Guardian Of Galaxy

Guardian Of Galaxy
4. Keputusan.


__ADS_3

Lucy harus memutar otak nya di pagi hari. Bagaimana bisa dia pergi dari tempat penggalian, ke tempat tanpa Cahaya seperti ini.


Tadi, Lucy menyentuh Crystal hitam di depan nya, dan kini ia terjebak dalam kegelapan.


Namun ntah mengapa, Lucy tak menangis. Dia mencoba tenang dan memanggil seseorang.


"Halo? Ada seseorang disini?" Tanya Lucy.


Tak ada yang menjawab.


"Kau berhasil. Kau membaca dan berani menyentuh Ku." Lucy mendengar suara ntah dari mana


"Apa maksud nya?" Tanya Lucy.


"Semua yang kau baca tadi adalah sungguhan. Dan kini kau berada di tahap terakhir." Jelas suara itu.


"Sekarang, buat lah pilihan. Hanya sampai disini, atau ikut dengan kami?" Tanya suara itu.


"Aku harus memutuskan sekarang?" Tanya Lucy.


"Lebih cepat lebih baik." Jawab suara itu.


"Aku... Mau ikut, tapi takut." Jelas Lucy.


"Kau telah memutuskan. Nona, tak perlu takut. Saya akan membantu anda mulai saat ini dan seterusnya."


Crystal hitam tersebut berubah bentuk. Menjadi mirip dengan manusia. Namun sebelum Lucy dapat melihatnya, Lucy di buat pingsan agar ikut ke tempat yang seharusnya.


...⋆┄┄✦┄✧————⋆...


Setelah mengatakan hal itu, Qian menyentuh Crystal nya perlahan, dengan niat yang belum bulat.


Qian pikir semua ini hanya candaan belaka, hanya ilusi mata yang di ciptakan manusia. Tapi dia salah, semua ini nyata, semua yang tadi ia lihat bukan ilusi mata.


Qian merasa tubuh nya di angkat ke udara, lalu di banting sampai menembus tanah. Qian merasa sesak napas, sekujur tubuhnya tak bisa di gerakkan. Gelap, lembab, sempit, takut. Mungkin itu rasanya di kubur hidup hidup.


"Jangan se-enak nya menyentuh jika kau tak bersungguh-sungguh." Suara Bariton terdengar jelas oleh Qian.


Qian marah lalu ia bicara, "Apa maksud mu hah?! Kau bercanda?! Aku saja tidak tau apa-apa!" Ucap nya.


"Anak kecil seperti mu, harus nya tak dapat menyentuh kami." Ucap Suara Bariton itu lagi.


"KAU! KAU TAU APA SOAL AKU HAH?!" Teriak Qian kesal.


"Aku tak peduli. Jawab pertanyaan ku ini. Kau ingin membantu kami, atau hanya bersenang-senang?!" Tanya suara Bariton itu.


"Setelah apa yang ku lihat dan ku rasakan saat ini. Sepertinya ini nyata." Batin Qian.


"Kau tau apa yang akan ku katakan sebagai jawaban?!" Tanya Qian.


"Aku akan menjadi pelindung bumi ini. Membantu mu, membantu kalian!" Ucap Qian dengan penuh percaya diri.


Tubuh Qian seakan melayang, tak ada lagi sensasi sesak, lembab dan sempit. Qian merasa terbang di atas awan. Kenyamanan yang baru ia dapatkan membuatnya menutup mata nya.


...⋆┄┄✦┄✧————⋆...


Arthur yang masih terkejut karena tulisan melayang-layang di udara, tambah terkejut saat diri nya di angkat terbang ke atas awan.


Wajah dingin pemuda itu berubah, sedikit berbinar namun kebingungan. Layak nya mimpi, Arthur benar-benar berada di atas awan saat ini. Tubuhnya tetap melayang di atas awan tanpa jatuh dari ketinggian.


"Kau yang melakukan ini?" Tanya Arthur pada Crystal yang ikut melayang di samping nya.


"Suka?" Siapa sangka, Crystal itu menjawab.

__ADS_1


"Lumayan. Tapi ini Aneh." Jawab Arthur.


"Tidak ada yang Aneh, kau salah satu yang terpilih. Jadi Saya wajib menanyakan ini pada Anda, Tuan." Jelas Crystal itu.


"Maksud mu tentang tulisan yang tadi melayang?" Tanya Arthur.


"Benar. Jadi bagaimana? Apakah Anda ingin melakukan nya bersama Saya?" Tanya Crystal berwarna kuning di samping nya itu.


"Aku tak yakin. Aku harus pulang, orang tua ku tak suka aku bermain-main." Jawab Arthur.


"Ini bukan permainan. Ini sungguhan. Anda tidak mau kan Bumi tercinta anda di ganggu oleh Dewi Raven?" Tanya si Crystal.


"Itu tidak lebih baik dari pada bermain-main. Orangtua ku ingin agar aku masuk ke kampus pilihan, tentu dengan beasiswa. " Jelas Arthur.


"Apa guna nya belajar tapi Bumi anda hancur?" Tanya Crystal itu lagi.


"Biar saja bumi ini hancur, biarkan dia hancur seperti ku." Jawab Arthur tanpa sadar.


"Tidak Tuan, kehancuran disini berbeda. Anda tidak bisa menolak, anda yang terpilih."


"Aku tidak mau." Tolak Arthur.


"Ada sesuatu yang anda inginkan agar anda mau membantu kami?" Tanya Crystal.


"Ada...." Jawab Arthur.


"Apa itu, Tuan?" Tanya si Crystal lagi.


"Aku mau Orang tua ku tak meminta ku agar menjadi yang terbaik." Jawab Arthur.


"Apa itu bisa?" Lanjut Arthur.


Awan di sekeliling membentuk wajah tersenyum, permintaan kecil Arthur pasti bisa kabulkan.


"Kenapa tidak." Jawab Arthur.


"Keinginan anda akan saya Kabulkan. Sebelum itu, Mau melihat kota dari atas sini?" Tanya Crystal—roh pendamping Arthur mulai saat ini.


"Jangan lebih dari pukul enam." Jawab Arthur sambil tersenyum kecil.


...⋆┄┄✦┄✧————⋆...


"Aku? Membantu bagaimana?" Tanya Ray setelah kalimat dari dedaunan yang melayang.


Dedaunan itu kembali melayang, membuat kalimat baru.


'Melindungi Bumi'


"Aku? Aku kan hanya orang biasa." Ray tertawa kecil.


Kalimat baru kembali muncul. 'Anda yang terpilih. Anda dapat membantu kami.'


"Terpilih? Kau mungkin salah orang." Elak Ray.


'Itu anda. Saya memerlukan seseorang yang sangat baik seperti tumbuhan-tumbuhan ini.'


"Aku tak yakin. Aku tak se-baik itu sepertinya." Ray tetap mengelak. Pemuda bersurai Blonde itu tak mau menjadi pelindung Bumi. Atau semacam nya.


'Anda cukup baik, Anda bahkan terlalu baik. Saat keluarga tak menginginkan Anda, Anda terus membantu mereka. Bukan kah Anda terlalu baik dan lembut?'


Dedaunan membentuk kalimat yang lumayan panjang. Ray terkejut, dari mana Daun-Daun ini mengetahui tentang dirinya.


'Anda sangat baik. Kami memerlukan seseorang seperti Anda.'

__ADS_1


Ray yang tak menjawab karena kalimat tadi, di paksa menentukan pilihan untuk menentukan hal selanjutnya.


'Mau Kah Anda Membantu Kami Menyelamatkan Yang Lain?'


"Aku bisa di usir kalau ikut seperti ini. Maaf ya, kali ini aku tak dapat membantu." Jawab Ray.


'Anda akan mendapat tempat lain, Anda bisa percaya pada Saya—Kami.'


"Kau ingin sangat memaksa ya?" Ray terkekeh.


"Kalau memang Aku dapat tempat baru, kurasa aku akan ikut dalam perjalanan ini." Ray memutuskan. Lagi pula, tempatnya saat ini tak menginginkan kehadiran Ray, jadi untuk apa dia tetap bertahan?


...⋆┄┄✦┄✧————⋆...


Nayya risih, Crystal putih yang tadi jatuh dari langit kini terus memaksa nya, bahkan Crystal itu mengikuti Nayya sampai ke rumah nya.


"Sudah ku bilang. Aku tidak mau." Nayya geram. Walau di bentak sekali pun, Crystal ini tidak juga pergi.


"KU BILANG AKU TAK MAU!" Teriak Nayya.


"Kau harus mau." Balas Crystal nya dengan santai.


"PERGI DARI RUMAH KU! KAU DATANG TAK DI UNDANG DAN SEKARANG MENAMBAH BEBAN PIKIRAN!" Nayya kembali berteriak, efek dari kurang makan dan kurang tidur.


"Penyelamat, pelindung. LAKUKAN SAJA SENDIRI! TAK USAH AJAK AKU!" Berkat Crystal putih yang jatuh dari langit ini membuat Nayya meluapkan emosi nya yang sudah lama di pendam.


"Aku akan melakukan nya bersama mu. Kita akan bersama melewati semua nya." Crystal putih mencoba menenangkan calon pendamping nya.


"Aku tau, kau hanya tak ingin kehilangan apapun lagi. Kau menutup diri, kau membenci sekitar, kau membuat orang memandang mu dengan aneh." Crystal putih mulai bicara panjang.


"Di bumi ini, bukan hanya mereka yang berharga, tapi semua manusia sama berharga nya."


"Kau bilang berharga? Mereka sudah tiada dan kau bilang mereka Berharga?!" Kesal Nayya.


"Kau mencintai mereka. Rasa bersalah yang melekat pada diri mu membuat kau berpaling dari kenyataan."


Nayya mencoba tak mendengarkan Crystal yang sedang bicara di depan nya, mencoba menutup telinga agar tak ada suara.


"Kau juga merindukan dunia luar bukan?" Tanya Crystal putih itu.


"Diam. Tak usah bicara lagi. Kau tak tau apapun soal mereka." Nayya masuk ke dalam kamar nya, mencoba tidur dan berharap ini hanya lah khayalan semata.


"Teman-teman mu tiada, itu bukan salah mu. Mereka tiada karena takdir mereka."


Nayya tak menjawab perkataan si Crystal. Dia diam, mencoba tak menerawang ke beberapa tahun yang lalu. Mencoba melupakan kenangan buruk yang lampau.


"Tapi mereka tiada karena melindungi ku?" Ucap Nayya sedih.


"Ku bilang kan? Mereka tiada hanya karena takdir. Bukan kau."


"Kalau begitu mengapa takdir jahat pada ku? kenapa dia selalu merebut apa yang ku punya?" Tanya Nayya.


Crystal putih membuat sekeliling menjadi hamparan awan yang Nyaman. Nayya melayang, memandangi sekeliling yang sangat indah. Layaknya Surga yang dibicarakan banyak orang.


"Dan kali ini, Takdir akan membuat sesuatu yang baru bagi hidup mu." Crystal putih mulai menunjukan dirinya, walau samar.


"Bantu lah kami. Dan Takdir akan membawakan hadiah untuk mu."


Walau hanya Cahaya, wajah nya tak terlihat, Tapi Nayya tau kalau Crystal putih sedang mengulurkan tangan nya.


"Kalau ini Hadiah ku mohon jangan buat jadi masalah." Nayya ragu-ragu untuk membalas uluran tangan si Crystal.


"Untuk apa jadi masalah? Kita lakukan bersama." Crystal yang tak sabaran langsung menarik tangan Nayya agar mereka bergandengan.

__ADS_1


"Biar ku Coba sekali lagi."


__ADS_2