Ghost Story (Cerita Sang Pemancing)

Ghost Story (Cerita Sang Pemancing)
Cerita Si Pemancing (Bekas Sumur)


__ADS_3

Mendung tebal sudah menggantung di langit saat si Jon dan Mamat tiba di tepian waduk itu. Waktu baru menunjuk di angka 6 pagi, dan hawa sangat dingin mencucuk tulang ini, tentunya membuat air waduk menjadi sangat dingin juga.


 Keadaan cuaca itu memupuskan harapan mereka untuk bisa mendapat banyak ikan, karena tehnik yang mereka gunakan kali ini adalah nyobok, yang mengharuskan mereka nyemplung ke air waduk yang sangat dingin itu. Tapi mereka telah berkendara selama dua jam untuk tiba di waduk itu, jadi tidak mungkin balik lagi ke rumah.


 "Alamat ikannya nggak mau makan ini.." kata Jon.


 "Mau gimana lagi, udah nyampe sini juga.." jawab Mamat. "Kita tunggu aja bentar, mungkin mendungnya bakal hilang kalo agak siangan.."


 "Sekalian sarapan aja.." kata si Jon setuju.


 Setelah meletakkan tas dan semua peralatan pancing di tanah, merekapun duduk menjelepok di tanah kering pinggiran waduk dan mulai menikmati sarapan berupa nasi bungkus yang mereka beli di pasar tadi. Tidak banyak yang mancing disitu, cuma ada 3 orang di sebelah kiri mereka, nyemplung di air waduk sedalam dada, terpisah sejauh 5 meter satu sama lain, sepertinya mereka adalah satu grup.


 Satu jam berlalu, sarapan mereka telah habis, tapi mendung malah makin tebal saja. Mereka masih duduk-duduk menikmati asap rokok, sambil memperhatikan tiga pemancing lainnya yang sudah mulai memancing sejak satu jam yang lalu. Sejauh ini tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat ikan dari air.


 "Nggak ada matahari, ikannya mana mau makan?" kata si Jon.


 "Coba dulu aja lah.. udah jauh-jauh kemari, masak mau pulang lagi.." jawab Mamat.


 "Oke lah.. gue sebelah depan itu aja.." kata Jon sambil menunjuk lurus ke depan.


 Maka mulailah mereka menyiapkan peralatan pancing untuk tehnik mancing nyobok itu. Si Jon pun mulai nyemplung ke air waduk, tubuhnya terlihat menggigil sebentar saat air mulai sampai ke perut. Dan pada jarak 5 meter dari tepian, si Jon pun menancapkan tongkat cobokan yang terbuat dari pipa alumunium itu ke dasar air.


 Ketinggian air mencapai lehernya, karena memang spot di situ sangat dalam. Lalu si Jon mulai menebarkan lumut di depannya untuk menarik ikan agar mendekat. Target hari ini adalah ikan nila, jadi mereka memakai umpan lumut, joran tegek sepanjang 5,5 meter dan kambangan alias pelampung anti badai sepanjang 1 jengkal.


 Sudah dua jam sejak kailnya si Jon masuk ke air, tapi belum ada satupun nila yang nyangkut juga. Mamat dan tiga orang lainnya juga belum mengangkat ikan. Berkali-kali si Jon menebar umpan lumut di titik dia menaruh kailnya, tapi tetap saja nggak ada nila yang datang, atau mungkin memang nggak mau makan. Memang cuaca buruk sangat berpengaruh pada pancingan.


 Menjelang tengah hari, mendung masih saja menghitam, suasana tampak jadi seperti mau maghrib saja. Si Jon bergeser spot ke arah kanan menjauhi Mamat, kini jarak mereka jadi sekitar 15 meter. Di spot baru ini dia kembali mencoba peruntungannya.


 Tapi justru saat itulah hujan turun dengan sangat lebat. Posisinya yang nyemplung sedalam leher membuat sudut pandangnya sangat terbatas. Si Jon cuma bisa melihat lurus ke depan, sejajar dengan permukaan air. Hujan deras itu membuat jarak pandang menjadi lebih terbatas lagi, hingga si Jon harus memendekkan jorannya agar pelampung tetap kelihatan. Ditambah lagi, dia belum mendapat satu ekor ikan pun, lengkap sudah penderitaannya.


 Mendadak saja, diantara deru hujan itu si Jon mendengar suara teriakan-teriakan panik yang berasal dari arah kirinya. Ternyata tiga orang di sebelah kiri Mamat lah yang berteriak-teriak. Si Jon masih bisa melihat mereka bertiga bergegas keluar dari air, bahkan sambil berenang dengan tujuan agar cepat sampai di tepian. Dengan penasaran si Jon mendekati Mamat yang juga sedang beranjak ke arah tepian air.


 "Ada apa Mat? Kenapa mereka panik gitu?" teriak si Jon mencoba mengalahkan suara deru hujan.


 "Buaya! Katanya ada buaya sedang menuju kesini!" teriak Mamat.


 "Mana ada buaya di waduk?" seru si Jon.


 "Penting cari aman dulu lah.." jawab Mamat.


 Melihat kepanikan temannya itu, si Jon pun terpengaruh, dia jadi ikut panik juga. Maka si Jon langsung berenang ke tepian waduk. Sementara tiga orang pemancing lainnya terlihat buru-buru mengemasi peralatan pancingnya dan langsung pergi begitu saja dari spot memancing itu.


 "Kita pulang atau gimana?" tanya si Jon.


 "Nunggu dulu aja.. selama sudah di darat, kita aman lah.." jawab Mamat, jelas terlihat raut ketakutan di wajahnya.


 "Elu lihat juga buayanya..?" tanya si Jon.


"Ya belom.. cuma denger teriakan mereka bertiga.. gue langsung naik gitu aja.."


 Mereka mengedarkan pandangan ke seluruh permukaan air waduk untuk mencari keberadaan buaya itu. Hujan yang semakin menggila membuat mereka kesulitan untuk melihat jauh. Lalu Mamat tampak memicingkan mata.


 "Itu dia buayanya!" Mamat menunjuk ke satu arah di tengah waduk.


 Si Jon ikut memicingkan mata, bahkan dia melangkah ke tepian air. Tampak olehnya sebuah benda panjang mengapung di permukaan air. Bagian depan benda itu tampak mengerucut lancip, mirip kepala buaya, terus memanjang sampe bagian ekor yang semakin mengecil panjang.


 Benda yang memang sangat mirip dengan buaya itu tampak timbul tenggelam mengikut alunan ombak air waduk. Si Jon masih belum percaya begitu saja, jadi dia menajamkan pandangannya, lalu meledaklah tawanya diantara suara deru hujan itu.


 "Huahahahaha..! Itu jerami padi! Gimana ceritanya bisa dikira buaya?! Hahaha…"


 Mamat berlari mendekat. "Nggak mungkin, bentuknya jelas buaya gitu.."


 "Coba lu lihat baik-baik.. itu jerami sisa panen padi yo..! Hahahaha.." tawa si Jon nggak berhenti-berhenti juga.


 Mamat pun langsung menyadarinya. "Ah sialan bener! Gue ketipu sama mereka tadi.."

__ADS_1


 "Ketipu gimana? Orang mereka bertiga juga ketipu gitu, mengira tumpukan jerami yang hanyut itu sebagai buaya! Hahaha.."


 "Kalo ini sih bener-bener konyol namanya.. masak penglihatan tiga orang bisa salah semua!" sahut Mamat.


 "Gue udah curiga, mana ada buaya di waduk?! Air waduk terlalu dalam buat buaya.. hahahaha…"


 Akhirnya Mamat pun ikut tertawa ngakak. Diantara deru hujan yang menggila, terdengar tawa keras dari dua pemuda tanggung itu. Memang benda yang dikira buaya tadi ternyata cuma tumpukan jerami sisa panen yang hanyut terbawa air waduk. Daerah sekitar waduk itu memang banyak sawahnya, dan petani biasa membuang jerami sisa panen ke waduk hingga jadi bertumpuk-tumpuk dan terbawa arus air.


 "Ini dilanjut lagi atau pulang aja?" tanya si Jon setelah tawa mereka reda.


 "Lanjut aja lah sekali lagi.. ntar kalo ikannya masih nggak mau makan ya pulang aja.." jawab Mamat.


 "Gue makan dulu aja lah.." kata si Jon.


 "Makan aja.. gue mau lanjut lagi.."


 Mamat pun kembali nyemplung ke air waduk untuk melanjutkan mancing, sementara si Jon membuka payungnya, lalu mulai mengeluarkan bekal makanan dari tasnya. Bungkusan makanan itu memang masih dibungkus lagi dengan plastik hingga nggak basah karena hujan. Maka sambil memakai payung itu, di bawah mendung hitam dan curahan hujan sangat lebat, si Jon pun mulai menikmati makan siangnya.


 Mendadak saja, entah dari mana datangnya, telah ada seseorang berdiri satu meter di sebelah kanan si Jon. Dia adalah orang tua berusia sekitar 50 tahunan, memakai topi koboi sangat lebar mirip topi sombrero, hingga wajahnya tenggelam dalam topi itu. Dia juga mengenakan rompi pelampung berwarna orange terang. Dia membawa tas dan peralatan memancing nyobok.


 Si Jon terheran-heran memandanginya, jam segini masih aja ada orang yang baru datang memancing, padahal untuk memancing nila, biasanya orang akan memulainya pagi-pagi. Ditambah lagi hujan yang begitu lebatnya, kok mau-maunya dia berangkat mancing.


 "Gimana mas? Bagus nggak pancingannya?" tanya orang itu.


 Si Jon tertegun, orang itu bicara pelan, tapi si Jon bisa mendengarnya dengan jelas, padahal ditengah hujan lebat gitu, orang harus berteriak untuk bisa didengar.


 "Eh.. anu pak.. gabluk! Dari pagi nggak dapet satupun.."


 "Ya begitulah memancing mas.." kata orang itu. "Lagi makan ya mas?"


 "Eh iya pak.. kalo bapak mau, ini masih ada satu bungkus.. makan bareng kita.." jawab si Jon menawari.


 "Makasih mas.. saya abis makan tadi.." kata orang itu. "Saya mau langsung nyemplung aja.."


 "Jam segini kok baru datang pak?" tanya si Jon.


 "Kalo gitu moga disini bapak beruntung.." jawab si Jon.


 "Mas juga moga beruntung.." jawab orang tua itu.


 Orang itu letakkan tasnya di tanah dan langsung nyemplung ke air waduk dan mulai memancing. Si Jon terus perhatikan orang itu, terasa sangat aneh baginya. Tapi kalo teringat cerita si bapak tadi, si Jon jadi maklum, memang pemancing biasanya berpindah spot setelah setengah hari nggak dapet ikan. Dan setelah itu si Jon tidak lagi memperhatikan orang itu.


 Hujan masih saja turun dengan deras, hawa siang itu jadi dingin, ditambah pakaiannya yang basah, badan si Jon jadi menggigil. Hingga membuatnya malas buat nyemplung untuk mancing lagi. Dan akhirnya si Jon cuma duduk di tanah becek pinggiran waduk itu, terbengong lama dengan masih memakai payung, padahal pakaiannya sudah basah dari tadi.


 "Nggak mancing lagi mas?"


 Sapaan itu membuat si Jon menggeragap kaget, dan seperti baru bangun tidur, dia memandang berkeliling. Orang yang menyapanya tadi adalah orang tua yang baru datang itu.


 "Eh.. iya pak.. jadi malas mau mancing lagi.. hawanya dingin banget, ikannya juga nggak mau makan.." jawab sinjon tergagap.


 "Jangan nyerah gitu mas.. hari masih panjang.."


 "Trus kenapa bapak sendiri malah udah selesai mancing?"


 "Saya ini cuma memenuhi keinginan kok mas, cuma hobi saja.. kalo udah dapet ikan yaudah, berhenti mancingnya."


 Si Jon baru sadar kalau orang itu telah menenteng karamba yang sudah setengahnya terisi ikan besar-besar. (Karamba \= wadah ikan terbuat dari jaring). Dalam waktu sesingkat itu, si orang tua telah mendapat segitu banyak ikan!


 "Waah.. banyak banget gitu dapetnya pak.. spot mancingnya dimana tadi?" tanya si Jon


 "Ya ditempat itu tadi.." jawab si bapak sambil menunjuk ke sebelah kanan.


 "Padahal dari pagi aku nggak dapet ikan lho pak.." jawab si Jon terheran-heran.


 "Kalo mas mau, ini ikannya saya tinggal saja buat mas, sekalian sama karamba nya.."

__ADS_1


 "Trus bapak sendiri gimana? Pulang nggak bawa ikan donk.." kata si Jon.


 Orang itu tertawa. "Saya mancing itu cuma menyalurkan hobi mas, sedangkan ikannya sendiri saya nggak doyan.. paling kalo dapet ya dibagiin ke tetangga.. jadi ini ikan buat mas aja.."


 "Waahh.. makasih banyak ya pak.. kebetulan aku belom dapet ikan sama sekali.." kata si Jon.


 "Yaudah.. saya pamit dulu.. Mas pake aja spot saya yang tadi.. biar dapet juga.. tapi ingat.. jangan terlalu ke kanan, soalnya disitu ada luwengnya.." (luweng\=lubang di tanah yang terendam air hingga tidak tampak dari permukaan


 "Iya pak.. nanti aja lagian hari masih hujan gini.." kata si Jon.


 "Nggak papa.. sebentar lagi mataharinya muncul kok.." jawab si bapak.  "Saya pulang dulu mas.."


 "Eh.. iya pak.. hati-hati.." jawab si Jon.


 Orang tua itupun beranjak pergi meninggalkan pinggiran waduk, menapaki jalan setapak yang terjal dan licin karena hujan. Si Jon makin terbengong, hujan lebat gini kok dibilang matahari mau muncul. Masih banyak sekali keanehan pada diri orang tua tadi. Dan saat si Jon menoleh ke belakang, orang tua itu sudah tidak ada lagi. Cepat sekali jalannya, begitu pikirnya.


 Si Jon masih memandangi ikan yang ditinggal si orang tua tadi, besarnya rata-rata se telapak tangan. Mungkin aku juga masih bisa dapet ikan hari ini, pikirnya. Dia mengambil hp dari dalam tasnya, hp itu terbungkus plastik bening agar tidak basah. Dan jam di hp itu menunjuk di angka setengah dua siang! Dia telah terbengong selama satu jam lebih!


 Tapi tanpa menggubrisnya lagi, si Jon mulai beranjak nyemplung lagi ke air waduk. Mamat terlihat sudah sangat jauh jaraknya dari dia, jadi dia mengambil spot mancing yang tadi dipake si orang tua itu. Sebentar kemudian dia mulai konsentrasi pada pelampungnya.


 Hujanpun akhirnya mereda dan berganti menjadi gerimis, yang akhirnya berhenti sama sekali. Si Jon bisa melihat kalau mendung yang tadinya hitam tebal itu juga sudah menyingkir, lalu mataharipun muncul dari balik awan! Dan semua perubahan cuaca itu terjadi hanya dalam waktu setengah jam!


 Sekali lagi si Jon terheran-heran, perkataan orang tua tadi benar adanya, matahari benar-benar muncul! Dalam hati dia bertanya-tanya, siapakah sebenarnya orang tua tadi? Saat itulah si Jon melihat pelampungnya tenggelam dengan tiba-tiba. Maka dengan reflek dia angkat jorannya dengan cepat.


 Seekor ikan nila sebesar telapak tangan tampak menggelepar di ujung senarnya. Perasaan senang, lega dan puas terasa membuncah di dadanya. Sejak saat itu si Jon ibarat menimba ikan dari dalam waduk, setiap kali dia cemplungkan umpannya, tak lama kemudian pelampungnya langsung tenggelam karena umpannya dimakan ikan.


 Semua pengalaman pahit hari itu seakan sirna begitu saja, berubah jadi suatu kesenangan yang luar biasa. Ikan seakan terus saja berdatangan ke kailnya. Hingga akhirnya dalam tempo dua jam saja, karamba wadah ikannya telah terisi penuh!


 Si Jon masih ingin terus memancing, tapi wadah ikannya sudah nggak muat lagi. Maka acara mancingnya pun disudahi buat hari itu. Si Jon pun beranjak dari situ, berjalan di dasar air menuju ke tepian waduk, lalu dia mencari-cari ikan yang diberikan oleh si orang tua tadi, dia bermaksud menyatukan ikan pemberian itu dengan ikan tangkapannya sendiri. Tapi bahkan wadahnya aja tidak ada! Seolah-olah raib ditelan bumi!


 "Aneh, kemana ikannya tadi ya? Perasaan tak taruh di dekat tas.." pikir si Jon. "Kalau dimakan garangan atau burung, pasti karambanya masih ada.."


 Dia masih berusaha mencari ikan pemberian tadi di sekitar tempat itu, tapi hasilnya nihil. Akhirnya si Jon cuma bisa berdiri diam tak habis pikir, bahkan satu hari belum selesai penuh, tapi sudah banyak sekali kejadian sangat aneh yang menimpanya.


 "Waahh.. dapet banyak banget gitu ya mas?"


 Si Jon terlonjak kaget mendengar sapaan itu, dia menoleh dan mendapati ada seseorang setengah baya berdiri di sebelahnya, orang ini membawa cangkul dan memakai caping, tentunya dia adalah seorang petani.


 "Eeh.. iya pak.. lagi mujur ini bisa dapet banyak.." jawab si Jon.


 "Padahal dari seminggu ini pancingan lagi jelek lho mas.. banyak pemancing nggak dapet.." kata si petani.


 "Tadi setengah hari aja nggak dapet apa-apa pak.. pas matahari muncul itu baru dapet.." jawab si Jon.


 "Mas kalo mau mancing lagi, jangan terlalu ke kanan situ ya mas.. disitu ada luwengnya.." kata si petani sambil menunjuk ke arah waduk sebelah kanan.


 "Tadi sudah diperingatkan kok pak.." jawab si Jon.


 Memang keberadaan luweng ini sangat berbahaya, terutama bagi pemancing nyobok. Luweng adalah bekas sumur, atau lobang besar di tanah memanjang vertikal dan sangat dalam. Pada saat air waduk sedang pasang, maka sumur atau lobang ini ikut terendam air, menjadikannya tidak kelihatan dari permukaan.


 Hal ini bisa menimbulkan kecelakaan, bisa saja orang atau pemancing terjeblos ke dalam sumur itu, dan kalau sudah terjeblos, biasanya nyawanya tidak terselamatkan, tenggelam dalam sumur bawah air. Seberapapun pandainya orang itu berenang, tetap tidak akan selamat.


 "Kemaren aja luweng itu sudah memakan korban kok mas.." kata si petani.


 "Kapan kejadiannya itu pak?" tanya si Jon, entah kenapa, mendadak aja jantungnya berdesir ketakutan.


 "Tiga hari lalu.. ada orang setengah baya yang mancing disitu.. tanpa sengaja kejeblos ke dalam luweng itu.. padahal dia sudah pake jaket pelampung, dan kata temannya, dia juga pandai berenang. Tapi nyawanya tidak terselamatkan.."


 Detak jantung si Jon semakin kencang. "Apa warna dari jaket pelampungnya itu pak..?"


 "Warnanya orange terang gitu.. dia juga pake topi semacam topi koboi tapi sangat lebar pinggirannya.. usianya sekitar 50 tahunan……."


 Si petani masih meneruskan penjelasannya dengan detail. Tapi si Jon sudah tidak mendengarnya lagi. Badannya gemetar hebat seperti terserang demam, tanpa sadar badannya semakin merendah dan akhirnya duduk menjelepok di tanah. Detak jantungnya bagai dipacu sangat kencang. Badannya terasa sangat lemah seakan tak bertulang.


 Tidak pernah dia sangka kalo orang tua yang telah dia tawari makan, yang telah memberinya ikan, dan yang telah menasehatinya tadi ternyata sudah meninggal tiga hari yang lalu. Pantas saja sejak kemunculannya, orang itu terasa sangat aneh. Bagaimana mungkin kejadian semacam ini terjadi di siang hari? Dibawah mendung hitam tebal dan curahan hujan yang menggila?

__ADS_1


 Pantesan saja ikan yang diberikan si orang tua tadi tadi itu tau-tau raib begitu saja, dicari sampai kiamat juga nggak bakal ketemu. Lalu apakah banyaknya ikan yang dia tangkap ini juga ada hubungannya dengan orang tua yang sudah meninggal itu? Entahlah.. pikiran si Jon jadi semrawut nggak karuan.


 Dari jauh terlihat Mamat berjalan mendekat. Lalu Mamat terus aja nyerocos soal hasil tangkapannya yang sedikit, juga soal tangkapan si Jon yang sangat banyak. Tapi si Jon sama sekali tidak berniat menanggapinya. Cuma satu yang Jon inginkan, yaitu pulang. Sudah cukup buat hari ini, sudah cukup banyak kejadian aneh yang dialamiya...


__ADS_2