semalam udah dua kali ketemu sama cosplay hantu!" umpat Didit yang segera disambut tawa ngakak tiga temannya.
"Lagian elu sering mancing kenapa bisa penakut gini?" tanya Supri.
"Nggak pernah gue nemuin makhluk begituan.." jawab Didit
"Elu pasti ngakak lihat wajah Didit waktu ketemu nek Minah di wc tadi Pri.." kata Danu sambil ketawa ngakak.
"Lah.. ada kejadian lain juga to?" tanya Supri.
Bergantian mereka bertiga bercerita pada Supri soal tragedi ember terbang tadi. Pinggiran sungai itu makin ramai oleh suara tawa empat pemuda tanggung itu. Untung aja nggak ada orang lain, kalo ada yang mendengar tawa mereka, pasti dikira para hantu lagi berpesta di pinggiran sungai.emoticon-Hammer
Dua jam berlalu, ikan yang didapat sudah cukup banyak, lima ekor tawes, tiga ekor gabus dan satu ekor lele kecil sudah dalam genggaman. Didit melihat jam di hp nya menunjukkan angka setengah dua malam, dia merasa makin kedinginan saja. Jadi diapun mengajak teman-teman untuk menyudahi acara mancing malam itu.
"Pulang aja yuk..? gue beneran kedinginan nih.."
"Yaudah.. lagian udah dapet ikan lumayan juga.." jawab Iwan.
Mereka mulai mengemasi peralatan pancing dan juga membersihkan ikan dengan air sungai. Selesai semuanya, mereka bangkit berdiri dan mulai melangkah pulang. Dan saat itulah kembali terdengar suara berisik dari arah atas tebing, dan gerumbulan semak itu terlihat bergerak-gerak seperti ada yang menggoyangkannya.
"Lu tadi kesini sama siapa Pri?" tanya Didit. "Mau nakut-nakutin kita lagi?!"
"Gue sendirian kok.." jawab Supri.
"Trus itu siapa?" tanya Didit.
"Mana gue tau..?!" sahut Supri.
Dan tau-tau saja bulu kuduk mereka mulai meremang, mereka baru ingat kalo malam itu adalah malam jum'at. Saat itulah muncul suatu bayangan putih di antara gerumbulan semak di atas tebing, sosok berbalut kain putih setinggi manusia dengan ikatan di atas kepala dan di kakinya. Pocong!
Belum sempat mereka berlari, sosok pocong itu mengambang perlahan ke atas setinggi dua meter dari puncak tebing, lalu dia melayang ke depan, mengambang diatas air dan menyeberangi sungai, hingga akhirnya menghilang di antara pepohonan di seberang sungai.
Untuk beberapa detik tempat itu jadi sunyi, keempat pemuda tanggung itu bahkan tidak bergerak dari tempatnya, tapi mereka merasa gemetaran di tubuh masing-masing. Bahkan tanpa sadar Didit menggenggam erat tangannya Iwan. Tapi kemudian Iwan lah yang pertama kali sadar.
"Lu ngapain pegangin tangan gue?" tanya Iwan pada Didit.
"I-itu tadi.. tadi po-pocong beneran.. Asli.."
"Jelas pocong asli gitu kok.. udah lah.. udah pergi juga.. kita pulang sekarang.." kata Iwan.
Memang Iwan lah yang paling berani diantara mereka. Dia mulai melangkah perlahan menaiki tebing sungai itu, lalu disusul ketiga temannya. Tanpa ngomong apa-apa mereka terus berjalan ke arah tanggul. Tanpa sadar langkah mereka makin cepat saja, hingga saat tiba di tanggul, mereka tancap gas lari tunggang langgang menuju rumah masing-masing.
Rumah Supri terletak paling jauh dari sungai itu, jadi dialah yang terakhir sampai di rumah. Sebelum membuka pintu, Supri berhenti sebentar untuk menarik napas. Seumur hidup dia belum pernah berlari sekencang tadi, hingga membuat napasnya ngos-ngosan.
Setelah napasnya mulai normal, Supri lalu membuka pintu dan memasuki rumahnya. Kemudian dia balik badan untuk menutup pintu itu. Saat itulah, tepat di depan pintu, tampak satu sosok berbalut kain putih dengan ikatan jambul di kepalanya!
__ADS_1
Wajah sosok pocong itu hitam gosong, daging dan kulit wajah sudah mulai membusuk dan dikerubungi banyak belatung, mata bolong hitam tanpa bola mata, dan pipi yang sudah menjadi tengkorak.
Ternyata makhluk pocong itu telah mengikuti Supri mulai dari pinggiran sungai sampai ke rumahnya, karena dialah yang tadi telah ber-cosplay menjadi pocong. Supri tercekat, dia hendak berteriak, tapi sebelum suaranya keluar, kesadarannya telah menghilang lebih dulu..