Ghost Story (Cerita Sang Pemancing)

Ghost Story (Cerita Sang Pemancing)
Cerita Si Pemancing (Belut?)


__ADS_3

"Nggak mancing lu bro..?" sapa Ipung saat melihat Wisnu lagi duduk bengong di depan rumahnya.


 "Pancingan lagi jelek dimana-mana, jadi malas, lagian udah siang juga.." jawab Wisnu.


 "Kayaknya makin kesini pancingan makin susah aja.." kata Ipung sambil duduk di kursi sebelahnya Wisnu.


 "Mungkin ikan di sungai udah mau punah kali ya.."


 "Tinggal kuahnya doank.. hehe.." sambung Ipung.


 "Padahal kalo di jaring gitu bisa dapet nila banyak dan gede-gede, tapi kalo dipancing nggak mau makan.."


 "Ikannya udah profesor, jadi tau kalo lagi dipancing.." jawab Ipung.


 "Masak iya mau mancing di kolam.." kata Wisnu.


 "Mancing di kolam itu cuma buat pemula aja.." jawab Ipung dengan sok. "Lagian bukan mancing itu, tapi beli ikan.."


 "Makanya itu males dikolam.."


 "Gue malah penasaran gimana caranya mancing belut, elu tau nggak bro?" tanya Ipung.


 "Jadi lu nggak tau caranya? Kayak gitu aja bilang mancing di kolam cuma buat pemula.." ejek Wisnu.


 "Gue belum pernah sih mancing belut.." jawab Ipung.


 "Kayaknya ide bagus itu, udah lama nggak mancing belut.."


 Wisnu beranjak masuk ke rumahnya. Tak berapa lama kemudian dia muncul lagi sambil membawa satu roll senar pancing berukuran 0,5 mm, karena buat mancing belut emang dibutuhkan senar yang besar. Lalu Wisnu pun mulai memperagakan cara membuat pancing khusus buat belut.


 Senar pancing itu diulur sampai sepanjang satu setengah meter, lalu dipotong, kemudian ditekuk jadi dua bagian sama panjang, baru dipelintir hingga membentuk anyaman kepang sepanjang 75 senti. Pangkal senar kepang diikat dengan simpul biar anyaman nggak terurai, barulah ujung senar dipasangi mata kail berukuran 4 standart ukuran mata kail.


 Secara keseluruhan, bentuk pancing belut sangat berbeda dengan pancing ikan, tanpa joran, tanpa timah pemberat dan tanpa pelampung, cuma senar sepanjang 75 senti yang dipelintir dengan mata kail pada ujungnya.


 Ipung ikut membuat rangkaian pancing itu untuk dirinya sendiri. Wisnu juga membuat dua pancing lagi sebagai serep.. Setelah siap, mereka pun berangkat ke lokasi mancing belut dengan memakai motornya Wisnu. Tapi baru sampai jalan depan rumah, mereka berpapasan dengan Supri yang sedang naik motor 75 nya.


 "Pada mau berangkat kemana?" tanya Supri.


 "Mancing belut.. lu ikutan nggak?" jawab Ipung.


 "Kayaknya seru tuh.. tapi gue masih disuruh sama emak gue.." kata Supri. "Ntar aja lah gue nyusul.."


 "Yaudah lu nyusul aja.." jawab Wisnu.


 "Di sawah yang biasanya kan?" tanya Supri.


 "Iya lah.. emang mau dimana lagi..?" sahut Ipung.


 Mereka pun berpisah di jalan menuju tujuan masing-masing. Sebenarnya sawah yang di maksudkan itu cuma dekat, cuma sebelah timur sungai. Tapi karena nggak ada jembatan di situ, jadinya Wisnu dan Ipung harus berputar ke selatan dulu dan melewati jembatan di kelurahan sebelah.


 Memang memancing belut itu biasanya dilakukan di sawah, terutama di saluran irigasi kecil di pinggiran sawah. Disanalah belut biasa bersarang membuat lubang di pinggiran saluran. Umpan yang dipakai adalah cacing, jadi Wisnu dan Ipung harus mamoir dulu di warung pakan burung untuk membeli cacing.


 Sampai di lokasi, suasana tampak ramai oleh para petani yang siap melakukan tanam padi, karena memang sebagian besar sawah disitu sudah selesai dibajak dan siap ditanami. Sawah itu nggak terlalu besar, lebarnya cuma satu patok sekitar 100 meter, tapi sangat panjang.


 Sebuah jalan beton membelah sawah itu jadi dua, dan di pinggiran sawah sebaliknya, terdapat saluran irigasi selebar 2 meter. Wisnu kendarai motornya menyusuri jalan beton itu hingga sampai ke sebuah gubuk pos tepat ditengah-tengah sawah yang panjang itu. Mereka memarkirkan motornya di gubuk pos itu juga.


 Tapi kemudian ada empat orang yang berdiri di pinggir sawah yang menarik perhatian mereka, dua orang penyetrum belut dan dua orang penggembala bebek. Dan tampaknya mereka sedang berdebat dengan sengit. Tampak ratusan bebek sedang berkubang di sawah yang habis dibajak itu.


 "Waduh.. keduluan sama tukang setrum belut kita.." gerutu Wisnu.


 "Lagian bebek segitu banyaknya, gimana kita bisa mancing..?!" sambung Ipung.


 "Alamat nggak dapet belut nih.." kata Wisnu. "Kayaknya mereka lagi berantem itu.."


 "Eh iya bener itu.." sahut Ipung.


 Memang saat itu perdebatan diantara keempat orang itu tampak makin memanas. Beberapa orang petani bahkan hentikan kegiatan menanam padi karena perhatian mereka teralihkan oleh pertengkaran itu, tapi tidak ada yang berusaha menengahi. Dengan penasaran Ipung dan Wisnu mendekati salah satu petani itu untuk bertanya.


 "Kenapa bisa sampe berantem gitu pak..?" tanya Ipung.


 "Ini.. si penyetrum belut itu kan udah nunggu dari pagi disini, nunggu sawah dibajak, trus masih nunggu lagi biar air sawah jadi bening. Lha sian ini pas sawah sudah bening, itu datang si gembala bebek yang langsung menggiring bebeknya masuk ke sawah.. jelas si penyetrum mencak-mencak lah.." jawab bapak petani.


 "Lah.. trus itu kenapa bapak bebeknya malah nggak terima gitu? Kok malah ikut marah..?" tanya Ipung.


 "Si penggembala bebek ngerasa dia udah tiap hari ada disini, jadi menurutnya ini memang tempatnya menggembala bebek.."

__ADS_1


 "Owalah.. lha ini bukan sawahnya dia kok bisa ngerasa jadi tempatnya gitu ya.." kata Wisnu


 "Nggak tau lah dek.. biarin aja.. bapak juga malas ikut campur.."


 "Emang penggembala bebek itu kadang ngawur gitu kok.." kata Ipung.


 "Ngawur gimana?" tanya Wisnu.


 "Gue pernah, lagi enak-enaknya mancing, tau-tau dateng rombongan bebek dan si penggembalanya. Dengan enaknya dia menggiring bebeknya nyemplung ke sungai disebelah gue! Gimana nggak jengkel coba.."


 "Huahaha.." Wisnu ketawa ngakak. "Apes bener nasibmu bro.. bebek kok dilawan.. truk aja ngalah harus berenti kalo ada bebek nyebrang.. haha.."


 Si bapak petani ikut tertawa mendengar cerita Ipung. Wisnu pun beranjak meninggalkan si bapak petani, dan Ipung pun mengikutinya. Memang kalo mau menyetrum belut, syarat utamanya air sawah harus bening dulu, dasar sawah yang berlumpur itu harus kelihatan hingga lubang sarang belut juga kelihatan agar bisa disetrum.


 Wisnu memilih lokasi lebih ke timur, jauh dari keempat orang yang berantem tadi, dan Ipung pun cuma mengikuti, karena memang dia nggak bisa mancing belut. Mereka berdua menyusuri saluran irigasi selebar setengah meter di pinggiran sawah sambil terus mengawasi tepian dasar selokan itu.


 Hingga akhirnya Wisnu menemukan sebuah lubang sebesar jari telunjuk, maka dia masukkan mata kail berumpan cacing dan bersenar itu ke dalam lubang. Dengan memelintir senarnya, maka mata kail akan langsung masuk dengan mudah ke lubang yang diduga sebagai rumahnya belut.


 Tidak berapa lama, senar pancing itu menegang dan seakan tertarik masuk perlahan kedalam lubang, pertanda umpan sudah dimakan belut. Wisnu menunggu sesaat, lalu senar itupun ditariknya ke luar. Maka terjadilah tarik-menarik antara si belut dengan Wisnu. Ipung terus memperhatikan semua itu karena dia ingin tau gimana caranya memancing belut.


 Saat terjadi tarik-menarik inilah dibutuhkan kesabaran dan kehati-hatian, kalau senar terlalu keras ditarik, maka mulut si belut akan sobek hingga mata kail lepas dan belut tidak bisa tertangkap. Prinsipnya adalah membuat si belut kehabisan tenaga hingga akhirnya menurut saja ketika ditarik dari dalam lubang persembunyiannya.


 Lima menit berlalu, tarik-menarik itu masih terjadi. Ipung tampak sudah tidak sabaran, karena dia memang belum tau trik menangkap belut. Hingga akhirnya si belutpun menyerah, dan dengan mudah Wisnu bisa menarik keluar dari tempat persembunyiannya. Tampak seekor belut sebesar jempol tangan menggelepar di mata kail.


 "Whoaa.. akhirnya keluar juga kau.." seru Wisnu. "Permulaan yang bagus.."


 "Gede juga ya belutnya.." kata Ipung.


 "Ini ukuran belum maksimal buat belut, ada yang segede lengan.."


 "Masak iya sampe segede lengan..?" tanya Ipung.


 "Ada lah.. tapi pendek, paling cuma setengah meter.. nggak cocok sama gedenya.." kata Wisnu. "Tapi belut sawah nggak bisa segede itu.. paling cuma segini.."


 "Yang segede lengan dimana?" tanya Ipung.


 "Biasanya di saluran yang lebih gede.." jawab Wisnu. "Lu udah lihat kan? Sekarang lu praktekin sendiri.."


 "Gue udah nemu lubang belut tuh.."


 Tapi kemudian senar itu mengendor, dengan heran Ipung menarik senar itu. Dan ternyata mata kail dan umpan cacing itu sudah tidak ada lagi di ujung senar, sedangkan senar itu sendiri dalam keadaan putus. Ipung memandangi ujung senar dengan tambah heran.


 "Haha… umpan lu dimakan yuyu tuh.." kata Wisnu sambil tertawa.


 "Emang yuyu bisa memutus senar gitu..?" tanya Ipung.


 "Ya bisa lah.. lagian belut nggak punya gigi tajam.." kata Wisnu.


 "Sial bener.. ternyata nggak semua lubang berisi belut, ada yang isinya yuyu juga!" umpat Ipung.


 "Lu harus milih-milih lah.." kata Wisnu.


 "Trus ciri-ciri lubang belut itu kayak gimana?" tanya Ipung.


 "Kalo sarang belut itu biasanya lubangnya kecil.. permukaannya halus karena belut itu berlendir.." kata Wisnu. "Untung gue bikin pancing serep tadi."


 Yuyu adalah jenis kepiting yang hidup di sawah, Ipung tak menyangka kalo lubang yang dikira berisi belut tadi ternyata malah berisi yuyu. Dan dengan capitnya yang tajam, yuyu bisa mudah memutus tali senar yang tebal. Yuyu ini sering jadi musuh besar bagi pemancing belut.


 Merekapun mulai mencari lubang yang lain, menyusuri saluran irigasi kecil tepat di pinggiran jalan beton itu. Panjang sawah itu sekitar 500 meter, dan di kiri kanan jalan ada saluran irigasinya, lahan pencarian belut jadi lebih banyak, yaitu sepanjang sawah itu juga. Mereka bisa berpindah-pindah dari kiri ke kanan jalan.


 Langit tampak mendung saat mereka sudah balik lagi ke gubuk post dengan tangan hampa. Napas mereka sudah ngos-ngosan karena berjalan 500 meter bolak-balik, ditambah lagi harus selalu berjongkok ketika memancing di lubang belut. Akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat.


"Dapet satu udah seneng, gue kira bakalan bagus, ternyata malah gabluk.." kata Wisnu.


 "Nggak ikan nggak belut, sama-sama gabluk.." sabung Ipung.


 "Supri nggak jadi nyusul atau gimana..?" tanya Wisnu.


 "Tau tuh.. nggak bisa dipercaya dia.." jawab Ipung.


 Rasa lelah telah hilang, jadi mereka lanjutkan lagi perburuan belut itu. Tapi baru saja keluar dari gubuk, mendadak saja hujan turun dengan sangat lebatnya. Merekapun berlarian kembali ke gubuk untuk berteduh. Baru mereka sadari kalau persawahan itu sudah sepi, tidak ada orang sama sekali selain mereka berdua. Bahkan empat orang yang tadi bertengkar itupun sudah tidak ada.


 "Lu bawa jas hujan nggak?" tanya Ipung.


 "Nggak ada.. tadi keburu-buru…" jawab Wisnu.

__ADS_1


 "Siall..! Apes kok bisa dobel-dobel gini..!" gerutu Ipung.


 "Mungkin Supri udah tau bakalan apes, makanya nggak jadi nyusul dia.." kata Wisnu.


 "Beruntung itu anak.." sahut Ipung.


 Dengan sabar mereka menunggu hujan berhenti. Tapi bukannya mereda, hujan seakan semakin lebat saja, ditambah lagi angin kencang, bahkan atap gubuk itupun berderak-derak terkena terpaaan angin. Pohon-pohon dan batang padi meliuk rendah seakan mau tercabut dari akarnya.


Sementara hari telah beranjak sore dan langitpun mulai menggelap. Perlahan tapi pasti, gelap benar-benar datang, semua jadi tampak hitam pekat, nggak ada cahaya sama sekali karena memang gubuk itu berada di tengah sawah. Wisnu terpaksa harus menyalakan mesin motor agar lampu depan motor bisa jadi penerang. Dan mereka pun mulai putus asa.


 "Kalo nggak nekat, kita bakal kemaleman nih.." kata Ipung.


 "Lu berani nekat ujan-ujanan?"


 "Dari pada kemaleman, mana ujan kayak menggila gini.."


 Wisnu putar arah motornya, Ipung langsung membonceng, dan mereka langsung tancap gas keluar dari gubuk pos. Tapi baru sampai di depan pos, hujan berhenti secara tiba-tiba, menyisakan gerimis kecil-kecil. Wisnu putar arah motornya balik lagi ke gubuk pos, meskipun sempat kebasahan dikit. Dan tak lama kemudian hujan benar-benar berhenti.


 "Aneh banget ini hujan.. kenapa tiba-tiba langsung berhenti begitu aja?" gumam Wisnu.


 "Malah kebetulan, jadi nggak kebasahan.. langsung pulang aja.." kata Ipung.


 "Bentar.. perasaan gue taruh senter di jok motor.." Wisnu beranjak membuka sadel motornya dan mengeluarkan sebuah senter. "Nah.. ketemu.."


 "Buat apa senter?" tanya Ipung.


 "Belut itu kalo malam malah keluar semua dari sarangnya.. jadi malah gampang buat dipancing.." kata Wisnu. "Apalagi kalo abis ujan gini.."


 "Jadi mau terusin mancing lagi gitu?"


 "Iya lah.." jawab Wisnu. "Lu mau nggak.."


 "Udah kepalang tanggung, lanjut aja sekalian sampe malem.." kata Ipung sambil jalan keluar gubuk.


 "Tapi tunggu dulu biar airnya jadi agak jernih dulu.. abis ujan gini semua selokan pasti jadi keruh, belutnya nggak akan kelihatan kalo keruh gitu.."


 "Bener juga.. gue nggak kepikiran sampe sana.." kata Ipung.


 Akhirnya mereka kembali duduk di motor sambil menikmati sebatang dua batang rokok. Mesin motor tetap dinyalakan agar ada penerangan. Setengah jam mereka menunggu, dan nyamukpun mulai menyerang. Saat sudah tidak tahan dengan nyamuk, merekapun keluar dari gubuk itu dan memulai perburuan.


 Dengan penerangan satu senter, merekapun menyusuri jalan beton lagi, dengan senter diarahkan ke selokan irigasi. Tapi ternyata saluran irigasi kecil di kiri kanan jalan itu masih penuh oleh air hujan dan sangat keruh, mustahil mereka bisa menemukan belut disitu.


 "Gimana belutnya bisa kelihatan kalo banjir gini?" tanya Ipung.


 "Pindah ke tengah sawah aja.." jawab Wisnu.


 "Emang udah bening airnya..?" tanya Ipung.


 "Kalo di sawah kan nggak begitu dalam kayak di selokan.. jadi tentunya sudah bening lagi.."


 Wisnu melompati saluran irigasi itu dan mulai memasuki pematang sawah, dan Ipung mengikutinya. Air sawah itu sudah bening seperti biasa. Berdua mereka menyusuri pematang sawah yang licin luar biasa akibat hujan. Beberapa kali mereka sempat kecemplung ke sawah yang membuat kaki belepotan lumpur, tapi hal itu tidak menyurutkan tekad mereka.


 Sampai di batas lebar sawah, mereka tidak menemukan satu ekor belutpun. Wisnu memutar menyusuri pematang di pinggiran sawah, lalu berbelok menuju ke tengah sawah, melewati pematang yang satunya lagi. Dengan kata lain, mereka telah memutari satu petak sawah.


 Saat sampai di pertengahan sawah. Wisnu berhenti secara tiba-tiba, lalu dia menyiapkan pancingnya, karena satu meter di depannya, berjarak 30 senti di kiri pematang, tampak kepala seekor belut sebesar lengan! Tangan Wisnu sampe gemetar karena belum pernah melihat belut sebesar itu.


 "Itu bukannya ular ya?" tanya Ipung.


 "Bukan.. itu belut! Badannya licin gitu, kalo ular pasti ada sisiknya.."


 "Ternyata bisa segede itu ya.." kata Ipung.


 "Gue sering denger cerita, emang belut bisa segede lengan.." kata Wisnu.


 Setelah pancingnya siap, mereka mengendap-endap mendekati belut yang cuma tampak kepalanya saja itu. Wisnu ulurkan pancingnya hingga mata kail yang dipasangi cacing itu bisa berada tepat di depan hidung si belut. Dan langsung saja si belut menyambar cacing itu dengan mulutnya yang sangat lebar.


 "Setelah menyambar, belut itu menarik senar masuk ke dalam lumpur. Wisnu mencoba bertahan dengan sekuat tenaga. Adu ketahanan pun terjadi, mereka saling tarik-menarik dengan senar itu. Hingga akhirnya si belut pun kehabisan tenaga dan menyerah ketika diseret Wisnu ke atas pematang.


 Tampak seekor belut sebesar lengan dan sepanjang setengah meter menggelepar di atas pematang. Tapi tiba-tiba suatu keanehan terjadi, kepala belut itu seakan mekar membuka, dan muncul lima jari tangan di sekelilingnya, yang mereka pancing itu bukanlah belut sebesar tangan, tapi benar-benar berubah jadi potongan tangan sebatas siku!


 "Whuuuaaaaa! Tangan manusiaa!!"


 Mereka berteriak keras berbarengan. Wisnu melempar senar yang dipegangnya hingga potongan tangan itu ikut terlempar ke tengah sawah. Spontan mereka lari tunggang langgang melewati pematang sempit itu.


 Tapi karena pematang itu sangat licin, mereka malah tercebur ke sawah, hingga seluruh badan jadi belepotan lumpur. Tanpa memperdulikannya, mereka malah berlari melewati tengah sawah menerabas genangan air lumpur dan menuju gubuk pos tempat mereka parkirkan motor.

__ADS_1


 Sampai di pos, Wisnu segera nyalakan mesin motornya dan merekapun tancap gas pergi secepat-cepatnya dari sawah itu, meninggalkan belut perolehannya tadi siang, juga meninggalkan pengalaman yang sangat mengerikan..


__ADS_2