
Bunyi gemericik air membangunkan Juned dari tidurnya, suaranya persis seperti ada seseorang yang sedang mencuci kaki di air waduk. Juned pun celingukan mencari, tapi nggak ada satu orangpun di tepian air. Tanpa menggubrisnya, Juned beranjak menyalakan api unggun yang sudah hampir padam, karena udara terasa sangat dingin.
Waktu menunjuk di jam 2 pagi. Rasa pusing akibat alkohol tadi sudah agak mereda, tapi tiba-tiba saja Juned merasa sangat lapar. Lalu dia teringat dengan ikan tangkapan pak Bejo dan Edi tadi. Ikan itu masih tergeletak di dekat api unggun.
Tanpa pikir panjang, Juned mengambil tiga ekor ikan itu dan beranjak menuju tepian air untuk membersihkannya. Lagi fokus membersihkan ikan, tiba-tiba terdengar lagi gemericik air di samping kirinya, seperti ada orang yang bermain air, kali ini terdengar sangat jelas.
Tapi lagi-lagi tidak ada orang sama sekali, bahkan permukaan air waduk itu tampak tenang tanpa riak sedikitpun. Juned adalah orang yang cuek dengan segala penampakan, jadi dengan santainya dia jalan kembali ke api unggun di depan tenda. Saat itulah dia merasakan tiupan angin yang sangat keras dari belakang, dari arah waduk!
Sebelum Juned sempat berbalik, tiupan angin itu telah melewati dirinya dan menyasar ke satu tenda yang di pakai oleh Mamat dan Supri. Tenda itu seperti dilanda angin ribut, berguncang-guncang dan seperti hendak terangkat dari tanah. Dan anehnya, tenda satunya yang dihuni pak Bejo dan Edi situ seakan tidak tersentuh oleh angin keras itu!
Cuma sebentar saja tenda itu terguncang dengan hebat, setelah itu angin seakan pergi begitu saja. Juned sudah tau kalau dia sedang dikerjai dengan angin lokal dan suara gemericik air tadi, tapi tanpa mengacuhkannya dia teruskan langkah ke arah api unggun dan mulai membakar tiga ekor ikan tadi.
Setelah ikan matang, Juned langsung memakannya tanpa bumbu apapun. Perutnya kini terasa kenyang karena tiga ekor ikan itu sebesar telapak tangan. Lalu dia kembali teruskan tidurnya, rebah di dekat si Jon seakan tidak pernah terjadi apa-apa, meskipun begitu, tangan kanannya tetap menggenggam erat golok andalannya. Juned pun terlelap.
Tapi mendadak saja Juned mendengar helaan napas keras dari si Jon, dan badannya terasa bergetar keras. Juned membuka mata, dan mendapati satu siluet manusia tepat diatasnya! Dengan penerangan cahaya api unggun, Juned bisa melihat silet itu adalah seorang laki-laki yang sudah sangat tua, pipinya kempot dan sangat keriput.
Orang tua itu memakai baju hitam dan semacam blangkon batik di kepalanya. Dia duduk di sebelahnya si Jon, melongok melewati atas tubuh si Jon dengan tangan kanan bertumpu pada dada si Jon. Inilah sebab kenapa si Jon jadi kesulitan bernapas hingga dia berusaha menghela napas dengan sangat keras.
"Mau ngapain lu?!" bentak Juned.
Tanpa ragu lagi, Juned langsung babatkan goloknya ke arah kepala sosok orang tua tadi. Dia kuatir kalau si orang tua akan melukai si Jon. Tapi sebelum golok itu sampai di kepala, tiba-tiba sosok orang tua itu menghilang begitu saja.
Juned masih terduduk nanar, si si Jon sudah tertidur lagi dengan tenang, tubuhnya sudah tidak bergetar dan napasnya sudah teratur. Ternyata orang tua tadi adalah bangsa makhluk halus yang hendak mengganggunya. Juned mulai berpikir, suara kecipak air waduk, angin keras yang cuma bertiup ke satu tenda saja, dan penampakan sosok orang tua tadi, semua adalah bukti kalau Juned sedang diincar.
"Apa karena gue udah membakar patok-patok kuburan itu ya?" tanya Juned dalam hati. "Tapi apa hubungannya? Orang mati ya mati aja.. nggak mungkin bisa bangkit lagi.. paling hantu nyasar yang mau mengganggu.."
Akhirnya Juned memutuskan untuk melanjutkan tidur lagi. Goloknya masih tergenggam di tangan kanan, bersiap menghadapi segala gangguan. Dan setelah itu sudah tidak ada lagi gangguan yang datang.
Pagi hari, saat matahari terbit, Juned terbangun dengan perut seperti dipelintir. Dia lari ke tepian waduk dan muntah-muntah banyak sekali. Bahkan ikan yang dimakannya semalam ikut keluar semua. Juned terduduk lemas di tepian air, dia tak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya. Pak Bejo datang menghampirinya.
"Lu kenapa bisa muntah-muntah gitu Ned?"
"Nggak tau pak.. mungkin efek miras semalem.." jaeab Juned.
"Salah sendiri.. kayak gitu diminum.." sahut pak Bejo. "Semalem lu lihat apa?"
"Kok sampeyan bisa tau pak?" tanya Juned heran.
"Si Jon yang cerita.. semalem dia kayak ditekan di bagian dada, trus dia denger lu ngebentak seseorang.."
"Gimana si Jon bisa tau? Kan dia tidur?" tanya Juned.
"Dia tau semua yang terjadi.. tapi terlalu mabok buat bangun.."
__ADS_1
Akhirnya Juned pun menceritakan semua yang telah dialaminya semalam, tanpa dikurangi atau ditambah. Pak Bejo menghela napas panjang.
"Gue sering mancing disini, mancing malam juga sering, tapi belum pernah melihat penampakan.. kata penduduk sini,kuburan itu juga sama sekali nggak angker.."
"Apa karena patok kuburan itu ya pak?" tanya Juned.
"Nggak usah dipikirin.. paling cuma makhluk usil aja.." kata pak Bejo. "Lu jadi mancing nggak?"
"Ntar aja lah pak.. perut gue masih nggak enak.." jawab Juned. "Yang lain pada kemana?"
"Udah pada nyebar, nyari spot sendiri-sendiri.. gue juga mau mancing.."
"Sampeyan duluan aja lah pak.." jaeab Juned.
Akhirnya pak Bejo pun meninggalkan Juned di tepian waduk itu untuk mencari spot sendiri. Saat ini lagi musimnya tawes di waduk utara ini. Ikan tawes melimpah ruah dan besar-besar, jadi rombongan itu seolah sepakat menetapkan ikan tawes sebagai target hari ini.
Teknik memancing kali ini sangat berbeda, yaitu teknik 'nyeret', memancing dengan pelampung yang terbuat dari batang bawang putih atau potongan sandal. Kedalaman titik serang cuma dua jengkal dari permukaan air. Umpan yang digunakan adalah pelet lele yang sudah diberi air hingga berbentuk gumpalan menyatu.
Sebelumnya permukaan air disebari pur br pakan ayam untuk memancing tawes datang, setelah itu umpan baru di cemplungkan ke air. Pelampung berada di permukaan air itu diseret sangat perlahan ke kiri dan kanan bolak-balik, dan otomatis umpan yang berada di dalam air ikut terseret dan bergerak. Itulah sebabnya teknik ini dinamakan 'nyeret'.
Saat ada tawes yang menyambar umpan, maka biasanya ikan akan nyangkut sendiri di mata kail tanpa perlu menyentakkan jorannya. Sebenarnya teknik ini sangat gampang, tapi butuh latihan lama. Dalam rombongan itu cuma Supri belum bisa menggunakan teknik ini.
Dua jam berlalu, matahari mulai meninggi. Juned masih terduduk nanar di depan tenda, badannya masih terasa lemas. Dia cuma memperhatikan Supri yang lagi nyobok di depannya. Karena Supri tidak bisa memancing dengan teknik nyeret, maka dia memutuskan untuk nyobok dengan umpan lumut saja.
"Tau nih.. dari tadi nggak ada yang nyangkut.." sahut Supri.
"Mending lu cari wader pari aja.. dapetnya banyak dan cepet.." kata Juned.
"Wader yang kecil-kecil itu?"
"Woo.. jangan meremehkan wader lu, biarpun kecil tapi enak banget dagingnya.." jawab Juned.
Supri mulai tertarik, jadi dia keluar dari air. "Trus umpannya apa?"
"Pake cacing lah.. gue bawa cacing juga kok.." kata Juned.
Juned mulai memperagakan cara menyeting pancing khusus untuk wader, dengan joran pendek dan kecil, senar tipis, pelampung dan timah kecil, mata kailpun dipilih yang paling kecil, dengan umpan cacing yang secuil. Semua serba kecil karena wader juga kecil.
Entah karena putus asa atau penasaran, akhirnya Supri ikut memancing wader juga. Dan setengah harian itu mereka berdua malah asyik memancing wader yang besarnya tak lebih dari jari telunjuk itu. Memang sangat seru memancing wader, karena hidupnya bergerombol banyak banget, jadi sambaran pada umpan terus datang tanpa henti.
Menjelang tengah hari, mereka sudah mendapat wader sebanyak satu ember cat lima kiloan! Maka mereka pun memutuskan untuk beristirahat. Menanak nasi, telur, mie instan untuk makan siang. Saat itulah anggota rombongan yang lain mulai berdatangan, rata-rata mereka membawa hasil yang banyak.
Satu orang menyumbang tiga ekor tawes untuk digoreng di tempat itu juga. Dan saat semua makanan telah masak, seluruh rombongan mulai menikmati makan siang bersama di tenda. Menunya adalah nasi, telur, mie instan dan tentunya taees goreng. Dengan piring dari daun pisang. Sungguh suatu acara camping catch and cook yang sebenarnya.
__ADS_1
Mendung datang bergulung-gulung saat mereka selesai makan, cuaca yang tadinya sangat cerah pun berubah seketika. Tapi mereka masih harus membersihkan ikan tangkapan masing-masing, jadi sebelum hujan, mereka pun mulai melakukannya.
"Kenapa harus dibersihkan sekarang? Ntar di rumah aja kan bisa?" tanya Supri.
"Ikan tawes itu gampang busuk kalo nggak dibersihkan.. ntar nyampe rumah udah busuk.." jawab pak Bejo.
"Kalo ikan wader pak?" tanya Supri.
"Ya sama aja.. harus dibersihkan sekarang.." jawab pak Bejo.
"Waduh.. gue harus ngebersihin wader satu ember nih..?"
"Pake cara cepat aja.. tinggal pencet-pencet doank udah keluar isi perutnya.." sahut Juned. "Ntar tak bantuin.."
Maka Supri dan Juned mulai kerja sama membersihkan wader seember itu. Mereka berlomba dengan waktu karena mendung makin lama makin menghitam. Tapi untunglah, hujan turun tepat pada saat mereka selesai. Mereka segera berlarian ke tenda.
Hujan turun dengan sangat lebat bagai tercurah dari langit, tapi semua rombongan telah berada di dalam dua tenda dome itu. Mereka sempat tidur juga sambil menunggu hujan. Tapi sampai jam setengah 4 sore, hujan belum berhenti juga. Niat untuk meneruskan macimg setelah makan siang jadi gagal total. Merekapun berkumpul berdesakan dalam satu tenda untuk berunding.
"Kita harus nekat hujan-hujan nih.. soalnya mobil jemputan akan datang jam setengah lima.." kata pak Bejo.
"Walah.. tau gini mending dari tadi aja pulangnya.. nggak usah nunggu hujan.." gerundel si Jon.
"Siapa yang tau hujannya bakal lama gini?" sahut Edi.
"Elu mau basah-basahan dua jam perjalanan ke rumah Jon?" tanya pak Bejo.
"Ya pake jas hujan lah pak.." jawab si Jon.
"Emangnya elu bawa..?" tanya pak Bejo.
"Jelas bawa lah.." sahut si Jon.
"Trus siapa yang nggak bawa jas hujan..?"
Semua terdiam, pertanda kalau masing-masing membawa jas hujan sendiri.
"Oke.. clear ya.. kita mulai packing sekarang juga.."
Dibawah curahan hujan yang lebat itu mereka mulai membongkar tenda, packing segala peralatan masak dan juga semua alat pancing. Dalam tempo setengah jam, semua sudah beres,dan merekapun mulai meninggalkan pinggiran waduk itu.
Tidak seperti waktu berangkat kemarin yang mengambil jalan memutar untuk menghindari kuburan, kali ini mereka lewat di jalan utama, dan tentu saja melewati kuburan itu. Supri terlihat bergidik ngeri karena baru mengetahui kalo tenda mereka terletak sangat dekat dengan kuburan.
Juned masih bisa melihat lubang-lubang pada beberapa kuburan itu, lubang bekas patok-patok yang dia cabut semalam. Dan ditengah curahan hujan yang sangat lebat, Juned melihat satu sosok yang berdiri di salah satu kuburan itu. Sosok orang tua berbaju hitam dan berblangkon batik di kepala, dan dia sedang menatap tajam ke arah Juned!
__ADS_1
Juned teruskan langkah tanpa menggubrisnya, tapi tangannya tetap memegang gagang golok dengan erat. Sepertinya cuma dia yang bisa melihat sosok orang tua, karena yang lain tampak tenang saja. Untungnya perjalanan itu tidak mendapat gangguan apapun sampai mereka tiba di perkampungan penduduk.