
Dewi Claire menyambut para manusia dengan wajah sumringah.
"Kalian berhasil. Kalian lulus ujian." Ucap Dewi Claire.
"Kami kira ujian nya akan mudah, ternyata lumayan susah." Ucap Ray.
"Kau tau?! Aku hampir mati!" Ucap Lucy.
"Kau kira hanya kau yang hampir mati?!" Balas Qian.
"Yang terpenting kita semua selamat." Ucap Nayya.
"Baiklah, sebentar lagi pagi, kami akan menyiapkan sarapan mewah untuk kalian." Ucap Dewi Claire.
Kali ini, Faye yang melakukan teleportasi. Ia menepuk tangan nya sebanyak dua kali, lalu mereka kembali ke istana.
"Ganti lah pakaian kalian." Ucap Dewi Claire.
Para manusia mengangguk lalu pergi ke kamar mereka.
Faye dan Dewi Claire pergi menuju aula utama istana untuk melakukan sesuatu.
Para manusia pergi ke kamar mandi, mereka berendam dalam kolam yang lumayan besar.
Satu kolam, satu orang.
Mereka berendam lumayan lama, mungkin mereka masih merasa senang dan bangga, bahkan mungkin Overthingking.
Setelah 30 menit berendam dan membersihkan diri, para manusia langsung memakai pakaian yang telah di sediakan.
Mereka pun pergi ke ruang makan, mencari makanan untuk perut mereka yang kelaparan.
Namun, berbeda dari sebelum nya. Tak ada satu pun makanan yang tersaji di meja makan.
Tak ada makanan, tak ada minuman, tak ada Dewi Claire, dan juga tak ada pelayan.
Ruang makan benar-benar kosong, hanya para manusia yang ada disini.
"Apa-apaan ini? Mereka bilang akan membuat makanan yang mewah." Qian menggerutu.
"Iya, padahal aku sudah lapar." Balas Lucy.
"Aku juga, sedikit lapar." Balas Nayya.
"Mungkin Mereka sengaja melakukan ini. Mereka ingin kita pergi ke aula utama." Jelas Arthur.
"Dia benar. Tahan lapar kalian, kita harus pergi mencari mereka terlebih dahulu." Ucap Ray.
Lucy dan Qian menggerutu, Nayya hanya diam sambil merapihkan rambutnya. Ray dan Arthur memimpin mereka menuju aula utama istana.
Pintu tinggi dan besar di buka dari dalam oleh Arthur dan Ray.
Mereka pun berniat melangkah keluar ruang makan dengan bersamaan.
Hal ini terjadi lagi, saat mereka melangkahkan kaki mereka secara bersamaan, mereka malah terjatuh ke ruangan putih.
__ADS_1
Waktu terasa melambat, tubuh mereka terasa ringan tanpa beban. Mereka memang terjatuh, namun gerakan mereka sangat pelan, seperti efek kamera 'slow motion'.
Hanya ada warna putih, tanpa jalan masuk maupun keluar.
Akan lebih mudah kalau para Crystal bisa di ajak bicara, namun sejak jatuh tadi, tak ada satu pun dari mereka yang dapat di ajak bicara.
Harapan yang tadinya masih terlihat kini memudar. Tubuh mereka menjauh tanpa disuruh.
Mereka tak dapat bergerak, hanya udara dan mungkin kekuatan Dewi Claire yang memisahkan mereka.
Secara perlahan, mata mereka tertutup. Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, para Crystal adalah hal terakhir yang di lihat para manusia.
Dewi Claire sengaja melakukan hal itu pada mereka. Dia memulangkan para manusia dengan cara aneh dan sengaja membuat para manusia merasa bingung.
...⋆┄┄✦┄✧————⋆...
"Lucy! Kau tak apa?!" Teman kelas Lucy langsung bertanya dengan histeris saat Lucy membuka mata nya.
Ruangan yang ia lihat adalah UKS sekolah, Lucy langsung tersadar dan bangkit dari kasur UKS.
"Kenapa aku bisa ada disini?! Mana—mana istana nya?! Nayya!" Tanya Lucy panik.
"Kau ini apa-apaan sih?! Baru sadar dan malah bicara sembarangan." Ucap teman kelas Lucy.
"Serius!! Kenapa aku malah ada disini!" Lucy kesal.
"SIALAN!" Lucy pergi dari UKS dengan perasaan marah dan bingung.
"Kenapa malah ada disini?! Butterfly Nebula dan semua nya? Tak mungkin hanya khayalan kan." Batin Lucy.
Lucy berharap Adrienne membalas perkataan nya, namun tak ada jawaban dari sang Crystal hitam miliknya.
...⋆┄┄✦┄✧————⋆...
Qian mengedipkan mata beberapa kali, ia mencapai kesadaran dan kembali pada kenyataan.
"Loh? Kok bapak bisa disini? Kita kan mau sarapan." Ucap Qian.
"Sarapan apa? Kamu belum makan? Sudah sana kembali ke kelas." Balas Satpam bingung.
Qian di paksa berdiri dan kembali ke kelas. Otak nya terus berpikir kenapa dia malah ada disini, harusnya mereka bertemu dengan Dewi Claire di aula utama.
"Aku tak mungkin melamun sampai seperti itu kan." Gumam Qian.
...⋆┄┄✦┄✧————⋆...
Arthur terjatuh dari pohon. Keadaan nya tetap sama seperti pertama kali bertemu dengan Crystal nya.
Wajah datar nya kian berubah, menjadi bingung dan panik secara bersamaan.
Arthur mengecek sekitar, ia juga mengecek pohon tempat nya bertemu dengan Crystal kuning milik nya.
Tak ada, tak ada tanda-tanda keberadaan Crystal di pohon itu.
Arthur semakin bingung kala supir pribadi mendatangi nya dan meminta ia pulang segera.
__ADS_1
Di mobil, Arthur tetap berpikir bagaimana cara ia kembali. Ia sadar kalau Terra tak dapat dan tak menjawab perkataan nya.
Arthur berpikir bagaimana cara ia bertemu dengan ke-empat teman baru nya. Mungkin dengan bertemu dengan teman baru nya, mereka akan kembali ke Butterfly nebula.
"Ada apa tuan muda? Anda terlihat khawatir." Tanya supir pribadi nya.
"Apa kau percaya ada tempat indah di luar bumi?" Tanya Arthur.
"Saya tak mengerti, maafkan saya." Jawab Supir pribadinya.
Arthur diam dan kalut dalam pikiran. Ia bertekad mencari cara bertemu dengan teman-teman baru nya.
...⋆┄┄✦┄✧————⋆...
"Anak muda, pergi dari sana. Kami akan merapihkan pohon tumbang itu." Salah satu warga datang dengan kapak di tangan nya.
Ia datang dengan beberapa warga lain nya, yang mungkin akan menebang pohon tua yang ada disana, dan juga merapihkan pohon tumbang.
"Azalea! Teman-teman!" Ucap Ray panik.
"Anak muda! Pergi dari sana!" Ucap warga tadi.
"AZALEA!" Ray tak mendengarkan, ia berjongkok dan memperhatikan pohon tua yang tumbang persis di samping nya.
Warga-warga tadi mulai menarik Ray dari tempat itu, membawa pergi Ray agar mereka dapat merapihkan secepatnya.
"Ini tak masuk akal. Kami hanya akan pergi ke aula utama, kami tak mungkin tiba-tiba kembali ke bumi dengan cara seperti ini." Ucap Ray masih dengan wajah panik nya.
"Aku tak tau tempat tinggal mereka. Kami berjauhan, tak mungkin. Ini tak masuk akal. Azalea juga tak membalas perkataan ku."
Tubuh nya melemas, kaki nya tak dapat menahan berat badan nya lagi. Ray terjatuh, ia takut dan bingung.
"Aku tak mungkin gila kan?! Apa yang aku alami itu, nyata bukan?!" Ucap nya kesal.
...⋆┄┄✦┄✧————⋆...
Nayya membuka mata nya, wajah nya nampak terkejut karena seekor tupai terjatuh tepat di atas wajah nya.
Kebingungan nya terus berlanjut, bintang di langit malam ini tak begitu banyak. Bahkan hanya ada 5 bintang disana.
Ia mencari Crystal di saku celana dan juga jaket nya. Ia mencoba mencari Crystal putih milik nya.
Setelah memastikan bahwa tak ada Crystal di saku nya, Nayya tertawa.
"Iya aku mungkin gila, berpikir ada dunia lain dan teman baru. Nayya kau gila." Ucap nya sambil terus tertawa.
"Halusinasi ku semakin besar dan gila, tapi jujur, aku merasa kalau hal itu terasa sangat nyata." Nayya melangkahkan kaki nya pergi dari taman.
Mengoceh pada dirinya sendiri sambil berjalan menuju rumah.
"Kenzie, apa aku hanya berhalusinasi?" Tanya Nayya.
"Tentu saja bodoh. Mana mungkin hal seperti itu terjadi. Kalau pun mungkin, kau tak akan menjadi yang terpilih." Jawab diri nya sendiri.
Hampa, stress dan depresi membuat Nayya selalu bicara pada dirinya sendiri, ia merasa ada orang lain dalam diri nya.
__ADS_1
Alter Ego.
Nayya membuka pintu rumah nya, lalu membanting tubuh nya ke atas kasur. Mencoba tidur dan beristirahat dari kegilaan halusinasi milik nya.