Guardian Of Galaxy

Guardian Of Galaxy
3. Manusia Lain nya.


__ADS_3

"Ray. Kapan mau pulang? Sudah sore." Tanya teman satu tim nya.


"Oh? Iya iya, sudah sore. Baiklah, semua nya kita sudahi latihan hari ini ya." Ucap Ray, ketua tim permainan Baseball di sekolah.


"Baik!" Jawab anggota tim serempak.


"Ray mau ikut? Kami mau pergi ke rumah Bian buat ngerjain tugas bareng." Tanya salah satu anggota tim.


Ray tersenyum, "Seperti nya aku gak ikut. Aku harus jaga toko milik paman." Jawab nya.


Teman tim nya mengangguk, "Baiklah kalau begitu. Kami duluan ya? Sampai jumpa besok." Ucap nya.


Ray melambaikan tangan tanpa berhenti tersenyum. Ray itu baik, sangat baik. Bahkan setelah beberapa kejadian yang merugikan nya, Ray tetap sabar dan terlihat baik baik saja. Ray itu baik, seperti tanaman yang walau disakiti tetap memberikan kehidupan bagi manusia.


Ray merapihkan barang-barang nya, lalu pergi dari lapangan tempat nya berlatih Baseball. Di perjalanan, Ray hanya diam sesekali tersenyum pada orang lain.


Rumah Ray agak jauh dari lapangan berlatih nya, mungkin harus menaiki bus agar lebih cepat sampai. Tapi Ray tak punya uang, bahkan untuk naik bus atau angkutan umum sekali pun. Walau begitu, Ray tetap senang karena dikelilingi oleh orang orang yang baik.


Langit cerah berubah menjadi senja. Senja yang sangat indah dengan siluet burung yang terbang bebas. Angin berhembus lumayan kuat, rambut pirang Ray seakan menari dengan angin sebagai melodi. Pepohonan di sekitar juga merasakan nya, angin yang berhembus di tambah aura positif milik Ray sukses membuat suasana senja sore itu menjadi lebih memanjakan mata.


Di antara semua pepohonan yang nampak senang dengan kehadiran Ray, ada satu pohon yang tampak sudah tua, dan sedikit mengganggu mata.


Ray tersenyum sendu, perlahan dia menyentuh pohon tua itu dengan lembut. Ray mengerti, tak ada yang abadi. Ada yang datang, dan ada yang pergi.


Ray selesai menyentuh pohon itu, dia ingin kembali berjalan pulang ke rumah paman nya. Tapi alam berkata lain. Pohon tua yang ia sentuh tiba tiba kehilangan keseimbangan nya. Pohon itu tumbang dan hampir mengenai tubuh Ray.


"Ya tuhan." Ucap Ray sedih.


Ray mencoba mencari orang untuk membantu nya mengamankan pohon tumbang ini, tapi sayang, tak seorang pun berada disana.


Semakin lama, senja berubah menjadi gelap. Membuat Ray terpaksa meninggalkan tempat itu tanpa bisa berbuat banyak. Saat Ray akan pergi dari tempat itu, ia merasa ada seseorang yang berdiri di belakang nya.


Ray membalikkan badan nya dengan cepat, namun tak seorang pun berdiri di belakang nya. Hanya ada.... Dedaunan yang melayang-layang di udara.


Ray bingung melihat nya, Dedaunan itu seakan mendekat dan memberikan sesuatu padanya. Crystal hijau tua yang nampak tak bernyawa.

__ADS_1


Ray mengambil Crystal itu dengan hati-hati. Tak butuh waktu lama, Crystal itu seakan kembali hidup setelah Ray menyentuh nya.


Crystal itu bersinar dan melayang di udara, dedaunan juga ikut melayang-layang. Walau terkejut, Ray tetap menyukai ini.


Langit semakin gelap, tapi cahaya dari Crystal itu semakin terang. Dedaunan yang melayang-layang itu nampak mendekat satu sama lain, dan membentuk kata-kata yang sedikit tak masuk akal.


Ray mengerti. Dia membaca nya dengan teliti. Bahkan sebelum mengatakan kalau dia paham, dedaunan itu membentuk kalimat baru.


'Mau kah kau membantu kami melindungi yang lain?'


...⋆┄┄✦┄✧————⋆...


Gelap, begitu kondisi sebuah rumah yang hanya di tempati oleh satu orang saja. Selain gelap, kondisi rumah itu juga sedikit berantakan. Baju dan kertas catatan yang berserakan, dan pecahan kaca ada dimana-mana.


Waktu menunjukan pukul sepuluh malam, namun Nayya masih duduk di sofa dan menonton acara tv yang tidak jelas.


Makan malam di tanggan nya tak di sentuh sama sekali. Perut nya kosong malam ini. Tapi Dia tak peduli, mata nya memerah karena menonton tv dari pukul tujuh malam tadi.


Nayya mulai bosan dengan acara di tv, ia bangkit dari duduknya dan meletakan makanan di meja makan. Nayya meregangkan otot-otot nya, lalu masuk ke dalam kamar tidur nya.


Nayya mencoba segera tidur, tapi tak berhasil. Mata nya tertutup rapat, pikiran nya kosong, tapi anehnya, Nayya masih tak bisa tidur. Gadis itu mencoba membalik badan nya agar dapat tertidur.


Bintang dan bulan menghiasi langit malam, Nayya menonggak untuk melihat pemandangan langit di malam hari. Walau sangat indah, Nayya tak terlalu menyukai nya. Tatapan nya beralih dari langit malam kembali ke trotoar jalan.


Nayya bingung, kenapa dia tetap disini? Kenapa dia harus sendiri, kenapa dunia terlalu pilih kasih.


Di depan jalan sana ada taman, dan Nayya pergi ke taman itu. Sepi, dan sedikit menyeramkan, tapi Nayya menyukainya. Nayya duduk diam sambil sesekali memandangi sekitar.


Nayya kembali menonggak, menatap langit malam yang semakin indah. Bintang nya berlimpah, lalu bulan yang terlihat ramping. Nayya pernah menyukai ini, dia pernah menyukai malam penuh dengan bintang.


Semakin di lihat, semakin indah, tapi menyakitkan. Langitnya memang indah, tapi leher Nayya tak kuat jika harus terus menonggak untuk melihatnya.


Dalam kesunyian malam, Nayya memejamkan mata nya. Nayya mengubah posisi duduk nya menjadi tiduran. Nayya memakai tangan nya sebagai bantalan agar lehernya tak terasa nyeri.


Nayya kembali membuka matanya, sekarang dia dapat melihat langit tanpa merasa sakit. Dengan bosan, Nayya menghitung jumlah bintang di langit.

__ADS_1


"Kalian sangat indah, tapi kenapa malah membuat luka membekas?" Nayya bertanya pada langit malam.


"Aku ingin melihat kalian bersama keluarga ku lagi, tapi kenapa impian kecil itu tak pernah terjadi?" Ucap Nayya lagi.


Nayya berhenti bicara, dia merasa ada bintang yang akan jatuh. Bukan membuat harapan, Nayya justru bangkit dari bangku taman.


Tak lama, ada crystal kecil yang jatuh tepat di bangku yang tadi Nayya tempati. Nayya menyentuh Crystal nya secara perlahan.


Ia menggenggam Crystal putih di tangan nya, Nayya kembali duduk di bangku taman. Otak nya sedang memproses apa yang sedang terjadi.


"Bintang jatuh?" Nayya refleks mengatakan hal itu.


"Bukan, Nona." Nayya mendengar suara, tapi tak ada seorang pun disana.


Nayya lumayan takut, mungkin kah ini terjadi karena dia kurang tidur.


"Tak perlu takut. Anda harusnya bangga karena menjadi salah satu yang terpilih." Suara itu kembali. Nayya beranggapan kalau suara itu berasal dari Crystal yang ia pegang.


"Aku? Apa maksud nya?" Tanya Nayya.


Crystal di tangan nya mulai bicara banyak hal. Hal-hal di luar nalar manusia, apalagi gadis berusia enam belas tahun seperti Nayya.


Nayya berpikir maksud dari perkataan Crystal nya. Dunia lain? Kekuatan? Dewi? Amarah? Apa maksud semua ini?


Nayya menggeleng cepat, Crystal putih tadi selesai bicara, dan bertanya hal yang sama.


"Nona, mau kah anda menjadi pelindung bumi?" Crystal itu bertanya.


"Tidak, tidak mungkin bagi seorang seperti ku." Jawab Nayya.


"Namun anda salah satu yang terpilih, Nona." Balas Crystal itu.


"Melindungi hal kecil saja tak dapat ku lakukan. Dan kau meminta ku melindungi hal sebesar Bumi? Jangan bercanda." Tolak Nayya.


"Justru karena kegagalan anda waktu itu, anda tak akan melakukan kegagalan yang sama lagi." Crystal itu tetap berusaha menyakinkan Nayya.

__ADS_1


"Aku tak yakin dapat melakukan nya." Jawab Nayya sendu.


"Saya akan selalu membantu anda. Kita lakukan bersama, bagaimana?" Tanya Crystal itu.


__ADS_2