
Mendung hitam gelap sudah menggantung di langit sejak siang, tapi hal itu tidak menyurutkan tekad Juned dan Udin untuk berangkat memancing. Ya, sejak melihat dua penampakan waktu mancing malam bareng Juned dulu, kini Udin jadi nggak begitu penakut lagi. Dan kali ini dia mau ikut mancing malam bareng Juned lagi.
Jam setengah lima sore itu mereka tancap gas dengan motor maticnya Juned, mendatangi sebuah spot mancing yang berbeda dengan yang dulu, masih satu aliran sungai, tapi lebih jauh ke arah hilir. Setelah mampir ke toko pakan burung untuk membeli cacing, juga mampir ke pasar setempat untuk mencari udang beku.
"Udangnya habis semua.. gimana nih..?" kata Udin saat mereka sudah keluar dari pasar.
"Pake cacing doank aja lah.." jawab Juned. "Udang cuma buat jaga-jaga kalau-kalau ikan nila nya mau makan.."
"Emangnya nila mau umpan udang?" tanya Udin.
"Mau lah.. malah nila yang gede aja yang mau, jadi yang kecil malah nggak gangguin umpannya.." kata Juned.
Akhirnya mereka cuma memakai umpan cacing saja, dan langsung lanjutkan perjalanan menuju lokasi. Karena saat ini akhir musim kemarau, dan air sungai sedang surut-surutnya, maka target kali ini adalah ikan lele, gabus dan gabus males alias betutu. Juned ingin mengulang kembali kejayaannya dulu yang telah berhasil mendaratkan seekor lele sebesar paha orang dewasa.
Perjalanan butuh waktu satu jam. Memasuki desa terakhir, mereka harus melewati sebuah jalan sawah yang di kiri kanannya ada tegalan luas. Dan saat itu tegalan sedang ditanami melon yang sudah berbuah besar serta siap panen. Mereka berdua jadi celingukan sendiri.
"Wah.. udah mau panen tuh melon.. ntar pulang ngambil satu dua buah aja.." kata Juned.
"Niatnya kesini mau mancing.. bukan malah nyolong melon.." sahut Udin.
"Nggak nyolong lah.. minta sama petani nya.."
"Ntar kalo pulang pasti udah malem. Mana ada petani malam-malam ke tegalan?" bantah Udin lagi.
"Kalo soal itu biar gue yang urus.." jawab Juned.
Sepanjang jalan tanah itu Juned terus memandangi melon di kiri kanan jalan. Bahkan motor sempat melambat juga jalannya. Saking fokusnya melihat melon yang ranum-ranum itu, Juned nggak sadar kalau stang motornya telah berbelok ke kiri.
Grusaak..! Byuur!
Ban depan motor merangsek ke pematang pembatas jalan dan masuk ke selokan irigasi di pinggiran jalan itu. Terdengar suara tawa ngakak dari Udin, rupanya dia telah meloncat dari motor lebih dulu sebelum motor itu nyemplung ke selokan bersama si Juned.
"Bangk* siaalaann..! baru mau mancing aja udah nyebur got gini!" umpat Juned.
"Huahahaha.. apa gue bilang.. kalo mau mancing itu jangan sampe punya niat buruk.. beginilah akibatnya.." sahut Udin sambil tertawa.
"Jangan ketawa-ketawa aja lu, bantuin gue narik lah.."
Sambil masih tertawa, Udin mulai menarik bagian belakang motor. Air selokan irigasi itu cuma sedalam lutut, tapi letaknya jauh lebih rendah dari jalan tanah, jadinya mereka harus bersusah payah menariknya dulu sebelum motor bisa balik ke jalan lagi.
Bagian depan motor belepotan lumpur, demikian juga kakinya juned sebatas lutut. Dengan masih menggerundel, Juned mencuci kakinya dan juga motor itu dengan air selokan irigasi itu juga. Setelah dirasa sudah lumayan bersih dari lumpur, mereka lanjut perjalanan tanpa menoleh lagi ke arah melon-melon tadi.
Akhirnya mereka tiba juga di pinggiran sungai yang di maksud. Setelah memarkirkan motor, mereka jalan kaki beberapa meter ke tepian air. Dan merekapun menyiapkan peralatan pancing. Teknik mancing kali ini mancing dasaran dengan memakai pelampung dan pospor starlet. Reel trolling dengan senar dan mata kail yang besar karena mereka menarget ikan besar. Jorannya sepanjang 1,8 meter juga sangat kuat.
Kunci dari memancing pada saat air surut gini adalah mencari bagian sungai yang dalam, di cerukan-cerukan pinggir sungai. Karena pada saat air surut, ikan akan mencari tempat yang dalam, dan biasanya ikan akan berkumpul di tempat itu. Dengan mencemplungkan senar ke dalam air, maka mereka akan tau berapa kedalaman air di spot itu.
Setelah menemukan spot yang cukup dalam, maka merekapun mulai menunggu umpan disambar. Meskipun saat itu maghrib belumlah tiba, tapi suasana sudah tampak remang-remang karena adanya mendung hitam tebal yang menggantung di langit.
"Wuihh.. baru seperempat jam nih.." seru Juned sambil sentakkan jorannya dengan cepat. Seekor ikan betutu sebesar lengan menggelepar di ujung senarnya.
"Wah.. pertanda bagus ini.." kata Udin. "Pancingan pasti lagi bagus.."
Juned melepas ikan betutu dari mata kailnya, memasang cacing dan mencemplungkan senarnya ke dalam air di titik yang sama persis di tempat tadi dia mendapat ikan. Sepuluh menit menunggu, pelampungnya tampak tenggelam dengan cepat. Kembali Juned tarik jorannya, dan seekor ikan betutu yang lebih kecil berhasil dia daratkan.
__ADS_1
"Lebih kecil dari yang tadi.. nggak papa lah.. anggap aja ini anaknya yang tadi.." kata Juned.
"Belom setengah jam lu udah dapet dua.. lha gue, disenggol aja nggak.." sahut Udin.
"Elu pindah spot sini aja.. keluarga betutu lagi.ngumpul disini.." kata Juned.
Akhirnya Udin pun menuruti saran itu, dia pindah spot tepat di sebelah Juned, dua pelampung berjarak.setengah meter tampak mengambang di permukaan air. Lima menit kemudian, lagi-lagi pelampungnya Juned lah yang tenggelam karena umpannya disambar ikan. Dan.kali ini betutu yang lebih besar dari yang pertama tadi.
"Nah.. bapaknya betutu sudah ketangkep juga.. tinggal kakek sama neneknya ini.."
"Heran, umpan sama, tempatnya sama, caranya juga sama, tapi kenapa cuma umpan lu yang dimakan?" protes Udin.
"Ya beginilah bedanya pemancing pro sama pemancing amatir.. hehehe.." ledek Juned.
"Nggak ada hubungannya kali.." sahut Udin.
"Atau mungkin cacing lu nggak enak tuh.. coba cicipin dulu.." sambung Juned.
"Lu aja yang nyicipin! Lagian belinya dari tempat yang sama juga.." sahut Udin.
Tapi kemudian umpan Juned disambar ikan lagi. Dan dalam sepuluh menit kedepan, dia telah menaikkan dua ekor ikan betutu lagi. Dua yang terakhir inilah yang paling besar, hingga disebut oleh Juned sebagai kakek dan neneknya betutu. Lima ekor ikan terpancing di satu titik yang sama secara berturut-turut, bahkan Udin belum mendapat seekor ikan pun.
"Udah habis ikannya.. sekeluarga udah lu tangkap semua.." gerutu Udin.
"Masih ada pasti tuh.. pakde dan budenya belom, tambah om dan tantenya.. masih banyak kali.." jawab Juned sambil ketawa-ketawa.
"Mungkin lagi apes mancing gue.." jawab udin.
Tapi setelah mendapat 'kakek dan nenek'nya betutu, pancingan jadi melambat. Setengah jam berlalu dan nggak ada sambaran ikan. Tanpa mereka sadari kalau hari sudah berganti malam. Anginpun bertiup semakin kencang, semtara dikejauhan sana terlihat kilat sudah mulai menyambar.
"Lu bawa jas hujan kan?" tanya Udin.
"Ya bawa lah.. jas hujan betmen yang gede itu.."
"Baguslah.. soalnya gue nggak bawa.. jadi ntar nebeng aja ke jas hujan lu.."
"Moga nggak hujan aja lah.. ribet banget kalo hujan pas mancing malam gini.." kata Juned.
Saat itulah Udin sentakkan jorannya dengan keras. Dan air sungai itu tampak bergolak karena gerakan ikan yang coba berjuang melepaskan diri. Tarik menarik pun terjadi. Tapi akhirnya ikan betutu itu menyerah dan bisa diangkat ke tepian. Dan ternyata betutu perolehan Udin sebesar betis! Paling besar dibanding yang lain sejauh ini.
"Akhirnya dapat juga.. setelah sekian lama.." kata Udin. "Wahh.. paling gede ini kayaknya.."
"Iya itu paling gede sejauh ini.." kata Juned. "Bener kan kata gue.. elu udah dapet pakde betutu tuh.. masih ada tiga lagi.."
"Kenapa lu bisa yakin kalo mereka sekeluarga?" tanya Udin ngasal.
"Soalnya mereka ngumpul dalam satu titik gitu.., berarti satu keluarga lah.. mungkin lagi arisan keluarga.." kata Juned.
"Mungkin malah murid-murid betutu yang lagi sekolah tuh.. lihat aja ukuran mereka sama, berarti kan sepantaran.. Hahaha.." Udin ikut ngaco.
"Serah lu aja lah.. tapi betutu ukuran segini termasuk kecil nih.. tapi ya nggak papa.. asal dapetnya banyak aja.." sahut Juned.
Seperempat jam kemudian, Udin kembali mengangkat ikan keduanya, sementara perolehan Juned belum bertambah. Kini mereka telah mendapat tujuh ekor ikan betutu sebesar lengan, meskipun ukuran segitu masih termasuk kecil
__ADS_1
Ikan betutu memiliki daging yang enak, banyak restoran menyajikan menu ini dengan harga yang sangat mahal. Ukuran ikan betutu bisa sebesar paha orang dewasa, tubuhnya pendek dan buntak. Tapi jarang yang bisa mencapai ukuran segitu. Secara keseluruhan, betutu adalah ikan yang bagus.
Malam beranjak pelan, kilat dan gelegar petir makin sering terdengar bersahut-sahutan, masih disertai angin kencang yang membawa titik-titik air hujan. Juned tidak mau kehujanan waktu masih mancing gini, karena saat ini malam malam hari. Dengan menggerutu dia mulai packing peralatan pancingnya, dan Udin cuma mengikutinya saja. Selesai membereskan, bergegas mereka menuju ke parkiran motor.
Tapi saat mereka sampai di dekat motor, hujan turun dengan sangat derasnya. Juned segera mengambil jas hujan dari jok motor dan langsung memakainya, dan Udin cuma nebeng di belakang. Lalu bergegas mereka tancap gas pergi dari pinggir sungai itu.
Rumah penduduk masih sangat jauh, jadi nggak ada tempat untuk berteduh dari hujan yang sangat deras itu. Mereka masih harus melewati jalan di tengah tegalan melon yang luas tadi. Lampu motor matic itu cuma bisa menembus curah hujan sejauh lima meter saja hingga jarak pandang jadi sangat terbatas.
Memasuki jalan tengah tegalan, situasi jadi lebih sulit lagi, jalan itu berlapiskan tanah, dan saat terkena air hujan, maka akan jadi licin luar biasa. Berkali-kali ban motor itu selip, jadi Juned harus sangat berhati-hati dan cuma bisa mengendarainya dengan sangat pelan.
Saat mencapai pertengahan tegalan itu, mereka melihat sebuah pemandangan sangat ganjil. Dengan penerangan lampu motor yang cuma berjarak dekat, mereka bisa melihat ada seseorang yang duduk menjelepok di tanah becek di tengah jalan itu!
Orang itu duduk menghadap ke arah tegalan, jadi Juned dan Udin cuma bisa melihat dari samping. Dan yang lebih aneh lagi, orang itu sedang merokok! Juned dan Udin bisa melihat dengan jelas bara api rokok yang menyala terang dalam kegelapan, ditengah curahan hujan yang sangat lebat! Juned sempat hentikan motor, ragu-ragu untuk melanjutkan.
"Heran, malam-malam, pas hujan gini, kok ya ada orang nongkrong di tengah tegalan…"
"Itu rokok kenapa masih bisa nyala di tengah hujan gini ya?!" tanya Udin.
"Itu orang apa bukan ya?" Juned malah ikut bertanya.
"Jangan-jangan..."
Belum selesai kata-kata Udin, orang itu tampak menoleh perlahan ke arah mereka. Dan anehnya, kini bara api rokok tadi bertambah satu lagi! Ada dua bara api rokok yang berjajar sangat dekat!
"It-itu.. itu.. itu bukan rokok! It.. itu adalah mata!" seru Udin.
"Gue udah menduga sebelumnya! Mana ada rokok bisa menyala di tengah hujan. Itu mata genderuwo.. cuma genderuwo yang memiliki mata merah menyala kayak gitu.." kata Juned.
"ki-kita.. kita pulangnya gimana?" tanya Udin ketakutan, ternyata dia masih takut menghadapi penampakan.
Memang benar, yang dikira bara api rokok tadi ternyata adalah sepasang mata dari orang itu. Dan saat dia menoleh, maka mata yang satunya juga kelihatan, jadi sekarang sepasang mata itu terlihat jelas, mencorong merah dalam kegelapan, ditengah curahan hujan lebat!
Lalu orang itu tampak bangkit berdiri di tengah jalan, menghadap ke arah Udin dan Juned sambil berkacak pinggang, seakan memang sengaja mencegat untuk menantang. Dan kemudian, terlihat jelas kalau tubuh orang itu perlahan mulai membesar dan terus membesar. Tapi keanehan tidak berhenti sampai disitu saja, karena kemudian mulai tumbuh bulu-bulu hitam lebat di seluruh badannya!
Juned langsung tarik gas motornya dalam-dalam, dia nggak peduli ban belakang selip-selip nggak karuan. Cuma satu tujuan yang terlintas di kepalanya, yaitu menabrakkan motornya ke arah sosok tadi! Saat mereka sudah dekat, ukuran sosok itu telah mencapai tinggi 4 meter lebih!
Tapi sebelum motor Juned sempat menabrak kaki yang sebesar batang kelapa berbulu lebat itu, makhluk genderuwo bermata merah itu tiba-tiba saja lenyap tak berbekas. Junet terus memacu motor kencang-kencang meninggalkan tegalan.
Sampai di perkampungan penduduk, Juned perlambat motornya, dan akhirnya berhenti di depan sebuah pos ronda. Meskipun memakai jas hujan, tapi pakaian mereka tetap basah juga, karena memang hujan itu sangatlah lebat.
Desa itu terasa sangat sepi, tidak ada orang yang keluar rumah sama sekali, padahal jam dinding di pos ronda itu baru menunjuk di angka 8. Tapi karena hujan lebat masih mengguyur, orang lebih memilih meringkuk dan menarik selimut di rumah masing-masing.
"Apes bener, kenapa tiap kali mancing malam, selalu saja diganggu begituan!" umpat Juned. "Dan kali ini tambah hujan lagi! Cuaca emang udah kebalik-balik!"
"Kapok gue.. nggak lagi-lagi mancing malam deh.."
"Lu takut sama makhluk begituan? Mau ditabrak motor aja udah minggat duluan gitu kok, ngapain ditakuti?" kata Juned.
"Udah berapa kali gue mancing malem dan selalu ditampakkan kayak gini!" timpal Udin.
"Yang penting kali ini kita berhasil menangkap seluruh keluarga betutu.. hehehe.." kata Juned.
"Atau murid-murid betutu satu kelas.." sambung Udin.
__ADS_1
Juned tarik gas pelan-pelan, motorpun bergerak meninggalkan pos ronda itu seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Mancing malam kali ini bisa dikatakan berhasil, mereka membawa pulang 7 ekor ikan betutu sebesar lengan, padahal cuma mancing beberapa jam saja. Bisa dipastikan mereka akan sarapan enak besok pagi.