
"Dan, apa kamu melihat apa yang aku lihat?" Abu bertanya kepada Dandi tentang makhluk yang dilihatnya.
"Iya, Bu. Aku melihatnya," jawab Dandi.
"Sepertinya makhluk itu sedang melihat ke arah kita," ungkap Abu.
Sosok makhluk berambut panjang dan bermuka rata. Muncul di hadapan Abu dan Dandi. Sontak membuat Abu dan Dandi ketakutan. Makhluk itu terus mendekat sehingga membuat mereka berdua panik.
"Han han hantu," teriak Abu.
"Hantu," teriak Dandi.
"Lari, tolong ada hantu," ucap Abu sambil berlari meninggalkan kebun.
"Tunggu, bu," kata Dandi.
Abu terus berlari tak didengarnya lagi teriakan Dandi. Dia tak sadar jika meninggalkan Dandi di kebun Pak Somad.
"Hantuuu." Dandi terus berteriak namun kakinya terasa berat untuk melangkah.
Makhluk mengerikan itu terus mendekati Dandi. Sorot matanya merah seakan tak senang dengan keberadaan mereka berdua.
"Bu, tolong jangan tinggalkan aku. Hantu, ada hantu," teriak Dandi memanggil Abu yang sudah berlari meninggalkannya.
"Ayo! Lari yang kencang, Dan. Kita harus balik ke rumah Pak Imran," kata Abu sambil ngos-ngosan.
Namun, Abu tak mendengar suara Dandi menyahut. Dia menghentikan langkahnya setelah merasa kelelahan berlari.
"Dan, Dandi," panggil Abu. Dia menoleh ke belakang. Namun tak menemukan Dandi.
Abu memutar arah. Dia kembali ke kebun mencari Dandi. Sedangkan Dandi tetap berusaha berlari namun tak bisa. Kepanikan membuatnya tak bisa berpikir selain berteriak minta tolong dan memanggil Abu. Matanya terpenjam, Dandi pasrah jika makhluk itu memangsanya.
"Dan, ngapain kamu masih di sini?" Ayo! Kita ke rumah Pak Imran," kata Abu setelah melihat Dandi masih di kebun.
"Hantu, jangan ganggu aku. Aku tidak bermaksud mencuri," kata Dandi dengan mata yang masih terpejam.
"Dan, ini aku Abu," kata Abu sambil menepuk bahu Dandi.
Mendengar suara Abu, Dandi membuka matanya.
"Bu, syukurlah kamu balik lagi ke sini," ungkap Dandi senang.
"Ayo! Kita balik ke rumah Pak Imran," ajak Abu.
"Tapi, Bu. Hantu itu menarik kakiku. Aku tak bisa bergerak," jelas Dandi.
Abu memperhatikan sekitar kebun. Namun, dia tak menemukan makhluk bermuka rata itu lagi. Lalu menatap ke arah kaki Dandi.
"Astagfirullah," ucap Abu.
"Kenapa, Bu?"
"Pantesan kamu nggak bisa lari. Celanamu sangkut di pelepah sawit," tunjuk Abu.
Dandi yang sejak tadi ketakutan langsung menatap ke bawah.
"Aku kira makhluk itu memegang kakiku, Bu," kata Dandi.
Abu membantu Dandi menyingkirkan pelepah sawit yang jatuh dan berserakan di tanah. Entah bagaimana caranya pelepah sawit ini bisa nyangkut di bagian bawah celana Dandi.
__ADS_1
"Makanya jangan terlalu panik," kata Abu mengingatkan.
"Gimana nggak panik, makhluk itu sudah berada di hadapannku. Kamu sendiri kenapa langsung lari?"
"Aku hanya ingin menyelamatkan diri," kilah Abu.
"Bilang aja kamu juga panik."
"Kalau nggak panik ngapain aku lari," ucap Abu.
"Ayo! Kita kerumah Pak Imran. Mumpung makhluk itu sudah nggak ada," ajak Dandi.
"Tapi, bagaimana dengan Pak Imran?" Kita tidak tau di mana Pak Imran. Apa yang harus kita lakukan?"
"Yang jelas kita temui Doni dulu. Aku tak bisa berpikir kalau seperti ini. Mau tetap menunggu di sini takut kalau makhluk mengerikan itu muncul lagi," jelas Dandi.
Abu dan Dandi akhirnya memutuskan untuk balik ke rumah Pak Imran menemui Doni.
****
Di bawah pohon pisang Pak Imran tergeletak. Dia masih belum sadar. Pukulan seseorang yang mengenai leher bagian belakangnya, membuat Pak Imran pingsan. Setelah Abu dan Dandi pergi meninggalkan kebun. Orang itu menarik Pak Imran dan membawanya masuk ke dalam kebun. Lalu meletakkan Pak Imran dekat pondok yang ada di kebun Pak Somad.
"Kita apakan orang ini, Bos?" Tanya lelaki itu kepada Bosnya.
Bos yang dimaksud orang itu adalah Pak Somad.
"Imran, Imran, masih saja kamu ikut campur dengan urusanku," kata Pak Somad. "Biarkan dia disitu, nanti teman-temannya akan mencari," jelas Pak Somad pada orang itu.
"Kenapa tidak kita habisi saja dia sekarang, Bos? Biar tidak ada lagi yang berani mengganggu kita di sini."
"Jangan," cegah Pak Somad. "Hari ini aku memaafkannya. Biar dia sadar dan berpikir. Kebunku ini berbahaya untuk orang-orang seperti dia. Jika sudah sadar dia tidak akan berani lagi untuk mendekati kebun dan mencampuri urusukanku," kata Pak Somad dengan yakin.
"Ayo kita pulang sebelum anak-anak bodoh itu mendapati kita di sini," kata Pak Somad.
"Kenapa tidak kita beri pelajaran saja anak-anak itu, Bos?"
"Aku tidak mau membuang waktu bermain dengan anak-anak itu. Ah! Sudahlah, ayo kita pergi dari sini."
"Siap, Bos," jawab anak buah Pak Somad itu.
Pak Somad dan anak buahnya pergi meninggalkan kebun.
*****
Abu dan Dandi sudah sampai di rumah Pak Imran. Doni yang dari tadi menunggu di depan rumah sudah harap-harap cemas. Dia langsung berdiri dan menghampiri Abu dan Dandi.
"Kenapa kalian balik, mana Pak Imran?" Tanya Doni tak sabar. Saat melihat Abu dan Dandi balik ke rumah Pak Imran.
"Gawat, Don, gawat," ucap Abu.
"Gawat gimana, Bu?"
Kami berdua tidak menemukan Pak Imran," jelas Abu.
"Malah hantu itu yang menemui kami," sambung Dandi.
"Jadi kalian melihat hantu penunggu kebun Pak Somad itu?" Tanya Doni kepada Abu dan Dandi.
"Iya, Dan. Sungguh hantu itu sangat menyeramkan. Aku sampai panik," ungkap Dandi.
__ADS_1
"Lalu kenapa kalian bisa tak menemukan Pak Imran? Bukankah kalian pergi tak lama setelah Pak Imran pergi," kata Doni bingung.
"Kami juga tidak tau, Don. Sampai kebun kami tidak menemukan Pak Imran. Tidak ada tanda-tanda Pak Imran di sana," jelas Abu.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Dandi bingung.
Doni berpikir sejenak. Sembari mengingat rencana yang sudah disusun sebelumnya.
"Kita harus mencari Pak Imran," kata Doni.
Doni ingat pesan Pak Imran. Jika dia tidak balik maka Pak Imran meminta Doni untuk menyusulnya ke sana.
"Bagaimana kalau hantu itu muncul lagi?" Abu bertanya kepada Doni. Rasa takut masih menyelimuti hati dan pikirannya.
"Masalah itu kita pikirkan belakangan. Malam ini kita harus menemukan Pak Imran. Kalau tidak," kata Doni terputus.
"Kalau tidak kenapa, Don?" Tanya Dandi panik.
"Aku juga tidak tahu. Yang pasti desa kita akan heboh seperti kejadian yang kualami dulu," jelas Doni.
"Apa kita harus lapor Pak RT?" Tanya Abu kepada Doni.
"Tidak usah, biar kita bertiga saja mencari Pak Imran ke sana," jelas Doni.
"Bukankah lebih baik kita lapor Pak RT. Siapa tau dia bisa membantu." Abu berusaha memberikan pendapat kepada Doni.
"Pak Imran sudah berpesan denganku. Jika terjadi sesuatu seperti ini. Maka tidak usah memberitahu siapa-siapa dulu," jelas Doni.
"Lalu bagaimana dengan Bu Imran?" Tanya Abu kembali.
"Termasuk Bu Imran. Tidak usah kita kasih tau. Memberitahu Bu Imran hanya akan membuat dia panik," jelas Doni.
"Benar juga sih kata kamu," kata Dandi.
Akhirnya tanpa memberitahu Bu Imran. Mereka bertiga sepakat untuk mencari Pak Imran di kebun sawit Pak Somad.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB.
Abu, Dandi dan Doni sudah sampai di kebun Pak Somad.
"Bagaimana kalau kita berpencar mencari Pak Imran," usul Doni.
"Berpencar? Aku tak berani sendirian," ungkap Dandi jujur.
"Aku juga," kata Abu.
"Ya udah, kalau gitu kalian berdua ke arah sana. Biar aku sendirian ke arah ini," usul Doni kembali.
"Tapi, Don. Gimana kalau hantu itu muncul dan menemui kami? Kami berdua sama-sama penakut," ungkap Abu.
"Ya udah, kalau gitu kita bertiga saja. Kita cari sama-sama," kata Doni.
"Baik, kalau gini aku setuju," ujar Dandi.
"Iya, aku sangat setuju kalau kita nyari Pak Imran sama-sama," kata Abu.
Mereka bertiga memberanikan diri masuk ke dalam kebun Pak Somad. Doni berjalan duluan di depan. Sedangkan Abu dan Dandi mengikuti langkah Doni.
__ADS_1
*****