
"Lucy, bangun. Ini waktunya sarapan." Panggil mama Lucy.
"Iya ma, tunggu sebentar. Aku sedang merapihkan rambut." Jawab Lucy dari kamar nya di lantai atas.
"Cepat lah nak...." Panggil mama Lucy lagi.
Lucy keluar dari kamar dengan sedikit marah. "Ma, aku sudah enam belas tahun loh. Jangan menganggapku anak kecil dong." Ucap nya merajuk.
"Habisnya kau seperti anak kecil. Nonton film sampai malam, teriak-teriak pula." Jawab mama Lucy.
"Itu kan karena film nya seru, ma!" Ucap Lucy
"Sudah lah, kalian ini pagi pagi sudah ribut saja." Papa Lucy datang dan menenangkan keluarga kecil nya.
"Aku mau jadi aktris, jadi harus banyak menonton film. " Ucap Lucy.
"Iya iya, mama sama papa dukung. Sudah ini makan." Mama Lucy memberikan sepiring nasi dan lauk pada putri semata wayangnya.
"Buat papa, nih." Dia juga memberikan sarapan pada suami nya.
"Ada pembangunan di dekat sekolah mu. Jangan pergi kesana ya, bahaya." Ucap papa Lucy.
"Lagian siapa juga yang mau buang buang waktu kesana." Jawab Lucy.
"Ya, banyak sih. Kata nya ada Crystal disana." Balas papa Lucy.
"Crystal apa?" Tanya Lucy.
"Kata nya indah. Warna nya hitam tapi tetap bersinar." Jawab papa Lucy.
"Sudah, makan cepat lalu berangkat." Kata mama nya Lucy.
Papa dan Lucy pun berhenti membicarakan tentang Crystal itu karena waktu telah menunjukan pukul tujuh pagi.
Setelah menghabiskan sarapan nya, Lucy dan papa nya pergi untuk memulai aktivitas nya.
Lucy dan papa nya berbeda arah jalan, jadi mereka berpisah di pertigaan jalan di depan.
"Bis sekolah mu sebentar lagi datang kan?" Tanya papa Lucy.
"Iya, kalau tidak datang aku bisa jalan kaki. Sekolah kan dekat." Jawab Lucy.
Papa Lucy mengelus kepala putri semata wayangnya itu, "Papa duluan, hati hati ya." Ucap nya.
Lucy mengangguk. Walau usia nya menginjak enam belas tahun, tapi dia masih terlihat seperti anak kecil.
Lucy tidak sabaran, baru menunggu sepuluh menit tapi gadis itu merasa telah menunggu satu tahun lama nya.
"Ah, lama banget. Sudah, biar saja aku jalan." Ucap Lucy pada dirinya sendiri.
Lucy pun pergi dari tempat menunggu bis sekolah, dia jalan dengan semangat menuju sekolah nya. Lucy terus berjalan sambil bersenandung ria, namun, tatapan nya teralihkan pada tempat penggalian di dekat sekolah nya itu.
"Masa iya ada Crystal disana?" Kata Lucy pada dirinya.
__ADS_1
"Kayak nya gak mungkin deh. Tapi kalau iya, bagus buat jadi koleksi kan?" Lanjutnya.
"Bel sekolah masih lama, jalan jalan dulu deh." Lucy pergi ke arah tempat penggalian itu.
Benar saja, di dalam ada Crystal kecil berwarna hitam dengan tulisan aneh yang tak masuk akal.
"Keliatan nya sudah tua dan sudah lama. Tapi, kenapa bahasa nya sudah seperti ini ya?" Lucy bertanya tanya.
Lucy membaca ukiran di dekat Crystal itu dengan seksama. Walau tadi berpikir kalau hal ini adalah hal yang aneh, tapi setelah dibaca Lucy malah tertarik dengan Crystal didepan nya.
"Tapi pernah ada yang sampai koma karena menyentuh Crystal ini. Aku bisa tidak ya?" Ucap Lucy.
Setelah berpikir selama lima menit, Lucy pun membulatkan tekad untuk menyentuh Crystal berwarna hitam yang ada didepan nya.
...⋆┄┄✦┄✧————⋆ ...
"Qian! Mau duduk dengan ku tidak?" Salah satu gadis di kelas nya menawarkan kursi yang sama bagi pemuda bernama Qian.
Qian itu anak bandel, dia sering bermain main dengan para gadis di sekolah nya. Tanpa peduli dengan perasaan gadis yang ia sakiti.
"Hm? Mau duduk dengan ku? Maaf saja, selera ku bukan yang datar seperti mu." Tolak Qian dengan kasar.
Gadis tadi langsung terdiam, jangan membawa kekurangan seperti ini dong! Gak lucu.
Qian melewati gadis itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bisik bisik mulai terdengar di setiap kelas.
Gadis yang tadi Qian tolak berteriak,
"Dasar tak punya perasaan!" Teriak gadis itu menggema di koridor.
"Semoga saja kau di pertemukan dengan gadis cenggeng dan kau tergila-gila pada nya!" Teriak gadis tadi.
"Seorang Qian tak mungkin tergila-gila dengan gadis, apalagi jika dia mudah menangis seperti mu." Balas Qian.
Gadis tadi berlari ke kelas nya, sedangkan Qian menuju halaman belakang sekolah untuk bolos jam pelajaran kimia.
Qian terus saja tersenyum setelah menolak seorang gadis hari ini. Bahkan sampai tak menyadari ada sesuatu di tanah yang membuat nya tersandung.
"Sial, apa sih?" Qian melihat ke arah tanah yang ia injak. Ada semacam Tonjolan dari dalam.
Qian mendekati tonjolan itu, dia mencoba menggali kecil tanah di sekitar tonjolan nya.
Setelah di gali kecil, tonjolan itu tetap tidak terlihat. Yang ada malah tulisan tangan aneh di samping tonjolan itu.
"Ini berlian? Aku bisa kaya kalau begitu." Ucap Qian saat pantulan cahaya matahari menembus pengeliatan nya dari balik tonjolan itu.
Wajah Qian yang bersemangat tadi seketika berubah. Wajah nya terlihat sangat serius, saat membaca tulisan aneh itu.
"Crystal? Bumi? Kekuatan? Semua nya gak masuk akal." Ucap Qian setelah membaca tulisan nya.
"Tapi kalau benar, aku akan semakin di kenal masyarakat dunia bukan?" Lanjutnya.
"Kalau begitu, biar aku menjadi salah satu pelindung bagi Bumi ku tercinta ini."
__ADS_1
...⋆┄┄✦┄✧————⋆...
"Arthur, bisa kerjakan soal di depan?" Pak guru menunjuk salah satu siswa nya untuk menjawab soal sejarah yang ada di papan tulis.
"Iya, Pak." Jawab Arthur, pemuda pintar dalam segala macam pelajaran, tapi pendiam.
Arthur menjawab soal nya dengan cepat dan benar. Pak guru sudah tidak heran dengan itu. Arthur adalah anak rangking satu di sekolah nya, jadi wajar kalau dia pintar.
"Baik, kau boleh duduk." Ucap pak guru.
"Pembelajaran kita cukup sampai disini. Tugas rumah kalian kerjakan uji kompetensi empat." Perintah pak guru.
Para murid menjawab dengan kompak, Pak guru pun keluar dari kelas bersamaan dengan bel istirahat yang berbunyi.
"Thur, mau bareng?" Tanya teman sekelas Arthur.
"Tidak terima kasih. Aku harus meminjam beberapa buku di perpustakaan." Jawab Arthur.
Teman nya mengangguk. Ajakan nya sudah sering di tolak oleh Arthur, jadi hal ini bukan masalah besar.
"Jangan terlalu pintar, nanti kami sulit mengejar." Canda teman nya.
"Iya." Jawab Arthur singkat
Teman sekelas Arthur pergi, menyisakan dia seorang diri di dalam kelas.
Arthur menghela napas, lalu bangkit dari duduk nya menuju perpustakaan. Arthur diam, dia tak punya teman dekat. Lagi pula, siapa yang mau berteman dengan maniak belajar seperti nya.
Saat memasuki perpustakaan, Arthur tak perlu lagi menyapa penjaga perpustakaan, karena penjaga perpustakaan telah hapal siapa yang datang.
Arthur memiliki ciri khas saat memasuki perpustakaan, yaitu pergi ke rak buku paling belakang. Ntah apa yang ingin dia lakukan disana.
Arthur duduk di pojokan rak buku paling belakang. Dia duduk sambil memeluk lututnya. Kadang, Arthur merasa sangat lelah menjalani kehidupan sehari hari, seperti sekolah. Tapi kalau tidak sekolah, Arthur tak punya kegiatan lain selain mengutuk diri nya sendiri.
Arthur bangkit dari duduknya, lalu mengambil buku secara acak. Dan membaca di tempat khusus bagi para siswa yang ingin membaca di perpustakaan.
Tempat nya lumayan indah. Berada di pojok, meja panjang dengan lebih dari delapan kursi, dan juga pemandangan taman belakang sekolah.
Saat Arthur asik membaca buku, tiba tiba petir menyambar sebuah pohon, suara nya terdengar sangat keras sampai membuat Arthur mengalihkan pandangan nya ke taman belakang sekolah.
Arthur menutup buku yang tadi dia baca, ia berjalan perlahan melihat pohon yang tersambar petir dari balik kaca.
"Tidak terbakar." Batin Arthur melihat pohon nya yang masih utuh.
Arthur penasaran, bagaimana bisa pohon itu tetap berdiri kokoh tanpa terbakar. Pemuda itu memutuskan untuk pergi ke taman belakang sekolah saat pulang nanti.
Arthur mengembalikan buku yang tadi ia baca ke dalam rak nya, lalu pergi dari perpustakaan.
Kelas di mulai seperti biasa. Pelajaran yang lumayan mudah yaitu sosial. Setelah kelas selesai, waktu pulang pun tiba. Arthur menolak ajakan teman nya lagi karena ia akan pergi ke taman belakang sekolah.
Taman belakang sekolah tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa murid yang membaca novel di bangku taman. Arthur berjalan ke arah pohon yang tadi ia lihat.
Pohon nya seperti biasa, tidak ada yang spesial dari pohon tersebut. Tapi Arthur melihat sesuatu yang tersangkut di batang pohon.
__ADS_1
Arthur sedikit memanjat untuk mendapatkan benda yang tersangkut itu. Setelah menggapai benda tersangkut itu, Arthur kesulitan untuk mengambil nya.
Arthur menarik benda itu lumayan kuat sampai terlepas dari batang pohon. Pemuda itu begitu terkejut saat melihat tulisan melayang-layang di udara.