
Setelah penobatan sebagai para pelindung Galaxy, para manusia di ajak mengelilingi kota. Tak ada yang keberatan, mereka dengan senang hati mengikuti Faye.
Para penduduk peri disini sangat ramah, mereka menyapa para manusia dengan senyum manis di wajah.
"Keren juga. Ku kira yang seperti ini hanya ada di dongeng saja." ucap Qian penuh semangat.
"Aku juga masih tak percaya ada yang seperti ini." balas Lucy.
"Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan kan?" tanya Qian.
"Belum." Jawab Arthur seada nya.
"Tapi tadi Dewi disana menyebutkan nama masing-masing." ujar Nayya.
Qian dan Lucy melangkah lebih dulu, posisi jalan sejajar mereka jadi berubah. Qian dan Lucy berjalan mundur agar tetap bisa menatap lawan bicara.
"Kalau begitu, kita kenalan saja disini, bagaimana?" tanya Lucy.
"Boleh tuh." jawab Ray.
"Kenalan nya tuh nama, umur atau kelas lalu alasan kalian ada disini. Setuju gak?" tanya Qian.
"Oke, kalau gitu mulai dari cowok yang dari tadi diem." ucap Lucy sambil menunjuk Arthur.
Arthur menghela napas sebelum memperkenalkan diri.
"Nama ku Arthur, umur tujuh belas tahun. Alasan bisa sampai sini karena aku melihat pohon tersambar petir, penasaran aku pun pergi buat melihat kondisi pohon itu. Tiba-tiba jadi salah satu yang terpilh." jelas Arthur panjang.
"Sekarang giliran cowok blonde!" kini Lucy menunjuk Ray.
Ray tersenyum, tingkah Lucy menggemaskan layak nya anak kecil.
"Nama ku Ray, umur ku delapan belas tahun, sudah lumayan besar memang. Aku ketua tim Baseball disekolah. Alasan bisa sampai ke tempat ini karena pohon tumbang." jelas Ray tak lupa dengan senyum khas nya.
"Giliran kamu!" ucap Lucy sambil menunjuk Nayya.
"Aku Nayya, umur ku enam belas tahun. Aku bisa sampai disini karena bintang jatuh." Jelas Nayya pendek.
"Hm ... Agak pendek, tapi tak masalah." komentar Lucy.
"Giliran ku ya?" lanjut Lucy.
"Nama ku Lucy, umur ku enam belas tahun, seperti Nayya. Aku ingin jadi aktris profesional. Alasan ku bisa sampai kesini karena tempat penggalian di dekat sekolah." Jelas Lucy.
"Giliran ku ya?" ucap Qian.
"Nama ku Qian, umur ku tujuh belas tahun. Aku cowok paling ganteng di sekolah. Aku bisa sampai disini karena kesandung." ucap Qian.
"Alasan kalian aneh." ucap Nayya
"Ha? Kau kira cerita mu lebih keren?" tanya Qian kesal.
"Jelas lebih keren kan? Aku karena bintang jatuh, kau karena kesandung." ucap Nayya agak nyolot.
"Sudah-sudah ... Yang paling keren itu aku." Lucy yang harus nya menenangkan malah ikut berdebat.
"Gak mungkin. mana ada masuk tempat penggalian malah jadi kesini." ucap Qian.
Tiga manusia terpilih ini berdebat tentang alasan siapa yang lebih keren. Ray dan Arthur hanya diam memperhatikan. Faye mulai terganggu dengan para manusia yang sedang berdebat.
"Maaf, tuan dan nona manusia." Faye membalikkan badan nya, menatap para manusia.
para manusia berhenti berdebat, mereka takut dengan Faye.
"Alasan kalian sampai disini sangat berbeda satu sama lain bukan? Hal itu menandakan perbedaan kekuatan Crystal yang kalian pegang." jelas Faye dengan sopan.
"apa beda nya?" tanya Lucy
__ADS_1
"kalau kalian penasaran, kenapa tidak bertanya langsung pada para Crystal?" tanya Faye sopan.
"Memang nya boleh?" Tanya Ray.
"Tentu saja. Ingin saya antar sekarang?" Ucap Faye.
Para manusia mengangguk bersamaan, mereka penasaran dengan para Crystal.
"Bisa kah kalian membuat lingkaran, dan juga saling berpegangan tangan?" Tanya Faye.
"Tentu." Jawab Ray.
Kelima manusia membuat lingkaran dan saling berpegangan tangan. Faye ikut dalam lingkaran kecil itu dan melakukan teleportasi ke istana.
Tak lama mereka sampai di istana. Tepat dengan Dewi Claire yang sedang asyik mengobrol para Crystal.
"Seperti nya mereka juga penasaran dengan kalian." Ucap Dewi Claire sambil tertawa pelan.
Dewi Claire pun meminta penjaga istana untuk menunjukkan kamar para manusia.
Dewi Claire sengaja menyiapkan lima kasur di dalam kamar agar mereka lebih mengenal satu sama lain nya.
Kasur mereka sangat mewah, mereka tak habis pikir, kenapa Dewi Claire sangat baik dalam menyiapkan sesuatu.
Setelah sampai di kamar, para manusia duduk di kasur masing masing. Dan Crystal pendamping mereka duduk di samping mereka.
"Jadi, kita mulai dari mana?" Tanya Ray.
"Dari Lucy, dia yang paling banyak bicara." Jawab Arthur.
"Alasan mu tak masuk akal. Tapi aku setuju kalau Lucy yang paling banyak bicara." Balas Nayya.
"Kalian aneh." Lucy memutar bola mata nya malas.
"Yah, tapi tak masalah. Mulai dari ku saja." Lucy menatap Crystal hitam di samping nya yang telah menunjukan sosok utuh nya.
"Jadi siapa nama mu?" Tanya Lucy.
Seisi ruangan menjadi tegang, Adrienne memang sangat menyeramkan.
"Kau tak keberatan berdampingan dengan ku?" Tanya Lucy lagi.
"Kalau saya keberatan, saya pasti membunuh anda sebelum sampai disini. " jawan Adrienne.
"Lalu... apa kekuatan mu?" Tanya Lucy lagi.
"Kegelapan, manipulatif, saya memiliki sedikit kemampuan untuk mengobrak-abrikan ingatan dan juga perasaan, serta hal lain yang berkaitan dengan kegelapan." Jawab Adrienne.
"Hm ... C-cukup, kau pasti keren. Mulai sekarang mohon bantuan nya ya." Lucy mencoba tersenyum, bagaimana pun Lucy takut dengan Adrienne yang menjadi partner nya.
"Sekrang giliran Arthur. Kau banyak diam soalnya." Ucap Lucy.
"Baiklah." Jawab Arthur.
"Jadi siapa ... nama mu?" Tanya Arthur pada Bronte dengan nada suara yang ragu.
Bronte tersenyum.
"Nama ku Bronte, Crystal kuning." Jawab Bronte.
"Oke, bagaimana dengan kekuatan mu?" Tanya Arthur lagi.
"Petir, tornado, sedikit api, sedikit cahaya, dan awan-awan di udara." Jawab Bronte.
"Itu sebab nya kau mengantar ku dengan awan waktu itu?" Tanya Arthur.
Bronte mengangguk.
__ADS_1
"Mulai sekarang aku akan menjadi cahaya untuk tuan Arthur!" Ucap Bronte semangat.
Arthur memgangguk, "Iya, terima kasih." Ucap nya.
"Giliran Ray." Arthur yang selesai bertanya pada Crystal nya pun menunjuk Ray.
"Oke." Ray tersenyum.
"Jadi, siapa nama mu?" Tanya Ray.
"Nama saya Azalea, Crystal hijau." Jawab Azalea lembut.
"Biar ku tebak, kekuatan mu itu berkaitan dengan tumbuhan bukan?" Tanya Ray.
Azalea tersenyum lembut. "Benar sekali, kekuatan saya berkaitan dengan tumbuhan. Dari akar sampai buah nya, semua bersangkutan dengan saya." Jelas nya lumayan panjang.
"Baiklah, itu cukup. Giliran Nayya." Ucap Ray.
Nayya mengangguk kecil.
"Siapa nama mu?" Tanya Nayya.
"Saya Kenzie, nona. Crystal putih." Jawab Kenzie dengan senyum khas nya yang lembut.
"Tentang kekuatan mu, bagaimana?" Tanya Nayya.
"Cahaya, ilusi, kemampuan untuk melihat masa lalu seseorang, kemampuan meniru Crystal lain, mempercepat atau memperlambat waktu." Jawab Kenzie lumayan panjang.
Crystal lain terlihat malas dengan Kenzie, kekuatan mereka semua memang tak sekuat dengan Kenzie seorang diri.
"Agak menyeramkan." Ucap Nayya.
"Jangan begitu nona, saya pastikan anda akan nyaman dengan kekuatan baru anda." Balas Kenzie cepat.
"Baiklah. Seperti nya sudah kan?" Tanya Nayya.
"Aku belum!" Jawab Qian.
"Baiklah, silahkan." Ucap Nayya.
"Oke aku Qian, dan kau?" Tanya Qian.
"Nama ku Terra, Crystal cokelat." Jawab Terra.
"Kau perempuan ya? Padahal waktu sesi tanya jawab di bumi, suara mu seperti laki-laki." Ucap Qian.
"Itu karena kau memiliki aura yang kurang baik, makanya aku melakukan itu." Jawab Terra.
"Ya ... jadi apa kekuatan mu?" Tanya Qian.
"Tanah, apapun yang berhubungan drngan tanah adalah kekuatan ku. Bebatuan, aku bisa sedikit mengendalikan air, belerang, bahkan Lava panas dari gunung berapi." Jawab Terra lumayan panjang.
"Lumayan, itu juga keren. Tapi kau tak bisa meniru yang lain ya?" Tanya Qian.
"Tentu saja tidak, itu bukan bagian dari kekuatan ku." Jawab Terra.
"Payah." Ucap Qian tanpa sadar.
Terra yang mendengar itu awalnya diam saja, namun tak lama ia malah menangis.
"K-kau ini kenapa?!" Tanya Qian panik.
"Jangan nangis gitu dong!"
Bukan nya berhenti menangis, Terra malah semakin kencang mengeluarkan air mata nya.
Para manusia dan Crystal lain hanya memperhatikan mereka. Sudah tau Terra itu sensitif soal perasaan, dan Qian malah mengatakan hal itu pada nya.
__ADS_1
"Ku kira dia tak terlalu bodoh, ternyata dugaan ku salah." Batin Lucy.
"Sial! Ini kah kutukan gadis sekolah waktu itu?!" Batin Qian yang semakin panik karena Terra tak juga berhenti menangis.