Hantu Penunggu Kebun Pak Somad

Hantu Penunggu Kebun Pak Somad
Part 2


__ADS_3

“Dimana aku?” Tanya Doni saat dia sadar setelah beberapa jam pingsan.


“Sukurlah kalau kamu sudah sadar. Kamu di rumah Bapak, Don,” jawab Pak Imran.


“Kenapa aku bisa ada di sini, Pak?”


“Tadi kamu pingsan di kebun Pak Somad. Bapak, Abu sama Dandi membawamu ke sini.”


“Kenapa aku bisa pingsan?”


“Itu yang mau Bapak tanyakan sama kamu. Bagaimana bisa kamu mau berada di kebun Pak Somad? Kenapa kamu nekat ingin mencuri. Bisa ceritakan sama Bapak bagaimana kejadiannya?”


Doni nampak ragu ingin menceritakan kejadian itu. Beberapa saat dia terdiam.


“Aku tidak mencuri, Pak.”


“Kalau kamu tidak mencuri, lalu kenapa kamu mengambil buah sawit milik Pak Somad dan membuatnya ke dalam karung. Karung itu punyamu, kan?”


“Iya, Pak. Karung itu milikku. Tapi aku tidak mencurinya.”


“Bapak masih belum ngerti, Don. Kalau kamu tidak mencuri. Bisa jelaskan kepada Bapak, buat apa buah sawit itu kamu masukkan ke dalam karung?”


“Benar, Pak, aku tidak mencuri. Pagi tadi aku mau berangkat ke sawah. Ketika melewati kebun sawit Pak Somad. Aku melihat seseorang di kebun itu. Orang itu mirip sekali dengan Pak Somad. Dia melambaikan tangan menyuruhku untuk mendatangi. Karena itu aku berjalan dan masuk ke dalam kebun,” jelas Doni.


“Setelah itu apa yang kamu lakukan?”


“Setelah itu aku melihat banyak buah sawit yang berjatuhan. ‘Mungkin Pak Somad sedang panen,’ pikirku saat itu,” kata Doni.


“Terus?”


“Aku ambil buah-buah itu dan memasukkannya ke dalam karung. Niatku hanya membantu Pak Somad,” kata Doni lagi.


“Benar seperti itu ceritanya?” Tanya Pak Imran kepada Doni.


“Benar, Pak, aku tidak ada niat mencuri. Aku hanya ingin membantu Pak Somad,” ulang Doni.

__ADS_1


Pak Imran ragu dengan cerita Doni. Apa benar dia tidak mencuri. Selama ini Pak Imran memang mengenal Doni sebagai anak yang baik. Rasanya tidak mungkin dia mencuri.


“Kamu bilang sebelumnya kamu melihat Pak Somad di kebun itu. Terus, ketika kamu memasukkan buah-buah sawit itu apa Pak Somad melihatnya?”


“Setelah aku memasukannya ke dalam karung. Aku berusaha mencari Pak Somad. Namun tidak ketemu. Karena itu aku bermaskud mengantarnya ke rumah. Namun, pas mau mengangkat karung-karung itu. Aku melihat sosok makhluk yang mengerikan. Badannya tinggi, wajahnya besar seperti nampan dan rata. Aku kaget dan takut saat melihatnya. Setelah itu aku tidak ingat lagi, Pak,” jelas Doni.


“Apa kamu sadar saat kamu berputar-putar mengelilingi pohon sawit di kebun Somad itu?”


“Mengelilingi pohon? Maksud Bapak apa?”


“Iya, kamu berkeliling dan memutari pohon-pohon sawit di kebun Pak Somad. Kamu terus berputar, sampai kamu tak mendengar kami panggil?”


Doni menyerngitkan dahi. Dia berusaha mengingat. Namun, dia tak merasa melakukan itu.


“Bapak memanggilku? Sungguh, Pak, setelah melihat makhluk itu aku tak tau lagi apa yang terjadi. Rasanya aku baru di kebun. Tapi seperti bangun dari tidur. Dan tiba-tiba sudah ada di sini.”


“Bapak mendatangi Pak Somad ke rumah. Dan memintanya untuk menemuimu. Setelah dia datang, Pak Somad seperti mencari sesuatu di kebun. Lalu menghampirimu. Dia menepuk pundakmu. Setelah itu kamu jatuh dan pingsan.”


“Apa mungkin Pak Somad menaruh “Kibang” di kebunnya, Pak?” Bu Imran ikut berbicara. Setelah dari tadi hanya mendengaran cerita Doni.


“Kibang itu menaruh sesuatu di kebun. Seperti hantu atau ular yang dipelihara oleh yang punya kebun. Untuk jaga-jaga biar tidak ada yang mencuri. Kalaupun mencuri pasti akan ketahuan. Ya, seperti kamu tadi.” Bu Imran berusaha menjelaskan kepada Doni.


“Tapi, aku tidak ada niat mencuri, Bu. Apa Ibu tidak percaya denganku?” Tanya Doni kepada Bu Imran.


“Maaf, Ibu tidak bermaksud menuduhmu. Ibu hanya menjelaskan jika Pak Somad menaruh kibang di kebunnya. Kejadiannya akan seperti itu. Bisa saja kan Pak Somad membuat kibang. Supaya orang yang mencuri di kebunnya jera,” kata Bu Imran.


“Tidak baik menuduh Pak Somad seperti itu, Bu. Kita tidak punya buktinya. Nanti takutnya jadi fitnah,” kata Pak Imran mengingatkan istrinya.


“Astagfirullah, Pak. Terimakasih sudah mengingatkan Ibu. Tapi, tetangga-tetangga kita juga sering ngomong seperti itu. Pak Somad menaruh kibang dikebunnya."


“Biarlah tetangga berkata seperti itu, Bu. Kita nggak usah ikut-ikutan,” larang Pak Imran.


“Iya, Pak. Ini, Don, diminum dulu airnya.” Bu Imran


menyuguhkan air kepada Doni.

__ADS_1


“Terima kasih, Bu,” ucap Doni.


*****


Setelah kejadian itu, warga Desa dibuat geger. Cerita Doni ketahuan mencuri di kebun sawit Pak Somad sudah menyebar. Doni berusaha menjelaskan kepada warga. Bahwa dia tidak bermaksud mencuri. Sebagian warga ada yang percaya. Dan sebagiannya lagi menganggap Doni sebagai pencuri. Namun, yang lebih menghebohkan adalah cerita saat Doni tidak sadar mengelilingi pohon-pohon sawit di kebun Pak Somad. Dari situlah masyarakat semakin yakin. Jika Pak Somad menaruh kibang di kebunnya.


“Eh, Bu. Kamu sudah dengar belum cerita Doni?” Tanya Dandi kepada Abu. Saat mereka pulang dari sawah.


“Cerita yang mana? Cerita Doni ketahuan mencuri aku sudah tau,” kata Abu.


“Bukan yang itu, cerita Doni melihat makhluk mengerikan di kebun Pak Somad?”


“Iya, aku sudah mendengarnya dari warga desa,” tutur Abu.


“Aku dengar dari Pak Imran, Doni bilang dia tidak bermaksud mencuri. Kalau memang benar, kenapa dia bisa kena kibang, ya?”


“Hantu mana ngerti hal yang begituan, Dan. Kalau ada yang mengambil di kebun selain Pak Somad. Pastilah hantu itu mengira orang itu mencuri. Makanya dia muncul dan menakuti,” ungkap Abu.


“Benar juga yang kamu bilang. Tumben kamu pintar,” ejek Dandi.


“Emang dari dulu aku nggak pintar gitu,” ketus Abu.


“Becanda, Bu. Tapi aku masih bingung, kata Pak Imran saat itu Doni melihat sosok mirip Pak Somad di kebun. Siapa sebenarnya orang itu? Apa benar Pak Somad atau cuma halusinasinya Doni aja?”


“Entahlah, kalau itu aku kurang paham. Mungkin saja orang yang dilihat Doni itu adalah hantu yang menyerupai sosok Pak Somad,” duga Abu.


“Tapi yang membuatku lebih bingung lagi. Pak Somad kok nggak marah dan melaporkan Doni ke pihak yang berwajib. Atau paling tidak lapor sama Kepala Desa,” kata Dandi.


“Nah, itu dia yang membuat aku juga heran, Dan. Seharusnya kan Pak Somad lapor. Biar jelas ceritanya. Biar ketahuan Doni bersalah atau tidak. Kasihan juga kalau Doni dituduh sebagai pencuri. Padahalkan dia selama ini tidak pernah macam-macam.”


“Mungkin Pak Somad sedang merencakan sesuatu,” terka Dandi.


“Bisa jadi, Bu.”


“Ya, sudah aku sudah sampai rumah nih. Besok kita sambung lagi ceritanya,” Kata Dandi.

__ADS_1


*****


__ADS_2