
“Pak Somad, Pak Somad, gawat!” Teriak Pak Imran dari halaman rumah Pak Somad.
“Ada apa, Pak Imran, Pagi-pagi sudah teriak-teriak di depan rumahku?” Pak Somad yang berada di dalam keluar lalu menemui Pak Imran. Dia berdiri berkacak pinggang. Wajahnya terlihat tak ramah.
“Gawat, Pak, Gawat!”
“Apanya yang gawat?” Pak Somad bertanya sambal mengisap rokok lalu menghembuskan asapnya ke atas.
“Doni, Pak. Dia ketahuan mencuri di kebun Bapak.”
“Bagus dong kalau ketahuan. Lalu apanya yang gawat?”
“Gawat, Pak Somad, Doni terus berputar-putar mengelilingi pohon sawit Bapak. Saya dan teman-teman mencoba memanggilnya. Namun, dia tak mendengar seperti orang yang tak sadar. Kami juga berusaha menghentikannya untuk tidak berkeliling lagi tapi tidak bisa. Dia terus-terusan memutari pohon itu,” jelas pak Imran.
“Baguslah, biar dia jera.” Pak Somad tersenyum sinis.
“Kasihan, Pak. Saya mohon supaya Bapak mau menemuinya,” pinta Pak Imran.
“Apa? Kamu kasihan kepada pencuri? Apa aku tidak salah dengar?” Pak Somad geram mendengar ucapan Pak Imran.
“Tidak, Pak, Bapak tidak salah dengar. Saya akui dia bersalah. Tapi saya mohon agar Pak Imran segera menemuinya. Kalau tidak, dia takkan berhenti mengelilingi pohon sawit itu. Bisa-bisa Doni…” Kata-kata Pak Imran terputus.
“Bisa-bisa dia akan mati. Itukan yang akan kamu ucapkan? Itulah hukuman yang pantas buat orang yang sudah berani mencuri di kebunku,” potong Pak Somad.
__ADS_1
“Astagfirullah, Pak. Kematian itu hanya di tangan Allah.”
“Lalu buat apa kamu mendatangi ke sini dan memintaku menemui Doni? Bukankah kamu bilang kematian di tangan Allah.” Pak Somad mendecak kesal dengan Pak Imran.
“Istigfar, Pak, tidak baik mendahului takdir Allah,” jelas Pak Imran.
Pak Somad tertawa mendengar penjelasan Pak Imran. Dia kembali mengisap rokok. Asapnya mengepul di udara. Sepertinya dia sengaja meniupkan asap tersebut agar mengenai wajah Pak Imran. Sehingga membuat Pak Imran batuk.
“Aku tidak mendahului takdir, Pak Imran. Tapi apa yang kukatakan itu benar. Jika kamu tidak percaya aku akan membuktikannya.” Pak Somad berkata angkuh. Terlihat sekali kesombongannya.
Pak Imran tidak bisa berkata banyak. Percuma menjelaskan dengan Pak Somad. Dia takkan mau mengalah dan disalahkan. Pak Imran hanya kasihan melihat Doni. Dia tak bermaksud membela Doni. Dia tau Doni bersalah. Namun, bukan seperti itu menghukumnya.
“Ya, sudah, Pak. Kalau begitu, sekali lagi saya mohon agar Bapak segera menemui Doni.” Pak Imran memelas kepada Pak Somad. Agar Pak Somad mau menemui Doni di kebun sawit miliknya.
“Kamu takut dia akan mati kan, Pak Imran? Tenang, aku tak akan membuatnya mati. Hanya memberinya sedikit pelajaran dan menunjukkan kepada semua orang kehebatanku. Tidak akan ada yang berhasil mencuri sesuatu di kebunku. Kecuali jika ada yang ingin mengantar nyawanya.” Pak Somad tertawa keras.
“Tidak usah malu Pak Imran. Akui saja kehebatanku. Tidak akan ada yang mampu menandingi kehebatanku di Desa ini. Apalagi kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan aku.” Pak Somad kembali terkekeh sambal menatap Pak Imran.
Pak Imran terus-terusan membujuk. Akhirnya Pak Somad menyetujui dan mau menemui Doni. Sesungguhnya itu juga akal-akalan Pak Somad. Tanpa dibujukpun, sebenarnya Pak Somad ingin menunjukkan kepada semua warga di Desa. Jika dia memiliki ilmu yang membuat orang yang akan mencuri di kebunnya, tidak akan bisa meninggalkan kebun sebelum dia datang dan menemui pencuri tersebut.
*****
Sesampainya di kebun sawit. Pak Imran dan beberapa warga Desa berkumpul di sekitar kebun sawit milik Pak Somad. Mereka tak berani mendekati Doni. Pak Somad juga sudah tiba di kebun. Namun, dia tak langsung menemui Doni. Dia terlihat berjalan mengitari pohoh-pohon sawit miliknya tersebut. Sepertinya dia mencari sesuatu yang entah apa itu. Pak Imran dan beberapa warga lainnya hanya bisa memperhatikan dari jauh. Ada rasa iba ketika Pak Imran melihat Doni tak berhenti-henti berjalan memutari pohoh-pohon sawit milik Pak Somad tersebut. Dari raut wajahnya jelas terlihat Doni kelelahan. Namun apa daya, Pak Imran tak bisa membantu banyak. Hal ini memang kesalahan Doni karena dia sudah berani mencuri di kebun Pak Somad.
__ADS_1
“Lihat Pak Somad, ngapain dia memutari pohon sawit itu?” Abu menunjuk Pak Somad. Bermaksud memberitahukan kepada Pak Imran dan Dandi.
“Sepertinya dia membaca sesuatu, mungkin mantra untuk memanggil hantu peliharaannya,” kata Dandi.
“Memang kamu pernah melihat hantu itu?” Tanya Abu kepada Dandi.
“Aku tak pernah melihatnya. Tapi aku sering mendengar cerita warga di Desa kita. Jika menjelang Magrib hantu peliharaan Pak Somad akan menampakkan diri kepada orang-orang yang lewat di kebun ini. Bahkan hantu itu mencegat warga yang lewat,” jelas Dandi.
“Tapi, ini masih pagi. Apa bisa hantu itu menampakkan diri?” Tanya Abu lagi.
“Entah lah, kita lihat saja apa yang akan terjadi,” ucap Dandi.
Pak Imran hanya diam mendengarkan pembicaraan Abu dan Dandi. Dia sering mendengar rumor dari warga jika Pak Somad memelihara hantu di kebun sawit miliknya. Namun Pak Imran tak percaya begitu saja. Karena dia sendiri tidak pernah mengalami hal tersebut. Padahal Pak Imran cukup sering lewat kebun Pak Somad mejelang Maghrib, ketika mau berjamaah ke Mushala. Kebun Pak Somad ini memang berada di pinggir jalan. Otomatis warga akan melewatinya kapan saja.
“Coba lihat, Pak Somad mulai mendekati Doni,” kata Dandi.
Pak Imran sangat serius memperhatikan Pak Somad. Sedangkan Dandi dan Abu terlihat tegang. Mereka berdua takut jika hantu peliharaan Pak Somad akan muncul di hadapan mereka.
“Dan, kok, aku tiba-tiba merinding gini ya?” Abu memperlihatkan bulu-bulu di tangannya yang berdiri.
“Aku jadi takut, Bu. Andai Pak Imran nggak ada di sini dan nyuruh kita menunggu. Rasanya aku ingin kabur,” kata Dandi.
“Huss.. bicara apa sih kalian ini? Nggak ada yang perlu ditakutkan kecuali Allah. Sudah diam saja perhatikan Pak Somad. Apa yang akan dia lakukan sama Doni?” Kata Pak Imran kepada Abu dan Dandi.
__ADS_1
Dari jauh mereka bertiga memperhatikan Pak Somad. Dia memperhatikan Doni dan mengajakknya berbicara. Tak berapa lama, Pak Somad menepuk bahu Doni. Seketika Doni berhenti berjalan lalu terjatuh. Pak Somad sadar jika dia dari tadi diperhatikan. Setelah Doni jatuh Pak Somad menatap Pak Imran. Lalu pergi meninggalkan kebun. Pak Imran, Abu dan Dandi buru-buru menghampiri Doni yang pingsan setelah ditepuk oleh Pak Somad. Mereka lalu membawa Doni pulang ke rumah.
*****