
Tapi justru disaat itulah Ipung merasakan belitan pada kaki kirinya itu mulai mengendor, dan akhirnya terlepas dengan sendirinya. Maka dengan sisa tenaganya, Ipung berenang ke permukaan air secepat yang dia bisa.
Akhirnya kepalanya muncul juga di permukaan air. Ipung menghirup udara sebanyak-banyaknya, paru-parunya terasa seperti mau pecah, dadanya terasa panas. Masih dalam keadaan megap-megap, Ipung melihat Wisnu telah berada di dekatnya, rupanya Wisnu berenang menyusulnya.
"Ada apa? Kenapa lu menyelam lama sekali?" tanya Wisnu.
Seakan baru tersadar, Ipung langsung berenang ke arah tepian sambil berteriak. "Cepat keluar dari air!"
"Emang kenapa?" sahut Wisnu heran.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Ipung terus berenang secepat yang dia bisa. Sampai di tepian, Ipung langsung rebah diatas tanah. Nafasnya megap-megap, wajah pucat bagai mayat, badan menggigil bagai terserang demam. Berkali-kali dia mengucap syukur pada Tuhan. Wisnu menyusul dan duduk di sebelahnya.
"Lu kenapa? Kayak ketakutan banget gitu..?" tanya Wisnu.
"Hampir mati gue.." lalu Ipung pun mulai menceritakan semua yang terjadi padanya.
Wisnu melihat ke arah Ipung dengan bergidik. "Kok bisa ada kejadian kayak gitu ya? Elu tau nggak apa yang narik lu tadi?"
"Mana gue tau.. gue bahkan nggak bisa melihatnya.." jawab Ipung.
"Setau gue didaerah sini nggak ada ular gede yang bisa nari orang kayak gitu.." kata Wisnu.
"Apapun makhluk itu, yang penting gue bisa selamat.." jawab Ipung. "Dan gue nggak mau balik lagi ke sana!"
"Gila aja kalo mau balik lagi.." sahut Wisnu. "Bener-bener aneh banget.."
Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam, selanjutnya mereka masih ngobrol soal kejadian tadi, keluarlah semua dugaan tentang apa sebenarnya makhluk tadi, mulai ular besar, buaya, ikan besar, bahkan sampai ke onggo-inggi juga. Taoi siang-siang gini mana ada onggo-inggi.
Dua jam berlalu, tapi Ipung masih merasakan kengerian tadi, tak pernah terbayangkan dia harus bergulat antara hidup dan mati dengan makhluk yang sama sekali tidak bisa dilihatnya. Lalu mereka baru sadar kalau mendung di langit semakin menghitam. Maka mereka memutuskan menarik jaring dari tepian.
Jaring bentang itu terasa berat, hingga mereka harus menariknya bersama-sama. Ipung cuma takut kalo makhluk yang menariknya tadi ikut tersangkut dalam jaring. Tapi kemudian mulai tampak satu, dua, tiga, lima, sepuluh dan makin banyak lagi ikan yang bergelantungan pada jaring itu.
Ternyata usaha menjaring ikan kali ini berhasil, mereka berada ditempat yang tepat. Kini mereka makin cepat menarik jaring, dan makin banyak ikan yang kelihatan. Wisnu berteriak sambil tertawa-tawa kegirangan, sementara Ipung sudah lupa dengan kengerian tadi.
Mereka jadi sibuk memunguti ikan yang terjerat dalam jaring, semua besar-besar, ikan terkecil sebesar telapak tangan, karena jaring itu memang lubang pada jaring itu besar-besar, jadi ikan kecil akan lolos dan tidak ikut terjerat.
"Emang ya, kalo udah rejeki, nggak akan kemana-mana juga..." kata Ipung.
"Apa gue bilang? Tempat ini banyak ikannya.." jawab Wisnu.
"Tapi harus pake jaring kayak gini, repot juga.. banyak ikannya tapi nggak mau dipancing!" seru Ipung.
"Yang penting dapet ikan banyak.."
Kesibukan berlanjut dengan memasukkan ikan ke dalam wadah ikan yang disebut karamba sambil menghitung. Total ada 42 ekor ikan nila yang berhasil mereka tangkap, sungguh suatu hasil yang besar bagi penjaring amatir seperti mereka. Butuh tiga buah wadah ikan besar agar semua ikan itu bisa muat.
"Waah.. banyak banget hasilnya mas.."
__ADS_1
Tiba-tiba saja sudah ada seseorang yang berdiri di sebelah mereka. Orang ini berusia sekitar 60 tahunan, memakai caping dan membawa sabit rumput. Sepertinya dia adalah penduduk daerah sini.
"Eh iya pak.. lagi beruntung ini.." jawab Wisnu.
"Syukurlah kalo gitu.." kata orang itu. "Kalo menjaring disini, hati-hati sama embahnya ya mas.. jangan sampai bikin dia marah.."
"Embah siapa ya pak..?" tanya Wisnu keheranan.
"Embah penunggu dan penjaga waduk ini.."
Ipung jadi teringat makhluk yang melilit kakinya tadi. "Bapak pernah melihatnya?"
"Pernah dulu sekali.."
"Wujudnya seperti apa ya pak..?" tanya Ipung lagi.
"Beliau biasanya menampakkan diri dalam wujud ikan sangat besar.. dan yang saya lihat dulu juga berwujud ikan jambal sebesar perahu, mempunyai dua kumis yang panjang dan besar. Waktu itu yang saya lihat cuma satu.."
"Cuma satu? Emang ada berapa pak..?" tanya Wisnu.
"Menurut orang pintar disini, penunggu waduk ini ada sepasang, dan wujudnya adalah ikan jambal sepanjang lima meter.."
"Lalu apa saja pantangan disini pak..?" tanya Ipung.
"Asal tidak berbuat yang melanggar norma aja, maka embahnya tidak akan marah kok.." kata si bapak, lalu dia berpamitan. "Saya pulang dulu ya mas.."
"Eh iya pak.." jawab Wisnu.
"Kalo jambal itu benar-benar ada, berarti benar-benar ikan monster itu.." kata Ipung. "Kalo bisa kita tangkap, pasti cukup buat makan orang sekampung.."
"Halah.. mana ada ikan jambal segede itu.. orang sini emang suka nggedebus dan ndobos, seenaknya aja kalo ngomong.." jawab Wisnu. "Lagian ikan jambal nggak punya kumis alias sungut.."
"Tapi menurut bapak tadi, ikan itu penunggu waduk ini.. berarti sejenis makhluk halus.." kata Ipung.
"Apalagi itu.. nggak percaya gue sama penunggu-penunggu gitu.."
"Mungkin yang narik gue tadi juga makhluk halus penghuni sini.." kata Ipung.
"Kalo soal itu gue no komen aja lah.."
Tiba-tiba saja hujan turun dengan sangat deras seperti dicurahkan dari langit, memang dari tadi mendung hitam tebal. sudah menggantung. Mereka pun bergegas memakai jas hujan dan melipat jaring panjang itu dan memasukkannya ke dalam tas. Saat itu juga mereka memutuskan untuk langsung pulang, karena hasil tangkapan nila sudah sangat banyak.
Untuk bisa sampai di tempat parkiran motor, maka mereka harus menyeberangi sungai lagi.m seperti tadi waktu berangkat. Tapi waktu tiba di sungai itu, ternyata banjir bandang telah datang, air sungai yang tadinya mengalir tenang sedalam lutut, kini jadi berarus sangat deras. Bahkan tebing setinggi empat meter itupun penuh air sampai meluap!
"Gimana nih..?" tanya Ipung.
"Terpaksa kita nyeberang lah.." jawab Wisnu.
__ADS_1
"Mana bisa? Airnya aja deras banget gitu, dan pastinya dalam banget, orang sampe meluber gitu.." kata Ipung. "Kita lewat jembatan aja.."
"Jembatan terdekat itu dua kilo dari sini, elu mau jalan kaki memutar dua kilo? Jadinya empat kilo ntar." jawab Wisnu.
"Dari pada mati tenggelam.." kata Ipung.
"Udah.. nyeberang aja biar cepet.. kita bikin rakit dulu dari batang pisang.." kata Wisnu.
Akhirnya Ipung cuma bisa menurut. Mereka menebang dua pohon pisang dan dibelah menjadi empat, lalu mereka menyatukan dua potongan batang pisang itu, mengikatnya dengan tanaman merambat 6ng berada di pinggiran sungai. Dan kini terbentuklah dua buah rakit sederhana dari batang pisang sepanjang dua meter. Dua rakit itu diturunkan ke air.
Begitu mereka mulai menaiki rakit masing-masing, arus air langsung menyeret rakit ith dengan sangat cepat. Kini mereka harus berjuang keras, menggerak-gerakkan kaki dan tangan seperti berenang, tapi dalam posisi tengkurap di atas batang pisang.
Setelah melalui sebuah pergulatan yang sangat panjang dengan derasnya arus air, akhirnya mereka tiba di seberang juga. Tapi posisi mereka telah terseret 25 meter dari tempat semula mereka memulai penyeberangan, padahal lebar sungai itu cuma tiga meter! Ini menunjukkan betapa kuatnya arus banjir bandang itu.
Sampai di daratan, mereka langsung rebah di tanah becek di pinggiran sungai, tenaga mereka telah terkuras habis. Tapi beruntung mereka bisa sampai di seberang dengan selamat. Sementara hujan masih turun dengan sangat lebat, disertai angin yang bertiup kencang. Untuk beberapa menit mereka masih rebah beristirahat.
"Ikannya masih lu bawa kan..?" tanya Wisnu.
"Aman lah.. masih utuh.."
Wisnu membuka tas berisi jaring dan memeriksanya. "Syukurlah.. ikan aman, jaringnya juga nggak hilang.."
"Ini kan ide lu.. nekat nyeberang aja.. udah dua kali ini gue hampir mati! Cuma dalam sehari!" seru Ipung.
"Haha.. tapi lu masih hidup kan.." kata Wisnu.
Merekapun bangkit dan hendak beranjak pergi. Tiba-tiba saja mata mereka menangkap sebuah oergerakan aneh pada permukaan air sungai. Riak-riak kecil yang bergerak melawan arus sungai yang sangat deras. Riak air itu segera berubah jadi gelombang yang besar menuju ke arah hulu, menentang arus sungai!
Lalu dipermukaan air itu muncul sepasang sungut yang panjang dan besar, menyusul terlihatlah sebuah mulut sangat besar yang menganga lebar, cukup untuk menelan sebuah sepeda motor! Kemudian berturut-turut terlihat sebuah kepala sebesar mobil, sirip punggung setinggi satu meter, dan terakhir, ekor sebesar becak!
Wisnu dan Ipung bisa melihat jelas kalau badan ikan itu memang sebesar perahu! Dan mereka tau kalo ikan tadi adalah jenis ikan jambal yang bersungut. Ternyata ikan jambal monster benar-benar ada! Kejadian itu hanya berlangsung dalam beberapa detik, tapi telah membuat mereka berdiri mematung dan menggigil ketakutan.
Ikan raksasa itu telah menyelam kembali ke dalam air, dan anehnya, tidak ada lagi gelombang air dari gerakan ikan tadi, bahkan riak air pun tidak ada, seakan ikan itu langsung menghilang begitu saja! Ikan sebesar itu tentunya bisa menimbulkan gelombang air yang besar pula.
"Itu.. itu ikan jambal.. jambal raksasa!" seru Ipung.
"Berarti orang tua tadi nggak nggedebus doank.. ikan itu benar-benar ada.." sambung Wisnu.
"Tapi kenapa bisa nyampe ke sungai kecil ini?" tanya Ipung.
"Tempat ini cuma 100 meter dari waduk.. lagian air sungai lagi meluber gitu.." jawab Wisnu. "Tapi gue nggak yakin itu ikan beneran.. gue malah menduga kalo tadi itu adalah makhluk halus yang menyamar jadi ikan.."
"Berarti tadi kita ngelihat penampakan di siang bolong gitu?" tanya Ipung.
"Ini sudah jam 5 sore lho.. lagian mendung tebal gelap dan hujan deras gini, nggak mustahil makhluk halus bisa muncul.."
"Udahlah.. kita balik aja.." kata Ipung akhirnya. "Tambah banyak keanehan disini.."
__ADS_1
Mereka jalan bersisian menembus hujan sangat lebat menuju ke tempat motor diparkirkan. Hawa sangat dingin membuat tubuh mereka menggigil, ditambah rasa ketakutan akibat melihat penampakan ikan monster tadi, membuat tubuh mereka jadi menggigil semakin hebat.
Tanpa ngomong apa-apa lagi, mereka berjalan cepat-cepat tinggalkan pinggiran sungai itu tanpa menoleh ke kiri-kanan lagi. Sudah cukup keanehan-keanehan yang mereka alami hari ini, dan mereka sudaj tidak mau melihat keanehan lagi. Yang pasti,, mereka telah mendapat banyak pengalaman hebat hanya dalam satu hari saja. Dan itu semua masih merupakan misteri bagi mereka, hingga hari ini.