Ghost Story (Cerita Sang Pemancing)

Ghost Story (Cerita Sang Pemancing)
Cerita Si Pemancing (Panen)


__ADS_3

"Sudah siap semua? Senter? Pelampung, phospor starlet?" tanya Juned.


 "Udah semua. cuma umpan yang belom." jawab Udin.


 "Ntar mampir dulu di pasar Pojok buat beli cacing sama udang." kata Juned.


 "Langsung berangkat aja kalo gitu." sahut Udin.


 Berbekal 2 tas berisi peralatan pancing, 2 meter terpal buat alas duduk juga dua buah senter besar, jam 4 sore itu merekapun berangkat berboncengan mengendarai motor maticnya Juned. Hari ini mereka berencana memancing di sungai besar yang juga melewati kota mereka, tapi lokasinya jauh ke arah hulu sungai, tepatnya di kabupaten sebelah.


 Saat ini adalah musim kemarau, dan permukaan air sungai berada di titik terendahnya, jadi mereka memilih memancing ikan di waktu malam, target kali ini adalah ikan lele, gabus dan gabus males alias betutu, sedangkan tehnik mancing yang digunakan adalah memakai bobber alias pelampung dengan ditambahi phospor starlet yang bisa menyala hijau dalam gelap.


 Satu jam perjalanan, sampailah mereka di pasar yang disebutkan Juned tadi, sebuah pasar tradisional semi modern di desa yang lumayan terpencil. Umpan berupa cacing didapat dari toko pakan burung, dan udang didapat dari pedagang ikan.


 Setelah mendapat semua yang dibutuhkan, merekapun lanjut gas lagi, masih sekitar seperempat jam perjalanan lagi yang harus ditempuh untuk tiba di lokasi. Sungai yang dimaksud memang lumayan jauh dari pusat kota kabupaten itu.


 Melewati sebuah jembatan besar yang melintas diatas sungai yang akan mereka pancing, mereka berbelok keluar dari jalan besar dan mulai memasuki jalan perkampungan. Hingga sampai di kampung terakhir dan melewati rumah terakhir, sampailah mereka pada deretan panjang rumpun bambu yang sangat lebat.


 Pada sebuah perempatan jalan kecil, mereka berbelok memasuki jalan tanah yang menurun, jalan tanah ini adalah akses satu-satunya untuk bisa sampai di tepian sungai. Di kiri kanan jalan selebar 2 meter itu juga ditumbuhi rumpun bambu yang sangat lebat, meskipun hari masih sore, tapi jalan itu sudah tampak singup remang-remang.


 "Baru masuk lokasi aja udah serem banget gini jalannya, trus gimana suasana di pinggir sungainya ya.." gumam Udin.


 "Lu belom pernah ke spot ini?" tanya Juned.


 "Ya belum lah.. gue taunya juga dari lu.."


 "Malah spot serem gini yang gue cari, makin serem tempatnya, makin dikit yang mancing disini, ikannya masih banyak jadinya.." kata Juned.


 "Halah, itu cuma teori ngawur lu aja.." jawab Udin.


 "Lu lihat sendiri lah ntar.. lagian gue juga pernah dapet banyak ikan disini.."


 Motor matic itu terus berjalan pelan menuju pinggiran sungai. Semakin dekat ke sungai, makin lebat aja rumpun bambu disitu, sudah seperti semacam hutan bambu saja, dan tentunya suasana jadi tambah remang-remang gelap. Tapi saat sampai tepat di pinggiran tebing sungai, rumpun bambu itu menghilang, berganti dengan rumput gajah setinggi dua meter.


 Setelah memarkirkan motor di bawah rumpun bambu, mereka mulai membawa semua peralatan untuk menuruni sungai. Juned keluarkan semacam golok pendek, cuma sepanjang dua jengkal. Dan dengan golok itu, Juned mulai menebas-nebas rumput gajah buat membuka jalan.


 Tebing sungai itu tidak terlalu curam, dan cuma berjarak 10 meter dari motor mereka terparkir sampai ke tepian air sungai. Disini tanahnya lebih terbuka selebar dua meter dari tepian air, rumput gajah tumbuh sangat jarang, hingga mereka cuma tinggal sedikit membersihkan.


 Setelah memeriksa beberapa spot, akhirnya mereka memilih salah satu spot dibawah pohon trembesi yang sangat besar, karena dasar air disitu adalah paling dalam dibanding lainnya. Merekapun mulai menggelar terpal dan menyiapkan semua peralatan pancing.


 Tehnik mancing kali ini adalah memakai bobber atau pelampung, dengan 4 buah rod alias joran yang kokoh lengkap dengan reel atau kerekan dengan senar dan juga mata kail yang besar, karena memang yang ditarget adalah ikan besar, cacing yang digunakan juga besar-besar. Seperempat jam kemudian sudah tampak empat buah pelampung mengambang tegak di permukaan air.


 Sore menggelap dengan cepat, seakan dalam sekejap alam berubah menjadi gelap gulita. Tapi belum ada satu ikanpun yang nyangkut di kail. Lalu tampak suatu cahaya lampu menerangi pinggiran seberang sungai tepat di depan mereka.


 "Kayaknya ikannya nggak mau makan." kata Udin.


 "Sabar lah, baru jam segini juga. Biasanya disini ikannya makan sekitar jam tujuh." jawab Juned.


 "Sejak kapan lu jadi pawang ikan?" ejek Udin.


 "Lu aja yang belum tau."


"Eh, kenapa bisa ada lampu merkuri di pinggir sungai?" tanya Udin tiba-tiba, sambil menunjuk ke seberang sungai di depan mereka.


 "Itu emang lampu penerangan jalan kampung." jawab Juned.


 "Emang ada jalan di pinggir sungai sana?" tanya Udin.


 "Ada perkampungan di seberang, deket sama sungai, jalan aspalnya aja cuma beberapa meter dari sungai." jawab Juned.


 Udin mencoba tajamkan pandangan ke seberang sungai, lalu diantara lebatnya pohon bambu, tampak samar cahaya lampu-lampu dari rumah penduduk. Jadi ternyata benar, dibalik deretan rumpun bambu di seberang itu ada sebuah jalan kampung. Dan tepat dimana lampu merkuri itu berada, tidak ada satu bambu pun yang tumbuh, jadi cahaya merkuri itu juga menerangi pinggiran sungai di seberang dan masih kelihatan dari tempat mereka memancing


 Empat buah cahaya hijau tampak berpendar dan mengapung di permukaan air, empat cahaya itu berasal dari empat phospor yang dipasang pada ujung pelampung, dengan begini, meski dalam gelap total sekalipun, mereka masih bisa melihat pelampung yang tenggelam kalau ada ikan yang menyambar umpan mereka.


 Sayup-sayup dari seberang terdengar suara adzan isya, tapi masih aja belum ada ikan yang menggigit umpan. Suara denging nyamuk mulai mengganas di sekitar mereka. Beberapa kali terdengar bunyi tepukan di lengan dan wajah mereka sendiri untuk mengusir nyamuk-nyamuk itu.


 "Anjir! Nyamuknya udah kayak jet aja! Cepet banget lewat pas di telinga!" gerutu Juned.


 "Ini nyamuknya segede apa ya, gigitannya bisa sakit banget gini.." sambung Udin.


 "Donor darah dah kita.." sahut Juned.


 Akhirnya dengan sangat terpaksa mereka harus merelakan diri jadi donor buat nyamuk. Tapi lama-lama Juned nggak tahan juga, jadi dia kumpulkan ranting-ranting kering dari sekitar situ dan mulai membuat api unggun kecil, sekedar untuk mengusir nyamuk.

__ADS_1


 Tiba-tiba saja, phospor pelampungnya Juned tampak bergerak-gerak. Tanpa ragu Juned langsung hajar saja joran itu. Tapi ternyata cuma ikan wader sebesar jari yang nyangkut di kailnya. Tawa Udin langsung meledak seketika, sedangkan Juned keheranan memandangi ikan kecil yang menggelepar di ujung senarnya.


 "Heran, ikan cuma segini gimana bisa nyangkut di kail yang ukurannya gede gini ya?"


 "Nggak sengaja nyangkut kali." jawab Udin.


 Setelah diberi penerangan lampu senter, barulah mereka tau kalo ikan itu nyangkut di bagian insang, dan bukan pada mulutnya, maka tawa Udin meledak lagi.


 "Ikannya apes banget." kata Juned.


 "Setidaknya lu punya dua umpan sekarang, cacing sama wader." jawab Udin.


 "Eh iya bener, coba aja dipake buat umpan."


 Maka ikan wader itupun di pasangkan pada ujung mata kailnya Juned sebagai umpan dan kembali dilempar ke air. Lima menit menunggu, dan pelampung tenggelam dengan cepat, pertanda ada ikan yang menyambar. Sekali lagi Juned tarik jorannya secepat kilat, dan kailnya seperti nyangkut pada sesuatu yang besar.


 "Wahh.. ikan besar nih!" dengan semangat Juned langsung menggulung reel kerekannya.


 "Ati-ati, jangan sampe putus.." sahut Udin.


 "Nggak mungkin kalo putus, takutnya malah mulut ikannya yang sobek." jawab Juned.


 Beberapa saat menggulung senar, Juned mulai merasa ada suatu keanehan, tidak ada perlawanan sama sekali dari si ikan, seakan cuma diam saja mengikuti tarikan senar, meskipun masih terasa sangat berat. Juned percepat menggulung senarnya, lalu kelihatanlah suatu benda panjang sebesar lengan yang mulai menggeliat-geliat di ujung senar.


 "Bangk* si*lan! Ini ularrr…!!" teriak Juned.


 Tanpa ragu lagi dia ambil goloknya dan langsung membabat putus senarnya. Ya, benda panjang yang menggeliat di ujung senarnya adalah seekor ular sebesar lengan yang langsung nyemplung kembali ke dalam air sungai.


 "Beneran sial dangkalan! Tadi wader, sekarang ular! Lagian gimana ceritanya ular bisa mau makan umpan?!" kata Juned di sela sumpah serapahnya.


 "Itu ular air, tadi lu pake umpan ikan, jelas ularnya doyan lah.."


 "Udah dua kali kejadian aneh.." kata Juned.


 "Lagian kenapa langsung lu potong gitu? Kailnya masih ketinggalan di mulut ular, bisa mati dia.." kata Udin.


 "Trus maksud lu, gue harus megangin ular buat ngelepas kail gitu?! Ogah banget! Digigit malah koit ntar.." seru Juned.


 "Ular air tawar mana ada yang berbisa?" sahut Udin.


 Udin cuma ketawa ngakak lagi. Sungguh suatu kejadian yang aneh bagi pemancing, sampai bisa dapat ular kayak gitu. Tapi sehabis insiden itu, mereka teruskan lagi memancing, tanpa mereka sadari kalau lampu merkuri di seberang sungai tadi makin lama makin meredup, hingga akhirnya cahayanya menghilang sepenuhnya. Tapi kemudian Udin sadar juga.


 "Itu lampu merkurinya mati atau gimana ya?"


 "Mungkin ketutup pohon." jawab Juned. "Tapi malah bagus kalo gelap gini."


 "Tadi aja nggak ada pohon disitu." kat Udin.


 Dengan penasaran Udin perhatikan lampu merkuri di seberang itu, tapi bahkan tiang lampunya aja nggak ada, seperti ada sebuah bayangan hitam besar yang menutupinya. Tiba-tiba saja, tepat dimana lampu itu berada, Udin melihat suatu bayangan besar bergoyang ke kiri, dan lampu itupun kelihatan lagi, masih menyala terang.


 Udin mengira kalau bayangan itu adalah sebuah pohon. Tapi ternyata bayangan tadi bergerak lagi ke kanan, lampu merkuri itu ketutup lagi hingga cahayanya menghilang lagi. Dengan penuh keheranan, Udin tajamkan pandangannya, dan tampaklah satu siluet hitam pekat berwujud manusia sangat besar, lalu mulai tampak sepasang mata sebesar bola basket yang menyala merah terang seperti lampu senter! Tenggorokan Udin langsung tercekat.


 "Ned.. it-itu… itu.. a-apa itu?" Udin menunjuk ke arah merkuri.


 Juned pun ikut menajamkan pandangannya, dan dia ikut terkejut. "Itu.. itu hantu.. gendruwo!"


 "Kit-kita.. kita pulang aja Ned.. itu.. itu genderuwo!" kata Udin, suaranya jadi tergagap.


 "Halah! Itu gendruwo di seberang gitu!" sahut Juned sambil meraih gagang goloknya.


 "Ta-tapi.. tapi itu hantu.. dan han-hantu.. hantu bisa ter-terbang kes..kesini.."


 "Coba aja kalo berani kesini! Biar gue bacok-bacok sekalian! Jadiin umpan sekalian!" seru Juned.


 Rupanya emosi Juned sudah sampai di ubun-ubun, sudah mancing berjam-jam dan belum dapat ikan, malah diganggu makhluk halus semacam itu, gitu pikirnya. Juned sudah tidak perduli lagi dengan penampakan genderuwo sangat besar yang menutupi lampu merkuri setinggi kira-kira 4 meter lebih itu.


 Mereka teruskan lagi memancing seolah nggak pernah ada apa-apa. Sedangkan Udin sama sekali tidak berani mengangkat kepala lagi, dia cuma menunduk saja. Sepuluh menit berlalu dalam diam. Lama-lama Udin penasaran juga dengan genderuwo tadi, jadi dia memberanikan diri mengangkat kepalanya, dan ternyata genderuwo itu sudah tidak ada lagi disana, lampu merkuri itu terlihat menyala terang kembali. Udin pun menghela napas lega.


 "Udah pergi hantunya.."


 "Udah dari tadi.." sahut Juned. "Elu aja yang penakut, sama makhluk kayak gitu harus berani, dan kalo kita berani, dia yang akan pergi.. tapi kalo kita takut, dia akan tambah mendekat..!"


 "Tapi itu hantu! Gimana cara ngelawannya?" tanya Udin.

__ADS_1


 "Manusia itu makhluk paling sempurna! Dan kita masih punya Tuhan, lu jangan sampe lupa soal itu!"


 Udin cuma diam membenarkan kata-kata Juned, mungkin tadi memang dia sudah ketakutan duluan, karena selama ini dia belum pernah melihat penampakan. Acara memancing itupun kembali dilanjutkan, meskipun sebenarnya Udin masih merasa was-was juga. Dia coba konsentrasi pada phospor di ujung pelampungnya.


 Tapi kemudian sudut ekor matanya menangkap sebuah gerakan di seberang sungai. Udin mengangkat kepalanya dan tertegun. Dengan penerangan lampu merkuri di seberang, Udin melihat sebuah benda sangat panjang seperti kain berwarna putih tampak seperti terbang di atas pinggiran sungai di seberang!


 Kain panjang itu melesat cepat ke arah hulu sungai, dan dalam sekejap menghilang dari pandangan. Meski cuma sekejap, tapi Udin sudah bisa menduga apa yang barusan lewat di seberang itu. Tubuhnya terasa menggigil bagai kedinginan, tanpa sadar dia merapatkan tempat duduknya di sebelah Juned.


 "Ned.. elu.. lu lihat nggak yang tadi..?"


 "Apaan cuma kain gitu doank?!" jawab Juned, tapi tangan kanannya masih memegang golok.


 "Perasaan dari tadi kita diganggu mulu.. mana ikannya nggak dapet-dapet lagi.." kata Udin. "Ternyata disini ngeri banget tempatnya.."


 "Yang penting niat kita disini buat mancing dan nggak macem-macem, gitu aja.." jawab Juned.


 Udin coba meyakini kata-kata sahabatnya itu, diapun berusaha tetap tenang dan kembali memancing, meskipun posisi duduknya masih berdekatan dengan Juned. Tanpa sengaja pandangannya mengarah ke tengah sungai, tapi justru saat itulah dia melihat sesosok perempuan berbaju putih!


 Sosok perempuan itu mengambang satu meter diatas permukaan air dalam posisi berdiri tepat di tengah sungai, rambutnya panjang riap-riapan. Udin langsung terjingkat kaget, dan langsung merangkul Juned, sedangkan Juned sendiri malah arahkan senternya ke arah sosok perempuan di tengah sungai itu.


 Dan saat itulah mulai terdengar suara tawa cekikikan melengking-lengking, tawa yang sangat berbeda dengan tawa manusia manapun di dunia, sungguh suatu tawa yang sangat mengerikan dan bisa bikin orang langsung pingsan.


 Tapi tidak dengan Juned, dia mendorong Udin yang sedang merangkulnya, lalu meraih golok dua jengkalnya dan berdiri di tepian air itu sambil acungkan goloknya ke arah sosok perempuan di tengah sungai itu, kemudian dia berteriak dengan lantang.


 "Dasar anj*ng betina kurang ajar! Dari tadi gue nggak dapet ikan, dan lu ngetawain gue gitu?! Sini lu! Biar gue sobek mulut lu yang ketawa terus itu sampe kepala lu putus!"


 Teriakan Juned menggema sampai ke seberang sungai, seakan menindih suara tawa dari makhluk itu. Kemarahannya benar-benar meledak sekarang, dia nggak peduli kalau yang dihadapinya saat itu adalah bangsa jin, dia tantang itu kuntilanak untuk duel satu lawan satu!


 Tapi anehnya, justru suara tawa si kunti makin lama makin pelan, lalu sosok kuntilanak itu terlihat berkelebat sangat cepat menuju ke arah hulu sungai. Masih terdengar suara tawanya di kejauhan yang perlahan menghilang. Juned jatuhkan diri dan duduk diatas terpal, nafasnya memburu, dia ambil botol air mineral dan menenggaknya sampai habis, Juned mencoba meredakan amarahnya yang meledak-ledak.


 Saat itulah salah satu tangkai joran yang berada di depannya mendadak melesat hendak masuk ke air. Dengan sigap Juned melompat dan menangkap joran itu dan langsung menariknya dengan cepat. Terasa seperti ada beban sangat berat di ujung senarnya, tangkai jorannya sampai melengkung.


 Juned bangkit berdiri dan mendekati tepian air, kali ini dia yakin ada ikan besar yang memakan umpannya, jadi dia terus bertahan memegang jorannya kuat-kuat. Pertarungan dengan ikan pun dimulai. Juned yakin dengan senar dan jorannya, tapi dia nggak yakin dengan mata kailnya yang bisa saja patah sewaktu-waktu, jadi dia harus berhati-hati.


 Lalu permukaan air tampak bergolak, pertanda ikan sudah mendekat, tapi dia belum mau menyerah, jadi Juned terus menghajarnya dengan metode tarik ulur. Hingga akhirnya, sepuluh menit kemudian, gerakan si ikan mulai melemah, dan Juned pun menyeretnya ke tepian sungai.


 "Lu pegangi jorannya, biar gue nyemplung ke air, senarnya nggak akan kuat kalo ditarik ke atas begitu saja.." seru Juned.


 Dengan sigap Udin langsung terima joran itu, Juned pun nyemplung ke air sedalam lutut, dia mulai memegangi ikan itu dengan dua tangannya dan melemparkannya ke arah daratan. Tampak seekor ikan lele sebesar paha orang dewasa menggelepar di tanah kering pinggiran kali.


 "Yesss! Berhasill! Yuhuuu!!" teriak Juned.


 "Ini monster Ned! Monster lele! Haha.." sahut Udin.


 Joned keluar dari air dan duduk di dekat lele besar itu. Panjangnya mungkin sekitar 75 senti.


 "Ikan segede ini mana bisa diangkat senarnya doank, pasti langsung putus.." kata Juned.


 "Untung lu bisa mikir cepet gitu.. gue aja udah kuatir putus aja dari tadi.." sambung Udin.


 Untuk beberapa menit mereka masih ngobrol seakan beristirahat, menaklukkan ikan sebesar itu tentu butuh ekstra tenaga dan konsentrasi tinggi, salah sedikit saja pasti ikan bisa kabur. Tampak raut kepuasan dari wajah mereka, kini suara tawa mulai terdengar lagi dari mereka.


 Dan entah kebetulan atau memang sudah tiba jam makannya ikan, sepuluh menit kemudian, gantian jorannya Udin yang ditarik ikan, dan lagi-lagi ikan lele yang memakan umpan dan berhasil didaratkan. Meskipun lebih kecil dari yang pertama tadi, cuma sebesar betis orang dewasa, tapi masih termasuk ikan yang besar juga.


 Dalam waktu setengah jam kedepan, dua orang pemuda tanggung itu bagaikan panen ikan, bergantian umpan mereka terus disambar ikan. Kengerian dan kemarahan yang tadi mereka rasakan seakan hilang begitu saja, berganti rasa antusias dan semangat tinggi lagi. Mereka telah lupa dengan penampakan yang tadi mereka lihat.


 Hingga akhirnya, satu jam setelah ikan pertama didaratkan, mereka telah menangkap empat ekor ikan lele, dua ikan gabus dan tiga ekor ikan gabus males, ukuran terkecil adalah sebesar lengan orang dewasa! Tapi setelah itu, ikan seakan berhenti makan, nggak ada sambaran ikan lagi setelah setengah jam memancing.


 "Beruntung banget kita hari ini.." kata Udin.


 "Kan udah gue bilang, spot ini selalu ada hasilnya, udah beberapa kali gue mancing disini, dan dapetnya selalu gede-gede gini.." sambung Juned.


 Udin jadi ingat lagi dengan penampakan tadi. "Dulu pas lu kesini, lu juga lihat penampakan kayak tadi?"


 "Nggak ada.. gue jarang ngelihat makhluk begituan.. mancing sampe pagi pun jarang ketemu.."


 "Berarti emang gue aja yang sial.." kata Udin.


 "Mungkin lu perlu di ruwat dulu tuh.. buang kesialan.. hehe.." ledek Juned.


 "Mandi air kembang tengah malam gitu ya.. haha.."


 Dua pemuda itu tertawa bareng, lupa lagi dengan penampakan tadi. Setengah jam kedepan, mereka masih teruskan memancing sambil ngobrol ngalor ngidul, semua ketegangan dan ketakutan telah menghilang. Tapi sudah nggak ada ikan yang menyambar umpan lagi, jadi mereka memutuskan untuk mengakhiri pemancingan itu dan mulai membereskan semua peralatan memancing.

__ADS_1


 Malam itu mereka pulang dengan membawa sembilan ekor ikan yang besar-besar, tentunya ini adalah suatu keberhasilan bagi pemancing. Mereka ibarat panen ikan, dan juga panen penampakan..


__ADS_2